Ringkasan Khotbah : 27 Februari 2005

Sprinkling Blood of Christ in the Old Testament

Nats: Imamat 4:1-12

Pengkhotbah : Ev. Thomy J. Matakupan

 

Dapatlah dikatakan kitab Imamat adalah kitab pedoman pelayanan para imam sebab di dalamnya berisi detail-detail peraturan yang Tuhan tetapkan tentang hal pemberian korban dan semua detail itu harus dijalankan. Tuhan juga menetapkan hanya para imam saja yang boleh melayani dalam Tabernakel sebab Tabernakel menyatakan kehadiran Allah di tengah-tengah bangsa Israel. Secara keseluruhan, Tabernakel dikelilingi oleh sebuah pagar dan di dalam pagar ada sebuah kemah pertemuan yang di dalamnya terdapat: ruang Suci dan ruang Maha Suci. Hanya imam yang boleh masuk ke dalam ruang Suci dan di dalamnya ada tiga perkakas, yaitu: 1) kandil atau lampu dengan tujuh tiang, tiap pagi dan petang imam harus memeriksanya sebab kandil harus terus menyala tiap-tiap harinya, 2) meja roti sajian yang di atasnya ada 12 roti yang mewakili 12 suku Israel, dan 3) meja ukupan, letaknya tepat di antara ruang Suci dan ruang Maha Suci, di atas meja ukupan ini imam menaburkan dan membakar kemenyan sehingga mengeluarkan bau yang harum dan itulah yang menyenangkan hati Tuhan.

Di dalam ruang Maha Suci terdapat Tabut Perjanjian, di atas Tabut Perjanjian ada dua buah malaikat atau kerub yang letaknya saling berhadapan dan kedua sayapnya menudungi Tabut Perjanjian tersebut. Hanya Imam Besar yang boleh masuk ke dalam Ruang Maha Suci ini dan itupun hanya sekali dalam setahun. Di halaman kemah terdapat mezbah besar yang selalu terbakar sebab di atas mezbah itu semua korban di bakar hingga hangus menjadi suatu persembahan bagi Tuhan. Bagi orang Israel, Tabernakel melambangkan kehadiran Tuhan sehingga ketika Tabut Perjanjian itu ada bersama-sama dengan mereka maka itu menjadi sebuah jaminan keselamatan bagi seluruh bangsa. Peraturan ini diberikan supaya setiap orang yang beribadah pada Allah Yahweh tak terkecuali para Imam haruslah hidup suci dan kudus sebab Allah Kudus. Tabernakel juga menyatakan kengerian bagi setiap umat Israel pada waktu mereka berbuat dosa.

Setiap korban yang dipersembahkan berbeda-beda, jikalau seorang imam yang berbuat dosa maka ia harus membawa seekor lembu jantan muda yang tidak bercela (Im. 4:3-4); jikalau segenap bangsa Israel maka mereka harus membawa seekor lembu jantan muda (Im. 4:13-14); jikalau seorang pemuka maka ia harus membawa seekor kambing jantan yang tidak bercela (Im. 4:22-23); jikalau rakyat jelata maka ia harus mempersembahkan kambing betina yang tidak bercela (Im. 4:27-28) dan bagi mereka yang tidak hidup berkecukupan hanya membawa seekor burung tekukur. Semua detail tata cara itu merupakan gambaran kesucian Allah yang tidak boleh dilanggar oleh manusia. Tanpa disadari bangsa Israel sebenarnya sedang melakukan tipologi yang digenapi ribuan tahun kemudian, yaitu pada waktu Kristus, Anak Allah itu tubuh-Nya dipecahkan dan darah-Nya dialirkan sebagai korban tebusan dosa (Ibr. 10:1).

