Ringkasan Khotbah : 5 Desember 2004

Implication of the Kingdom

Nats: Mat. 8:1-4

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Matius tidak sembarangan menuliskan dan meletakkan kisah tentang orang sakit kusta yang disembuhkan oleh Tuhan Yesus di bagian pertama dari pernyataan implikasi Kerajaan Sorga. Di dunia modern, banyak orang hanya mengambil dan memotong sebagian ayat dalam Alkitab tanpa tahu konteksnya secara keseluruhan akibatnya orang jadi salah menafsirkan ayat tersebut. Seperti halnya kalau orang mengambil sebagian kalimat dari perkataan kita dimana sebelumnya ia tidak tahu konteks pembicaraan secara keseluruhan lalu ia menyampaikannya pada orang ketiga maka hal tersebut bisa berakibat positif atau negatif, yaitu kita akan merasa tersanjung atau kita akan merasa terfitnah. Ketika kita sedang terlibat pembicaraan dengan seseorang maka setiap kalimat yang keluar pasti bukanlah kalimat yang sekenanya. Setiap kalimat yang keluar pasti ada latar belakang atau motivasi tertentu dan pastinya juga kerangka/cara berpikir kita turut aktif di dalamnya.

Jadi, kalau seseorang bisa mempunyai ide negatif maka janganlah kita cepat menghakimi dan menyalahkannya tetapi hendaklah kita mempertanyakan pada dia dengan jelas dan secara runtut kalimat seperti apa yang ia dengar dengan demikian dapat jelas apa yang menjadi konteks pembicaraan. Hati-hati karena kalimat yang diambil di luar dari konteks dapat digunakan oleh orang-orang tertentu yang memang berniat buruk dan ingin menjatuhkan untuk melakukan intrik-intrik dan fitnah. Orang itu sudah terlebih dahulu mempunyai keinginan dan pemikiran lalu mencari cara untuk menjatuhkan kita dengan mencopot sebagian kalimat dari pembicaraan untuk mendukung niat buruknya. Sebaliknya orang yang suka pada kita maka dengan cara yang sama, sebagian kalimat kita akan digunakan untuk memuji-muji diri kita. Disini kita melihat subyektifitas diri sangat berperan besar.

Untuk dapat mengerti Firman Tuhan dengan benar, kita harus melihat konteksnya secara keseluruhan sehingga kita tidak terjebak dalam konsep pemikiran kita dimana di dalamnya mengandung berbagai macam keinginan nafsu. Orang hanya membaca ayat-ayat yang disuka dan mengabaikan ayat-ayat yang tidak sesuai dengan konsep pemikirannya. Suatu anugerah kalau kita dapat memahami Firman Tuhan, ingat, itu bukan karena kepandaian kita. Untuk dapat memahami ayat demi ayat yang ada dalam Injil Matius maka kita harus membacanya secara keseluruhan, yakni dari pasalnya yang pertama hingga pasal dua puluh delapan. Sebab perikop yang sama, jika kita bandingkan dengan Injil yang lain, Injil Lukas misalnya maka kita akan menjumpai kronologi yang tidak sama. Ingat, Injil Matius ditulis bukan berdasar kronologi waktu tetapi disusun berdasarkan tema. Itulah sebabnya Matius meletakkan kisah tiga mujizat kesembuhan, yaitu bagaimana Kritus Sang Raja itu turun dan menyembuhkan pada posisi pertama dari bagian implikasi Kerajaan Sorga.

