Ringkasan Khotbah : 26 Desember 2004

Praise & Glory of Christmas

Nats: Luk 1: 46-55

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Merupakan suatu anugerah besar bagi Maria kalau Tuhan berkenan memakai dirinya menjadi saluran berkat, yaitu melahirkan seorang Juruselamat. Orang pasti merasa bangga ketika dirinya dipakai Tuhan menjadi alat dimana sepanjang sejarah selalu diingat dunia namun orang lupa kalau saat itu, Maria harus menanggung resiko besar, ia bisa dihukum mati karena dituduh berzinah. Maria tidak takut dengan segala resiko karena baginya yang terpenting adalah relasi antara dirinya dengan Tuhan dan itu menjadi mujizat terbesar. Sangatlah disayangkan, banyak orang menganggap kesembuhan atau hal-hal spektakuler itulah mujizat. Tidak! Mujizat terbesar adalah kembalinya kita pada Tuhan setelah sekian lama hubungan kita terputus.

Tuhan telah bekerja dalam diri Maria sehingga dia benar-benar menyadari bahwa Tuhanlah yang terutama. Namun orang tidak suka kalau pikirannya dibukakan pada lingkaran yang lebih besar yaitu segala sesuatu adalah dari Allah, dan oleh Allah, dan kepada Allah – orang tidak suka kalau ada kekuatan lain yang lebih besar berkuasa atas dirinya dan hal ini dicetuskan oleh gerakan modernisme di abad 17. Berbagai ajaran muncul saat itu dan salah satu tokohnya, Imanuel Kant mengajarkan filsafat humanisme bahwa manusia mempunyai moral yang baik maka dirinya dapat dijadikan sebagai patokan kebenaran maka sejak saat itu, yaitu sejak abad pencerahan manusia mulai menata tatanannya sendiri. Segala sesuatu yang menurut manusia baik maka itulah baik – orang tidak lagi peduli meski orang lain berpendapat sebaliknya. Orang seringkali menganggap dirinya baik karena ia tidak melakukan hal-hal yang secara moral jahat seperti mencuri, berzinah, dan lain-lain. Allah yang seharusnya menjadi pusat kehidupan dari alam semesta tapi kini berganti manusia yang menjadi pusat. Akibatnya, orang jatuh ke ekstrim yang lain, yaitu paham eksistensialisme – orang hanya peduli relasi antara dirinya sendiri dengan Allah. Gerakan ini sepertinya “baik“ dan “rohani“. Pertanyaannya adalah siapa yang menjadi penentu “baik“ dan “rohani“?

Soren kiekegard mencoba mengkonsistenkan filsafat eksistensialisme ini namun tindakannya malah menghancurkan dirinya sendiri. Diri sendiri yang menetapkan standar “baik atau rohani“ lalu ia merasa dirinya sudah rohani. Bukankah ini sama halnya dengan memanipulasi Tuhan? Dan bukankah Tuhan mengajarkan bahwa kalau engkau mengasihi Aku maka engkau juga harus mengasihi sesamamu manusia? Orang membagi subyektifisme menjadi dua, yaitu: 1) subyektifisme rasional, yaitu pikiran atau logika diri itulah yang menjadi standar; 2) subyektifisme mistik, yaitu imajinasi kita itulah yang menjadi standar. Maka tidaklah heran kalau orang kemudian menjadi skeptis dan menolak kebenaran sejati dan menganggap kebenaran diri itulah kebenaran sejati. Bayangkan, kalau setiap orang mempunyai kebenarannya sendiri lalu manakah yang benar-benar benar? Bukankah kebenaran menjadi relatif. Seorang eksistensialis sejati seharusnya taat mutlak pada semua perintah Tuhan dan memulihkan relasi antara manusia dengan Tuhan yang telah terputus dan kembali pada Tuhan. God is everything and I’m nothing so God can do everything to me namun kenyataannya tidaklah demikian justru subyektifisme diri itulah yang berperan besar.

