Ringkasan Khotbah : 12 Desember 2004

On Loving God

Nats: Luk. 10:25-28, 38-42

Pengkhotbah : Ev. Steve Hendra

 

Sekilas kalau kita membaca Injil Lukas maka kita mendapati kisah orang Samaria yang murah hati dan kisah Maria dan Marta merupakan dua kisah terpisah yang tidak saling berhubungan. Pada kisah orang Samaria yang murah hati dimulai dengan seorang ahli Taurat yang datang untuk mencobai Yesus, apakah pengajaran-Nya sesuai dengan hukum Taurat? Tuhan Yesus tahu apa yang menjadi motivasi si ahli Taurat ini itulah sebabnya Tuhan Yesus langsung bertanya, “Apa yang tertulis dalam hukum Taurat?“ Maka dengan tepat si ahli Taurat ini menjawab sekaligus meringkaskan esensi hukum Taurat (Luk. 10:27). Ironisnya, si ahli Taurat justru menanyakan tentang siapakah sesama manusia, yaitu hukum Taurat yang kedua dan jawaban Tuhan Yesus sangatlah indah, Tuhan Yesus mengisahkan tentang orang Samaria yang baik hati. Mengasihi sesama dapat dilakukan kalau hukum Taurat yang pertama beres dan si ahli Taurat ini merasa relasi antara dirinya dengan Tuhan sudah beres. Si ahli Taurat merasa kalau dia sudah mengasihi Tuhan dengan segenap hati, dengan segenap jiwa, dengan segenap kekuatan, dan dengan segenap akal budi.

Kini, lebih lanjut kita akan memahami kisah tentang Maria dan Marta yang mungkin sudah seringkali kita baca bahkan banyak orang menggunakan ayat ini dengan tujuan untuk mendorong orang lain yang tadinya jarang supaya semakin rajin membaca Alkitab. Kalau kita bandingkan dengan bahasa aslinya, yaitu bahasa Yunani maka terjemahan LAI sudah dipenggal sedemikian rupa kurang lebih sebanyak 30%. Tanpa mengurangi maknanya maka Luk. 10:38-42 dapatlah diterjemahkan demikian: Adapun ketika mereka (Yesus dan para murid) berjalan, Ia memasuki suatu desa lalu seorang perempuan dengan nama Marta menjamu Dia dan pada perempuan ini ada seorang perempuan yang dipanggil Maria yang juga duduk di samping dekat kaki Tuhan terus mendengarkan ajaran-Nya dengan seksama. Lalu Marta bingung dengan banyaknya pelayanan (diakonia) dan dengan tiba-tiba ia menghampiri Yesus lalu ia berkata, “Tuhan, tidakkah menarik perhatian bagi Engkau bahwa saudara perempuanku membiarkan seorang diri aku untuk melayani karena itu suruhlah kepadanya supaya aku, ia bantu“. Tetapi Tuhan menjawab: “Marta, Marta engkau mengkuatirkan diri dan disusahkan dengan banyak hal, hanya satu yang perlu: sebab Maria telah memilih bagian yang baik yang tidak akan diambil darinya“.   

Dari teks aslinya, kita tahu ada beberapa kata yang ditekankan namun telah dihilangkan, yaitu: 1) kalimat “Maria mendengar dengan seksama“; itu berarti Maria tidak sekedar mendengar tetapi ia memperhatikan dengan sungguh-sungguh ajaran Yesus, 2) kalimat “Tuhan, tidakkah menarik perhatian bagi Engkau... seorang diri aku... suruhlah supaya aku, ia bantu“ maka kata “aku“ di sini ditulis terlebih dahulu itu berarti kata “aku“ sangat ditekankan. Dan jawaban Tuhan Yesus pada Marta bukanlah sekedar jawaban seperti kalau kita menjawab berapa 1+1? 2. Bukan! Jawaban Tuhan Yesus pada Marta berkonotasi menegur sekaligus menghakimi Marta. Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan:

