Ringkasan Khotbah : 22 Mei 2004

Persembahan yang Terbaik

Nats: 1 Taw 18:6-8,11 ; 29:1-9, 11-15

Pengkhotbah : Pdt. Amin Tjung

 

Di dunia ini setiap manusia pasti ingin mengerjakan hal-hal penting di dalam hidupnya. Orang belumlah merasa cukup dengan lulus meski lulus dengan predikat sangat memuaskan, summa cum laude. Orang pasti akan menyusun rencana-rencana jangka panjang yang menyangkut masa depannya, mungkin ia akan melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi lagi kemudian menikah, mempunyai anak, mendidik anak dan kalau mungkin akan menyekolahkan anak ke luar negeri lalu tua dan akhirnya mati. Ternyata, hanya sampai sebatas itulah kehidupan manusia, berhenti sampai di kematian, lebih dari itu orang tidak dapat berbuat apa-apa. Memang tidak salah kalau kita berpikir yang menyangkut tentang masa depan hidup kita tapi ingat, semua yang kita kerjakan di dunia hanya bersifat sementara, ada hal yang lebih penting yang harus kita kerjakan dan itu bersifat kekal.

Orang pasti akan kagum melihat kehidupan Alexander Agung, di usianya yang masih muda ia telah berhasil menaklukkan hampir seluruh wilayah Asia dan ia juga menjadi murid dari seorang filsuf besar seperti Aristotle maka budaya Yunani itu begitu kental ada di konsep pemikirannya dan budaya Yunani itu juga diterapkan di seluruh wilayah yang ia taklukkan. Maka tidaklah heran pada masa pemerintahan Raja Alexander Agung bahasa Yunani berkembang pesat padahal bangsa Yunani itu sendiri ditaklukkan oleh bangsa Romawi. Menurut sejarah, Alexander Agung meninggal di usia yang sangat muda, 33 tahun dan sebelum meninggal dunia ia berpesan: kalau ia mati, ia ingin supaya peti matinya didesain sedemikian rupa yakni memperlihatkan tangannya yang hampa dengan demikian dunia dapat melihat bahwa ia pergi tanpa membawa apa-apa. Seperti halnya Ayub yang berkata, “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya“ (Ayb. 1:21).  

Hidup di dunia ini hanya sementara, tujuh puluh tahun sampai delapan puluh tahun dan paling lama sembilan puluh tahun karena itu sadarlah, lakukanlah sesuatu yang bermakna yang bersifat kekal di dalam hidup ini. Daud sangat menyadari akan hal ini bahwa di dalam dunia, tidak ada hal lain yang lebih penting daripada ketika kita masuk dalam rencana Allah yang kekal dan menjadi bagian dari Kerajaan Sorga. Allah menciptakan alam semesta dan diciptakan-Nya manusia menurut gambar dan rupa-Nya. Kepada manusia itu, Allah berfirman: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu...“ (Kej. 1:28). Sejak dari pertama, Allah sudah mempunyai rencana kekal atas manusia dan rencana itu dimulai dari taman Eden. Namun iblis ingin      menggagalkan rencana Allah yang kekal ini, iblis menggoda manusia sehingga manusia jatuh ke dalam dosa. Akan tetapi manusia selalu berusaha untuk kembali masuk dalam rencana Allah yang kekal itu.

Kitab Tawarikh adalah kitab yang berisi tentang kehidupan bangsa Israel sekembalinya mereka dari pembuangan dimana bangsa Israel hendak membangun Bait Allah. Menurut konsep teologi Perjanjian Lama, orang selalu berpikir tentang suatu tempat dimana Kerajaan Allah dibangun dan menguasai bumi. Tuhan sendiri yang menunjukkan dan memilih bukit Sion di Yerusalem supaya bangsa Israel mendirikan Bait Allah dan menjadi pusat Kerajaan Allah untuk kemudian menjangkau seluruh dunia. Banyak riset dilakukan untuk mengetahui dengan jelas letak taman Eden seperti yang dituliskan dalam kitab Kejadian dan secara tidak langsung, mereka menyimpulkan taman Eden itu terletak di daerah Yerusalem. Dan sampai detik ini pun orang masih mempunyai pemikiran untuk membangun kembali Bait Allah.

