|
Ringkasan Khotbah : 1 Mei 2004
Nats: 1 Kor. 3:9-15 Pengkhotbah : Ev. Steve Hendra |
Jemaat di Korintus merupakan jemaat yang dibangun oleh Paulus sendiri sejak mula-mula. Kalau kita bandingkan dengan surat-surat Paulus yang lain maka surat Paulus pada jemaat Korintus ini adalah salah satu surat selain surat Galatia yang isinya paling keras, yakni berisi teguran dan juga kritikan mengenai hal-hal tidak benar yang sedang terjadi pada saat itu. Surat berbeda dengan tulisan atau karangan sebab surat biasanya ditulis untuk orang tertentu yang kita tuju dan hal yang tulis pastilah mengacu pada apa yang sedang dialami atau dirasakan oleh si penerima surat tersebut. Begitu pula dengan surat yang ditulis oleh Paulus pada jemaat di Korintus ini bukanlah sekedar tulisan biasa karena itu untuk mengerti surat Korintus ini maka terlebih dahulu kita melihat latar belakang, perilaku dan cara hidup jemaat Korintus. Kota Korintus terdiri dari daratan yang luas dan ada suatu bagian wilayah yang menjorok ke laut dan biasanya orang yang hendak bepergian dari timur ke barat atau sebaliknya lebih memilih lewat kota Korintus sebab waktu perjalanan lebih singkat. Kota korintus juga mempunyai dua pelabuhan yang terletak di sebelah timur dan barat sehingga kota ini menjadi sangat penting bagi para pedagang maka tidaklah heran kalau kota Korintus dengan cepat menjelma menjadi kota metropolitan yang besar.
Cara hidup dan perilaku orang yang hidup di kota besar pastilah berbeda dengan orang yang hidup di pedesaan. Salah satu penyebabnya adalah tantangan dan tuntutan hidup sehingga orang yang hidup di kota mempunyai ambisi lebih besar dibandingkan dengan mereka yang hidup di desa. Ambisi ingin menjadi orang sukses membuat orang rela dan menghalalkan segala cara, seperti suap atau korupsi, kolusi dan nepotisme sudah tidak asing lagi. Pada jaman itu bahkan sampai hari ini pun konsep orang tentang kesuksesan masih tetap sama yakni orang sukses adalah orang yang mempunyai jabatan, kaya dan terkenal. Di Korintus ditemukan sebuah prasasti yang bertuliskan: Jalan ini dibangun oleh Babyus, seorang yang terpandang di kota ini dengan biayanya sendiri. Masih banyak lagi prasasti-prasasti lain seperti demikian yang ditemukan di kota Korintus. Cara berpikir seperti inilah yang ditegur oleh Paulus sebagai hikmat duniawi dan dikontraskan dengan kebodohan salib. Ironisnya, jemaat Korintus yang telah mengenal dan percaya Kristus Yesus, mereka juga melayani dalam persekutuan gereja namun perilaku dan cara hidup mereka tidak beda dengan dunia. Mereka dekat dengan para pemimpin jemaat seperti, Paulus, Apolos dan para pemimpin jemaat yang lain karena ingin dipandang sebagai “orang rohani“ maka para pemimpin agama hari itu dijadikan sebagai icon untuk mendapatkan jati diri dan celakanya, Kristus pun juga dijadikan sebagai icon. Akibatnya para jemaat saling berselisih paham dan para pemimpin agama sepertinya diadu domba karena masing-masing dari mereka merasa pemimpinnyalah yang paling besar.
Masalah seperti inilah yang sedang dihadapi oleh Paulus itulah sebabnya Paulus menegur mereka dengan keras. Paulus menganalogikan pelayanan jemaat Korintus ini tidak ubahnya seorang pekerja bangunan yang sedang membangun bangunan Allah. Yang dimaksud dengan bangunan Allah (1Kor. 3:9) adalah jemaat secara keseluruhan namun ada orang yang menafsirkan sebagai orang Kristen secara individu, yakni tubuh kita adalah bait Allah. Paulus adalah orang yang dipercaya Tuhan untuk membangun dan sebagai peletak dasar mula-mula maka seluruh jemaat adalah bait Allah yang juga turut serta membangun bangunan Allah ini. Jadi, bangunan itu bukan dikerjakan oleh mereka yang melayani saja atau hamba Tuhan saja, tidak, melainkan seluruh jemaat. Perhatikan, satu orang Kristen yang berbuat kesalahan maka itu akan menjadi tamparan keras bagi seluruh orang Kristen sebab apa yang dilakukan oleh orang Kristen akan berpengaruh pada Kekristenan secara menyeluruh. Paulus menegaskan ketika kita melayani Tuhan maka kita bukan sedang mengerjakan pekerjaan atau ambisi kita tetapi ingat, Tuhan yang terlebih dahulu berinisiatif, Tuhan yang memanggil kita dan mempercayakan pada kita untuk turut ambil bagian dalam pekerjan-Nya. Memang, dulu sebelum Paulus mengenal Kristus, semua pelayanan yang ia kerjakan merupakan ambisi pribadinya namun pengenalannya akan Kristus menyadarkannya bahwa kalau Tuhan panggil ia untuk melayani itu merupakan anugerah dan sekarang, pelayanan yang ia kerjakan bukanlah ambisinya atau karena ia ingin menjadi seorang pemimpin jemaat. Tidak! Paulus sebagai seorang ahli bangunan yang cakap dimana ia telah meletakkan dasar maka ia ingin supaya orang lain membangun di atas dasar yang sudah ia bangun. Pengertian cakap disini bukanlah orang yang jenius tetapi orang yang ahli dan mempunyai ketrampilan dalam meletakkan dasar. Jadi, melayani merupakan respon atas anugerah Tuhan bukan inisiatif kita. Diantara semua manusia siapakah yang paling layak melayani Tuhan? Sebenarnya tidak ada satu manusia pun yang layak melayani namun sadarlah kalau Tuhan telah mempercayakan pekerjaan-Nya pada orang yang pernah menjadi seteru bagi-Nya. Jadi, hari ini kalau kita dapat melayani, turut ambil bagian dalam kerajaan-Nya, semua itu semata-mata karena anugerah.