Pertama, Kalau kita perhatikan dengan seksama maka kita mendapati ada perubahan cara Lukas menuliskan tentang Tuhan Yesus, yaitu kata “Tuhan“. Pada perikop sebelumnya, Lukas hanya menulis Yesus saja tanpa kata “Tuhan“ namun pada kisah Maria dan Marta ini, Lukas menulis Yesus dengan sebutan Tuhan Yesus. Lukas mau menjelaskan bagaimana mengasihi Tuhan dengan segenap hati. Wacana yang terjadi bukanlah wacana biasa seperti kalau dua orang sedang berdialog tetapi lebih dari itu yaitu dialog antara Tuhan dan hamba-Nya.   

Kedua, Berkenaan dengan nama, dalam kebudayaan Yahudi, nama merupakan gambaran dari karakter seseorang. Marta berarti master of the house dan Maria berarti sempurna. Orang Yahudi dalam memberikan nama tidaklah sembarangan tetapi harus melalui pergumulan terlebih dahulu. Sangatlah disayangkan, hari ini, banyak orang mempunyai nama dengan arti yang sangat indah tapi tidak sesuai dan tidak menjadi seperti yang diharapkan dari arti nama tersebut.  

Ketiga, Berkenaan dengan keramah tamahan. Dalam kebudayaan kita bukanlah hal yang biasa memberikan tumpangan menginap kalau tiba-tiba ada seseorang yang tidak dikenal dan yang datang dari jauh mengetuk pintu rumah kita lalu ia meminta untuk menginap di rumah kita. Menurut tradisi Yahudi pada jaman itu, menumpang dan menginap di rumah seseorang yang tidak dikenal adalah hal biasa. Mengingat pada waktu itu, transportasi belumlah secanggih seperti sekarang maka dibutuhkan waktu perjalanan yang panjang, berhari-hari bahkan sampai bertahun-tahun untuk sampai ke tempat tujuan. Orang Yahudi menyadari betul akan kebutuhan ini maka harus menjadi tuan rumah yang baik dan tamu adalah raja ditanamkan turun temurun bahkan seorang tuan yang baik akan merelakan dirinya kalau nyawa si tamu terancam seperti dalam kisah Lot.

Keempat, Berkenaan dengan posisi wanita dalam masyarakat Yahudi. Orang Yahudi sangat merendahkan seorang perempuan dan menganggapnya sebagai masyarakat kelas dua. Itulah sebabnya seorang perempuan Samaria merasa heran ketika pada siang hari Tuhan Yesus yang seorang Yahudi datang dan menghampirinya. Dalam doanya, orang Yahudi sangat mensyukuri tiga hal, yaitu: 1) dilahirkan sebagai orang Farisi bukan pendosa atau pemungut cukai, 2) dilahirkan sebagai orang Yahudi bukan orang kafir, 3) dilahirkan sebagai seorang pria bukan wanita. Tradisi Yahudi tidak memperbolehkan seorang pria berbicara dengan seorang perempuan, mereka hanya boleh berbicara yang seperlunya saja dan seorang pria juga haruslah menjadi tuan atas istrinya.

Dari tradisi Yahudi tersebut di atas maka kita tahu sekarang, bahwa hal yang dikerjakan Tuhan Yesus bukanlah hal yang wajar apalagi kalau kita memperhatikan peta perjalanan pelayanan Tuhan Yesus yang dimulai dari Galilea – Yudea – Yerusalem maka rumah Marta bersaudara di Betania tidak termasuk dalam wilayah perjalanan Yesus. Dari sini beberapa penafsir menafsirkan bahwa Yesus sedang melakukan penginjilan sebagaimana Ia telah mengutus ke tujuh puluh murid-Nya. Apa yang dilakukan Marta ini menggambarkan dirinya sebagai seorang tuan rumah yang baik sebab sesuai dengan tradisi dan budaya Yahudi pada jaman itu. Apa yang dilakukan Marta ini pun sudah sesuai dengan yang Tuhan Yesus ajarkan ketika Dia mengutus para murid untuk pergi berdua-dua, yaitu apabila kamu datang dan mengetuk pintu rumah seseorang dan ia mau menerima engkau dalam rumah itu maka tinggallah dalam rumah itu namun apabila rumah ini menolak kamu maka tinggalkan rumah itu dan kibaskanlah debu dari kasutmu.

