Ringkasan Khotbah : 1 Januari 2006

Life & Works: Concept of Time

Nats: Mat. 20:1-16

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Pendahuluan

Untuk memahami suatu perumpamaan haruslah dilihat secara utuh, setiap ayat merupakan satu kesatuan sehingga tidak boleh dilepaskan dari konteksnya. Melalui perumpamaan tentang orang-orang upahan di kebun anggur yang ditulis dalam Injil Matius ini ada enam aspek yang Tuhan Yesus hendak ajarkan, yakni: 1) konsep anugerah, dimana konsep ini merupakan topik utama; Tuhan Yesus hendak mengajarkan pada setiap manusia yang hidup di tengah dunia bagaimana seharusnya merelasikan antara hidup di dunia dengan anugerah Tuhan, 2) konsep waktu dan dalam hal ini Tuhan Yesus sengaja mengkontraskan antara orang yang bekerja mulai pagi hari dan orang yang bekerja mulai malam hari dan pada hari ini kita akan merenungkannya, 3) konsep kerja, 4) konsep manfaat, 5) konsep produkitivitas dimana konsep ini berkaitan dengan kualitas dengan waktu; 6) konsep hidup.

I. Dimensi Pembatas    

Seluruh kehidupan makhluk hidup di alam semesta tidak akan berlangsung selamanya melainkan dibatasi oleh waktu. Waktu menjadi suatu pembatas. Orang yang memahami konsep ini akan menjadikannya kuat dalam menapaki dan menata kehidupan di alam semesta ini. Sesungguhnya manusia itu sadar akan waktu yang berlalu dengan begitu cepat namun di lain pihak orang tidak mau diajarkan bagaimana mengisi waktu-waktu ini dengan hal-hal yang bermakna. Hati-hati janganlah kita dijebak oleh akal licik si iblis selalu menggoda kita supaya kita menggunakan seluruh waktu ini dengan sia-sia dan kita menjadi kehilangan waktu yang sedemikian berharga. Ingat, setiap detik yang terlewat itu tidak akan dapat terulang kembali. Kitab Amsal menegaskan bahwa orang yang tidak menghargai waktu maka bersiap-siaplah karena akan datang kemiskinan menyerbu   kita (Ams. 6:11). Berbeda halnya dengan seorang yang menyadari bahwa hidup itu dibatasi oleh waktu maka ia akan menghargai dan memanfaatkan waktu itu dengan sebaik-baiknya. Stephen Hawkins menyadari bahwa waktu yang telah lewat tidak dapat terulang kembali karena itu, ia mencoba menemukan cara bagaimana dapat melenturkan waktu, bend the time.

Menunda suatu pekerjaan bukan berarti menghilangkan suatu kesulitan. Tidak! Untuk sementara waktu memang sepertinya kesulitan kecil itu terlewatkan tapi ingat, kesulitan itu tidak hilang tetapi kita justru membuat suatu kesulitan baru yang membawa pada suatu kesengsaraan. Kemalasan itu sepertinya membawa suatu kenikmatan hingga kita sampai pada suatu kondisi yang menjepit dan hal itu menyangkut hidup kita maka saat itu sudah terlambat. Orang hanya bisa menangisi sengsara sebagai akibat dari kemalasan yang dibuatnya sendiri dengan membuang-buang waktu dengan percuma. Alkitab menegaskan barangsiapa yang tidak bekerja maka ia tidak boleh makan. Waktu merupakan suatu pembatas bagi manusia dan seluruh alam semesta ini untuk hidup. Kesadaran akan waktu ini menuntut suatu tanggung jawab yang paling besar.

Sebelum menciptakan seluruh isi alam semesta ini, Tuhan terlebih dahulu menciptakan ruang, yaitu langit dan bumi dan Tuhan juga menciptakan waktu, yaitu pagi dan petang. Tuhan menciptakan matahari pada hari keempat, hal ini menunjukkan bahwa matahari ini bukanlah sumber terang tapi hanya benda penerang karena Tuhan Allah sendiri itulah Sang Terang sejati. Hal ini menunjukkan seluruh kehidupan alam semesta ini dibatasi oleh dua dimensi, yaitu dimensi ruang dan dimensi waktu. Hari ini dunia menyadari akan pentingnya waktu namun sayang, dunia memahami waktu yang dikaitkan dengan uang. Alkitab menegaskan waktu sama sekali tidak terkait dengan uang sebaliknya waktu-waktu ini adalah jahat dan hanya ada dua kemungkinan bagi kita yaitu menebus waktu yang telah hilang atau kita yang justru akan dijepit oleh waktu.

