Ringkasan Khotbah : 4 Desember 2005

Kesaksian Iman

Nats: Roma 1:8-12

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Dalam suratnya, Paulus memuji dan sangat menghargai jemaat di Roma karena kesaksian iman yang mereka nyatakan bahkan dikatakan Paulus rindu ingin datang ke Roma guna saling menguatkan dan saling menghibur (Rm. 1:12). Muncul beberapa pendapat yang menyatakan bahwa jemaat Roma merupakan hasil dari penginjilan Apolos, argumen yang lain menyatakan jemaat Roma merupakan hasil dari Pentakosta pertama, argumen yang lain menyatakan kalau jemaat Roma ini adalah orang-orang Yerusalem yang melarikan diri karena penganiayaan di negerinya. Banyak pendapat yang muncul tentang asal mula jemaat Roma tetapi satu hal yang pasti jemaat Roma ini bukan hasil dari penginjilan Paulus, tidak ada hubungan pribadi secara langsung antara Paulus dan jemaat Roma.

Beberapa aspek yang membuat jemaat Roma ini menjadi sangat istimewa, yaitu:

Pertama, Kota Roma merupakan pusat pemerintahan, kota metropolitan. Dibandingkan dengan jemaat lain yang hidup di kota lebih kecil maka orang yang hidup di kota Roma ini hidupnya lebih kompleks, banyak tantangan dan kesulitan yang harus dihadapi namun toh hal ini tidak menyebabkan iman mereka menjadi luntur sebaliknya iman mereka semakin kuat dan kabar tentang iman mereka ini tersiar sampai ke seluruh dunia.

Kedua, Kota Roma merupakan pusat dari seluruh pengajaran filsafat dunia. Kalau kita bandingkan dengan surat Paulus yang lain maka struktur dan isi surat Roma ini paling kental, komprehensif, padat, dan tajam bahkan ada teolog yang mengatakan surat Roma sebagai miniatur dari Alkitab atau setidaknya miniatur dari Perjanjian Baru. Karena strukturnya dan isinya yang sedemikian tajam sehingga muncul pendapat yang mengatakan kalau seandainya seluruh Alkitab di dunia ini tidak ada dan hanya tersisa  surat Roma saja maka orang dapat bertobat dan dapat menjadi Kristen. Faktor lain yang membuat Paulus merasa perlu menuliskan suratnya ini secara lengkap adalah: 1) jemaat Roma bukan jemaat yang ia didik dan ia bangun sehingga ia merasa perlu untuk memberikan gambaran doktrinal secara total; 2) jemaat Roma termasuk dalam golongan orang pandai, mereka tidak dapat menerima suatu pengajaran dengan mudah sehingga dibutuhkan suatu doktrin yang kuat supaya iman mereka dapat bertahan di tengah situasi dan tantangan yang sulit.

Ketiga, Kekaisaran Roma sangat membenci Kekristenan. Sejarah membuktikan tujuh dari sepuluh Kaisar Roma ini ingin memusnahkan orang Kristen karena Kekristenan menentang keras penyembahan Kaisar yang menganggap dirinya sebagai wakil dewa; Kekristenan hanya mengakui satu Kedaulatan yaitu Kedaulatan Allah. Kelompok yang sama yang menentang keras tentang penyembahan manusia yang dianggap sebagai dewa adalah kelompok orang Yahudi namun orang Yahudi ini tidaklah menjadi suatu ancaman karena orang Yahudi menganggap dirinya eksklusif, hidup dalam suatu lokalisasi kecil dan rajanya, yaitu Herodes berkompromi dengan  kaisar Roma. Sebaliknya orang Kristen yang tersebar di seluruh kota Roma inilah yang dianggap sebagai musuh terbesar karena mereka mengajarkan tentang hidup beriman di dalam Kristus dan hanya kepada Kristus sajalah orang harus menyembah. Dari sini kita dapat melihat bahwa menjadi orang Kristen di kota Roma ini sangatlah berat karena tekanan hidup dan ancaman penganiayaan yang harus mereka hadapi sangatlah berat.