Untuk mendapatkan pengampunan maka orang yang berdosa haruslah membawa korban seperti yang telah ditetapkan Tuhan masuk ke halaman kemah dan diterima oleh imam, orang yang berdosa tersebut harus meletakkan tangannya di atas kepala binatang itu sambil mengucapkan semua dosa-dosa yang telah ia perbuat dimana hal ini menandakan bahwa dosa-dosa yang telah ia perbuat ditanggungkan ke atas binatang itu. Imam yang menerima mengambil belati, memotong leher binatang tersebut dan darah yang tercurah keluar ditampung dalam sebuah belanga kemudian darah itu dibawa oleh imam masuk ke dalam ruang Maha Suci dan dipercikan ke tabir yang memisahkan antara ruang Suci dan ruang Maha Suci. Setelah itu, imam mengambil sedikit dari darah tersebut dan dioleskan ke tanduk-tanduk meja ukupan sebagai tanda persembahan. Darah yang masih tersisa kemudian di bawah keluar lalu dicurahkan di bawah meja mezbah korban bakaran, tubuh dari binatang tersebut dibelah-belah, sebagian dipersembahkan di atas mezbah bakaran dan sebagian lagi dibakar diluar kompleks tabernakel sebagai korban persembahan bagi Tuhan. Setelah memberikan korban persembahan, orang akan merasa damai sejahtera sebab dosanya telah diampuni, yaitu dosanya ditanggung oleh binatang tersebut.  Kristus adalah korban sempurna yang menggenapi seluruh tata cara dari hukum Taurat dan Kristus menjadi Imam atas seluruh Imam dalam Perjanjian Lama.

Orang berdosa datang menuju pada Tabernakel dengan membawa binatang untuk dipersembahkan dan imam menerimanya untuk kemudian dikorbankan. Kristus adalah Imam Besar Agung yang melampaui semua Imam dalam Perjanjian Lama. Kristus mewakili orang berdosa datang mempersembahkan diri-Nya kepada Allah; Dia yang tidak berdosa dijadikan berdosa supaya kita yang berdosa dapat diterima kembali oleh Allah; Kristus adalah Anak Domba yang disembelih. Kristus sendiri membawa tubuh-Nya untuk dipecahkan di atas kayu salib dan darah-Nya mengalir menjadi tebusan dosa dan Kristus juga adalah Imam yang menerima persembahan itu sebab tidak ada satupun orang yang berhak menerima persembahan itu kecuali ia diperkenan oleh Allah dan Kristus adalah orang yang diperkenan oleh Allah. Hal ini digambarkan dalam Kitab Wahyu, yaitu Allah yang duduk di atas tahta membawa meterai kehidupan dan hanya Anak Domba yang disembelih itulah yang layak menerima gulungan kitab itu dan membuka meterai-meterainya; Anak Domba yang disembelih itu layak menerima segala pujian, kemuliaan dan kehormatan (Why. 5). Kesucian Allah dinyatakan di dalam korban Yesus Kristus di atas kayu salib karena itu hendaklah hati kita diliputi dengan rasa kekaguman saat memandang salib.

Segala peraturan tentang korban persembahan yang tertulis dalam kitab Imamat berkaitan dengan hal keberdosaan. Adalah wajar kalau orang yang dengan sengaja berbuat dosa, datang dan mengaku dosa, memohon belas kasihan Tuhan. Namun Tuhan juga menetapkan bahwa dosa yang tidak disengaja pun juga merupakan dosa dan juga harus ada korban persembahan. Tuhan tidak membedakan intensitas dosa. Dosa yang tidak sengaja ini sebenarnya lebih berbahaya daripada dosa yang dilakukan dengan sengaja. Orang yang menyadari kalau ia telah berbuat dosa maka ia dapat langsung meminta ampun berbeda kalau orang itu tidak merasa telah berbuat dosa sehingga ia tidak merasa perlu untuk meminta ampun pada Tuhan. Mungkinkah ada sebuah ketulusan yang dilakukan oleh seseorang tetapi ternyata ketulusan tersebut tidak berkenan di hati Tuhan bahkan melanggar ketetapan Tuhan? Dalam pengakuan Paulus kepada Timotius, ia mengatakan: “Aku dahulu seorang penghujat oleh karena aku menganiaya jemaat Allah tetapi semua itu aku lakukan tanpa kesadaranku tetapi untuk orang semacam ini Yesus Kristus menunjukkan kasih-Nya yang besar dan Dia mengampuni aku.“ Dalam kemurnian dan kesungguhannya ia berpikir bahwa ia sedang melayani allah tetapi Allah di sorga berkata, “Saulus, Saulus mengapa engkau menganiaya Aku?“ Jadi, ketulusan bukanlah standar kebenaran. Maka tidaklah heran kalau pemazmur berkata: “Tuhan, bebaskanlah aku dari dosa yang tidak aku sadari“. Pemazmur menyadari kalau ia telah melakukan dosa yang tidak menyenangkan hati Tuhan tapi hati nuraninya tidak tergoncang.