Kisah ini kemudian dilanjutkan dengan Maria yang saat itu digambarkan ia sedang duduk di dekat kaki Tuhan. Di dunia modern, bukanlah hal yang biasa bagi kita untuk duduk di dekat kaki tamu kita, bukan? Namun tradisi Yahudi pada jaman itu merupakan hal yang wajar. Sikap Maria ini sesungguhnya merupakan gambaran sikap seorang murid ketika sedang mendengarkan pengajaran dari guru-Nya; Maria dengan sungguh-sungguh mendengarkan pengajaran Yesus. Dan juga merupakan hal yang tidak lazim kalau seorang wanita mau mendengarkan ajaran dari seorang ahli Taurat mengingat ia sangat memandang rendah kaum wanita bahkan di antara kaum Yahudi sendiri pun, seorang ahli Taurat menganggap status dirinya lebih tinggi. Marta dan Maria sangat menghargai anugerah dan berkat Tuhan dan hal ini nampak dari respon kedua bersaudara atas berita Injil dan atas kedatangan Tuhan Yesus, seorang pemberita Injil.

Lukas menyoroti setiap hal yang dilakukan Marta barulah kemudia ia menyoroti Maria namun perhatikan, kini ia kembali menyoroti Marta, yaitu dialog yang terjadi antara Marta dan Tuhan Yesus. Alkitab mencatat Marta sedang kuatir dan gelisah karena pelayanannya sehingga keluar perkataan dari mulutnya: “Tuhan, tidakkah menarik perhatian bagi Engkau bahwa saudara perempuanku membiarkan seorang diri aku untuk melayani karena itu suruhlah kepadanya supaya aku, ia bantu“. Beberapa teolog menafsirkan bahwa Marta terlalu ingin memberikan sambutan yang wah tetapi saudaranya, Maria tidak mendukung dia. Sebenarnya sama seperti Maria, Marta pun ingin sekali mendengar pengajaran Yesus karena hal seperti ini sangat jarang terjadi bahkan termasuk dalam peristiwa yang langka. Sikap yang ditunjukkan Marta merupakan gambaran dari diri kita ketika beban dan tanggung jawab pelayanan itu kita rasakan semakin berat maka kita mulai menoleh kanan – kiri, kita mulai kuatir dan mengomel. Kita langsung melihat pada orang yang seharusnya menjadi kawan sekerja kita dan kita langsung menuding mereka.

Dari sikap Marta dan Maria kita menjumpai ada kekontrasan, yakni Maria tidak pernah menyebut Yesus dengan Tuhan namun sikapnya telah menunjukkan kalau ia sudah menempatkan Yesus sebagai Tuan atas dirinya sebaliknya Marta memanggil Yesus dengan sebutan Tuhan namun Marta sebenarnya bukan menguatirkan Tuhan tetapi dia lebih kuatir pada dirinya dan pelayanannya. Marta menyuruh Tuhan supaya melakukan apa yang menjadi keinginannya. Manusia seringkali berkata, “Aku mengasihi Engkau, Tuhan“ namun benarkah kalimat yang keluar dari mulut kita sudah tercermin dalam sikap hidup kita? Biarlah apa yang menjadi pergumulan bapak gereja ini menjadi pergumulan kita juga: Apa yang sebenarnya aku cintai ketika aku mencintai Dikau, Tuhanku? Apa yang sebenarnya aku layani ketika aku melayani Dikau, Tuhanku? Benarkah Engkau yang menjadi puncak hidupku?“ Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana cara kita mengasihi Tuhan? Mengasihi Tuhan berarti kita harus taat mutlak pada perintah Tuan, kita hanya mengerjakan hal-hal yang menjadi kehendak Tuhan saja meski untuk nyawa yang menjadi taruhannya hanya pada Tuhan. Kita tidak pernah bertanya pada Tuhan apa yang menjadi keinginan-Nya untuk kita kerjakan. Kita seringkali menganggap bahwa apa yang kita kerjakan tersebut telah sesuai dengan kemauan Tuhan. Bukan! Kita sebenarnya hanya mengerjakan apa yang menjadi keinginan dan ambisi kita bukan keinginan Tuhan.

