|
Ringkasan Khotbah : 02 Januari 2005
Nats: 1 Kor 1: 18-20 Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno |
Pendahuluan
Waktu demikian cepat berlalu, tanpa terasa kita sudah memasuki tahun 2005 dan yang memprihatinkan adalah akhir tahun 2004 ditutup dengan bencana alam yang sangat dahsyat, yakni gempa dan tsunami yang memakan korban nyawa sampai ribuan jiwa. Banyak orang yang mengkaitkan bencana alam ini dengan murka Allah. Memang benar, Allah sedang murka namun pertanyaannya adalah apa yang menyebabkan Allah murka? Allah murka sebab dosa yang telah manusia lakukan dimana salah satu penyebab terjadinya bencana alam ini adalah sebagai akibat atau ulah dari manusia berdosa. Kita dapat memahami dosa dari ketiga cirinya, yaitu:
Pertama, instability atau ketidakstabilan. Sebelum Allah menciptakan langit dan bumi, kondisi bumi porak poranda dan tidak stabil – bumi belum berbentuk dan kemudian segala sesuatu menjadi stabil dan teratur ketika Allah mulai “turun tangan“. Karena dosa, dunia yang sudah Allah atur sedemikian rupa dengan indahnya kembali menjadi tidak stabil. Manusia ingin mendapatkan keuntungan besar sehingga tanpa mempedulikan kelestarian alam, manusia merusak alam akibatnya terjadilah bencana alam. Salah satunya adalah terjadinya tsunami ini karena adanya patahan-patahan dalam laut sebagai akibat pengeboran minyak. Manusia telah rusak total, total depravity.
Kedua, disequilibrium atau keterkiliran. Ketidakharmonisan inilah yang menjadi penyebab rusaknya relasi antara alam dengan manusia, alam dengan alam, manusia dengan manusia bahkan merusak relasi yang paling penting, yaitu antara ciptaan dengan Sang Pencipta. Secara makrokosmos, dosa telah merusak seluruh tatanan dunia yang telah diatur rapi. Sebelum kejatuhan, manusia hidup di dunia yang harmoni namun akal licik si iblis telah berhasil menggoda manusia, membuat manusia tidak taat lagi pada Tuhan sehingga jatuh ke dalam dosa. Sesungguhnya, tanpa memakan buah itu sebenarnya manusia sudah tahu tentang semua pengetahuan yang baik, perhatikan, hanya yang baik saja karena manusia dicipta amat baik, yaitu sesuai peta dan teladan Allah. Satu-satunya jalan supaya hubungan yang disharmoni ini dapat kembali menjadi harmoni, yaitu hanya dengan berdamai dengan Allah.
Ketiga, destructive power atau kekuatan penghancuran. Kekuatan dosa yang dapat menghancurkan dunia ini sangatlah kuat dan manusia tidak dapat mencegahnya. Bayangkan, dalam sekejap ribuan nyawa melayang diterjang gelombang tsunami yang dahsyat padahal tekanan air yang begitu kuat dapat digunakan untuk hal yang positif, misalnya untuk pembangkit tenaga listrik. Begitu juga halnya dengan diri kita, dimanakah posisi kita? Apakah kita telah memberikan pengaruh yang positif dengan keberadaan diri kita? Sudahkah kita memberitakan Injil pada dunia yang tersesat?
Pentingnya Berita Injil
Hari ini, banyak orang yang menganggap berita Injil sebagai berita kuno yang tidak layak lagi untuk diberitakan pada dunia. Salah! Berita Injil sangatlah penting bahkan pentingnya melebihi apapun yang manusia anggap penting dan berharga di dunia karena berita Injil ini menyangkut nilai hidup manusia yang bersifat kekal. Namun berita Salib justru dipandang sebagai kebodohan oleh dunia yang merasa diri bijaksana dan pandai. Berita Salib dianggap sebagai berita yang negatif karena salib itu sendiri merupakan lambang kehinaan, penghukuman dan kekejaman dosa. Namun justru dalam berita salib ada dua hal yang paling esensial di dalam hidup manusia, yaitu:
1. Salib adalah gambaran nyata tentang realita dosa.
Salib menunjukkan pada kita dengan jelas gambaran manusia berdosa – para imam dan ahli Taurat – orang-orang yang katanya mengerti kebenaran justru mempermainkan kebenaran – mereka mengajukan saksi-saksi palsu demi supaya Yesus disalibkan. Hal ini menunjukkan rusaknya moral manusia. Kerusakan moral manusia tidak hanya sampai disitu, hal ini terlihat adanya dua imam besar di jaman itu padahal Tuhan menetapkan bahwa Imam Besar hanya satu orang saja dan hanya seorang Imam Besar yang berhak masuk ke ruang Maha Suci. Semua ini terjadi karena mereka saling berebut kekuasaan.
