Ringkasan Khotbah : 25 September 2005

The Cost of Discipleship in Christ's Ministry

Nats: Mat. 28:19

Pengkhotbah : Ev. Warsoma Kanta

 

Kita mengamati perkataan Tuhan Yesus dan sikapNya dalam pelayanan selama di dunia. Salah satu kalimat yang paling penting adalah perintah Tuhan Yesus yang terakhir atau yang lebih dikenal sebagai Amanat Agung: “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku....“ (Mat. 28:19a).

Perintah ini sangatlah unik karena: pertama, perintah ini menunjukkan inisiatif ilahi yang datang dari Allah, Allah yang datang mendekati para murid (Mat. 28:18). Tuhan Yesus memilih mereka dan memberikan mereka suatu amanat. Beberapa orang menafsirkan kalau pada pertemuan terakhir bisa saja Tuhan Yesus mengingatkan para murid akan kesalahan yang mereka pernah lakukan di masa lalu – misalnya peristiwa penyangkalan terhadap diriNya – mengapa engkau berkhianat dan meninggalkan diriNya. Akan tetapi, tidak ada satu katapun yang keluar dari Tuhan Yesus yang mengungkapkan tentang masa lalu para murid yang gelap ini. Mengapa demikian? Ada sesuatu yang bersifat lebih penting yang harus dikerjakan para murid, yaitu “Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku....“ Puji Tuhan, Dia telah memberikan Amanat Agung ini pada para murid sehingga hari ini, kita dapat duduk beribadah di sini. Kita dapat menjadi umat Allah; kedua, Amanat Agung ini bukanlah sekedar himbauan atau berita biasa tetapi perintah ini merupakan perintah Ilahi, perintah yang datang dari Kristus Tuhan Sang Raja. Amanat Agung ini bukan sekedar terkait dengan penginjilan tetapi ada makna lain yang terkandung, yaitu cost of discipleship, menjadikan semua bangsa murid Kristus, bukan hanya mengenal Yesus sebagai Juruselamat satu-satunya; ketiga, Amanat Agung ini diapit oleh dua janji Tuhan, yakni: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi,“ ini berarti  apa yang kita lakukan itu bukanlah perintah biasa tetapi kita melakukan perintah dari Kristus Tuhan yang berkuasa atas sorga dan bumi. Janji yang lain, yakni: “Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.“ Menunjukkan adanya suatu penegasan tentang penyertaan Tuhan sehingga dari kenyataan dua janji ini, pasti menunjukkan kalimat “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku....“ (Mat. 28:19a). Merupakan kalimat yang sangat istimewa karena sangat jarang Kristus mengucapkan satu kalimat yang diapit oleh kedua janji seperti kalimat ini.

Apabila kita membaca “Jadikanlah semua bangsa murid-Ku...“ maka akan timbul suatu pertanyaan: mengapa kalimat ini menjadi suatu amanat agung? Memang kalimat inilah yang mendorong berjuta-juta orang pergi meninggalkan kehidupannya yang mapan, meninggalkan statusnya bahkan keluarganya menuju daerah-daerah terpencil untuk mengabarkan berita Injil sukacita. Tetapi mengapa kalimat ini disebut sebagai Amanat Agung? Ada tiga hal yang menjadikan kalimat ini sebagai Amanat Agung:

