Ringkasan Khotbah : 8 Mei 2004

Kesulitan, Hikmat & Jalan Pintas

Nats: Yak. 1:2-8

Pengkhotbah : Ev. Hendry Ongkowidjojo

 

Pendahuluan

Sekilas kalau kita membaca surat Yakobus sepertinya antara ayat 2 – 4 dan ayat 5 – 8 merupakan dua bagian yang tidak saling terkait. Ternyata tidaklah demikian, kedua bagian ini saling melengkapi sehingga kalau salah satu bagian kita hilangkan maka kita akan sulit mengerti dan mengaplikasikannya. Bagian pertama, yakni ayat 2 – 4 merupakan dasar atau pondasi kebenaran sedang bagian kedua, yakni ayat 5 – 8 adalah bagaimana kita mengaplikasikan kebenaran yang sudah kita ketahui dan sikap yang tidak boleh kita lakukan ketika kita mengaplikasikan kebenaran. Orang yang mengetahui kebenaran belum tentu dapat langsung mengaplikasikan semua kebenaran yang ia pahami. Sebagai contoh, seorang tentara meskipun ia sudah diperlengkapi dengan berbagai macam pengetahuan tentang seluk beluk yang berhubungan dengan pertempuran dan peralatannya tidak akan dapat langsung mengaplikasikan semua pengetahuan yang ia dapat tersebut. Pengalamannya dibentuk selama berada di medan pertempuran itulah yang menjadikannya mahir.

I. Kesulitan

Pada khotbah sebelumnya, kita telah memahami bahwa Firman Tuhan telah memberikan kepada kita suatu konsep yang berbeda dengan konsep dunia berkenaan dengan bagaimana kita memandang suatu kesulitan. Dunia menganggap yang berbahagia adalah kalau kita keluar dari pencobaan namun Firman Tuhan justru berbeda, yang berbahagia itu justru ketika kita berada dalam berbagai-bagai pencobaan sebab saat dalam pencobaan itulah iman kita yang berharga diuji untuk kemudian ditumbuhkan. Pertanyaannya sekarang adalah kenapa harus berbagai-bagai pencobaan? Apakah satu pencobaan saja tidak cukup? Tidak cukup, sebab iman kita terdiri dari berbagai-bagai aspek; dalam satu aspek kehidupan tertentu seseorang dapat beriman pada Tuhan namun di aspek yang lain ia harus bergumul dengan keras supaya ia dapat beriman pada Tuhan. Sebagai contoh, seorang yang mempunyai kehidupan ekonomi yang sangat pas-pasan akan sangat mensyukuri anugerah pemeliharaan Tuhan sehingga kalau suatu hari, kesulitan ekonomi itu datang maka imannya tidak mudah tergoncang. Dalam aspek ini imannya telah dilatih namun suatu hari, dokter men-diagnosa ada kanker dalam tubuhnya maka hari itu ia merasa seluruh dunia akan runtuh, ia kehilangan pengharapan iman. Jadi jelaslah bahwa iman tidak dapat berdiri sendiri dan kualitas iman kita menunjukkan kualitas hidup kita karena itu melalui berbagai-bagai pencobaan sajalah, iman kita dapat dipertumbuhkan dengan demikian seluruh hidup kita dapat dipakai menjadi saksi bagi-Nya dan nama Tuhan dipermuliakan.

