|
Ringkasan Khotbah : 29 Mei 2004
Nats: Ef. 2:16-20 Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno |
Setiap kali kita melihat roti dan anggur di atas meja perjamuan yang menjadi lambang tubuh Kristus yang dipecahkan dan darah Kristus yang dicurahkan di atas kayu salib, semua penderitaan dan sengsara ditanggung Kristus demi untuk menebus dosa kita; Dia rela mati dan menjadi tebusan dosa demi untuk memulihkan kembali hubungan manusia dengan Allah. Kayu salib menjadi simbol realita dosa. Kalau kita telah memperoleh anugerah penebusan maka sudahkah hal itu berdampak dalam hidup kita dan menjadi kesaksian yang indah bagi orang lain?
Di dunia modern ini dimana teknologi telah berkembang sangat pesat, manusia semakin hebat namun ironisnya, hidup manusia justru semakin dicengkeram ketakutan. Manusia selalu meneriakan kedamaian namun pada saat yang sama tanpa disadari manusia hidup dalam ketakutan, paranoid. Semakin pandai seseorang, ia akan semakin banyak tahu segala hal, hidupnya semakin dicengkeram ketakutan; semakin kaya seseorang maka ia semakin takut hidupnya terancam. Jangan pikir orang yang berada di puncak karier akan puas diri, tidak, ia justru akan semakin ketakutan, takut posisinya terancam. Akibatnya manusia menjadi iri hati, manusia semakin membenci sesamanya sebab ia selalu melihat orang lain sebagai ancaman. Ketakutan ini tidak hanya mencengkeram hidup orang kaya, orang pandai atau orang yang berada di puncak karir, tidak, tetapi orang-orang yang miskin pun juga hidup dalam ketakutan meski ketakutan itu pun berbeda-beda jenis maupun tingkatannya. Gejala paranoid ini bukanlah suatu gejala ringan yang dengan mudah dapat dihilangkan, tidak, gejala paranoid ini dapat menyerang siapa saja tanpa terkecuali mulai dari anak kecil hingga dewasa. Kehidupan moral yang rusak itu muncul di dunia modern sehingga orang mulai bertanya-tanya kenapa gejala paranoia semakin merajalela?
Secara fenomena, orang mungkin tidak memperlihatkan rasa ketakutan itu tetapi orang akan selalu was-was jika berelasi dengan orang lain. Hal inilah yang menyebabkan manusia sulit berdamai dengan sesamanya. Setelah diteliti, manusia bukan takut kehilangan kedudukan atau harta tetapi sesungguhnya, manusia takut pada dirinya sendiri karena manusia tidak dapat menerima realita yang ada pada dirinya, manusia menjadi musuh dari dirinya sendiri. Pada saat itulah ketika kita melihat ke dalam diri orang lain, kita melihat cerminan diri sendiri; kita melihat keburukan kita ada pada diri orang lain. Untuk menutupi keburukan dan kelemahan yang ada pada dirinya, orang memakai “topeng“ untuk membuat bentukan baru dalam dirinya. Dunia psikologi menyebut orang demikian sebagai orang yang berkepribadian ganda, schizoprenia.
Dosa telah merusak relasi Allah – manusia, manusia – manusia dan manusia – alam. Manusia sulit menerima realita bahwa dirinya adalah manusia berdosa dan dunia psikologi memahami hal ini sehingga diberikan tiga alternatif, yaitu:
Pertama, menerima diri apa adanya, menerima diri apa adanya itu lebih sulit jika dibandingkan kita menerima orang lain apa adanya. Menerima orang lain dengan apa adanya lebih mudah sebab tidak ada sangkut paut dengan diri sendiri dan kalaupun kita berelasi dengannya maka kita dapat mengatur relasi itu sedemikian rupa, yakni kita hanya mengambil yang baiknya saja bukan buruknya. Akan lebih sulit ketika kita menerima diri apa adanya sebab kita harus menyadari bahwa selain kelebihan kita juga mempunyai kekurangan dan orang paling orang tidak suka kalau kekurangan yang ada pada dirinya diketahui orang lain sebaliknya, orang lebih suka membuka dan membicarakan kelemahan orang lain. Sesungguhnya, orang ingin menerima diri apa adanya namun ternyata, realita mengungkapkan kalau kita adalah manusia berdosa yang seharusnya dibuang maka hal itu dirasakan amatlah menyakitkan sehingga orang menjadi musuh bagi dirinya sendiri. Maka alternatif pertama ini tidak dapat memecahkan masalah karena orang semakin dicengkeram oleh ketakutan dan menjadi paranoid sehingga dunia psikologi memberikan jalan keluar lain, yakni:
