|
Ringkasan Khotbah : 15 Januari 2006
Nats: Mat. 20:1-16 Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno |
Perumpamaan tentang orang-orang upahan di kebun anggur yang diuraikan oleh Kristus ini bukanlah perumpamaan yang sederhana sebab di dalamnya ada suatu pembelajaran indah yang sangat penting untuk kita pahami. Manusia berdosa selalu berpikir bahwa segala sesuatu yang dilakukan haruslah menguntungkan diri maka tidaklah heran kalau orang mempunyai pandangan yang salah tentang konsep anugerah atau konsep waktu. Sebelumnya kita telah renungkan bahwa konsep yang salah mengenai waktu dan anugerah ini akan mempengaruhi seluruh langkah hidup kita ke depan sebab apa yang kita percaya itulah yang akan menentukan seluruh pemikiran kita dan apa yang kita pikirkan itu akan menentukan seluruh tindakan kita dan hal ini telah diungkapkan oleh Francis Schaffer, yaitu I do what I think and I think what I believe. Seorang yang beriman pada Kristus, Kristus adalah segala-galanya maka seluruh pemikirannya dibentuk sesuai dengan karakter Tuhan dan itu terpancar dalam tindakannya.
Perhatikan, letak permasalahan bukan pada tindakannya tetapi iman yang kita percaya itulah yang menentukan segalanya termasuk tindakan kita karena itu, sia-sialah kalau kita mengkritik tindakan seseorang. Itulah sebabnya, Tuhan Yesus bukan menegur tindakan tetapi ada hal yang lebih penting dari sekedar tindakan, yaitu Tuhan Yesus hendak membongkar konsep iman percaya mereka yang salah selama ini dalam kaitannya dengan Kerajaan Sorga. Hanya anugerah Tuhan sajalah kalau kita dapat memahami kasih karunia-Nya yang besar dan kita dapat mengerti ajaran Kristus dengan demikian seluruh pemikiran kita diubahkan.
Dunia sulit menerima ajaran Kristus yang berbeda dengan ajaran dunia demikian juga dengan Mat. 20:16: demikianlah (banyak) orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir. Konsep ini tidak dapat dikenakan pada semua orang, dalam hal ini Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) telah menghilangkan kata “banyak“ artinya sebagian besar orang akan mengalaminya, yakni yang pertama akan menjadi yang terakhir dan yang terakhir akan menjadi yang pertama. Sebagian orang yang menyadari akan konsep ini mencoba menyadarkan dunia akan realita ini, seperti Aesop melalui sebuah cerita fabel, yakni diceritakan kura-kura dan kelinci sedang berlomba lari, tentu saja dengan cepat si kelinci berada jauh di depan kura-kura dan kesalahan yang paling fatal, ia berpikir bahwa yang terdahulu pasti akan menjadi pemenang. Singkat cerita, ternyata si kura-kuralah yang keluar sebagai pemenang. Cerita ini sampai hari ini masih relevan namun manusia tidak juga sadar, sampai detik ini manusia masih berpikir bahwa yang terdahulu yang menang, yang kuat yang menang.
Si pekerja yang diceritakan dalam perumpamaan ini secara total, ia telah gagal, ia telah menyia-nyiakan anugerah dan ironisnya, ia malah menuduh si tuan berlaku tidak adil. Salah! Si tuan ini justru telah berlaku adil karena sebelumnya telah terjadi kesepakatan, yaitu sedinar sehari dimana upah satu dinar adalah upah yang layak dan cukup pada jaman itu. Hal ini disebabkan karena ia telah terkunci oleh pola pemikirannya yang salah, kita gagal bertindak sesuai dengan kebenaran. Orang tidak pernah mengevaluasi diri kalau sesungguhnya letak kesalahan itu ada pada dirinya sendiri. Kejadian ini persis kisah seekor rubah dengan anggur seperti yang diceritakan kembali oleh Aesop karena letak buah anggur yang tinggi dan berulang kali pula si rubah berusaha mendapatkannya namun tidak berhasil juga akhirnya ia ngeloyor pergi dan mengatakan bahwa anggur tersebut asam. Cerita ini untuk menyindir kehidupan manusia yang seringkali menyalahkan kehidupan bukan mengoreksi diri sendiri.