1. Problema penebusan dosa harus mengandung unsur darah.

Setiap korban penebus dosa dalam PL maka kita melihat selalu ada darah yang tercurah. Imam harus memercikkan darah tersebut sebanyak tujuh kali di depan tabir penyekat tempat kudus. Adanya darah yang terus menerus mengalir maka dapatlah dibayangkan segala bentuk aktivitas dalam tabut perjanjian tersebut tidak pernah berhenti, setiap saat pasti ada orang yang datang dan membawa korban penebusan dosa. Mengapa tuntutan ini selalu berbicara mengenai darah, darah dan darah. Bisakah kita menghindar dari tuntutan yang mengerikan ini? Berbicara mengenai darah berarti kita berbicara mengenai suatu kehidupan, ada sesuatu yang harus dipersembahkan. Tidak ada penyucian yang terjadi jikalau tidak ada darah yang tercurah. Kita seharusnya tersentak bahwa penebusan dosa harus dilakoni dengan cara yang sedemikian mengerikan. Problema dosa bukanlah problema sederhana yang hanya terlintas dan kemudian berlalu. Tidak!

Kalau kita masuk dalam tabernakel maka kita akan menjumpai ceceran darah yang telah mengering namun tidak berapa lama kemudian darah segar tercurah kembali dan mengering lagi demikian terus menerus. Begitu pula di pelataran tabernakel pastilah juga ada banyak darah tercecer dimana-mana. Betapa mengerikan dosa itu, dosa berakibat pada kematian. Di tabernakel ini pastilah banyak orang yang hancur hati datang dan memohon belas pengampunan dari Tuhan. Memang, kita tidak pernah melihat pemandangan darah yang tercurah, kita tidak pernah mengalami semua tata cara seperti yang tertulis dalam PL; kita hanya perlu beriman pada Kristus yang telah mati, menebus dosa namun jangan pernah lupa kalau hari ini kita masih menikmati hidup damai sejahtera, ingat, dibalik itu ada hal mengerikan yang pernah terjadi yang menjadi suatu tuntutan yang Tuhan berikan. Kristus adalah satu-satunya korban yang sempurna sehingga Kristus tidak perlu berkali-kali harus mati untuk menebus dosa. Darah penebusan hanya mengalir satu kali saja dalam sejarah.

2. Problema penebusan dosa harus diselesaikan di hadapan Tuhan.

Dalam Kitab Imamat, berulang kali kita mendapati kalimat “di hadapan Tuhan“ maka ini berarti problema dosa harus diselesaikan di hadapan Tuhan. Dalam mazmur pengakuan dosanya, Daud mengatakan, “Terhadap Tuhan sajalah aku telah berbuat dosa.“ Daud menyadari bahwa dosa yang ia lakukan melanggar kekudusan Tuhan. Tidak ada dosa yang tersembunyi di hadapan Tuhan. Gema dari suara Tuhan ketika pertama kali Adam berbuat dosa: “Adam, dimanakah engkau?“ juga terus menggema di sepanjang abad dan di segala tempat, berseru kepada mereka yang berbuat dosa. Ayub pun menghadapi hardikan Tuhan dan ketika Tuhan meminta Ayub berdiri di hadapan-Nya maka Ayub menyadari dirinya adalah manusia berdosa sehingga Ayub menarik semua perkataannya yang salah, ia berduka dan duduk dalam abu dan debu. Begitu juga dengan anak bungsu yang mengaku: “Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap Bapa.“ Teriakan ini keluar dari mulut anak bungsu yang sadar akan kesalahannya.