Hari ini, kita hidup di dunia modern juga menghadapi tantangan dan ancaman seperti yang dialami oleh jemaat Roma maka surat Roma ini menjadi refleksi sekaligus kekuatan dan penghiburan bagi kita. Sejak dahulu orang Kristen sudah menghadapi tantangan yang berat namun mereka tetap beriman dan menjadi saksi Kristus hingga ke seluruh dunia. Pertanyaannya bagaimana dengan iman kita?

Ada beberapa hal yang perlu kita pahami berkaitan dengan iman dimana iman yang dapat menjadi suatu kesaksian, yaitu:

1. Kesaksian Iman merupakan anugerah Tuhan  

Paulus melihat pertumbuhan iman itu merupakan anugerah dari Tuhan. Begitu juga dengan imannya, kalau ia masih dapat bertahan dan mempunyai kekuatan maka itu merupakan suatu anugerah; Tuhan akan mengaruniakan kemampuan sehingga kita dapat berkata-kata pada saat kita berada dalam kesulitan (Mat. 10:18-20). Jangan pernah berpikir bahwa iman hasil dari usaha kita. Bukan! Hendaklah kita menyadari bahwa iman dan pertumbuhannya ini merupakan anugerah Tuhan. Pada saat kita berada dalam kesulitan dan penderitaan, ingat kita mempunyai Tuhan, Dia tidak akan membiarkan kita terjatuh. Hanya memandang kepada Allah saja kita akan memperoleh kekuatan sehingga seluruh masalah kita terasa ringan dan menjadi kecil sebaliknya ketika gagal memandang kepada Allah maka seluruh masalah akan menjadi besar. Konsep paradoks inilah yang memampukan kita menjadi saksi di tengah dunia.

Banyak orang yang berpikir bahwa kalau ia sudah menjalankan seluruh ritual atau kegiatan agama berarti ia sudah beriman Kristen. Salah! Memang baik kalau kita merasakan ada sesuatu yang kosong dalam hati ketika kita tidak beribadah atau melayani namun kalau ibadah dan pelayanan tersebut menjadi ritual maka semua yang kita lakukan tidak ada nilainya di mata Tuhan; semua itu tidak lebih hanya sampah yang harus dibuang ke dalam tong sampah. Jikalau benar selama ini kita berbuat demikian maka kita harus bertobat dan mohon pengampunan-Nya. Orang yang mengaku hidup beriman pada Kristus tetapi mengandalkan kekuatan sendiri maka itulah titik awal kegagalannya.

Di dalam situasi yang pelik inilah jemaat Roma tertantang dan terdorong untuk merekonstruksi kembali iman berbeda halnya kalau kita berada pada situasi dan kondisi yang nyaman maka iman itu tidak pernah diuji. Ketika seorang masuk dalam suatu momen ekstensial, yaitu suatu momen yang menentukan hidupnya maka itu menjadi suatu titik kritis. Kesulitan dan penderitaan itulah yang menjadi titik paradoxical sekaligus menjadi titik putar, yakni iman semakin bertumbuh atau orang mulai meninggalkan imannya. Itulah sebabnya kalau terkadang Tuhan “sengaja“ membiarkan kita berada di dalam kesulitan itu adalah demi untuk kebaikan kita, yakni untuk mempertumbuhkan iman kita. Pertanyaannnya adalah kenapa orang harus dipukul Tuhan terlebih dahulu baru kemudian ia mau bertobat? Marilah kita menciptakan momen eksistensial positif di dalam diri kita. Jangan jadikan kesulitan itu sebagai titik putar tetapi biarlah di dalam situasi nyaman pun itu menjadi titik putar bagi kita, yakni kita menyadari bahwa iman itu merupakan anugerah dari Tuhan.