Pertama, Yesus melihat bahwa manusia terjebak dalam dua kehidupan kerohanian yang ekstrim, yakni: a) kehidupan di luar realitas kehidupan iman  yang membuat orang semakin jauh dari Tuhan. Manusia menjalani hari demi hari tanpa manusia itu mengerti apa yang menjadi makna dan tujuan hidupnya di tengah dunia, manusia tidak menyadari bahwa jiwanya semakin menuju pada kebinasaan. Melihat manusia layaknya seekor domba yang tak bergembala maka tergeraklah hati Tuhan Yesus oleh belas kasihan – Dia datang ke dunia untuk menyelamatkan jiwa-jiwa yang tersesat. Hari ini, kalau kita mendengar ada salah seorang saudara kita yang meregang nyawa pastilah kita akan berhenti dari segala kegiatan kita sebelumnya dan memberikan perhatian secara khusus padanya. Seperti demikianlah situasi dan kondisi hari itu ketika Tuhan Yesus melihat keadaan manusia. Memang Tuhan Yesus harus mati disalib! Kematiannya merupakan syarat mutlak untuk memenuhi tuntutan hukum Taurat dengan demikian manusia dapat diselamatkan dan hubungan manusia dengan Allah dipulihkan. Namun semuanya itu harus disertai dengan pekerjaan Roh Kudus yang menyadarkan seseorang akan dosa mereka. Tugas kitalah untuk pergi memberitakan kabar sukacita, dan menjadi saksi-Nya dengan demikian orang lain dapat mengerti keadaan mereka sebagai manusia yang berdosa, yang membutuhkan keselamatan. b) orang terjebak dalam kehidupan religiusitas yang semu, orang merasa dirinya sudah beragama karena melakukan semua kegiatan keagamaan tetapi sesungguhnya, orang hanya mencari suatu status terhormat di tengah masyarakat seperti yang dilakukan oleh orang Farisi. Selain itu kehidupan keagamaan itu tidak lebih hanya sekedar suatu ritualitas belaka tanpa orang  mengerti esensi dari kehidupan agama yang mereka jalankan. Religiusitas semu ini menjadi suatu kebiasaan buruk bagi mereka, setiap hari mereka ada dalam rumah Tuhan, mempelajari Taurat namun mereka tidak pernah bertemu dengan Tuhan secara pribadi.

Kedua, Pemuridan merupakan hal yang prioritas dalam pelayanan Tuhan Yesus sendiri. Ketika pertama kali Tuhan Yesus tampil di Galilea untuk memulai pelayanan-Nya, hal pertama yang dilakukanNya adalah Ia memanggil para murid (Mrk. 1:16). Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa murid ini menjadi hal yang prioritas bagi Tuhan Yesus sebelum Ia melakukan pelayanan lain? Tuhan Yesus menyadari bahwa kehidupan pelayanan-Nya di dunia sangatlah singkat dan Tuhan Yesus juga tahu bahwa untuk menunjukkan suatu perubahan yang nyata bagi dunia maka Dia memanggil para murid yang melaluinya pekerjaan-Nya diteruskan. Murid ini demikian penting bagi pelayanan Tuhan Yesus sehingga Ia berdoa dan bergumul semalam-malaman untuk menentukan rasul-rasul yang tepat bagi-Nya. Disamping itu, Tuhan Yesus juga menyadari apabila Ia mau membentuk suatu pribadi yang utuh maka Dia harus begitu dekat dengan para murid dengan demikian para murid mempunyai suatu kehidupan yang nyata seperti kehidupan Kristus dan menjadi berkat bagi dunia. Pembentukan dan penunjukkan murid dalam pelayanan Tuhan Yesus bukanlah hal yang remeh.

Ketiga, Pembentukan murid merupakan hal yang penting urgent. Kalau sebelumnya Tuhan Yesus mengajar dengan berbicara di depan banyak orang maka ketika saat-Nya sudah dekat dimana orang mulai mencari kesalahan-Nya maka Tuhan Yesus pun menyadari bahwa Ia harus mengajarkan pada para murid ajaran yang lebih mendalam dimana ajaran ini bersifat eksklusif, yakni hanya Tuhan Yesus dan para murid. Strategi inilah yang dipakai oleh Tuhan Yesus untuk mengembangkan Kerajaan-Nya, yakni membentuk pribadi para murid.