Di dunia modern ini, banyak orang yang salah mengerti tentang konsep mujizat karena melepaskannya dari konteks implikasi Kerajaan Sorga. Banyak hamba Tuhan yang salah mengerti tentang mujizat, mereka mengaku dapat membuat mujizat kesembuhan dan menggunakan “mujizat kesembuhan“ untuk kepentingan pribadi, tentu saja banyak orang yang suka, orang sakit mana yang tidak mau sembuh apalagi kalau sakit yang diderita adalah sakit fatal yang sukar disembuhkan? Manusia mana yang tidak tergiur ketika mendengar mujizat kesembuhan dimana dengan cara yang mudah dan tanpa biaya pula. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah apakah mujizat tersebut merupakan mujizat sejati dari Tuhan? Perhatikan, mujizat yang palsu tidak pernah menyembuhkan dan membebaskan manusia secara esensi. Iblis tidak pernah memberikan mujizat kesembuhan dengan motivasi jujur dan gratis, pasti ada harga yang harus dibayar. Licik adalah salah satu sifat jahat si iblis. Berhati-hatilah jangan mudah tergoda dengan cara licik iblis yang selalu berusaha menggoda manusia supaya jatuh ke dalam jeratan dan belenggunya. Tuhan Yesus dengan tegas berkata,“ Perhatikan, jangan engkau memberitahukan hal ini kepada siapapun....“ (Mat. 8:4) ini sangatlah signifikan, yakni supaya orang mengerti konsep mujizat sejati dengan demikian orang tahu untuk maksud dan tujuan apa ia disembuhkan. LAI menerjemahkan dengan kata “ingatlah“ padahal bahasa aslinya adalah hora yang lebih tepat kalau diterjemahkan dengan “perhatikan atau look at“, yakni sesuatu yang harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh jadi, bukan sekedar ingatlah, remember. Dan banyak orang yang mengabaikan kata “perhatikan“ dan menganggapnya biasa. Tidak! Firman Tuhan berbeda dengan konsep manusia karena itu Tuhan Yesus menegaskan, “Perhatikan....“ Tuhan ingin supaya kita melihat implikasi Kerajaan Sorga dengan tepat, yakni Allah Sang Raja yang berdaulat itu sedang bekerja menghadirkan Kerajaan Sorga di dunia. Namun orang tidak dapat melihat hal itu, orang hanya melihat sembuhnya, orang hanya melihat berkatnya saja.

Kita dapat melihat perbedaan antara anak Tuhan dan anak Iblis dari cara mereka meresponi suatu mujizat. Kita sering mendengar kesaksian yang berkata, “Puji Tuhan, dulu aku sakit dan sekarang aku sembuh.“ Perhatikan dibalik kata-kata ini sesungguhnya bukan Tuhan yang dimuliakan namun dirinyalah yang dipermuliakan dan secara tidak langsung ia juga ingin mengatakan bahwa kita pun bisa mengalami hal yang sama, yaitu disembuhkan. Bukankah sikap sombong ini serupa dengan iblis. Malaikat jatuh ke dalam dosa dan menjadi iblis karena kesombongan dirinya, ia ingin menjadi seperti Tuhan. Sifat ini muncul pada manusia yang berafiliasi pada iblis dan kita tidak akan menjumpai sifat ini pada anak Tuhan sejati. Ketika Tuhan Yesus memerintahkan supaya orang kusta ini tidak menceritakan tentang kesembuhannya pada orang lain tentulah bagi si orang kusta ini sangatlah berat. Bayangkan, kalau kita yang mengalami sakit kusta sekian lamanya kita diasingkan dan menderita tapi kini sembuh tentu kita ingin menceritakannya kepada orang lain, bukan? Mujizat bukan sarana promosi atau tempat kita untuk pamer. Mujizat merupakan pernyataan karya kedaulatan Allah. Mujizat bukan untuk kepentingan manusia tapi demi untuk kemuliaan nama-Nya. Inilah bedanya setan dengan Tuhan kalau membuat mujizat. Mujizat yang dilakukan setan tidak gratis, secara fisik disembuhkan namun secara rohani kita masuk dalam kebinasaan kekal.