Inikah yang namanya Imam Besar, seorang pemimpin agama? Tuhan Yesus mendapat perlakuan yang sangat tidak adil dari tempat pengadilan agama, tempat dimana keadilan seharusnya ditegakkan, yaitu mereka mengajukan saksi-saksi palsu demi supaya Tuhan Yesus disalibkan. Kalau pengadilan agama tidak dapat memberikan keadilan lalu dimana lagi keadilan itu dapat ditegakkan? Bahkan Raja Herodes, seorang pemimpin rakyat pun telah mempermainkan keadilan sedemikian rupa demi untuk keuntungan diri sendiri. Inilah gambaran tatanan pemerintahan yang telah rusak sehingga kuasa yang ada pada dirinya dipermainkan sedemikian rupa dan Pontius Pilatus, pimpinan tertinggi dan pemegang keputusan tertinggi justru cuci tangan karena ia takut kehilangan kedudukan sehingga ia memakai tangan orang lain untuk membunuh Yesus Kristus. Salib merupakan demonstrasi dosa manusia. Salib merupakan cermin dari diri manusia berdosa. Kalau berita salib hanya sampai disini saja maka berita salib akan menjadikan manusia skeptis karena manusia hanya melihat gambaran dosa belaka. Manusia tidak pernah menyadari bahwa berita Salib justru adalah kekuatan Allah yang diberikan bagi kita.
Relativitas dosa yang merebak di tahun 60-an dan berkembang menjadi relativisme modern di abad 20 kini memuncak di abad 21 yang disebut dengan neoskeptisisme dimana manusia masuk dalam kondisi ketidakpedulian total. Maka tidaklah heran kalau hari ini manusia semakin acuh tidak acuh dengan segala kondisi yang ada sekarang. Manusia tidak lagi peduli dengan sesamanya, manusia lebih suka hidup dalam dunianya sendiri. Manusia masuk dalam kondisi yang disebut dengan nihilisme. Salah satunya, hal ini terpancar dari bangunan arsitektur modern sekarang dengan desain yang mengarah pada kekosongan dan lebih dikenal dengan istilah simplicity. Sebenarnya ruangan yang kosong ini merupakan gambaran dari hati manusia yang kosong. Sesaat manusia merasa nyaman dengan kekosongan ini namun keadaan tersebut tidak akan berlangsung lama sebab manusia normal butuh untuk mengaktualisasikan dirinya. Inilah manusia, di satu sisi, manusia tahu pentingnya makna hidup tapi di sisi lain ia juga menyukai hal-hal yang berbau dosa sehingga hal ini menjadikan konflik internal dalam dirinya.
Ironisnya, semakin manusia disadarkan akan segala dosa-dosanya, manusia justru menjadi semakin skeptik. Namun bagaimanapun juga, seskeptik-skeptiknya toh manusia tidak dapat mengingkari bahwa dosa tetap ada meskipun dengan segala cara manusia mencoba dan berusaha menghapuskan dosa. Keadaan ini sangat disadari oleh Blaise Pascal, seorang filsuf sekaligus ilmuwan bahwa dalam diri setiap manusia pasti ada lubang yang kosong dan lubang itu hanya dapat diisi oleh Tuhan sendiri, yaitu ketika kita berdamai dengan Tuhan. Merupakan suatu sukacita besar kalau kita berdamai dengan Tuhan karena disanalah kita akan mendapatkan nilai hidup yang sejati. Hati-hati, neoskeptisisme semakin mencengkeram hidup manusia di abad 21 ini dimana manusia sudah tidak peduli lagi dengan makna hidupnya maka tidaklah heran kalau Berita Salib dianggap sebagai kebodohan. Salib janganlah dilihat hanya dari satu sisi saja, yaitu gambaran realita dosa. Tidak! Sebab di sisi lain, salib merupakan satu-satunya tempat penyelesaian dosa.