Oleh karena itu, pemuridan merupakan suatu hal yang penting. Di lain pihak kita harus menyadari bahwa kalau kita dipilih menjadi murid Kristus maka hal itu semata-mata karena anugerah! Siapakah kita manusia berdosa yang hina sehingga Tuhan berkenan dan memilih kita menjadi muridNya? Ingat, tidak ada setitik pun jasa kita kalau kita bisa menjadi murid Kristus, semua karena anugerah-Nya. Tuhan berkenan mempercayakan pekerjaan-Nya yang agung dan mulia itu untuk kita kerjakan. Konsep pilihan ini nampak jelas dan dapat kita lihat ketika Tuhan Yesus memilih kedua belas murid-Nya di antara ribuan orang yang mengikut Dia.

Apabila kita melihat lebih jauh Amanat Agung-Nya akan timbul pertanyaan lain yaitu kenapa harus “murid“? Mengapa Tuhan Yesus tidak mengganti istilah “murid“ itu sebagai “petobat“, jadikanlah semua bangsa petobat-Ku (misalnya)? Istilah “murid“ berasal dari bahasa aslinya mathetes dimana di dalamnya tercakup ada lima aspek penting, yaitu:

1. Seorang murid harus peka mendengar panggilan gurunya. Seorang murid sejati haruslah mendengar dan melakukan apa yang telah diucapkan oleh Sang Guru. Memang Tuhan Yesus pergi ke daerah-daerah untuk mewartakan kabar kebenaran sehingga dalam kaitannya dengan itu Tuhan Yesus memiliki fungsi sebagai penginjil yang menyuarakan kebar suka cita ke seluruh dunia. Sebagai seorang murid, kita harus mendengarkan suara Tuhan, suatu kebenaran Ilahi. Seorang murid adalah suatu pribadi yang khusus karena di tengah-tengah segala kesimpang siuran suara dunia, ia harus memfokuskan hatinya pada satu suara, yakni suara Sang Guru, suatu kebenaran Ilahi. Seorang murid berbeda dengan seorang biasa karena dalam diri seorang murid ada suatu eksklusifitas antara dirinya dengan gurunya khususnya dalam memperhatikan dan mendengar panggilan serta ajaran gurunya.

2. Seorang murid harus mengkaitkan dirinya, join together dengan Sang Guru. Tuhan Yesus tidak menyebut mereka sebagai murid lagi tetapi seorang sahabat, hal ini menunjukkan hubungan yang erat antara Guru dan murid. Kemanapun Tuhan Yesus pergi maka disana ada para murid yang turut bersamanya. Kebersamaan antara guru dan murid menjadi suatu ciri khas dan hal ini nyata dalam pelayanan Tuhan Yesus. Tuhan Yesus menunjukkan fungsinya sebagai seorang guru yang mengajarkan kebenaran sejati, memperbaiki pola kehidupan rohani para murid yang salah pada saat itu. Hal ini tidak mungkin terjadi kalau para murid hanya sekedar mendengar tetapi harus ada hubungan yang erat antara guru dan murid sehingga para murid semakin mengenal dan semakin dekat dengan Tuhan. Seorang murid tidak hanya sekedar mempelajari kebenaran sejati, truth tetapi juga mempelajari kebenaran yang terimplikasi dalam kehidupan sehari-hari, righteousness. Kalau tidak ada hubungan yang erat dengan gurunya maka mustahil seorang murid dapat melihat bagaimana Sang Guru mengimplikasikan kebenaran yang Dia ajarkan tersebut, yakni melihat bagaimana truth menjadi wisdom, truth menjadi justice. Itulah sebabnya Tuhan Yesus ingin supaya kita pergi dan menjadikan “murid“ (Mat. 28:19a) bukan “petobat.“ Hal ini menjadi tantangan bagi kita ketika kita membawa orang kepada Tuhan, kita bukan hanya sekedar memberitakan Kristus sebagai Juruselamat tetapi bagaimana kita menjadikan mereka sebagai murid.