Kita tidak pernah menyadari dan kita tidak pernah tahu apa akibatnya kalau kita bercerita, seperti bagaimana perasaan orang lain yang mempunyai sakit yang sama tetapi belum juga disembuhkan. Di dunia ini masih banyak orang sakit dan yang tidak dapat disembuhkan lalu kalau kita bersaksi, “Puji Tuhan, aku telah disembuhkan“ maka bayangkan bagaimana perasaan orang yang menderita sakit ketika mendengar kesaksian tersebut padahal kesembuhan yang dialami tersebut belum jelas dari Tuhan atau iblis. Orang yang menderita sakit tentu akan merasa kecewa dan akhirnya menjadi marah dan menganggap Tuhan itu jahat dan tidak adil. Mujizat Tuhan tidak diberikan pada setiap orang. Tuhan memberikan mujizat pada mereka yang imannya kurang supaya imannya semakin kuat dan pada mereka yang mempunyai iman lebih baik, Tuhan memberikan kemungkinan untuk dia menghadapi tantangan. Layaknya seorang bayi yang lemah dan bergantung pada orang lain dimana untuk melakukan semua hal ia membutuhkan orang lain. Kita yang sudah dewasa tidak bisa iri pada seorang bayi, bukan? Dengan mujizat, orang seharusnya melihat kemuliaan dan kedaulatan Tuhan Sang Raja. Sangatlah disayangkan, hari ini mujizat justru dimanipulasi sedemikian rupa demi untuk kepentingan diri. Orang semakin salah kaprah dalam mengerti mujizat.

Ironisnya, orang berani mengklaim bahwa kalau kita tidak disembuhkan maka itu berarti kita yang salah karena kurang beriman dan banyak dosanya. Bahkan ada yang lebih berani lagi mengatakan bahwa anak Tuhan pasti tidak akan pernah sakit. Salah! Orang Kristen dan rasul pun bisa sakit bahkan Tuhan Yesus sendiri juga mengalami kesakitan yang luar biasa. Ingat, jika seseorang mendapat mujizat kesembuhan maka bukan berarti kita atau orang lain yang sakit juga harus mengalami mujizat yang sama. Tidak! Itulah sebabnya Tuhan Yesus melarang orang kusta ini berbicara pada orang lain. Jadi, jikalau anda pernah mengalami mujizat kesembuhan atau mujizat apapun juga itu maka kita harus lebih berhati-hati supaya tidak bicara pada sembarang orang. Mujizat terbesar yang terjadi dalam diri kita adalah kesembuhan rohani bukan kesembuhan jasmani. Dengan sembuhnya fisik bukan berarti kita akan hidup selamanya karena manusia pasti mati. Mujizat terbesar adalah pertobatan kita, yaitu saat kita menyadari dan mengakui bahwa kita adalah manusia berdosa dan kita mau bertobat, kembali pada Tuhan dan mau hidup taat pada Tuhan. Seorang yang memang bertobat dengan sungguh maka dengan rendah hati dan hati yang hancur ia datang di hadapan Tuhan. Anugerah Tuhan bukan menjadikan kita sombong tapi justru seharusnya menjadikan kita tahu bagaimana berespon dengan tepat.

Tuhan melarang orang kusta ini untuk bercerita pada orang lain namun Tuhan memerintahkan supaya ia pergi, memperlihatkan diri kepada imam dan mempersembahkan persembahan seperti yang diperintahkan Musa, sebagai bukti bagi mereka. Kalau kita membaca ayat ini sekilas saja maka kita akan salah menafsirkan. Perjanjian Baru tidak boleh kita lepaskan dari Perjanjian Lama. Dengan demikian kita tahu bahwa seseorang yang dinyatakan tahir haruslah mematuhi berbagai macam peraturan dan harus memenuhi berbagai macam persyaratan. Proses pentahiran itu tidaklah mudah. Sebelum dinyatakan tahir, seorang kusta tidak boleh masuk dalam Bait Allah maka imam yang harus keluar dan menghampirinya karena kuatir kalau-kalau ia belum sembuh benar. Langkah pertama yang harus dilakukan oleh orang kusta sebelum dinyatakan tahir adalah ia harus membawa dua ekor burung tekukur, satu ekor disembelih lalu darahnya dipercikkan pada orang kusta itu sebagai tanda pentahiran sedang satu ekor lagi dilepaskan sebagai tanda Tuhan mengampuni dosa. Semua prosedur tersebut dilakukan di luar Bait Allah. Dan orang kusta ini harus tinggal selama delapan hari di luar perkemahan setelah didapati ia betul-betul tahir barulah kemudian ia boleh masuk ke dalam Bait Allah sambil membawa dua ekor domba jantan yang tidak bercacat dan satu ekor domba betina. Persembahan domba ini pun harus melewati beberapa prosedur yang tidak kalah rumitnya.