2. Kesaksian Iman merupakan Konsekuensi Logis Orang Percaya

Hati-hati dengan rupa-rupa ajaran sesat yang menyatakan bahwa iman itu merupakan usaha dan kekuatan diri sendiri atau ajaran sesat lain menyatakan bahwa iman itu menjadi jaminan seseorang masuk ke Sorga. Pendapat yang senada diungkapkan oleh kelompok orang semi armenianistik, yaitu keselamatan itu merupakan anugerah tetapi juga hasil dari perjuangan diri. Hati-hati, sepintas sepertinya ajaran ini benar, yakni iman itu anugerah Tuhan tapi iman itu ternyata dapat dianulir, yakni ketika orang tidak menjalankan iman maka ia tidak akan mendapatkan sorga. Perhatikan, Tuhan justru mengajarkan bahwa iman itu merupakan anugerah dan Tuhan menuntut pertanggung jawaban dari kita atas anugerah iman yang telah Dia berikan tersebut. Sungguh sangatlah tidak masuk akal kalau seorang sudah berbuat baik kepada kita tetapi kita justru berbalik berbuat kurang ajar padanya.

Tuhan telah menganugerahkan iman kepada kita, Dia telah melakukan sesuatu yang besar untuk kita, Dia telah berkorban nyawa demi untuk kita masakan kita tidak berterima kasih pada-Nya? Tidak hanya sampai disitu bahkan Tuhan telah memimpin langkah hidup kita, Dia memberikan kekuatan dan karunia pada kita supaya kita dapat hidup benar di hadapan-Nya, pertanyaannya sekarang adalah bagaimanakah respon kita? Apakah kita termasuk seorang yang egois yang penting masuk sorga sehingga tidak peduli yang lain? Sungguh sangatlah tidak masuk akal seseorang yang sudah merasakan anugerah Tuhan yang berlimpah di dalam hidupnya tapi dia malah berbuat hal yang kurang baik pada-Nya bahkan kita berdiam diri tidak meresponi anugerah Tuhan itu sangatlah tidak baik. Bagaimana perasaan kita ketika kita diperlakukan tidak baik atau didiamkan saja, tidak ada satu pun ucapan terima kasih yang keluar dari mulut seseorang yang telah kita tolong padahal kita telah melakukan kebajikan padanya? Sebagai respon kita atas anugerah Tuhan itu paling minim hal yang dapat kita lakukan adalah tidak mempermalukan nama-Nya tetapi sesungguhnya kita dapat melakukan lebih dengan menjadi saksi bagi-Nya. Hari ini kita pun berada di tengah situasi politik, ekonomi dan keamanan yang sangat pelik. Banyak orang yang tidak tahu bagaimana harus bersikap dan bagaimana menyelesaikan seluruh persoalan hidupnya, orang tidak tahu kepada siapa mereka memohon pertolongan akibatnya orang mulai kehilangan pengharapan. Dapatlah dibayangkan, kalau keselamatan seseorang ditentukan oleh perbuatan baik maka betapa sulitnya mereka untuk masuk sorga karena orang harus berjuang mati-matian di tengah situasi sulit itu demi untuk mendapatkan sorga. Sungguh sangatlah menyedihkan keadaan orang yang tidak mengenal  anugerah Tuhan. Jangan pernah berpikir kalau kesulitan dan tantangan itu hanya menerpa pada orang golongan menengah ke bawah saja. Tidak! Orang golongan menengah ke atas pun juga mengalami tantangan yang sama. Karena itu, sadarlah kalau kita dapat beriman di tengah situasi yang sedemikian pelik ini maka itu bukan karena kekuatan kita tetapi semata-mata karena anugerah Tuhan.

