Ringkasan Khotbah : 30 Januari 2005

Kekuatan Allah

Nats: 1 Kor. 1:18-24

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Beberapa waktu lalu kita telah memahami bagaimana salib Kristus sebagai hikmat Allah maka kini akan memasuki bagian dimana salib juga menjadi kekuatan Allah. Dunia memandang salib sebagai suatu kebodohan, dunia tidak mengerti apa hubungan antara salib dengan sebuah kekuatan sebab banyak orang Kristen telah mengalami pengenceran teologi dan format berpikirnya telah tercemar oleh berbagai pemikiran filsafat yang telah terdistorsi. Berita salib menjadi jiwa dari Rasul Paulus dan para rasul yang lain. Paulus tidak peduli dengan pemikiran dunia yang menganggap salib sebagai suatu kebodohan sebab apapun pendapat dunia, berita tentang Kristus yang tersalib itu harus terus diberitakan. Kalau kita tarik relevansinya di abad ke 21 maka kalimat itu menjadi signifikan. Seperti kita ketahui di akhir tahun 2004, menjelang tahun yang baru seluruh dunia dikagetkan dengan bencana alam besar yang terjadi hampir di seluruh wilayah Asia, yaitu bencana tsunami. Secara format besar, orang bertanya: kenapa bencana ini menimpa kita dan bagaimana mengatasinya? Semakin orang mencari jawaban maka gap atau kesenjangan antara diri dan realita yang terjadi semakin besar akibatnya orang menjadi skeptis. Orang tidak mau berpikir dan tidak peduli dengan sesamanya lagi selama bencana itu tidak menimpa dirinya. Pertanyaannya ketika manusia tidak peduli dan tidak berpikir tentang bencana, apakah dapat meniadakan bencana?

Sekitar tahun 1950-an, new age movement yang mencetuskan keilahian humanis, humanist deity, mulai berkembang pesat. Orang tidak sadar kalau dirinya telah ditipu dengan konsep yang mengatakan bahwa sekarang manusia baru mengembangkan 5% dari keseluruhan kapasitas yang ada karena itu manusia perlu masuk dalam kesadaran baru sehingga kita dapat keluar dari belenggu dan mengembangkan yang 95% tersebut. Dan muncullah tokoh-tokoh seperti Antonio Robins, Robert Schuler, Napoleon Hill, mencetuskan pemikiran unlimited power, yaitu manusia mempunyai kekuatan yang tidak terbatas dimana kekuatan ini dapat dipakai untuk apapun; think it and you get it,  pikirkan maka engkau akan dapatkan. Bahkan tidak hanya sampai disitu, say it and you get it, yakinilah dengan apa yang kau katakan maka kau akan mendapatkan. Perhatikan, bukankah ketika Tuhan menjadikan dunia dan segala isinya pun hanya dengan berkata-kata, yaitu dengan berfirman? Sesungguhnya, semua ini hanyalah akal licik iblis yang memperalat supaya manusia mempunyai keinginan menjadi seperti Tuhan. Kalau semua yang kita pikirkan pasti terjadi maka itu berarti realita tergantung dari apa yang kita pikirkan, reality is according what you think. Kalau kita berpikir: tidak ada kesusahan maka kesusahan itu tidak ada, tidak ada dosa maka dosa itupun tidak akan ada. Manusia yang mempunyai konsep demikian justru menunjukkan kebodohan sebab ia telah berhasil masuk dalam jebakan iblis.