2. Salib adalah satu-satunya jalan penyelesaian dosa.
Manusia tahu akan realita dosa, sayangnya, manusia tidak mau kembali pada Tuhan Yesus yang dapat mengampuni dosa. Tidak! Manusia justru mencoba menyelesaikan dosa dengan caranya sendiri dengan cara yang paling mudah, yaitu dengan berbuat baik padahal secara logika, hal itu mustahil. Coba pikir, apakah “perbuatan baik“ yang kita lakukan dapat disebut sebagai perbuatan baik kalau kita melakukan kebaikan itu karena ada motivasi lain di belakangnya, yakni demi supaya keinginan kita terpenuhi? Lagipula, apa yang menjadi ukuran dosa dan perbuatan baik sehingga orang dapat berpendapat bahwa dosa dapat ditebus dengan perbuatan baik. Ukuran beratkah, kilogram, ons, dan lain-lain atau ukuran volume atau ukuran yang lain? Apakah seorang pembunuh dapat lolos dari hukuman mati setelah ia melakukan perbuatan baik yang lamanya waktu ia berbuat baik melebihi dari lamanya waktu ketika ia melakukan pembunuhan? Tidak, bukan? Adalah kewajiban kita untuk berbuat baik karena Allah lebih dahulu mengasihi kita. Jadi, perbuatan baik itu bukanlah sesuatu yang bersifat nilai plus sehingga dapat mengurangi perbuatan negatif kita. Dalam hukum, legal aspect tidak berlaku demikian sebab sekali kita berbuat kejahatan maka cukuplah kejahatan itu membawa kita pada hukuman apalagi kalau kejahatan yang kita lakukan berhubungan dengan Tuhan Allah yang Maha Suci dan Tuhan Sang Kebenaran sejati maka Dia akan menuntut keadilan lebih daripada kejahatan yang telah kita lakukan pada sesama manusia yang berdosa.
Dapatlah dibayangkan, betapa kacaunya dunia, seandainya di dunia ini diberlakukan undang-undang demikian: hukuman akan ditiadakan bagi mereka yang telah melakukan kejahatan asalkan perbuatan baik yang ia lakukan lebih besar dari perbuatan jahatnya. Berarti orang bisa saja berbuat jahat berulang kali toh nantinya ia akan terlepas juga dari penghukuman setelah berbuat baik. Manusia telah membutakan dirinya sendiri dari kebenaran. Inikah yang dinamakan sebagai hikmat manusia? Memang ironis, manusia bukannya menyadari kesalahannya dan bertobat namun manusia malah melarikan diri dan menjauh dari Tuhan. Perbuatan baik yang dilakukan karena motivasi ingin masuk sorga dapatkah disebut sebagai perbuatan baik yang sejati? Berbuat baik demi mendapat sorga justru adalah perbuatan yang sangat jahat sekali. Bahkan Aristotle, seorang atheis tahu apa arti kebajikan sejati; kebajikan yang kita lakukan haruslah tulus keluar dari motivasi kebajikan itu sendiri dan hasil akhirnya demi untuk kebajikan itu sendiri. Di dunia modern ini banyak orang yang memancing dengan menggunakan umpan teri demi untuk mendapatkan ikan kakap. Demi untuk mendapatkan keuntungan orang akan mengusahakan segala cara bahkan orang tidak lagi peduli meski perbuatannya tersebut sangat merugikan pihak lain. Sebagai anak Tuhan, janganlah kita menjadi serupa dengan dunia ini. Anak Tuhan harus mewartakan kebenaran sejati, yaitu Berita Salib untuk menyadarkan orang akan dosa dan manusia tidak dapat menghindar dari hukuman kekal. Tidak ada keadilan manapun yang dapat menutup hukuman dan hukum harus ditegakkan.
Di beberapa negara ada peraturan undang-undang yang menetapkan bahwa seseorang yang melanggar hukum dapat dikenai hukuman atau dikenakan denda yang telah ditentukan dan yang setimpal sebagai ganti dari hukuman tersebut. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah hukuman apa yang setara yang dapat menggantikan hukuman mati? Tidak ada hukuman apapun yang setara dengan hukuman mati! Hukuman mati haruslah digantikan juga dengan hukuman mati dan orang yang menggantikannya haruslah orang yang tidak berada dalam tuntutan hukuman mati dengan kata lain ia haruslah seorang yang benar. Akan tetapi adakah satu orang manusia di dunia ini yang tidak berdosa? Tidak ada! Semua manusia di dunia berdosa dan di dunia berdosa ini tidak ada satu orang pun yang mau rela mati berkorban demi untuk menggantikan dan menebus dosa kita. Hanya ada satu cara yaitu Anak Allah, Tuhan Yesus Kristus harus turun ke dalam dunia dan menjadi tebusan bagi umat berdosa sehingga manusia yang seharusnya binasa kini diselamatkan. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal (Yoh. 3:16).
Kiranya berita Salib ini menyadarkan dan semakin mendorong kita untuk memberitakan-Nya pada mereka yang masih tersesat. Amin. ?
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)