Firman Tuhan mengajarkan bahwa gereja itu bukanlah gedungnya tapi gereja adalah orangnya yaitu jemaat yang telah dipersatukan dalam iman kepada Kristus Yesus. Namun tak dapat dipungkiri juga bahwa kita membutuhkan suatu wadah, yakni tempat dimana orang-orang yang telah dimenangkan itu dapat dididik akan kebenaran dengan demikian mereka dapat meluaskan Kerajaan Allah dan tidak terjebak dalam godaan iblis. Karena itu, berhati-hatilah dalam memilih komunitas dan pergaulan yang baik, pilihlah suatu komunitas dimana imanmu dapat bertumbuh di dalamnya. Untuk itu dibutuhkan suatu wadah dimana anak-anak Tuhan dapat bertumbuh dalam iman, kita dapat menyembah dan memuji Dia, dan bersama-sama memikirkan pekerjaan Tuhan untuk menaklukkan bumi maka disini kita melihat, gedung gereja itu juga penting. Kita pun harus turut membangun Kerajaan Sorga seperti yang Tuhan Yesus ajarkan dalam Doa “Bapa Kami“: Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di Sorga. Dan, kelak setelah dunia ini berakhir, kita pun akan pergi ke suatu tempat, yaitu Sorga. Kristus naik ke Sorga untuk menyediakan tempat bagi kita, Kristus membangun kota itu dimana suatu hari kelak, kota Yerusalem yang baru itu akan turun dari Sorga, kita bersama di dalam langit bumi baru, di dalam persekutuan dengan Allah (Why. 21:1-2).

Salah satu tulisan Marthin Luther yang ada dalam gereja Wittenberg berbunyi: Biarlah di tempat ini, umat Tuhan boleh memuji dan berdoa pada Tuhan, melalui tempai ini Tuhan berbicara pada umat-Nya dan biarlah melalui tempat ini nama Tuhan dipermuliakan. Maka gereja ini sangat penting sebagai sarana untuk memuji-muji dan memuliakan nama Tuhan, umat Tuhan dapat bersekutu dan bertumbuh dalam iman dan menjadi kesaksian. Ketika kita memberitakan Injil dan jiwa itu boleh dimenangkan maka kita membutuhkan suatu tempat dimana mereka boleh dididik dan mengerti akan kebenaran. Bait Allah yang megah dibangun bukan untuk keperluan atau kebanggaan manusia tapi Bait Allah dibangun untuk Allah si empunya Bait. Allah pun turut melengkapi orang-orang yang membangun Bait-Nya. Dalam peperangan, Tuhan menyertai Daud dan memberikan kemenangan padanya. Dari kerajaan-kerajaan yang ditaklukkan itulah Daud peroleh kekayaan dan sungguh, Daud mempunyai hati yang berpaut pada Tuhan, ia memakai harta itu untuk membangun Bait Allah.

Kita patut bersyukur pada-Nya sebab kalau sampai hari ini Tuhan memimpin dan menyertai hidup kita sehingga tidak kekurangan suatu apapun dan itu bukanlah suatu kebetulan tapi Tuhan berkenan melimpahkan anugerah-Nya atas kita. Ingat, semua berkat yang kita terima asalnya dari Tuhan dan biarlah kita pergunakan semua berkat yang Tuhan sudah beri itu untuk pekerjaan Tuhan untuk sesuatu yang bernilai kekal untuk memperluas Kerajaan Allah di dunia. Orang-orang Kristen membutuhkan suatu tempat dimana pekerjaan Tuhan di dunia ini boleh dikembangkan dengan demikian orang boleh disadarkan akan kebenaran dan kembali pada kebenaran Firman. Daud menyadari bahwa apapun yang ia kerjakan haruslah untuk Tuhan dan bernilai kekal, ia tidak saja mengumpulkan harta dari kerajaan-kerajaan lain yang ia taklukkan namun ia juga memakai semua hartanya untuk membangun Bait Allah. Di dunia ini masih banyak jiwa-jiwa yang tersesat namun biarlah kita mempunyai hati yang rindu dan menangisi jiwa-jiwa yang tersesat itu dan biarlah kita juga mempunyai kerinduan untuk membangun Kerajaan Allah di muka bumi ini. Cobalah renungkan, siapakah kita sehingga Tuhan masih berkenan memakai kita untuk turut ambil bagian dalam pekerjaan Tuhan? Kita seharusnya bersyukur untuk anugerah Tuhan yang begitu besar karena itu, ingat, kalau Tuhan telah memberikan berkat penuh melimpah pada kita maka pergunakanlah berkat itu untuk sesuatu yang bersifat kekal.