Bukanlah hal yang mudah untuk mengubah pola pemikiran kita yang telah terbentuk bahkan dalam Kekristenan pun masih dipengaruhi oleh pola berpikir dunia yang salah seperti ajaran utilitarianisme, yakni segala sesuatu yang dikerjakan haruslah menguntungkan diri sendiri. Dunia terus menerus mencekoki pikiran kita dengan konsep utilitarianisme sehingga apapun yang ia kerjakan selalu berpikir gain or lose tak terkecuali dalam Kekristenan bahkan dalam dunia pendidikan. Sepintas, konsep ini sepertinya positif namun pertanyaannya adalah bagaimana menghitung untung atau rugi? Siapa yang menentukan untung atau rugi? Marilah kita mengevaluasi diri apakah kita termasuk salah satu pengikut utilitarian: apakah kita mau mati menjadi martir untuk Tuhan? Apakah kita yang mau pergi memberitakan Injil ke pelosok dan pedalaman? Memang, secara dunia kita tidak mendapat keuntungan apa-apa, kita justru mendapat hinaan, cacian dan masih banyak hal lagi yang secara dunia dipandang sebagai kerugian. Ingat, apa yang dipandang dunia sebagai kerugian justru di mata Tuhan merupakan suatu keuntungan. Istilah gain or lose, untung atau rugi sebenarnya tidak salah namun konsep ini menjadi salah ketika disisipi dengan ketamakan dimana untung dan rugi menjadi dasar bagi seseorang untuk menentukan langkah hidupnya.
Merupakan hal yang wajar sebelum kerja kita membuat kesepakatan atau perjanjian kerja dengan si pemilik kebun anggur, yaitu sedinar sehari. Si tuan empunya kebun anggur ini bukanlah seorang tuan yang semena-mena dan tidak adil. Tidak! Si pekerja ini diperlakukan adil dan tepat. Hal ini dapat kita lihat pada saat ia memberikan upah, upah yang ia berikan adalah upah yang sesuai dengan kesepakatan. Namun ketika si pekerja ini mulai membandingkan dengan pekerja lain maka disitulah ia mulai kacau. Ia merasa diperlakukan tidak adil, ia harusnya mendapat 12 dinar karena ia telah bekerja selama 12 jam. Ketamakan menjadi subyektif maka itulah awal titik kehancurannya. Hati-hati, jangan masuk dalam jebakan iblis yang memang sengaja menanamkan konsep keuntungan diri atau ketamakan untuk menjauhkan kita dari Tuhan.
Doa “Bapa Kami“ mengajarkan: ... berilah pada hari ini makanan kami yang secukupnya hal ini mencegah kita supaya kita tidak menjadi tamak. Setiap elemen dalam doa “Bapa Kami“ terdapat suatu kebenaran. Alkitab memaparkan pada kita gambaran yang menyeluruh tentang berbagai aspek yang menjadi pergumulan manusia di dunia, termasuk perkataan iblis pun dicatat di dalamnya sehingga hal ini menjadikan kita lebih waspada akan berbagai macam tawaran dunia. Adalah sifat manusia yang berdosa, berani memanipulasi Alkitab demi untuk membenarkan tindakannya yang salah demi untuk mendapatkan keuntungan. Konsep utilitarian ini telah masuk dalam Kekristenan hal ini dapat kita lihat dengan munculnya ajaran teologi sukses yang mengajarkan bahwa kalau kita beriman maka Tuhan pasti akan menjawab seluruh doa kita. Dalam hal ini Allah tidak lebih menjadi alat demi untuk mencapai ketamakan diri. Maka tidaklah heran orang yang demikian akan meninggalkan Tuhan ketika ia berada dalam penderitaan. Perhatikan teologi sukses bukanlah ajaran Kekristenan.