Paulus menyadari bahwa tidak selamanya ia akan ada bersama-sama dengan jemaat Korintus karena itu Paulus ingin supaya jemaat Korintus melanjutkan pembangunan ini dimana bangunan Allah tersebut harus dibangun di atas dasar yang sudah Paulus tegakkan, yaitu di atas dasar Kristus. Gereja Tuhan harus ditegakkan diatas dasar pengakuan bahwa Yesus Kristus adalah Mesias. Kalau Tuhan telah mempercayakan suatu pelayanan pada kita maka kerjakanlah itu dengan sebaik mungkin. Pelayanan itu tersebut bukan milik kita sebab suatu hari nanti mungkin Tuhan ingin kita melayani di tempat lain. Dan ingat, jangan mencampur adukkan pelayanan dengan hikmat duniawi. Paulus melihat pelayanan itu sebagai suatu bangunan yang nantinya akan terus berkembang. Pembangunan bangunan Allah itu dikerjakan oleh dua kelompok, yakni kelompok pertama adalah orang yang membangun dengan bahan yang mulia dan ketika api membakarnya maka bahan tersebut tidak akan rusak tetapi justru semakin nampak kemurniannya dan kelompok kedua, orang yang membangun dengan bahan yang remeh sehingga ketika api membakarnya bahan itu tidak tahan uji.
Apakah bahan yang bermutu ataukah bahan yang remeh yang kita pakai untuk membangun kerajaan-Nya? Di dalam pelayanan, banyak hal akan kita hadapi; kita mungkin sudah merasa melayani dengan baik dan kita melayani dengan motivasi jujur namun seringkali orang mencela kita sebaliknya, kita juga menjumpai orang dipuji karena pelayanannya padahal ia mempunyai motivasi buruk, yaitu ingin mendapatkan posisi dan pujian. Dalam hal ini Paulus menegaskan jangan pernah berpikir kalau kita dapat melayani itu karena kehebatan kita sebab suatu hari nanti Tuhan akan menguji pekerjaan kita, apakah selama ini motivasi pelayanan kita murni atau palsu? Orang yang membangun dengan bahan yang mulia dan tahan uji maka ia akan mendapat upah sebaliknya orang yang membangun dengan bahan remeh, bahan yang tidak berkenan di hadapan Tuhan karena ia mengerjakan dengan hikmat duniawi maka api itu akan menghanguskannya dan ia akan menderita kerugian. Jangan salah dalam menafsirkan ayat ini sebab keselamatan kita bukan ditentukan dari baik atau buruknya pelayanan kita. Tidak! Kalau kita perhatikan satu per satu ayat ini sesungguhnya, orang yang membangun dengan bahan mulia maupun orang yang membangun dengan bahan remeh, kedua-duanya diselamatkan walaupun yang lain seperti keluar dari api. Keselamatan adalah anugerah begitu pula dengan pelayanan kita. Pertanyaannya adalah bagaimana respon kita akan anugerah maka hal itulah yang akan Tuhan uji.