Kedua, positive thinking, berpikir positif berarti hanya melihat semua realita positif dan menerima meniadakan semua realita negatif. Orang memakai segala cara untuk menyembunyikan semua realita negatif yang ada pada dirinya. Ironisnya, dunia modern mengajar pada kita untuk berkata tidak jujur dengan menyembunyikan keburukan yang ada pada dirinya. Namun toh orang akhirnya menyadari bahwa realita negatif tidak dapat disembunyikan. Pada dasarnya manusia tidak suka bila keburukannya diketahui orang lain dan mengetahui kebenaran bahwa dirinya adalah manusia berdosa yang harusnya dibinasakan. Realita ini sangatlah menyakitkan dan menghancurkan hatinya sebab ia sudah kepalang melambung tinggi dengan hanya melihat realita positif saja. Realita yang negatif bukanlah realita palsu. Orang yang positive thinking biasanya tidak bisa memandang diri orang lain positif karena kalau memang benar ia seorang positive thinking sejati maka ketika orang lain berbuat hal yang jahat padanya maka seharusnya ia konsisten yaitu harus tetap berpikir positif. Namun faktanya tidaklah demikian pikiran positif tersebut hanya dikenakan pada dirinya sendiri dan ia selalu berpikiran negatif pada orang lain hal ini dimaksudkan untuk membentengi diri dari niat jahat orang lain. Di saat ia menyadari bahwa dirinya ternyata juga sama seperti orang lain yang mempunyai realita negatif maka saat itu terasa menyakitkan baginya ternyata ia telah menipu diri sendiri. Paranoia itu memukul balik dirinya. Dunia psikologi melihat penyelesaian yang ditawarkan ini mempunyai kelemahan maka psikologi menawarkan jalan keluar yang lain, yaitu:
Ketiga, transpersonal position, yakni melihat diri dengan cara melihat diri dari luar diri. Semua yang dapat kita lihat atau kita raba bukanlah realita yang asli tetapi semua yang kita pikir itulah realita yang sejati. Jadi, realita adalah kesadaran pikiran manusia dan pikiran ini melampaui semua apa yang kita lihat maupun apa yang kita pikirkan. Dunia menyebut gejala ini sebagai virtual reality, realita semu yang diriil-kan maka termasuk dalam dunia mistik modern. Dalam praktek psikologi, kita kenal dengan hipnotis dimana orang dibawa pada alam mimpi. Dunia virtual reality inilah yang digambarkan dalam film Matrix yang menggambarkan permainan realita asli sekaligus semu. Orang mulai dibingungkan antara yang riil dan semu. Dalam teknologi simulasi hal ini sangatlah dimungkinkan sebagai contoh, dalam dunia penerbangan, sebelum seorang pilot dinyatakan lulus dan layak menerbangkan pesawat terbang maka ia harus uji coba terlebih dahulu dalam suatu simulator, yakni ruangan yang dibuat sedemikian rupa sehingga menyerupai pesawat terbang. Di dalam ruangan ini lama kelamaan orang makin kehilangan kesadarannya dan ia seperti berada dalam sebuah pesawat dan sedang menerbangkan pesawat. Dunia virtual reality menjadi sarana untuk kita masuk dalam dunia ide; ide itulah realita yang manusia cipta dimana manusia dapat memperoleh segala sesuatu yang diidamkan. Just think it maka kita akan menjadi seperti apa yang kita idamkan, kita ingin cantik maka kita dapat buat itu dalam dunia simulasi, kita dapat ubah bentuk waja sedemikian rupa. Itulah realita transpersonal yang sedang ditawarkan dunia modern, orang mencoba membentuk diri melalui ide yang kita tanamkan dalam diri kita sendiri lalu kita menyebut itu sebagai realita. Pertanyaannya bisakah kita ikut terlibat di dalamnya yang kita sebut dengan virtual reality? Mungkin untuk jangka waktu tertentu bisa, namun ada saatnya kita harus keluar dari simulator kokpit pesawat untuk kita kembali pada realita sejati. Tentunya setelah orang disadarkan dari mimpi dan kembali pada realita akan sangat menyakitkannya sebab yang kita bayangkan sebagai mimpi itu ternyata palsu.