Pertanyaannya apakah benar kalau kita tidak berpikir tentang dosa atau penderitaan maka realita dosa dan penderitaan itu tidak riil? Memang siapakah manusia sehingga kita berkuasa menghentikan bencana? Di satu pihak, manusia begitu sombong menganggap diri seperti Tuhan namun di sisi lain, Tuhan membukakan kalau sesungguhnya manusia itu terbatas sebab mengatasi alam yang bersifat materi murni saja manusia tidak mampu. Sejarah membuktikan pada abad 20 dan khusus pada 26 Desember saja terjadi gempa lebih dari satu kali, yakni:  tahun 1939 – Turki, korban: ±41.000 orang, tahun 2003 – Bam, Iran, korban: ±45.000 orang, tahun 2004 – Aceh, Indonesia, korban: ±230.000 orang. Realita ini seharusnya menyadarkan manusia bahwa Tuhan lebih berkuasa dan manusia bukanlah siapa-siapa. Tugas kita sebagai anak Tuhan menyadarkan manusia akan dosa dan kembali pada Tuhan. Banyak orang yang menafsir dan beropini tentang bencana dan sekaligus memberikan solusi mulai dari sudut ilmu pengetahuan sampai pada sudut agama. Ilmu pengetahuan hanya dapat menganalisa penyebab terjadinya bencana dan memberikan solusi untuk mengurangi korban, misalnya: alat pendeteksi. Apakah alat pendeteksi dapat menghentikan gempa? Tidak! Maka dapatlah disimpulkan bahwa ilmu pengetahuan tidak dapat memberikan jawab. Berbeda halnya dari sudut pandang teologi memandang bencana tersebut sebagai murka Allah. Lalu kenapa orang yang baik terkena imbas juga maka itu berarti Allah tidak adil. Firman Tuhan menegaskan bahwa semua manusia berdosa, tidak ada satu pun orang baik di dunia. Manusia berharap dapat memperoleh jawab secara teologis namun toh tetap tidak ada jawaban akibatnya manusia kemudian menyalahkan Tuhan; semakin dicari jawaban maka manusia justru semakin jatuh ke dalam dosa. Orang hanya dapat berteori namun tidak memberikan penyelesaian maka tidaklah heran kalau kemudian orang berubah menjadi skeptik. Realita tidak dapat dikunci oleh pikiran ataupun perkataan kita. Di satu pihak, manusia ingin menjadi pencipta realita namun di pihak lain, orang menyadari akan keterbatasan dirinya akibatnya hidup kita menjadi tegang. Kekristenan melihat bencana sebagai demonstrasi dosa di tengah alam dan sejarah dimana ada tiga hal yang menjadi ciri dosa, yaitu: 1) disintegrasi, sebelum manusia jatuh dalam dosa, Tuhan menciptakan seluruh alam semesta menjadi satu keutuhan namun dosa menyebabkan keterpecahan dalam alam semesta; 2) disharmoni, alam dan semua makhluk yang hidup di dalamnya saling berseteru, tidak pernah terjadi komunitas sejati; 3) destruktif, sifatnya selalu ingin menghancurkan.

Bagi dunia, salib merupakan lambang kehinaan namun setelah Tuhan Yesus naik ke atas salib maka konsep orang tentang salib menjadi berbalik 1800 sehingga berbahagialah orang yang ada dalam Kristus Tuhan sebab kita mempunyai kekuatan yang membedakan dengan dunia dan kekuatan itu terletak di dalam salib Kristus. Salib menjadi lambang:

1. Penggenapan kuasa Allah mengintervensi sejarah.

Banyak orang yang tidak mengerti akan misi Kristus, Anak Allah datang ke dunia. Hanya sebagian orang saja yang yang diberi anugerah oleh Tuhan untuk mengerti misi kedatangan Kristus di dunia, seperti Yusuf, Maria, Hana dan beberapa nabi lain seperti Zakharia. Dunia bahkan murid-murid Tuhan Yesus hanya mengerti kalau tugas Yesus hanya sebatas empat hal, yaitu: memberitakan Injil, mengajar, menyembuhkan penyakit dan mengusir setan. Kalau misi Yesus hanya untuk melakukan keempat tugas tersebut maka sia-sialah kedatangan Kristus sebab kalau hanya untuk melakukan tugas tersebut maka tidak perlu Anak Allah harus turun dari Sorga mulia datang ke dunia; manusia biasa pun dapat melakukannya. Anak Manusia datang bukan untuk dilayani tetepi untuk melayani dan menyerahkan nyawa untuk menjadi tebusan bagi dunia. Mesias harus pergi ke Yerusalem, menanggung banyak penderitaan dari penatua, imam-imam dan para ahli Taurat dan bangkit pada hari ketiga. Itulah tugas Mesias. Kristus datang bukan untuk melakukan pekerjaan sia-sia yang manusia biasa pun dapat lakukan. Tidak! Kristus datang untuk mengerjakan suatu misi besar yang tidak mungkin dikerjakan oleh manusia biasa, yaitu menjadi tebusan dosa dan mati di atas kayu salib. Semua itu Dia kerjakan demi untuk memulihkan hubungan manusia dengan Tuhan yang telah terputus. Salib menjadi puncak pertempuran yang dahsyat antara Allah yang mau menyelamatkan umat dan iblis yang mau mempertahankan dosa.