Filsafat eksistensialisme maupun humanisme sebenarnya mengarah pada satu tujuan, yaitu supaya manusia hidup berbahagia. Benarkah demikian? Untuk sejenak mungkin orang dapat melupakan kesulitan dan ketegangan hidup namun problema hidup itu selalu akan muncul sebab letak masalah itu ada pada dirinya sendiri. Sayangnya, orang orang terjebak dalam close circle maka tidaklah heran kalau orang selalu tegang, kuatir dan ketakutan setiap hari sehingga berdampak pada kesehatan fisik maupun mental dan relasi dengan sesama pun menjadi kacau. Alangkah indahnya, kalau Kristus menjadi pusat hidup maka hidup kita akan melimpah dengan ucapan syukur seperti halnya Maria. Apa yang menjadi alasan bagi Maria sehingga di tengah-tengah segala kesulitan, ia bisa bersyukur, memuji dan memuliakan Tuhan?

1. Allah adalah Juruselamat dunia.

Perbuatan baik yang dilakukan oleh manusia tidak bisa menyelamatkan dirinya dari hukuman kekal sebab manusia telah berdosa dan upah dosa adalah maut. Pertanyaannya adalah apa yang menjadi ukuran dosa dan perbuatan baik sehingga orang dapat berpendapat bahwa ia telah cukup melakukan perbuatan baik untuk menebus dosanya? Berbuat baik demi untuk mendapatkan sorga, apakah dapat dikatakan “baik“? Apakah satu pembunuhan yang kita lakukan dapat dihilangkan karena kita telah melakukan dua perbuatan baik? Dosa tidak sama dengan daging yang dapat dikilo. Ini bukanlah perbuatan baik tapi justru menjadi kerusakan moral yang tidak memenuhi standar kebajikan. Suatu hukum yang dianggap sah dan adil pasti tidak akan membenarkan pendapat: perbuatan baik dapat menghilangkan perbuatan jahat. Manusia berdosa harus dihukum dan keadilan Allah harus ditegakkan namun karena begitu besar kasih Allah kepada manusia maka Allah menebus umat manusia melalui karya keselamatan yang ia kerjakan. Inilah tindakan Allah yang sangat mulia, this is the greatest Gospels sehingga Maria dapat berkata, “Jiwaku memuliakan Tuhan dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku.“

2. Tuhan memperhatikan umat-Nya di dalam esensi keaslian Dia.

Hidup di tengah dunia penuh dengan berbagai macam tantangan dan kesulitan. Dunia selalu menilai seseorang hanya dilihat dari tampilan luar yang terkadang dapat menipu. Hanya orang bijak yang dapat melihat inner being dari diri seseorang dan tidak mudah dikecohkan oleh tampilan palsu. Kerohanian sejatilah yang menyebabkan seseorang mempunyai inner beauty dan Maria adalah seorang yang mempunyai inner beauty itulah sebabnya Tuhan memakai dia menjadi alat-Nya untuk melahirkan Kristus, seorang Juruselamat manusia namun toh tidak ada fasilitas bagi Maria. Bayi Kristus harus lahir di tempat yang sederhana dan banyak kesulitan yang harus dihadapi akan tetapi meski demikian, Maria dapat berkata: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu“ (Luk. 1:38). Pertanyaannya di dunia modern ini, adakah orang yang seperti Maria? Ingat, ilalang untuk sementara memang kelihatan seperti gandum namun suatu saat nanti Tuhan akan memisahkan ilalang dari gandum dan Kemuliaan Tuhan akan dinyatakan.