Tuhan tahu apa yang menjadi keluhan Marta dan jawaban yang Tuhan berikan bukan sekedar jawaban namun Tuhan menghakimi sekaligus mengoreksi cara berpikir dan motivasi yang terdalam dari Marta. Pengulangan yang menyebutkan nama Marta menunjukkan suatu kritik yang sopan dan empati. Tuhan menegur dengan: pertama, kata “mengkuatirkan dirimu“ atau merimnos (bahasa Yunani) dimana kata ini memakai bentuk aktif. Kata merimnos ini biasa digunakan untuk menunjuk pada sikap hati orang yang tidak percaya Tuhan. Orang yang tidak percaya Tuhan akan selalu kuatir dengan dirinya, kuatir akan masa depan, dan lain-lain sehingga mereka hanya memikirkan perkara-perkara duniawi, kedua, kata “engkau dibingungkan oleh banyak hal“ yang dari bahasa aslinya thorubase yang ditulis dalam bentuk pasif menggambarkan seseorang yang terjebak dalam kebingungan. Ketika kita terlalu kuatir dengan banyak hal dan jauh dari Tuhan maka otomatis kita akan melakukan banyak kesibukan.

Tuhan Yesus juga mengontraskan antara banyak hal yang dilakukan Marta dan ada satu hal yang justru penting namun Marta tidak dapat melihat hal ini dan Maria justru menyadari pentingnya satu hal tersebut. Dan satu hal ini menjadi hal terbaik yang tidak akan diambil dan menjadi harta pusaka yang bernilai kekal. Apa satu hal penting yang dipuji Tuhan tersebut? Banyak orang yang menyangkutkan satu hal itu dengan Firman Tuhan. Tidak salah! Firman memang sangatlah penting sebab kalau seseorang tidak mengerti Firman, tidak mempunyai kerinduan belajar Firman maka mustahil ia dapat melayani Tuhan dengan benar. Akan tetapi di satu sisi, orang dapat menggunakan alasan mendengar Firman lebih penting sehingga ia tidak mau terlibat dalam pelayanan. Jadi, ada makna yang lebih dalam dari sekedar dengar atau baca Firman Tuhan, yaitu keterbukaan dan ketaatan kepada kehendak Tuhan.

Melalui kisah Marta dan Maria, Lukas ingin menggambarkan sikap hati yang mau terbuka melihat apapun yang Tuhan kehendaki dan dengan taat menjalankan kehendak Tuhan itu. Apa yang akan anda lakukan kalau Tuhan Yesus datang ke rumah saudara? Pastilah kita akan menjamu Dia dengan sebaik mungkin dan kita akan menunjukkan semua aktivitas pelayanan yang kita kerjakan. Kita merasa sudah melakukan yang terbaik padahal maksud kedatangan Tuhan bukan untuk melihat semua aktivitas kita. Tuhan datang untuk diri kita. Benarkah semua hal terbaik yang kita kerjakan tersebut demi untuk Tuhan ataukah untuk diri kita sendiri? Mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa dan dengan segenap kekuatan dan dengan segenap akal budi artinya bukan semata-mata memberikan yang terbaik kepada Tuhan. Tidak! Mengasihi Tuhan berarti keterbukaan dan ketaatan kita kepada kehendak Tuhan meski kehendak Tuhan itu bertentangan dengan kehendak kita. Biarlah kita mencontoh teladan Maria, ibu Tuhan Yesus ketika mendengar berita yang menggetarkan hatinya, ia mau taat dan berkata,“Ya, Tuhan jadilah padaku seperti kehendakmu.“ Maukah saudara? Amin. ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)