|
Ringkasan Khotbah : 15 Mei 2004
Nats: Kis 2:38 Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno |
Hari ini kita memperingati hari Pentakosta, yakni hari turunnya Roh Kudus yang juga merupakan hari lahirnya gereja perjanjian yang baru dimana gereja Tuhan dimulai dengan format baru, aturan baru dan teologi yang sudah diperbaharui. Ada dua prinsip dalam sejarah Kekristenan yang harus kita pahami, yakni: 1) prinsip diskontinuitas yang bersifat sementara, dan 2) prinsip kontinuitas yang bersifat terus menerus, yaitu:
1. Domba usia satu tahun dan tak bercacat cela – Domba sejati. Penebusan dosa merupakan prinsip kontinuitas sejak Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru, yaitu setiap orang berdosa harus dihukum mati dan penggantinya harus juga mati. Konsep penebusan dosa ini merupakan prinsip prophecy yang bersifat kekal. Domba berusia satu tahun dan tak bercacat cela itu untuk menggambarkan dan memandang kepada Kristus. Domba tebusan itu hanya bersifat sementara namun setelah Kristus, Domba yang sejati itu mati menebus dosa maka tidak ada lagi domba yang disembelih sebagai pengganti dosa. Jadi, kalau hari ini orang masih mengorbankan domba untuk menebus dosa berarti pelecehan terhadap darah Kristus.
2. Bersifat Sementara – Bersifat Kekal. Sejak pentakosta, Roh Kudus tinggal menetap dalam diri seseorang dan itu bersifat kekal. Di jaman Perjanjian Lama, Roh Kudus menyertai seseorang untuk waktu tertentu saja, sifatnya sementara namun setelah pentakosta, Roh Kudus tinggal tetap dalam diri orang percaya karena Kristus, domba Allah yang sejati telah mati satu kali untuk selamanya dan untuk seluruh manusia yang beriman pada-Nya.
3. Berita Perjanjian yang Lama – Berita Salib. Sejak Roh Kudus turun maka yang menjadi berita sentral Kekristenan adalah Kristus yang mati disalibkan untuk menebus dosa; Kristus batu penjuru yang hendak dibuang manusia itulah yang menjadi penentu hidup matinya manusia. Berita inilah yang dikhotbahkan oleh Petrus sehingga 3000 orang bertobat. Sebelum pentakosta, semua khotbah tentang Perjanjian yang Lama, seperti kitab Yesaya, kitab nabi-nabi, tentang Israel, dan lain-lain. Memang tidak salah kalau hari ini orang masih mengkhotbahkan dari Perjanjian Lama tetapi kalau kitab Perjanjian Lama tidak dikaitkan dengan pribadi Kristus maka itu belumlah tuntas. Berita Kekristenan adalah tentang Kristus yang mati menebus dosa dan membawa manusia kembali pada Tuhan maka kalau gereja kehilangan inti berita berarti gereja telah mati.
4. Hari Sabat – Hari Minggu. Sejak Roh Kudus turun maka orang tidak lagi beribadah pada hari Sabat tetapi hari pertama minggu itu, yaitu Minggu. Penetapan hari Pentakosta bukan menurut tanggal tapi menurut hari, yaitu sepuluh hari setelah kenaikan Tuhan Yesus atau lima puluh hari setelah Kebangkitan Tuhan Yesus. Merupakan kesalahan yang fatal kalau orang berpendapat bahwa gereja beribadah hari Minggu karena jasa dari kaisar Romawi. Tidak! Gereja pertama kali dimulai pada saat Petrus berkhotbah dan 3000 orang bertobat dan itu terjadi pada hari Minggu. Memang benar, kaisar Romawi menetapkan orang Kristen untuk kembali beribadah pada hari Minggu karena sebelumnya ibadah orang Kristen hari dan tempatnya selalu berubah untuk menghindari penganiayaan. Namun setelah Raja Konstantine bertobat maka ia membuat peraturan baru, yakni ibadah kembali pada hari Minggu dan semua rakyat harus menjadi Kristen, melawan berarti hukuman mati. Pada jaman Konstantine, Kekristenan menjadi jaya dan hal ini dapat kita lihat adanya bangunan gereja yang megah dengan arsitektur bysanthium – bangunan kuba berbentuk bawang tapi kini, gereja itu telah berubah menjadi mesjid yang kita kenal dengan mesjid Istambul.