3. Tuhan bertindak dan melakukan perbuatan besar.

Manusia seharusnya sadar bahwa sebesar apapun tindakannya tidak akan dapat menyamai tindakan Allah sebab manusia terbatas, keluar dari batas justru akan mencelakakan dirinya. Janganlah kita berambisi tugas kita hanyalah taat. Tuhan memberikan 5 talenta maka kita harus mengerjakan 5 talenta tersebut maka itulah arti ketaatan. Adalah ambisi kalau manusia mengerjakan lebih dari batasan yang ia punya, more than he can do. Ambisi kalau tidak dapat dipenuhi akan mengakibatkan kekecewaan dan orang kemudian menjadi skeptis. Maria tahu dirinya terbatas, dia bukan orang yang berkapasitas besar. Ketika Maria taat maka Tuhan memakai dengan luar biasa bahkan melebihi dari apa yang manusia pikirkan. Tuhan bisa mengerjakan pekerjaan besar dalam diri kita sejauh itu bukan ambisi pribadi kita sehingga apa yang tidak mungkin bagi manusia maka bagi Tuhan tidak ada yang mustahil. Syarat hanya satu, yaitu ketaatan. Sayang, manusianya tidak mau taat menjalankan perintah, manusia hanya mau berkat-Nya saja. Biarlah kita keluar dari lingkaran kecil kita maka kita akan merasakan sukacita sebab merupakan suatu anugerah kalau Tuhan berkenan memakai kita.

4. Tuhan memberkati dan memberikan anugerah kepada orang yang takut akan Dia.

Kalau hari ini kita bisa hidup maka itu merupakan anugerah. Teologi Reformed membagi anugerah menjadi dua, yakni: anugerah umum dan anugerah khusus. Kuyper menegaskan manusia selalu melawan Tuhan namun kalau Tuhan masih berkenan memberikan cuaca, tumbuhan, oksigen dan lain-lain sehingga kita dapat hidup itu merupakan suatu anugerah. Bayangkan, apa jadinya kalau Tuhan melepaskan anugerah-Nya dan membiarkan kita hidup di bawah penguasaan setan, orang akan hidup dalam ketakutan sebab sifat manusia telah berubah seperti iblis. Karena itu jangan sombong kalau hari ini kita masih dapat hidup dan bekerja itu semata-mata karena anugerah. Kepada anak-anak-Nya Tuhan berjanji bahwa Dia akan selalu beserta, itu merupakan anugerah khusus. Pertanyaannya adalah siapa yang dapat membuat hidup kita berbahagia dan indah di dunia? Tidak ada! Sukacita sejati akan kita dapatkan kalau hidup kita berorientasi untuk memuliakan Dia maka sepanjang manusia takut akan Tuhan, kita tidak perlu takut dengan tantangan dan ancaman sebab Tuhan akan selalu beserta. Alangkah bahagia hidup kita kalau berada dalam anugerah Tuhan.

5. Tuhan meninggikan orang yang rendah hati dan merendahkan orang yang tinggi hati.

Hal ini seharusnya membuat kita bersyukur sebab orang sombong di dunia tidak akan bertahan. Mungkin kita merasa sepertinya Tuhan tidak adil karena kita masih melihat ada orang-orang congkak di dunia yang masih berjaya. Ingat, di dunia mungkin dia berjaya namun di kekekalan nanti pasti akan dijatuhkan. Sejarah membuktikan, dengan segala cara Herodes ingin membunuh bayi Yesus namun dirinya sendiri yang justru mati dan bayi Yesus selamat. Orang yang merasa diri hebat, over position maka dirinya akan lebih mudah jatuh. Semakin anda sombong maka semakin besar pula gap yang terjadi dan gap itulah yang justru menjatuhkannya. Namun orang yang under position juga dikatakan sebagai orang yang sombong sebab sesungguhnya dia tidak suka ketika orang lain mempunyai kemampuan lebih dibanding dirinya. Orang yang tidak sombong adalah orang yang tahu menempatkan posisi dirinya dengan tepat. Hal ini tidaklah mudah, sadar atau tidak sadar sebenarnya manusia cenderung mempunyai kesombongan, baik positif maupun negatif.