II. Hikmat

Sebagai orang Kristen, tentunya kita telah mengetahui banyak kebenaran Firman, salah satunya yaitu anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh dalam berbagai-bagai pencobaan sebab di dalam pencobaan itulah iman kita sedang dipertumbuhkan. Akan tetapi ketika kita berada dalam pencobaan ternyata kita tidak dapat mengaplikasikan kebenaran yang kita tahu tersebut. Kita membutuhkan hikmat supaya kita dapat mengaplikasikan kebenaran Firman dengan demikian kebenaran itu tidak menjadi teori. Mengapa hikmat? Apa itu hikmat? Dalam Alkitab, hikmat mempunyai pengertian yang dalam dan luas tetapi mempunyai karateristik satu. Orang yang berhikmat berbeda dengan orang jenius; orang yang berhikmat adalah orang yang tahu bagaimana ia bersikap ketika berada dalam situasi apapun bahkan di saat berbagai-bagai kesulitan itu datang. Apa yang harus kita lakukan supaya kita mendapatkan hikmat itu? Yakobus memberikan petunjuk apabila kamu kekurangan hikmat, hendaklah ia memintanya kepada Allah. Apakah hikmat itu tidak cukup diperoleh dengan membaca kitab Amsal atau mencontoh teladan Tuhan Yesus saat ia menghadapi orang Farisi dan ahli-ahli Taurat? Kalau hanya dengan meminta pada Allah maka hikmat dapat kita peroleh apakah itu berarti kita tidak perlu tahu kebenaran dan belajar doktrin? Tidak! Setiap orang Kristen harus memahami doktrin dengan benar dengan demikian kita tidak mudah diombang-ambingkan dengan berbagai macam ajaran sesat selain itu dengan mengerti doktrin kebenaran maka kita dapat memahami bagaimana mengaplikasikan kebenaran itu dalam kehidupan sehari-hari. Hikmat disini terkait dengan pencobaan. Kita tidak tahu kapan datangnya pencobaan dan saat pencobaan itu datang, adalah tidak mungkin bagi kita untuk membuka-buka dan belajar kitab Amsal atau mempelajari tindakan Yesus ketika pencobaan itu datang, bukan? Seorang tentara ketika ia berada di medan peperangan dan musuh ada dihadapannya maka tidak mungkin baginya untuk membuka-buka buku bagaimana cara menggunakan senjata, bukan? Ketika kesulitan datang, setiap orang pasti berdoa kepada Tuhan tetapi pertanyaannya: apa yang isi doa kita? Isi doa setiap orang pastilah berbeda sebab kesulitan masing-masing orang juga berbeda namun semua isi doa dapat disimpulkan sebagai berikut: “Tuhan, tolong lepaskan aku dari kesulitan ini.“ Siapakah diantara kita yang pernah berdoa memohon supaya Tuhan memberikan hikmat sehingga kita dapat melihat kesulitan itu dari perspektip yang benar sehingga iman kita dikuatkan dan kita menjadi berkat bagi orang lain. Orang tidak pernah berdoa demikian karena orang tidak memahami doktrin dengan benar. Kebenaran yang kita pahami melandasi relasi kita dengan Tuhan. Namun janganlah kita jatuh pada ekstrim lain yaitu lebih mementingkan doktrin daripada relasi dengan Tuhan atau sebaliknya. Pengenalan kita akan Tuhan terkait erat dengan relasi kita dengan Tuhan.

Helmut Thelicke, seorang teolog mengungkapkan orang yang pertama kali masuk dalam sekolah teologi akan menyebut Allah dengan kata ganti orang kedua; “Tuhan, aku datang pada-Mu, aku mohon pimpinan-Mu supaya Engkau  membimbing langkahku.“ Namun setelah  lulus, ia akan menyebut Allah dengan kata ganti orang ketiga; “Dia adalah Allah Tritunggal, Tuhan Yesus mempunyai dua natur, yakni natur Ilahi dan natur manusia maka Dia mempunyai karateristik yang dapat diuraikan sedemikian rupa.“ Alangkah indah kalau pengetahuan yang kita pahami dapat kita aplikasikan. Hal inilah yang Yakobus maksudkan, supaya kita meminta hikmat ketika kita berada dalam kesulitan. Pada saat kita meminta hikmat pada Allah maka ada dua sifat Allah yang perlu untuk kita pahami, yaitu: murah hati dan tidak membangkit-bangkit. Selama kita tidak mengerti kedua sifat Allah ini maka kita akan sulit datang kepada Tuhan. Memberi dengan kemurahan hati artinya memberi yang memberi, simply gift. Sebagai contoh, seorang ayah pasti akan bertanya dengan detail bahkan sifatnya seperti menginterograsi ketika seorang anak meminta uang jajan lagi padahal si ayah telah memberi dengan cukup. Berbeda halnya kalau si anak meminta uang sekolah pada ayahnya, tentu saja tanpa banyak tanya si ayah akan memberikannya, simply gift karena ia tahu dengan jelas kegunaan uang itu. Seperti itulah sifat Allah yang memberi dengan murah hati, Tuhan tidak akan menginterograsi kita ketika kita meminta hikmat pada-Nya.