Jalan menuju ke sorga sangatlah sempit sehingga tidak semua orang dapat masuk ke sorga tapi ingat, hal ini bukan berarti kita tidak perlu mengabarkan Injil. Tidak! Tuhan tidak mengajarkan kita egois, sorga bukan untuk kita seorang diri. Sejarah membuktikan penginjilan tidak akan membuat Kekristenan menjadi mayoritas sebab ketika Kekristenan menjadi mayoritas maka Kekristenan itu menjadi lumpuh. Dunia barat mayoritas penduduknya beragama Kristen namun hal itu bukanlah jaminan mereka mempunyai iman sejati. Orang Kristen demikian disebut four wheel Christian karena sepanjang hidupnya ia ke gereja hanya sebanyak tiga kali, yakni: 1) bayi, 2) dewasa ketika hendak menikah, dan 3) ketika meninggal dimana ketiganya menggunakan kendaraan roda empat. Inilah wajah Kekristenan kita.
Beberapa aspek yang perlu kita perhatikan dalam perumpamaan ini, yaitu:
I. Small and Big
Si pekerja pertama ini telah gagal dalam hidupnya, ia tidak merasakan sukacita sejati karena ia telah salah dalam memahami konsep besar dan kecil. Ingat, jangan menghitung untung rugi dengan konsep besar dan kecil sebab tidak selalu yang besar itu berharga dan tidak selalu yang kecil itu jelek. Tidak! Alkitab justru mengajarkan sebaliknya yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir. Janganlah kita dibodohi oleh dunia yang selalu mengiming-imingi dengan gaji besar sebab kalau kita tidak mempunyai kekuatan cukup maka justru akan menjebloskan kita dalam jurang yang dalam karena itu, Tuhan mengajarkan: berilah makanan kami yang secukupnya. Tuhan tahu sampai dimana batas kekuatan kita sehingga Dia memberikan cukup dengan demikian kita dapat dapat menguasainya berbeda halnya kalau kita diberikan harta melebihi dari batas kekuatan kita maka harta itu akan menguasai hidup kita, kita menjadi budak dari uang. Sangatlah disayangkan si pekerja ini tidak menyadari bahwa konsep besar itu yang untung dan yang kecil itu rugi justru titik kehancurannya. Andaikata, tuntutan upah 12 dinar dari si pekerja pertama itu dipenuhi oleh si tuan maka pertanyaannya adalah apakah hal itu akan membuat hidupnya bahagia? Tidak! Mungkin untuk sementara waktu ia merasa bahagia dengan upah besar yang dia dapatkan akan tetapi untuk selanjutnya masih adakah tuan rumah yang mau mempekerjakan pekerja yang jahat yang selalu ingin mendapat keuntungan lebih? Ingat, merupakan hak si tuan rumah kalau ia memberikan upah yang sama besar atau bahkan lebih besar pada pekerja yang lain. Kalau hari itu, kita termasuk salah satu pekerja yang dipilih setelah sekian lama menganggur tentulah kita akan sangat bersyukur, bukan? Dan kalau kita adalah orang yang tahu arti anugerah tentulah kita tidak akan berani dengan sengaja mengadakan kesepakatan tentang upah, bukan? Karena merupakan suatu anugerah kalau kita dipilih dan mendapatkan kesempatan bekerja, kita masih dapat hidup. Iblis memang licik, ia sengaja membukakan hal yang kelihatannya menggiurkan padahal sesungguhnya berakhir dengan kehancuran seperti bisnis MLM, multilevel marketing yang hari ini ramai dibicarakan. bermimpi akan mendapatkan untung besar namun semua itu hanyalah impian kosong karena sesungguhnya banyak orang yang mengalami kegagalan.