II. Bersifat Linier

Untuk menyadari akan pentingnya waktu maka kita harus memahami apa yang dimaksud dengan waktu? Seorang filsuf sekaligus teolog bernama Agustinus menyatakan bahwa kalau ia tidak ditanya apa waktu itu maka ia tahu apa itu waktu tetapi ketika ada orang bertanya padanya apa itu waktu maka ia tidak tahu apa itu waktu. Waktu mempunyai suatu dimensi yang paradoxical, disatu pihak waktu itu dapat kita kendalikan namun dilain pihak, waktu itu dapat menerkam hidup kita. Lalu, apa waktu itu? Apakah waktu itu hanyalah sekedar detik-detik yang berjalan dan kemudian lewat begitu saja? Tidak! Waktu bukan sekedar detik-detik jam yang lewat maka orang berusaha mencari dan mencoba memahami akan konsep waktu.

Dunia timur memahami konsep waktu dikaitkan dengan reinkarnasi yang diadopsi dari filsafat hinduisme dimana kehidupan seluruh makhluk hidup di dunia ini ada dalam suatu siklus, yakni makhluk hidup dilahirkan kemudian mati dan dilahirkan kembali. Kelahiran ini  tergantung dari perbuatannya selama di dunia, kalau selama di dunia ia melakukan perbuatan buruk maka ia akan dilahirkan kembali sebagai manusia yang mempunyai derajat lebih rendah. Penggolongan manusia ini disebut dengan kasta. Penggolongan manusia dalam kasta-kasta ini sangatlah jahat karena orang yang berada di kasta paling bawah, yakni kasta sudra akan sulit bisa menjadi seorang pemimpin barulah setelah ia mati dan dilahirkan kembali dalam kasta brahma, kasta yang lebih tinggi barulah ia dapat menjadi seorang pemimpin di dunia. Tinggi rendahnya kasta seseorang ditentukan dari perbuatan baik/buruknya selama di dunia maka seorang yang berada di kasta sudra, kasta yang paling rendah kalau ia berbuat jahat maka ia akan dilahirkan sebagai binatang.

Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah bagaimana mengatur etika kebinatangan? Tingkah laku binatang seperti apakah dapat dikatakan baik atau jahat sehingga ia dapat dilahirkan kembali sebagai manusia atau tetap dilahirkan kembali sebagai binatang tetapi dengan tingkatan atau ukuran yang lebih besar? Padahal fakta sejarah membuktikan bahwa tidak semua anak seorang pengemis akan menjadi pengemis tetapi kemungkinan ia dapat menjadi seorang konglomerat begitu juga dengan seorang penjahat sangatlah mungkin mempunyai seorang anak yang sangat baik begitu juga sebaliknya seorang yang sangat baik dapat mempunyai anak seorang penjahat.

Bukanlah hal yang mudah untuk menata suatu konsep etika kehidupan manusia apalagi yang menyangkut tentang naik turunnya suatu derajat manusia sebab pemikiran ini bukan menyangkut tentang aspek etika saja tetapi menyangkut konsep waktu sehingga kalau konsep pemikiran tentang reinkarnasi ini dibuang maka konsep waktunya juga menjadi hilang. Secara logika, konsep reinkarnasi ini sangatlah mustahil, banyak kelemahan yang kita jumpai dan salah satunya adalah kalau benar hari ini ada reinkarnasi maka seharusnya jumlah manusia di dunia ini konstan tapi kenyataannya tidaklah demikian jumlah manusia justru bertambah banyak. Pertanyaan selanjutnya darimana  bertambahnya jumlah manusia yang banyak itu? Sangatlah mustahil kalau bertambahnya manusia itu dari binatang yang beretika, sebab jikalau benar maka jumlah binatang seharusnya semakin berkurang namun sampai detik ini jumlah binatang justru semakin bertambah. Dan menurut konsep reinkarnasi, binatang yang berbuat baik seharusnya bereinkarnasi menjadi binatang yang lebih besar namun faktanya hari ini, binatang yang besar-besar itu justru punah. Maka dapatlah ditarik suatu kesimpulan Tuhanlah yang mencipta manusia namun sayangnya, manusia tidak percaya adanya Tuhan. Konsep reinkarnasi ini sangatlah rumit karena tidak menyangkut soal etika tetapi di dalamnya terdapat konsep waktu. Orang tidak tahu akan nilai dan makna hidup, orang tidak tahu setelah mati mau kemana dan bagaimana.

Seperti halnya dunia timur, dunia barat pada masa pra Agustinus pun memahami konsep waktu sebagai suatu siklus yang tidak lepas dari reinkarnasi namun bedanya dunia juga turut berputar. Manusia memang habis namun orang lain dicipta lagi, habis, dicipta begitu seterusnya seperti perputaran sebuah spiral. Dibandingkan dengan dunia timur yang bersifat pasif maka konsep pemikiran dalam dunia barat ini sedikit lebih baik dalam arti bersifat aktif. Dunia timur selalu melihat ke belakang dan mempunyai jiwa yang statis, dunia selalu berputar dan berulang berbeda halnya dengan dunia barat yang mempunyai konsep dunia berputar namun bergerak maju seperti gerakan spiral. Dunia barat selalu memikirkan bagaimana caranya untuk maju dan selalu maju.