Pengampunan akan diberikan kalau ia berdiri dengan penuh penyesalan dan mengaku dosa di hadapan Tuhan yang Maha Suci maka Tuhan akan membuka tangan-Nya dan memeluk dengan erat sambil berkata, “Aku menerima engkau kembali.“ Ketika Musa membawa bangsa Israel keluar dari tanah Mesir maka tulah demi tulah diberikan hingga tulah yang kesepuluh, yaitu kematian anak sulung dari bangsa Mesir. Dan hanya ada satu cara untuk luput dari malaikat maut, yaitu menyembelih anak domba dan darah dipercikan di pintu dan di tiang-tiang pintu rumahnya, when I see the blood, I will pass over you dan ini menjadi dasar bagi orang Israel setiap tahunnya memperingati paskah, mengingat bagaimana Tuhan meluputkan dari kematian. Segala yang dilakukan oleh Kristus adalah sempurna adanya sehingga waktu Kristus mempersembahkan hidup itu adalah sempurna adanya. Kristus jauh melampaui semua imam, imam membawa darah binatang tapi Kristus membawa darah-Nya sendiri naik ke atas mezbah Tuhan dan dipersembahkan sebagai korban tebusan dosa. Kristus adalah korban yang sempurna sebab hanya Ia satu-satunya yang diperkenan dan diterima oleh Allah oleh karena itulah Ia tidak perlu berkorban berkali-kali (Ibr. 9:27-28).

Sebagai orang yang percaya tentu kita setiap kali kita mendengar berita: Kristus telah mati bagi kita, yang menjadi pertanyaan adalah apakah setiap kali kita mendengar berita tersebut hati kita digentarkan? Ataukah kita menganggap biasa sebab kita telah menganggap sudah tahu dan mengerti. Bapa di sorga pastilah sangatlah sedih dan bersusah hati ketika mempersembahkan Anak-Nya untuk menjadi tebusan dosa bagi umat manusia sebab Kristus adalah Anak yang sangat dikasihi. Maka tidaklah heran kalau Bapa mempermuliakan Dia setelah Kristus menyelesaikan semua tugas yang diperintahkan oleh Bapa-Nya. Bayangkan, apa jadinya kalau maut itu tidak dihentikan oleh Kristus. Mintalah ampun pada Bapa kalau hatimu menjadi beku sehingga engkau tidak digentarkan lagi oleh kasih Kristus dan mintalah supaya Tuhan menyadarkan dan melihat kedalaman hati sehingga hati kita diliputi oleh cinta kasih Tuhan yang besar.

3. Penebusan menyadarkan kita betapa besarnya dosa yang telah kita perbuat.

Dahulu kita hidup dan berkubang dalam dosa tetapi Puji Tuhan, Kristus telah berkenan menjadi tebusan dosa bagi manusia. Namun, ironisnya ketika orang melakukan dosa, ia tidak datang dan memohon ampun pada Kristus, orang justru melakukan berbagai macam tata cara agama untuk meredamkan gejolak hati nurani. Christ is the Great Saviour to great sinners. Hati nurani tidak akan pernah berhenti berbicara, semakin jauh kita lari maka di sana hati nurani akan berteriak: “Engkau manusia berdosa.“ Hati-hati dengan segala bujuk rayu iblis yang selalu membuat orang berpikir bahwa problema dosa tidak harus dikaitkan dengan Yesus Kristus namun Puji Tuhan, Roh Kudus selalu menyadarkan dan membawa kita untuk melihat kembali bahwa ada darah Anak Domba yang harus dicurahkan dan menjadi tebusan dosa sehingga dosa kita yang semerah kirmisi akan disucikan dan menjadi putih seputih salju. Seorang anak yang terhilang sekalipun ia pergi ke negeri yang jauh dan menjadi orang terasing namun kalaupun dia pulang maka dia menjumpai tangan Bapa terbuka yang menanti untuk memeluknya. Hati yang keras akan Tuhan hancurkan dan hati yang hancur akan Tuhan bangun kembali, jiwa yang ternoda akan Tuhan bersihkan. Biarlah setiap kita berkata, “Tuhan, sudilah kiranya belas kasihan-Mu itu boleh saya alami saat ini. Hatiku milik-Mu, terimalah saya, ya, Tuhan.“ Maukah saudara?  Amin. ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)