II. Now and Then
Alkitab membukakan pada kita seluruh konsep secara utuh tentang kekinian dan masa yang akan datang. Janganlah kita mau dibodohi oleh dunia yang mengajak kita berpikir pendek, yaitu berpikir tentang kekinian saja dan menutup mata akan masa yang akan datang. Seorang pelari marathon adalah contoh yang tepat untuk kita lebih memahami dan melihat segala sesuatu yang ada di depan kita secara menyeluruh. Seorang pelari marathon yang baik tidak akan menghabiskan tenaganya pada garis awal, ia akan mengatur kecepatannya sedemikian rupa sehingga dapat mencapai garis akhir. Setiap proses kalau dipercepat selalu menimbulkan resiko negatif begitu juga dengan pendidikan anak yang dipercepat, secara logika kemungkinan si anak memang sanggup namun secara mental ia belum siap. Perhatikan, Tuhan menyiapkan dan mendidik Musa selama 80 tahun sebelum ia dipakai oleh Tuhan begitu juga dengan Paulus, setelah bertobat 12 tahun kemudian barulah ia melayani dan masa 12 tahun itu adalah waktu dimana Tuhan mendidik Paulus untuk rendah hati, waktu dimana Paulus harus menghancurkan seluruh konsep Yudaisme yang telah melekat dalam dirinya untuk kemudian dipakai Tuhan dengan luar biasa. Sekarang banyak orang setelah bertobat berambisi ingin cepat melayani akibatnya orang tidak siap ketika harus menghadapi berbagai tantangan dan penderitaan sehingga orang menjadi undur. Inilah konsep dunia kita yang selalu ingin mendapatkan keuntungan. Janganlah kita memperhitungkan untung rugi pada masa kini tetapi hendaklah kita memperhitungkan untung rugi pada masa mendatang yang bersifat kekal.
III. Temporary and Internity
Dalam konsep waktu, hal yang perlu kita perhatikan adalah temporarity and internity, janganlah kita menghitung untung dan rugi di dalam dunia saja tetapi kaitkanlah dengan hal yang bersifat kekekalan, ketika kita mati masih ada jiwa yang bersifat kekekalan. Biarlah kita belajar dan diubahkan seluruh konsep berpikir kita dengan demikian segala yang kita pikirkan itu kita kaitkan dengan kekekalan. Ingat,apa yang kita kerjakan selama di dunia sangat berkait erat dengan kekekalan dan kekekalan menginterupsi segala yang ada dalam kesementaraan. Jadi, kalau kita tidak dapat mengkaitkan kedua hal ini maka kita mungkin merasa untung di dunia namun sesungguhnya kita rugi. Pertanyaan evaluasi bagi kita, apa yang kita kejar di dunia? Charles Spurgeon mengatakan kalaupun aku seorang egois maka aku akan menjadi orang egois yang lebih memilih memberitakan Injil karena pada saat itulah aku justru mendapatkan sukacita sejati. Hendaklah kita menjadi seorang yang bijaksana yang dapat mengkaitkan antara kesementaraan dengan kekekalan. Betapa hinanya, orang yang hanya memikirkan untung rugi di dunia. Ingat, bukan karena kehebatan kita kalau kita hari ini dipakai Tuhan, bekerja dan melayani Tuhan, semua itu hanya karena anugerah Tuhan begitu pula kalau hari ini kita dapat mengkaitkan antara kesementaraan dengan kekekalan. Anugerah Tuhan itu datang dan diberikan pada kita ketika kita berada dalam kondisi terpuruk dan putus asa, ketika kita merasakan diri bukanlah siapa-siapa. Sadarlah kita hanya manusia berdosa, kita seperti bunga rumput yang sebentar ada dan sebentar kemudian hilang lenyap begitu juga saat ini kalau kita ada di tengah dunia itu pun hanya sementara karena kita akan mati dan dunia tidak akan mengingat lagi namun semua itu akan menjadi berarti ketika segala hal yang kita kerjakan hari ini bernilai kekal. Segala kemuliaan hanya bagi Dia. Amin. ?
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)