Ajaran Katolik memakai bagian firman ini untuk mendukung ajaran tentang purgatory atau api penyucian. Mereka mengajarkan bahwa manusia bukanlah makhluk yang sempurna maka sebelum masuk Sorga, orang harus disucikan terlebih dahulu dalam api penyucian. Dalam bagian ini Paulus sebenarnya tidak berbicara tentang keselamatan atau pemurnian melainkan Paulus ingin agar setiap orang Kristen memahami akan arti pelayanan dan menggumulkan baik-baik setiap pelayanan dengan demikian bangunan yang kita bangun tersebut tahan uji. Di dalam pelayanan terkadang tak dapat dihindarkan terjadi gesekan antara rekan sepelayanan apalagi ketika orang mulai merasakan beban pelayanan itu semakin berat akan tetapi di saat demikian janganlah kita menghakimi orang lain akan pelayanannya sebab pelayanan kita pun tidak lebih baik dari mereka dan lebih dari pada itu bukan kita yang menilai suatu pelayanan itu baik atau buruk tapi Tuhan yang menguji. Paulus mengungkapkan Yesus Kristus mati untuk orang berdosa tetapi diantara semua orang berdosa, akulah yang paling berdosa. Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa Paulus merasa dirinya sebagai orang yang paling berdosa padahal ia telah melayani Tuhan dengan giat bahkan sekalipun berkorban nyawa ia pun rela. Apakah karena masa lalunya, yaitu menganiaya jemaat Tuhan sehingga Paulus berpikir ia orang paling berdosa? Tidak, Paulus bukanlah orang yang selalu dihantui oleh kesalahan masa lalu sebab seperti kita ketahui dalam surat-suratnya, Paulus menuliskan kita diselamatkan semata-mata karena anugerah dan Paulus selalu mengucap syukur akan hal ini. Bayangkan, kalau orang yang selalu dihantui oleh masa lalu pastilah sulit untuk menuliskan hal demikian. Seperti seorang yang sedang berdiri di depan cermin kaca maka semakin dekat ia dengan cahaya maka setiap kotoran yang ada di wajahnya akan terlihat jelas. Hal seperti inilah yang dirasakan oleh Paulus, semakin dekat dirinya dengan sumber terang yang sejati maka ia semakin menyadari bahwa dirinya adalah orang paling berdosa. Orang yang kudus adalah orang yang peka ketika dirinya ternoda sebaliknya orang yang hidup bergelimang dosa adalah orang selalu melihat kesalahan pada diri orang lain sedang kesalahan pada dirinya sendiri ia tidak dapat melihatnya. Hendaklah kita selalu menguji diri, sudahkan kita melayani dengan motivasi sungguh?
Ada sebuah cerita ilustrasi yang menggambarkan bagaimana Tuhan menilai pelayanan yang dikerjakan oleh seseorang. Memang, ilustrasi ini kurang tepat sebab dalam ilustrasi ini sorga digambarkan sangat materialistis akan tetapi bukan itu yang menjadi tujuan cerita ini tetapi melalui ilustrasi ini dapat kita jadikan sebagai bahan evaluasi. Diceritakan pada saat penghakiman terakhir dimana semua orang kudus sudah masuk dalam Kerajaan Sorga. Suatu kali seorang malaikat berjalan-jalan dan ia melihat seorang ibu sedang menuntun sepeda motornya sambil menggerutu. Malaikat ini heran sebab di sorga seharusnya bersukacita tetapi kenapa ia malah menggerutu? Ternyata si ibu ini merasa iri dengan sopirnya yang mendapat mobil sedang ia sendiri hanya mendapat sebuah sepeda motor padahal ia sudah rajin melayani di paduan suara, persekutuan-persekutuan, memberi persembahan dan lain-lain. Malaikat inipun menghibur si ibu karena bagaimanapun juga ia berada di Sorga bukan di neraka. Singkat cerita, mereka pun berpisah dan suatu hari mereka pun bertemu kembali tapi kali ini malaikat ini heran menjumpai si ibu naik sepeda motornya dan bersukacita maka bertanyalah malaikat ini pada si ibu, “Apa yang menyebabkan engkau bersukacita? Apakah engkau sudah menyadari nikmatnya Sorga?“ Ibu ini menjawab, “Aku bersukacita sebab aku melihat pendetaku naik sepeda.“
Dari cerita ilustrasi ini kita dapat melihat bagaimana Tuhan menilai seseorang, Tuhan tidak melihat posisi atau jabatan kita saat kita melayani. Seorang hamba Tuhan tidaklah lebih suci dari jemaat biasa. Biarlah kita mengevaluasi diri, sudahkah pelayanan yang kita lakukan itu berkenan di hadapan Tuhan? Dengan bahan seperti apakah kita membangun bait Allah? Ingat, pekerjaan Tuhan dilakukan oleh setiap orang Kristen dan merupakan suatu anugerah kalau Tuhan mau berkenan memakai kita untuk melayani Dia. Dimanakah Tuhan ingin kita ambil bagian dalam pekerjaan-Nya? Sobat, selagi hari masih siang, selagi masih ada waktu maka marilah kita kerjakan dengan sungguh pekerjaan yang sudah dipercayakan untuk kita kerjakan karena Tuan yang empunya pekerjaan ini tidak sedang melihat tapi Dia sedang mengawasi kita. Tuhan tidak menaruh kita di bagian yang tidak berguna. Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya (Ef. 2:10). Hari ini, kita yang belum ambil bagian dalam pelayanan hendaklah kita menggumuli, dimana bagian kita yang Tuhan ingin kerjakan? Dan kita yang sudah melayani hendaklah kita mengevaluasi diri, sudahkah kita melayani dengan motivasi sungguh dan benar? Ingat, suatu hari nanti Tuhan Yesus akan datang dan Ia akan menguji pekerjaan kita. Amin. ?
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)