Setelah orang mendengar berita tentang Kristus, Roh Kudus mencerahkan pikiran dan hati mereka maka ada tiga hal yang harus terimplikasi, yaitu:
1. Bertobat
Banyak orang mengaku dirinya sebagai orang beragama namun sesungguhnya mereka bukan mencari Allah yang sejati tetapi “allah-allahan.“ Orang hanya ingin “allah“ yang sesuai dengan keinginannya. Ludwig Feuerbach, seorang filsuf sekaligus teolog tetapi karena ia tidak mengerti teologi dengan tepat menjadikannya seorang atheis. Begitu juga Karl Max, pendiri komunis sebelumnya juga pernah belajar teologi. Feuerbach mengungkapkan God is created by man according to image of man, Allah dicipta menurut gambar dan rupa manusia. Ajaran ini berbalik seratus delapan puluh derajat dari Alkitab, yakni manusia dicipta menurut gambar dan rupa Allah karena pada hakekatnya, manusia tidak mau Allah; manusia hanya ingin Allah yang sesuai dengan keinginannya maka tidaklah heran orang akan mencari dan terus mencari sampai diketemukan Allah yang pas dengan gambarannya. Inilah cara manusia mencipta Allah dan kalau sampai akhir tidak ditemukan Allah yang sesuai dengan pikirannya ia akan menciptakan “allah“-nya sendiri. Celakanya, manusia merasa sudah menyembah Allah. Tidak, itu bukan Allah sejati. Bach melihat semua itu sebagai penipuan diri karena itu ia tidak mau menyembah Allah.
Hanya ada satu cara untuk manusia kembali pada Allah, yaitu “bertobat.“ Manusia tidak suka dengan pertobatan karena itu berarti menyadarkan kita akan satu kebenaran, yaitu manusia berdosa. Sesungguhnya, manusia tidak suka dengan kebenaran, manusia senang menipu diri, manusia suka kebohongan. Manusia mana yang senang dan akan berterima kasih ketika diberitahukan bahwa dirinya adalah manusia berdosa? Hanya manusia yang dicerahkan oleh Roh Kudus yang dapat mengaku kalau dirinya adalah manusia berdosa. Perhatikan respon seorang perokok ketika kita memberitahukan bahwa merokok itu berbahaya. Pastinya ia tahu akan bahaya dan resiko yang ditimbulkan dari rokok tapi ia tidak berterima kasih tapi justru marah karena kita dianggap telah mencampuri urusannya. Itulah sifat manusia berdosa. Bertobatlah! Tuhan ingin kita bertobat dan kembali pada-Nya itu demi untuk kebaikan kita. Orang berdosa itulah yang justru menderita, sengsara sebab ia telah melawan natur dirinya dan terlebih lagi ia telah melawan Tuhan, Sang Pemilik hidupnya. Sungguh merupakan suatu anugerah kalau kita dapat menyadari dosa dan kembali pada Tuhan, itu bukan usaha kita tapi Roh Kudus yang telah mencerahkan hati kita. Alangkah indah hidup ini ketika berada dalam pimpinan-Nya karena kita tahu, Tuhan tidak memperhitungkan lagi dosa, Kristus domba yang sejati itu telah menanggung dosa kita, Kristus mati satu kali untuk selama-lamanya dan seluruh umat manusia. Inilah berita Pentakosta.
2. Dibaptis
Setelah bertobat, Tuhan menuntut kita untuk memproklamasikan pertobatan tersebut, yaitu dengan dibaptis. Berbeda dengan tradisi Yahudi, tanda kalau mereka adalah umat pilihan Allah adalah sunat bagi anak yang berusia 8 hari. Sunat juga menjadi tanda bagi orang non Yahudi yang hendak bergabung dan menjadi umat pilihan Allah. Dalam Perjanjian Baru, Tuhan tidak memakai cara yang bersifat jasmaniah itu seperti itu lagi melainkan Roh Kudus seperti bunga api turun ke atas para Rasul dan orang percaya lain yang ada di Yerusalem. Baptisan merupakan suatu proklamasi atau pernyataan bahwa Roh Kudus telah beranugerah sebab kalau Roh Kudus tidak turun maka mustahil kita dapat mengakui dosa-dosa kita. Baptisan bukan syarat keselamatan. Kini, di dunia modern banyak orang yang menganggap tidak penting suatu baptisan, orang berpendapat hatilah yang lebih penting. Memang benar, hati penting tapi hati yang sudah diubahkan harus dinyatakan, yaitu dengan dibaptis dengan demikian kita mengakui di hadapan jemaat umum dan di hadapan Tuhan bahwa saya telah beroleh anugerah Tuhan.