Sifat Allah yang lain, yakni tidak membangkit-bangkit artinya Allah ketika memberi, Dia tidak akan mengkritik dengan demikian kita tidak perlu merasa malu atau segan ketika kita meminta hikmat pada-Nya. Tuhan tidak sama seperti seorang ayah yang akan mengkritik dan mengomel ketika kita meminta bantuannya untuk menyelesaikan soal-soal matematika yang sulit. Mungkin kita jadi berpikir dua kali untuk meminta bantuannya. Inilah yang dimaksudkan dengan membangkit-bangkit. Puji Tuhan, Allah kita tidaklah demikian. Kita telah memahami bahwa kesulitan itu demi untuk kebaikan kita yakni supaya iman kita semakin bertumbuh namun di saat kesulitan itu datang kita merasa berbeban berat maka mintalah hikmat pada Allah dan Allah yang murah hati akan memberikannya dan Ia tidak akan membangkit-bangkit. Jadi, tidak ada alasan bagi Allah untuk tidak memberikan hikmat itu pada kita. Sifat Allah yang murah hati dan tidak membangkit-bangkit ini perlu untuk kita mengerti dan pahami dengan demikian kita tidak salah dalam berdoa. John Calvin menegaskan pengetahuan dan pengenalan yang benar akan Tuhan terkait erat dan mempengaruhi relasi kita dengan Tuhan. Cobalah kita mengevaluasi diri kenapa kita seringkali susah untuk datang kepada Allah, apakah kita merasa kalau Tuhan itu simply not gift, Tuhan tidak peduli dengan doa-doa kita? Ingat, Tuhan tahu semua kesulitan dan beban berat yang harus kita tanggung; Allah tahu kalau kita membutuhkan hikmat itu supaya kita menjadi kuat dengan demikian kita dapat memuliakan nama-Nya melalui kesulitan itu. Jadi, mintalah hikmat itu pada Allah yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit – , maka hal itu akan diberikan kepadanya.

III. Jalan Pintas

Setelah kita memahami bagaimana mengaplikasikan kebenaran (Yak. 1:5) maka ayat selanjutnya, yakni Yak. 1:6-8 mengajarkan tentang hal-hal yang tidak boleh untuk kita lakukan. Saat kita meminta hikmat pada Allah maka hendaklah kita memintanya dalam iman dan jangan bimbang. Bagaimanakah ciri orang yang bimbang? Apakah itu berarti kalau kita beriman 99% tapi ada 1% atau 0.000...1% kebimbangan dalam diri kita dapat dikatakan kita termasuk dalam golongan orang yang bimbang? Puji Tuhan, bimbang yang dimaksud oleh Firman Tuhan disini bukanlah demikian sebab yang dimaksud bimbang disini adalah orang yang mendua hati, hatinya tidak tenang sehingga ia mudah diombang-ambingkan kian kemari. Tuhan tidak suka dengan orang yang bimbang hatinya karena orang demikian adalah orang yang bercabang hati, ia mengharapkan penyelesaian dari oknum yang lain selain dari Tuhan, orang yang mencari jalan keluar daripada jalan keluar yang Tuhan sediakan. Kitab Perjanjian Lama mencatat Ahas diberikan kesempatan untuk meminta tanda pada Tuhan tetapi Ahas menolak dengan alasan, ia tidak mau mencobai Tuhan. Alasan yang sangat rohani tetapi nabi Yesaya justru menjadi marah (Yes. 7:1-13). Yesaya marah sebab Ahas tidak percaya akan pertolongan pada Tuhan sehingga ia meminta pertolongan dari Tiglat-Pileser, raja Asyur (2Raj. 16:5-9).