6. Tuhan menyatakan keadilan-Nya.

Tuhan senantiasa memelihara hidup setiap anak-anak-Nya, Tuhan adil, Tuhan tidak akan membiarkan umat-Nya terlantar maka hal ini seharusnya membuat kita semakin memuliakan nama-Nya. Hari ini kalau kita melihat sepertinya anak-anak Tuhan diperlakukan tidak adil maka percayalah hal itu tidak akan terjadi selama-lamanya sebab suatu hari nanti akan tiba waktunya bagi Tuhan untuk bertindak. Kalau Tuhan belum bertindak maka itu menjadi masa anugerah, Tuhan masih memberikan kesempatan untuk bertobat setelah masa anugerah lewat maka tiba waktunya penghukuman Tuhan itu datang. Alkitab mencatat tulah pertama sampai dengan tulah kelima, Firaun mengeraskan hati itu berarti Tuhan masih memberikan kesempatan pada Firaun untuk bertobat namun dia tetap tidak mau berubah. Kalau Tuhan menegur kita dengan keras itu pertanda bahwa Tuhan masih sayang pada kita karena itu jangan remehkan teguran-Nya dan ini bukanlah waktunya bagi kita untuk mengumbar jiwa fasik yang selalu ingin memberontak. Kalau orang dapat disadarkan akan dosanya dan kembali kepada Tuhan maka itu tidak mendatangkan kutuk tapi justru mendatangkan kemuliaan. Sayang, hari ini banyak gereja yang takut dan tidak berani menegur orang akan dosa sebab mereka takut kehilangan jemaat. Maria sadar kehadiran Kristus di dunia adalah untuk menegaskan keadilan dimana dosa akan diselesaikan dan iblis pun dipatahkan. Di dunia modern ini, kita menjumpai bahkan merasakan ketidakadilan – di tempat dimana seharusnya kita mendapatkan  keadilan justru di situ keadilan dipermainkan tapi di hadapan Tuhan keadilan itu ditegakkan.

7. Tuhan setia pada janji-Nya.

Sebagai anak Tuhan, jangan pernah sekalipun kita mengklaim bahkan mempertanyakan janji-janji Tuhan sebab Tuhan selalu menggenapkan janji-Nya dan alangkah indahnya kalau kita dapat merasakan bagaimana Tuhan senantiasa menggenapi janji-Nya. Tuhan tidak pernah lupa janji-Nya. Pergilah jadikanlah semua bangsa murid-Ku,... dan ketahuilah Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir jaman (Mat. 19:28). Kalau Tuhan memberikan tugas pada setiap anak-Nya maka jangan takut dengan berbagai macam tantangan dan hambatan sebab Tuhan janji: Ia akan selalu beserta. Namun, hari ini orang hanya mau Tuhan menggenapkan janji ke atas dirinya, orang tidak mau melakukan amanat Agung yang Tuhan perintahkan. Ingat, bukan kamu yang memilih Aku tetapi Aku yang memilih kamu supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap. Supaya apa yang kamu minta dalam nama-Ku diberikan kepadamu. Tuhan adalah Tuhan yang setia, Tuhan pasti menggenapi janji-Nya tepat pada waktunya. Pertanyaannya adalah sudahkah kita menyelesaikan tugas-Nya? Maria taat menjalankan semua perintah Tuhan dan kini ia mendapatkan janji Tuhan. Gereja Tuhan yang menjalankan tugasnya menjadi misi Kerajaan Allah di tengah dunia pasti akan mendapatkan janji Tuhan begitu juga dengan anak Tuhan yang taat menjalankan kehendak-Nya. Kita akan merasakan pengalaman yang indah ketika kita berjalan bersama dengan Dia – hidup kita akan selalu melimpah dengan puji-pujian dan ucapan syukur sehingga kita dapat berkata seperti halnya Maria: “Jiwaku memuliakan Tuhan dan hatiku bergembira karena Allah Juruselamatku“. Biarlah ini menjadi kekuatan bagi kita menapaki tahun-tahun ke depan. sebab kasih setia-Nya tidak pernah berkesudahan. Amin. ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)