Pernyataan di hadapan umum dan di hadapan Tuhan yang ditandai dengan baptisan ini penting untuk nantinya kita dipanggil untuk menjalankan misi Tuhan. Orang yang sejak pertama sudah takut menyatakan imannya, malu mengakui Tuhan di hadapan umum maka sampai kapanpun ia tidak akan pernah menjadi saksi Tuhan, sampai kapanpun ia akan menjadi seorang penakut di dunia. Kalau benar demikian maka satu-satunya jalan: bertobat! Bertobat merupakan hubungan pribadi kita dengan Tuhan dimana hati kita dimurnikan setelah itu Tuhan ingin kita menyatakan pertobatan itu dengan cara dibaptis dengan demikian kita dapat menjadi saksi-Nya mulai dari Yerusalem, Yudea, Samaria hingga sampai ke ujung bumi. Tuhan telah memberikan amanat Agung pada setiap anak-anak-Nya: pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus dan... (Mat. 28:19-20). Kehadiran Roh Kudus di tengah dunia ini bukan menjadikan manusia egois – keselamatan hanya untuk diri sendiri. Tidak! Tuhan ingin kita bersaksi dan menjadi berkat bagi seluruh bangsa dengan demikian Kerajaan Tuhan semakin diperluas. Pertanyaannya sekarang setelah dibaptis, sudahkah kita bersaksi dan pergi memberitakan Injil ke seluruh dunia? Seorang anak Tuhan sejati seharusnya mempunyai kerinduan mengabarkan Injil, mempunyai hati yang terbeban dengan jiwa-jiwa yang tersesat. Biarlah kita dipakai Tuhan untuk mengabarkan Injil, mintalah Roh Kudus mengurapi dan memberikan kekuatan pada kita dengan demikian kita mempunyai keberanian dan kuasa untuk memberitakan Injil.
3. Menerima Roh Kudus
“Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis... maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus (Kis. 2:38). Kata “karunia“ disini berasal dari bahasa Yunani, dorea yang artinya pemberian, gift berbeda dengan “karunia“ yang tertulis di kitab Korintus berasal dari bahasa Yunani kharismata, yang berarti keahlian yang bersifat khusus, seperti bernubuat, berbahasa Roh, dan lain-lain (1Kor. 12). Dari sini kemudian muncul istilah karismatik. Perhatikan, Roh Kudus turun secara visual, dalam bentuk api, angin, dan berbahasa lain hanya di empat tempat, yakni Yerusalem, Yudea, Samaria dan ujung bumi dan ketika Roh Kudus turun atas seseorang maka Ia tidak menjadikan diri kita kehilangan kesadaran. Tidak! Roh Kudus mempertobatkan seseorang, menjadikan orang semakin mengenal Tuhan dan kebenaran, orang semakin mengejar keadilan dan kesucian. Hari pentakosta, Roh Kudus turun dan saat itu orang berkata-kata dalam bahasa lain dan orang yang mendengar mengerti apa yang dikatakan tersebut. Itulah karunia Roh Kudus. Namun, sayang hari ini banyak orang yang berkata-kata dalam bahasa lain tapi tidak ada satupun orang yang mengerti artinya dan ironisnya, orang mengklaim itu sebagai bahasa Roh. Ketahuilah, di akhir jaman ini akan banyak ajaran-ajaran sesat karena itu berhati-hatilah.
Ciri-ciri orang yang di dalam dirinya ada Roh Kudus :
Pertama, Orang disadarkan akan dosa, kebenaran dan penghakiman (Yoh. 16:8). Di dunia ini ada milyaran manusia tapi Roh Kudus tidak turun ke dalam diri semua manusia, bukan? Karena terbukti tidak semua manusia di dunia bertobat. Roh Kudus hanya datang pada orang-orang yang sudah dipilih sejak kekekalan. Kita patut bersyukur atas anugerah Tuhan yang turun itu sebab di antara milyaran manusia di dunia Tuhan memilih anda dan saya yang sepatutnya tidak layak. Jangan permainkan anugerah Tuhan. Kalau Roh Kudus sudah turun atas kita maka kita harus bertanggung jawab atas hidup kita.
Kedua, ia mempunyai kuasa untuk memberitakan Injil, bersaksi tentang Kristus Yesus. Roh Kudus datang bukan untuk memberitakan tentang diri-Nya sendiri. Tidak! Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya daripada-Ku (baca: Yoh. 16:4-15). Tuhan Yesus juga menegaskan kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem, Yudea, Samaria dan sampai ke ujung bumi (Kis. 2:8).
Ketiga, ia menghasilkan buah Roh (bentuk tunggal, singular) dimana buah Roh itu mempunyai sembilan aspek di dalamnya yang tidak dapat dipisahkan. Sembilan aspek itu harus keluar dari dalam diri anak Tuhan yang sejati. Sayangnya, hari ini buah Roh Kudus tidak banyak diajarkan, orang hanya menekankan karunia Roh Kudus. Ironis kalau orang mempunyai banyak karunia Roh Kudus tetapi tidak mengeluarkan buah Roh. Pertanyaannya Roh yang mana dan berasal darimana? Karunia Roh tidak wajib dimiliki tetapi buah Roh wajib dan harus keluar dari diri anak Tuhan yang sejati.
Keempat, Roh Kudus memberikan karunia (kharismata, bhs. Yunani), yaitu suatu keahlian yang diberikan secara spesifik dan bersifat spiritual untuk melayani Sang Raja. Setiap kita menjadi bagian dari satu tubuh yang dipersatukan oleh Roh Kudus di dalam Kristus supaya kita dapat melayani bersama-sama. Roh Kudus memberikan pada setiap orang karismata tertentu sesuai dengan yang dikehendaki Roh (1Kor. 12). Inilah panggilan Kekristenan. Amin. ?
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)