Dengan segala cara Iblis berusaha supaya Kristus tidak menggenapkan misi-Nya akan tetapi Tuhan dengan kekuatan kuasa-Nya telah menaklukkan dia. Maut telah ditelan dalam kemenangan. Hai, maut dimanakah kemenanganmu? Hai, maut dimanakah sengatmu? (1Kor. 15:54-55). Kekuatan dosa telah dihancurkan di atas kayu salib. Kuasa intervensi Ilahi akan sejarah ini sangatlah dahsyat sehingga dengan kuasa inilah Kristus mampu menggenapkan seluruh misi-Nya. Sejarah menjadi manifestasi, pernyataan kuasa Allah. Allah yang berkuasa mengatur sejarah; tanpa Allah, manusia dan alam semesta ini bukanlah siapa-siapa bahkan iblispun tidak dapat berkuasa. Sekarang, pilihan ada di tangan kita, kekuatan siapakah yang menjadi sandaran hidup kita? Melihat salib, kita tahu sekarang bahwa kekuatan kuasa Tuhan tidak dapat diganggu gugat. Dalam Tuhan ada kepastian dan jaminan bahwa Tuhan akan menggenapi janji-Nya. Berjalan di dalam salib berarti kita berjalan bersama Kristus sehingga apa yang ingin Kristus genapkan tidak mungkin dapat digagalkan. Inilah jaminan yang Tuhan berikan pada anak-anak-Nya yang sejati. Dunia memandang orang-orang yang berpegang pada kekuatan salib itu sebagai kebodohan tapi dunia tidak tahu bahwa yang mereka anggap sebagai kebodohan itu justru akan membodohkan orang yang merasa diri berhikmat. Biarlah di tengah kekalutan dunia, kita selalu berpegang pada kekuatan salib yang kokoh.

2. Pernyataan bijaksana Ilahi.

Bukanlah pekerjaan yang mudah dan sederhana membawa anak-Nya masuk ke dalam perjalanan salib sebab ketika Tuhan bekerja, banyak hal cara Tuhan selalu berlawanan dengan logika manusia dan ini menjadi kesulitan tersendiri yang mesti dilewati. Manusia selalu sok pintar, sok tahu sehingga ingin memutuskan segala sesuatunya sendiri tanpa melibatkan Tuhan didalamnya. Sebagai contoh, Yudas sok pintar mau menolong Tuhan Yesus menjadi Raja dan Juruselamat menurut caranya sendiri. Orang-orang merasa diri pandai kalau ia telah memberikan nasihat untuk meyelesaikan problematik Kristus. Siapakah manusia sehingga berani menasihati Kristus Tuhan? Ternyata hal yang sama diperbuat juga oleh Pilatus. Pilatus melihat bahwa nasib Yesus tergantung dari kepiawaiannya melakukan negosiasi politik dengan para pembesar pemerintahan Romawi pada saat itu. Pilatus lupa kalau ada kuasa lain yang lebih besar, yaitu kuasa Tuhan. Ingat, hari itu Tuhan Yesus dapat ditangkap oleh para prajurit Romawi itu karena Ia yang menyerahkan diri-Nya sendiri. Ketika para prajurit Romawi bermaksud hendak menangkap Yesus di taman Getsemani, injil Yohanes mencatat, para prajurit itu langsung jatuh ke tanah saat Tuhan Yesus berkata, “...Akulah Dia“ (Yoh. 18:4-9). Karena itu jangan sombong kalau bukan Tuhan yang memberikan anugerah maka hari ini kita tidak dapat hidup seperti sekarang.