Semua harta kekayaan kita bukanlah milik kita, semua itu asalnya dari Tuhan, kita datang dengan telanjang maka dengan telanjang pula kita akan kembali (Ayb. 1:21)maka pergunakanlah waktu, tenaga dan hartamu untuk kemuliaan nama Tuhan. Bukan suatu kebetulan kalau kita berada di suatu tempat dimana Tuhan hendak membangun kerajaan-Nya. Tuhan telah tempatkan kita di sana dan Tuhan ingin kita untuk turut ambil bagian dalam pekerjaan-Nya. Ingat, seluruh hidup kita ada di dalam tangan-Nya bukan di harta kita. Karena itu jangan bergantung dan bersandar pada harta dunia yang sebentar lenyap hilang tak berbekas tapi bersandarlah hanya pada Dia sang pemilik hidup kita. Kalau kita dapat memberi persembahan untuk Tuhan maka ingatlah, itu berarti berkat Tuhan – kemurahan hati Tuhan telah terlebih dahulu dicurahkan atas hidup kita. Jangan coba bermain-main dengan Tuhan dengan memberikan persembahan 10% dan berharap mendapatkan 100%. Jikalau anda termasuk orang yang demikian maka segeralah bertobat!

Betapa sukacita ketika kita melihat pekerjaan Tuhan – Kerajaan Sorga dibangun di dunia, kita dapat memuji-muji Tuhan seperti halnya Daud memuji-muji nama Tuhan sebab segala pujian, hormat, kuasa dan kemuliaan hanya bagi Tuhan sebab Dialah pemilik semua itu.  Sadarlah kalau hari ini, kita tidak kekurangan suatu apapun, kita dapat bekerja, kita diselamatkan, kita mengenal Tuhan dan kebenaran-Nya, kita melayani turut ambil bagian dalam pekerjaan Tuhan maka itu semua itu adalah anugerah. Kita adalah orang-orang berdosa dan tidak layak namun Tuhan berkenan menjadikan kita bagian dalam Kerajaan-Nya. Jangan buang waktu, tenaga dan hartamu hanya untuk sesuatu yang bersifat sementara tapi marilah kita pakai semua talenta, harta, tenaga, pikiran kita dipakai untuk pekerjaan Tuhan yang bersifat kekal. Ingat, hidup kita di dunia hanya sementara, kita tidak akan membawa apa-apa ketika kita dipanggil menghadap pada-Nya. Apalah artinya harta banyak di dunia kalau kita kehilangan nyawa.

Kita seharusnya selalu bersyukur karena Tuhan masih bermurah hati pada kita dengan menjadikan kita kawan sekerja-Nya – bersama Dia kita turut membangun kerajaan-Nya. Biarlah kita mempunyai beban dan kerinduan untuk meluaskan Kerajaan Tuhan di bumi dan kita mulai dengan memberitakan Firman yang adalah kebenaran sejati. Kalau Tuhan sudah menggerakkan umat Israel sehingga mereka dengan kerelaan dan dengan tulus hati mereka memberikan persembahan sukarela kepada Tuhan (1Taw. 29:9). Biarlah kita mohon pada Tuhan kiranya Ia memberikan hati yang rela memberi dan mohonlah kiranya Tuhan terus menerus peliharakan sehingga senantiasa kita mempunyai hati yang rela. Ingat, semua yang ada pada kita adalah milik kepunyaan-Nya, kita tidak berhak atasnya maka jangan memberikan sisa pada Tuhan tapi berilah yang sepantasnya untuk Tuhan karena hanya Dia yang memang layak menerima semua itu. Dan biralah kita juga dipakai Tuhan untuk menjadi saksi, membawa jiwa-jiwa yang tersesat dan terhilang kembali pada-Nya.  Amin. ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)