Semua prosedur yang rumit ini mempunyai arti yang sangat dalam. Darah domba jantan merupakan lambang darah Kristus yang menyembuhkan dan minyak yang tercurah menjadi lambang curahan berkat Tuhan, yaitu anugerah Tuhan mendahului semua hal yang dialami. Semuanya dapat kita lihat dalam kitab Imamat pasal 14. Beratnya prosedur yang harus dikerjakan seharusnya menyadarkan kita betapa besar pengorbanan Kristus yang harus dialami demi untuk menebus dan menyucikan manusia dari dosa. Namun prosedur yang demikian ini tidak ada satu orang pun yang melakukannya. Hari ini, orang hanya melihat kesembuhannya saja lalu merasa diri hebat karena mempunyai iman yang besar dan kemudian menjadi sombong. Mujizat adalah Kristus memulihkan hubungan kita yang telah terputus dengan Bapa. Respon orang kusta ini berbeda, ketika Tuhan Yesus menyembuhkannya, ia menyadari siapa dirinya yang sesungguhnya sehingga dengan rendah hati ia datang pada imam. Kita seharusnya menyadari, kalau dulu kita hanyalah manusia berdosa yang hina namun karena anugerah-Nya kini, kita bisa menjadi warga Kerajaan Sorga dan disebut anak-anak Allah. Kita harus hidup taat dan mau menyenangkan Tuhan saja. Respon seperti inilah yang seharusnya muncul dalam diri anak Tuhan yang telah mengalami mujizat. Namun, setelah disembuhkan dan mengalami mujizat, orang justru makin menuntut Tuhan supaya terus memberkati dan kemudian ia menjadi sombong.

Matius menulis tentang mujizat bukan supaya orang menjadi gila mujizat lalu menuntut Tuhan supaya melakukan mujizat juga pada kita. Tidak! Dan Matius juga tidak bermaksud memamerkan kuasa Tuhan sehingga orang dapat berpikir kalau kita datang dan mengikut Dia maka hidup kita akan enak. Bukan! Alkitab juga tidak mengajarkan kita supaya memberitahukan pada orang lain sehingga memungkinkan kita menjadi sombong. Tidak! Ketika kita mengalami sesuatu bersama Tuhan, itu merupakan suatu anugerah dan kita patut bersyukur, kita harus melihat pada Tuhan, yakni Kristus, Sang Raja sedang mengimplikasikan Kerajaan Sorga di tengah dunia. Betapa indah hidup kita kalau hidup kita berpusat pada Kristus, melihat Kristus sebagai Tuan, Pemilik alam semesta yang memelihara hidup kita. Tak terasa kita sudah memasuki akhir tahun 2004, hendaklah kita mengevaluasi diri, sudahkah kita men-Tuhan-kan Kristus dalam hidup kita? Tantangan dunia semakin hari semakin berat lalu apa yang harus kita kerjakan supaya nama Tuhan semakin dipermuliakan? Disitulah peranan anak Tuhan sangat diperlukan, peranan gereja, peranan iman Kristen, yaitu menjadi garam dan terang dunia. Kekristenan bukan menjawab tantangan jaman namun lebih dari itu Kekristenan harus menantang jaman dan jangan takut dan kuatir karena kita mempunyai Tuhan yang hidup; Dia akan memberikan kekuatan pada kita dalam menghadapi tantangan dunia sehingga kita tidak terseok-seok dalam menapaki tahun demi tahun di depan yang tantangannya semakin berat.  Amin. ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)