Hidup bersaksi menyatakan iman kepada dunia bukanlah hal yang sederhana sebab di dalamnya ada suatu kerinduan untuk mengimplementasikan konsekuensi logis dari anugerah Tuhan yang telah kita terima. Konsep anugerah ini sangat dominan dalam surat Paulus mulai dari pasal pertama hingga terakhir yang ditutup dengan doxology: sebab segala sesuatu dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya (Rm. 11:36). Justru sangatlah tidak wajar kalau kita tidak bersaksi pada dunia menyaksikan anugerah Tuhan yang berlimpah itu. Kalau kita melayani, kita tahu bahwa semua itu merupakan perwujudan dari iman sejati yang telah kita proklamasikan itu diwujudkan dalam pelayanan karena kita tahu bahwa sebagai anak Tuhan, kita harus bersaksi pada dunia. Ingat, iman bukan sekedar sebuah rutinitas pelaksanaan. Tidak! Iman adalah bukti anugerah Allah turun atas kita.  

3. Kesaksian Iman Nyata dalam Perbuatan

Kesaksian iman bersifat terbuka dimana semua orang dapat melihat kelakuan kita. Ada orang yang beranggapan bahwa iman Kristen itu adalah tindakan hati akan tetapi iman kalau hanya berhenti pada tindakan hati maka hal itu belum dapat dikatakan sebagai tindakan iman. Iman harus dimulai dari hati yang diubahkan, heart lalu turun pada pola pikir, mind lalu turun pada behaviour dan teraplikasi dalam tindakan sehari-hari. Orang yang bertobat hati dan pikirannya dibukakan, ada perubahan yang terjadi dalam hidupnya. Sebaliknya orang yang tidak mau bertobat maka antara hati dan pikiran ada suatu jarak dan dalam hal ini yang berperan adalah pola pikirnya. Orang yang demikian ini akan menjadi dualistik, sepertinya Kristen tetapi sesungguhnya pikirannya dikuasai oleh filsafat dunia Orang yang pikirannya dikuasai oleh materialisme – humanisme maka seluruh implikasi hidupnya adalah materi dan seluruh tindakannya hanya bertujuan untuk mendapatkan uang tetapi di satu sisi ia mengaku beriman Kristen.

Penyebab terputusnya hati dengan pola pikir ini adalah dosa dam tidak ada satupun manusia yang dapat memulihkan hubungan yang terputus ini. Satu-satunya cara supaya hubungan yang terputus ini kembali dipulihkan adalah dengan bertobat, meminta ampun pada Tuhan. Maka tidaklah heran kalau hari ini kita menjumpai orang yang mengaku Kristen, percaya bahwa Kristus adalah Juruselamat tetapi hatinya tidak diubahkan sehingga tidak dapat menjadi kesaksian yang hidup. Iman Kristen bukan dualisme tetapi iman Kristen merupakan satu kesatuan. Hati yang telah diubahkan dan diperbaharui oleh Roh Kudus itu menerobos seluruh pola pikir kita dan pola pikir itu menerobos seluruh informasi dan ajaran yang kita terima dan seluruh informasi itu menjadikan suatu bentukan hidup yang benar ini menghasilkan suatu tindakan yang benar. Roh Kudus yang menyadarkan kita akan kebenaran dan memampukan  kita untuk bersaksi.

Hidup Kristen bukanlah hidup yang dualistik tetapi seluruh hidup kita dibentuk dan diubahkan oleh Kristus. Kristus adalah Tuhan yang berdaulat atas hidup kita. Banyak orang yang hanya mau Kristus sebagai Juruselamat yang menyelamatkan hidupnya dan membawa masuk ke sorga. Tuhan menegaskan supaya kita menguduskan Kristus sebagai Tuhan yang berkuasa atas hidup kita (1Ptr. 3:15). Biarlah kita mengevaluasi diri sudahkah kita men-Tuhankan Kristus sebagai Tuhan? Sudahkah kita memuliakan dan menyenangkan hati-Nya sebagai respon atas anugerah-Nya yang telah turun atas kita? Sudahkan kita menjadi kesaksian yang hidup bagi orang-orang disekitar kita?  Amin. ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)