Konsep tentang waktu yang salah ini didobrak oleh Agustinus, seorang yang mempelajari kebenaran Alkitab dan disitu ia menyimpulkan bahwa waktu bukanlah seperti yang diajarkan oleh dunia timur maupun dunia barat. Agustinus menegaskan bahwa waktu itu berjalan secara linier detik demi detik berawal dari titik alfa dan berakhir pada titik omega. Waktu ini ada batasannya dan hanya Tuhan yang tahu dan menentukan batasan akhir dari waktu itu. Waktu yang sudah kita lewati tidak akan pernah kembali lagi, time is linier. Orang yang sadar bahwa waktu ini terus berjalan dan tidak dapat kembali maka hidupnya akan termotivasi; dia tidak akan menyia-nyiakan setiap detik waktu tapi setiap waktu diisi dengan hal yang bermakna. Alkitab sangat sengit menegur kemalasan sebab kemalasan menunjukkan orang tidak bertanggung jawab atas setiap waktu yang merupakan anugerah dari Tuhan atas dirinya.

Hendaklah kita mempunyai hati seperti halnya pemazmur yang menyatakan Tuhan, ajarlah aku menghitung hari-hariku sehingga aku dapat memperoleh hati yang bijaksana. Ingat, waktu ini tidak akan dapat terulang kembali karena itu hari ini ketika Tuhan memanggil kita maka janganlah engkau menyia-nyiakan momen ini, janganlah kita membuang anugerah Tuhan sebelum akhirnya kita menyesal nanti. Sayangnya, hari ini banyak orang yang beranggapan bahwa hidup bagi Tuhan bukanlah sekarang tetapi nanti kalau kita sudah tua maka tidaklah heran kalau orang menunda-nunda menjadi pengikut Tuhan. Pertanyaannya sekarang adalah apakah kita tahu sampai berapa lamakah waktu kita hidup di dunia? Karena itu segeralah memohon ampun dan bertobat dan biarkan hidup kita dipakai Tuhan sebelum tiba waktu-Nya Tuhan memanggil kita.

III. Allah Sang Pemilik Waktu

Allah yang memiliki waktu, manusia tidak berhak atas waktu ini maka segala waktu-waktu yang ada ini harus kita kembalikan kepada Tuhan. Hati-hati, iblis mencoba menjebak manusia sedemikian rupa sehingga waktu-waktu ini tidak digunakan untuk Tuhan tetapi diserahkan kepada iblis. Pertanyaan sekarang adalah bagaimana kita menggunakan waktu untuk kemuliaan Tuhan? Dalam perumpamaan yang Tuhan ajarkan dengan jelas dan tegas si tuan yang empunya ladang menyatakan bahwa dia adalah pemilik semuanya maka merupakan hak dia mau memberi berapa pada pekerjanya. Hal ini menjadi gambaran bahwa Allah adalah Allah pencipta, Dialah pemilik alam semesta ini dan kita adalah ciptaan-Nya maka kita tidak berhak menuntut apapun dari Sang Pencipta.

Sadarlah, sungguh merupakan suatu anugerah kalau kita dapat hidup di dunia. Tuhan adalah Sang Pencipta dan Tuhan hanya memberikan pada manusia sebuah kapasitas mencipta dan tanggung jawab ada di tangan manusia; sudahkah karya ciptaannya itu dipakai untuk kemuliaan Tuhan atau justru untuk kemuliaan diri? Tuhan adalah Sang pemilik waktu dan manusia diberikan hak oleh Tuhan untuk memakai waktu namun pertanyaannya sekarang adalah sudahkah kita memakai waktu-waktu yang Tuhan anugerahkan pada kita ini untuk kemuliaan Tuhan, untuk hal yang bernilai kekekalan ataukah justru kita pakai waktu ini untuk berbuat dosa?

Biarlah kita mengevaluasi diri kita, kalau selama ini kita hidup sudahkah kita menggunakan waktu-waktu ini dengan bijkasana? Hati-hati, iblis dengan segala cara akan berusaha menjebak manusia supaya kita menyerahkan waktu-waktu ini ke dalam tangannya. Betapa bodohnya kita kalau kita menyerahkan hidup kita ke dalam tangan iblis dan berakhir dengan kebinasaan. Sadarlah dan bertobatlah biarlah kita pakai hari-hari kita hanya untuk Tuhan dan kemuliaan-Nya. Biarlah setiap detik kita menghitung waktu-waktu sudahkah kita menggunakan waktu ini dengan bertanggung jawab dan bijaksana? Amin. ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)