Sungguh mengenaskan, dunia memandang salib sebagai suatu kebodohan. Orang tidak tahu kalau salib adalah puncak dari misi Kristus dan hidup akan bahagia kalau orang berjalan di dalam salib. Orang seharusnya sadar bahwa kalau Yesus dapat membuat mujizat sedemikian besar, yaitu membangkitkan Lazarus yang sudah mati dan berada di dalam kubur selama empat hari maka apa susahnya bagi Yesus untuk turun dari salib. Disalib adalah satu-satunya cara untuk manusia dapat diselamatkan, tidak ada cara lain lagi yang lebih mudah untuk menyelesaikan dosa manusia. Setiap kali melihat salib harusnya membuat kita mawas dan mengintropeksi diri, jangan merasa diri sok pintar untuk menasihati Tuhan. Secara tidak langsung, mungkin kita tidak merasa kalau kita telah menasihati Kristus namun dari perilaku kita telah menunjukkannya. Manusia seringkali melawan Tuhan karena kita merasa cara-cara yang Tuhan lakukan tidak sesuai dengan logika kita. Ingat, tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Salib merupakan tempat dimana bijaksana Tuhan dijalankan dan ketika bijaksana itu dikerjakan maka paradoks, orang-orang yang berada di luar Kristus tidak akan merasakan kedahsyatan kuasa Allah yang bekerja tapi sebaliknya bagi orang yang berada di dalam Kristus pasti akan merasakan kuasa Allah. Tuhan telah berkenan memberikan anugerah sehingga kita dapat mengerti dan peka dengan kehendak Tuhan. Biarlah kita mempunyai hati yang taat dan rela dididik oleh Tuhan sehingga kita mempunyai bijaksana sejati.

3. Pernyataan keadilan Allah

Alkitab menegaskan Allah Maha Kasih sekaligus Allah yang Maha Adil. Allah yang adil harus menghukum semua dosa, tidak ada satupun dosa yang boleh diabaikan. Di dunia modern ini, jangan berharap kita akan mendapatkan keadilan sebab si pelaku itu sendiri tidak adil lalu bagaimana ia dapat mengadili? Bukanlah hal yang mudah untuk membuat sistim peradilan dunia bersih sebab itu berarti semua jajaran dari yang teratas sampai terendah harus bersih. Akibatnya orang menjadi skeptis dan kemudian berpendapat kalau keadilan di dunia sangat langka. Andaikata semua orang yang berbuat kejahatan diadili pun tidaklah mudah. Bayangkan, biaya yang harus dikeluarkan pemerintah untuk memelihara hidup mereka di penjara pastilah sangat besar sebab untuk membangun sebuah penjara saja biayanya lebih mahal dibanding kalau kita membangun sebuah rumah. Di dunia, manusia dapat lolos dari hukum namun ingat, ada keadilan Tuhan, tidak ada satupun manusia yang dapat mempermainkan keadilan Tuhan. Kalau Allah tidak menyayangkan anak-Nya sendiri, Dia “menghukum“ Yesus di atas kayu salib lalu apakah manusia berdosa dapat melarikan diri dari murka Allah? Sadarlah, tidak ada tempat bagi kita untuk melarikan diri karena itu bertobatlah mohon ampunan dari Tuhan. Tuhan Allah sudah menggenapkan semua tuntutan murka-Nya di dalam diri Kristus maka kita yang seharusnya dihukum kini mendapat kebebasan; kita memperoleh jaminan pasti dari Tuhan. Hal ini menjadi kekuatan bagi anak Tuhan sehingga setiap kali kita memandang pada salib Kristus, kita tahu kalau dosa kita telah ditebus dan keadilan Allah dinyatakan. Kasih-Nya telah memperkenankan kita, manusia yang hina untuk melayani Tuhan yang Agung dan Mulia. Di tengah dunia ini mungkin kita tidak mendapatkan keadilan namun percayalah, Tuhan yang Maha Adil tidak akan membiarkan anak-anak-Nya diperlakukan dengan tidak adil sebab Dia akan menopang dan membalaskan semua perlakuan ketidakadilan dunia atas kita.   Amin. ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)