Dengan alasan tidak mau mencobai Tuhan, alasan yang sepertinya rohani ternyata Ahas mendua hati, ia mengharap pertolongan dari pihak yang lain. Kita mungkin tidak seperti Ahas yang jelas-jelas tidak mau berdoa pada Tuhan, kita mungkin masih berdoa tapi hati-hati pada saat yang sama, yakni saat kita berdoa saat itu juga kita mengharap pertolongan dari pihak lain; kita melihat ada jalan pintas untuk keluar dari permasalahan kita tersebut yang lebih mudah. Seperti Ahas, ia melihat kekuatan Asyur lebih besar dari Israel dan Aram sehingga secara matematis, kemenangan itu pasti akan didapatkan dan ternyata benar, Ahas menang. Jikalau benar, kita seperti Ahas maka kita telah mendua hati, sepertinya kita meminta pada Tuhan namun sesungguhnya kita ingin mengambil jalan pintas yang Tuhan tidak kehendaki kita untuk mengambilnya. Selama kita masih mendua hati, selama kita masih merindukan jalan pintas itu maka jangan pernah berharap kita akan mendapat berkat dari Tuhan. Jalan pintas itu seringkali menggoda kita sebab jalan itu mudah sekali dicapai dan ditempuh. Hati-hati iblis tidak akan pernah menawarkan jalan pintas yang tidak dapat kita lakukan.

Perhatikan, ketika iblis mencobai Tuhan Yesus di padang gurun, yakni mengubah batu jadi roti, terjun dari bubungan Bait Allah, menyembah iblis, dari ketiga pencobaan ada satu persamaan, yaitu semua itu dapat Yesus lakukan dengan mudah kalau Ia mau. Iblis tidak mencobai kita dengan menyuruh kita untuk mengubah batu menjadi roti karena iblis tahu kita tidak akan dapat melakukannya. Hati-hati pada waktu kita berada dalam kesulitan akan ada banyak jalan alternatif yang ditawarkan oleh iblis dan semua jalan tersebut dapat kita lakukan, kita akan terombang-ambing sebab di satu pihak ia ingin mengambil jalan pintas yang ada di depan mata itu namun di lain pihak, ia tahu Tuhan tidak berkenan atas jalan itu. Kalau kita tidak mempunyai pondasi kebenaran yang kuat (Yak. 1:2-4) maka selama itu pula kita akan melihat jalan pintas sangatlah menarik sebab kita melihat jalan pintas itu dapat mengeluarkan kita dari segala kesulitan yang menghimpit.

Biarlah kebenaran ini menyadarkan kita dengan demikian kita tahu bagaimana seharusnya  bersikap ketika tekanan dan kesulitan itu datang. Baik orang Kristen maupun orang non Kristen bisa mempunyai masalah yang sama tetapi anak Tuhan sejati seharusnya mempunyai cara pandang dan sikap yang berbeda dengan dunia. Kita mempunyai Firman Tuhan yang mengajar pada kita bagaimana seharusnya kita memandang suatu pencobaan yang datang pada kita sebab dalam pencobaan itulah kesempatan iman kita dibentuk dan dimurnikan. Pertanyaannya bagaimanakah sikap kita saat pencobaan itu datang menimpa? Segeralah bertobat kalau saat ini ternyata sikap kita tidak beda dengan sikap yang ditunjukkan oleh dunia pada umumnya. Ingat, anggap sebagai suatu kebahagiaan apabila kamu jatuh dalam berbagai-bagai pencobaan karena inilah kesempatan iman kita yang berharga itu dimurnikan dan ketika kesulitan itu datang, berdoalah, mintalah hikmat dan percayalah Tuhan pasti akan memberi dengan kemurahan hati dan tidak membangkit-bangkit tetapi hati-hati jangan sampai kita mendua hati.  Amin. ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)