Dunia psikologi terus mencari jawaban terhadap problematika manusia yang membenci diri, manusia ingin berdamai namun tidak bisa akibatnya manusia justru menjadi musuh bagi dirinya sendiri dan memusuhi siapa saja yang mengancam dirinya, hal ini disebabkan:
1) manusia telah kehilangan pengertian kebenaran sejati maka manusia hidup dalam kerusakan moral, 2) manusia telah kehilangan kemuliaan sehingga menjadi makhluk yang hina. Kemuliaan yang ada dalam diri manusia itu bukanlah milik manusia tetapi milik Tuhan, manusia seharusnya menjadi manusia yang agung dan suci tetapi karena telah melawan Allah yang menjadi sumber Kesucian maka akibatnya manusia kehilangan kemuliaan. Di satu sisi, manusia makhluk mulia tapi di sisi lain manusia adalah makhluk hina maka disini kita melihat ada suatu kesenjangan sehingga dengan segala upaya manusia melakukan apapun demi supaya ia dihormati namun sesungguhnya semua itu merupakan pelampiasan kebencian dirinya akan kehinaan dirinya, 3) manusia akan binasa, padahal manusia itu hidup tetapi ia telah memutuskan diri dari Sumber Hidup sehingga manusia menjadi manusia yang binasa. Dunia tidak dapat menyelesaikan realita-realita tersebut diatas, dunia mencoba memberikan penyelesaian namun realita tetaplah sebuah realita yang tidak dapat disembunyikan. Satu-satunya jawab yang dapat menyelesaikan semua problema itu hanyalah Firman Tuhan, yaitu dengan cara diperdamaikan kembali dengan Allah. Manusia kehilangan damai sejahtera sebab sumber yang dapat memberikan damai itu telah hilang. Seharusnya manusia dapat menikmati damai yang sejati, yaitu damai sejahtera yang dari Allah tapi karena manusia lebih memilih berdamai dengan setan maka damai sejati itu hilang. Tuhan mau memperdamaikan kita yang adalah manusia berdosa dengan diri-Nya dan untuk itu Ia harus mengorbankan anak-Nya demi untuk menyelesaikan murka Allah pada manusia. Kristus harus mati untuk menanggung dosa manusia, tubuhnya dihancurkan dan darah-Nya dicurahkan sehingga kita dapat berdamai kembali dengan Allah maka ada dua impact yang terjadi:
Pertama, Untuk memperdamaikan manusia dengan diri-Nya maka satu-satunya cara, yaitu Kristus, anak Allah yang tunggal itu harus mati di salib menjadi tebusan bagi manusia. Harga yang dibayar sangatlah mahal akan tetapi kalau orang yang sudah diperdamaikan dengan Allah itu masih mempermainkan anugerah penebusan, hidupnya masih bergelimang dalam dosa maka pertanyaannya sekarang benarkah ia sudah diperdamaikan dengan Allah? Betapa jahatnya kita kalau kita mempermainkan kematian Kristus di atas salib dengan tingkah laku hidup kita yang rusak. Banyak orang yang berpendapat bahwa hanya percaya pada Kristus Yesus saja maka kita akan diselamatkan, tidak, tidak sesederhana itu. Percaya Kristus untuk mendapatkan keselamatan hanya dapat melalui salib saja. Allah telah mengerjakan pendamaian ini dengan cara yang mahal dan manusia seharusnya berespon dengan tepat, yaitu hidup seturut kehendak Tuhan dan taat pada pimpinan-Nya. Alangkah indah hidup kita kalau hidup berada dalam pimpinan Tuhan, kita akan merasakan sukacita sejati karena damai sejahtera yang sejati itu diberikan pada kita.
Kedua, Kalau Allah telah memperdamaikan hidup kita dan itu tidaklah murah maka pertanyaannya masih bolehkah kita membenci diri kita? Memang benar kita adalah manusia hina penuh dengan dosa namun Allah berkenan berdamai dengan kita. Kalau Allah yang begitu agung dan suci mau berdamai dengan manusia berdosa betapa celakanya kalau kita tidak mau berdamai dengan diri sendiri. Tuhan telah memberikan teladan indah pada kita maka tidak ada alasan bagi kita untuk tidak berdamai dengan diri sendiri. Kunci berdamai dengan diri bukanlah dengan cara seperti yang dunia psikologi tawarkan dan paparkan. Tidak! Bukan dengan menerima diri apa adanya, bukan menipu diri dengan berpikir positif dan juga bukan dengan menipu keadaan supaya kita dapat menerima diri, transpersonal condition. Tidak! Ketika kita diperdamaikan dengan Allah maka itulah waktu dimana kita dapat berdamai dengan diri sendiri; karena anugerah Tuhan kita telah mendapat kembali kemuliaan dari Tuhan maka pertanyaannya bolehkah kita memusuhi sesama? Kenapa kita masih melihat orang lain sebagai ancaman bagi diri kita? Setelah kita berdamai dengan Allah maka dengan mudah kita dapat berdamai dengan diri sendiri dan kita juga dapat berdamai dengan sesama. Tidak ada lagi perseteruan sebab perseteruan itu telah diambil dan diletakkan di bawah kayu salib (ay. 17) begitu juga kita akan melihat alam ini sebagai alam ciptaan Tuhan, Tuhan memberikan alam ini karena Dia mengasihi manusia dan Tuhan ingin supaya kita juga mengasihi alam ciptaan-Nya dengan menjaga dan memeliharanya. Relasi kita dengan Tuhan menjadi penentu segalanya, kalau hubungan kita dengan Allah putus maka seluruh relasi kita dengan diri, saya dengan sesama maupun saya dengan alam akan hancur.
Kristus mati bukan untuk suatu pekerjaan yang sia-sia tapi Dia mati demi supaya kita dapat berdamai dengan-Nya, demi supaya hubungan kita dipulihkan dengan Bapa dan Dia telah menanggung semua perseteruan. Perdamaian yang dikerjakan oleh Kristus ini sifatnya saling mengikat satu sama lain, apokatalaso (bahasa Yunani) sehingga manusia merasakan keindahan hidup di dunia sebab damai sejahtera itu telah mengikat kita, manusia berdosa dengan Bapa. Kiranya kematian dan kebangkitan Kristus boleh memperdamaikan kita di dalam satu tubuh, dengan Allah oleh salib. Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru (Ef. 2:16, 19-20). Amin (Ring
Amin. ?
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)