3. Seorang murid harus meneladani seluruh sikap dan tingkah laku gurunya. Dalam hal ini ada proses modelling atau imitating, dengan demikian seluruh pemikiran, sikap dan tingkah laku murid menjadi serupa dengan gurunya, Christ likeness. Prinsip ini hanya ada dalam discipleship. Jelas bahwa seorang murid tidak hanya sekedar erat dengan gurunya tetapi seorang murid haruslah semakin serupa dengan Sang Guru yang dalam hal ini Sang Guru menjadi model bagi murid-Nya. Collin Brown menegaskan bahwa proses modelling dan imitating ini dapat mengubah kehidupan seseorang yang sebelumnya berbeda kini menjadi serupa dengan Sang Guru. Selama hidup di dunia, Tuhan Yesus telah menjadi teladan bagi para murid-Nya. Ia telah menjadi model yang selayaknya untuk kita tiru. Seorang yang mengaku dirinya sebagai murid tetapi tidak ada sedikitpun perubahan dalam hidupnya, yakni semakin serupa dengan Kristus maka ia tidak layak disebut sebagai murid. Penginjilan tidak boleh dilepaskan dari pemuridan.

4. Seorang murid harus senantiasa mengikuti (ngintil, bhs Jawa) kemana Sang Guru pergi.  Kesehatian antara Guru dan murid, sangatlah erat, jadi, bukan hanya sebagian diri yang dikaitkan pada Sang Guru tetapi keseluruhan totalitas hidupnya diserahkan kepada Tuhan. Tuhan Yesus berkata „Akulah Gembala yang baik“ (Yoh 10), Di tengah-tengah situasi yang kacau balau, Tuhan Yesus menjadikan diri-Nya sebagai Gembala bagi murid-murid-Nya,  “Akulah gembala yang baik, Aku mengenal domba-domba-Ku“ dan Tuhan Yesus juga ingin kesebelas murid itu menjadi gembala bagi murid-murid yang lain. Istilah “murid“ yang Tuhan pakai ini sangatlah unik sebab hanya seorang muridlah yang dapat mengenal dan memahami siapa Tuhannya.

5. Seorang murid harus bergantung mutlak dalam hal kerohanian pada Sang Guru, spiritual dependency. Jadi, kalau Sang Guru melakukan kesalahan dalam kehidupan rohaninya maka muridnya pasti juga akan melakukan kesalahan yang sama. Tuhan Yesus ingin ketika kita membawa orang kita menyadari bahwa kita sedang membawa orang masuk dalam suatu dimensi spritual bukan sekedar membawa orang masuk dalam suatu organisasi gereja. Bukan! Sayangnya, hari ini banyak gereja tidak peduli lagi akan adanya suatu “pemuridan.“ Memang, Amanat Agung yang Tuhan berikan pada kita bukanlah tugas yang ringan namun biarlah kita menyadari kalau kita mendapat tugas agung dan mulia maka itu merupakan suatu anugerah karena kita termasuk orang-orang yang dipilih Tuhan untuk mengemban tugas tersebut. Pertanyaannya sekarang adalah apakah kita sudah menjadikan diri kita seorang murid yang sejati  sebelum kita menjadikan orang lain itu sebagai seorang murid? Ketika kita berada dalam kesulitan dan tantangan berat, apakah kita tetap menjadi seorang murid yang setia? Apakah kita peka akan keadaan dan kondisi orang lain yang membutuhkan keselamatan maka sebagai seorang murid, kita ada disana menghibur mereka, menjadikan mereka sebagai murid Kristus sejati?  

Tuhan janji, Ia akan menyertai kita sepanjang akhir zaman maka janganlah takut untuk pergi dan menjadikan orang lain sebagai murid Kristus. Biarlah kita bertekad mau menjadi seorang murid sejati, seorang murid yang mau berproses dan diubahkan untuk semakin serupa Kristus dengan demikian kita kita dapat menjadikan orang lain sebagai murid Kristus.   Amin. ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)