Ringkasan Khotbah : 28 November 2004

The Kingdom & the Action (2)

Nats: Mat. 8:1-4

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Kristus Yesus, Sang Raja yang mulia itu telah memberikan teladan yang sempurna pada kita sebagai warga Kerajaan Sorga bahwa hukum-hukum Kerajaan Sorga yang Dia ajarkan dapatlah dijalankan dalam kehidupan sehari-hari. Kebenaran Firman tidak hanya dimengerti sebatas pengetahuan saja namun kebenaran tersebut haruslah terimplikasi dalam keseharian hidup kita sehingga iman dan tindakan menjadi satu kesatuan. Prinsip Kebenaran Firman akan membongkar semua konsep dan tatanan pikir yang kita dapat dari dunia karena konsep yang dari dunia selalu bertentangan dengan kebenaran sejati. Konstruksi dari implikasi Kerajaan Sorga disusun oleh Matius sedemikian indah dan lebih indah lagi setelah ditata dalam ayat-ayat. Ada 4 sub tema yang harus kita perhatikan dalam mengimplikasikan prinsip kebenaran dimana masing-masing sub tema terdapat 3 contoh dan terdiri dari 17 ayat, yaitu: 1) Lordship of Christ. Kristen berarti pusatnya adalah Christ. Kristus menjadi inti dalam kita mengimplikasikan kebenaran Firman, Dia menjadi Tuan atas hidup kita maka seorang Kristen harus mempunyai jiwa dan semangat berjuang untuk semakin hari menjadi semakin serupa Kristus (Mat. 8:1-17); 2) Disciplership. Menjadi murid Kristus haruslah terus menerus bahkan di sepanjang hidup kita adalah murid Kristus (Mat. 8:18-34); 3) Comitment. Manusia hidup akan selalu dihadapkan pada sebuah pilihan lalu bagaimana kita memilih dengan tepat? (Mat. 9:1-17); 4) Faith. Sebagai seorang murid, pengikut Kristus maka kita harus beriman sejati (Mat. 9:18-34) dengan demikian kita menjadi seorang Kristen sejati.

Untuk menggambarkan iman dan hidup Kristen yang berpusat pada Kristus, Matius memberikan tiga contoh mujizat kesembuhan dimana ketiganya merupakan mujizat yang kontroversial dan sangat dibenci oleh orang Yahudi (Mat. 8:1-34). Contoh pertama yang diangkat oleh Matius adalah kisah orang yang sakit kusta. Orang Yahudi sangat membenci orang yang sakit kusta melebihi pemungut cukai atau perempuan pelacur yang tidak bermoral bahkan penjahat yang hendak dihukum mati karena sakit kusta dianggapnya sebagai kutukan dari Tuhan sebagai akibat dari perbuatan dosanya. Tidak hanya secara fisik saja orang yang sakit kusta ini mengalami kesakitan yang luar biasa tetapi secara mental juga, ia harus dibuang dan diasingkan dari masyarakat dan keluarga dan ia harus berteriak, “Najis, najis“ supaya orang lain tahu bahwa ia sakit kusta dengan demikian orang lain dapat segera pergi menjauhinya. Namun Sang Raja yang berdaulat berkenan menjamah dan melakukan mujizat atas dirinya. Ingat, mujizat Allah dikerjakan bukan atas dasar keinginan manusia melainkan karena Allah yang berdaulat.

Orang kusta ini menunjukkan sikap yang indah, dia tahu siapa Kristus dimana sang Tuan ini mampu menyembuhkannya meski demikian tidak pernah sedikit pun ia memaksakan kehendaknya, yaitu supaya ia disembuhkan. Hal ini terbukti dari perkataan yang keluar dari mulutnya, “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku“ (Mat 8:2). Orang kusta ini begitu rindu untuk dapat berelasi dengan Kristus sang Raja. Sebagai anak Tuhan, biarlah kita juga mempunyai kerinduan:

1. Jamahan Tangan Tuhan

Diantara orang banyak yang mengikut di belakang-Nya dan orang kusta di depan-Nya, Yesus berada di tengah di posisi yang sangat krusial. Kalau kita yang berada pada situasi tersebut, tentunya kita tidak akan mendekati orang kusta yang sangat dibenci oleh orang Yahudi yang menjadi pendukung kita karena akibatnya mereka akan meninggalkan kita. Dan benar, orang Yahudi yang melihat tindakan Yesus tersebut menjadi marah meskipun kekesalan mereka tidak nampak sebab mereka menganggap tindakan Yesus adalah melawan konsep hukum dan tradisi Yahudi. Secara fenomena, mereka mengikut Kristus namun sesungguhnya mereka bukanlah pengikut Kristus yang sejati sebab mereka tidak mau taat pada Kristus yang seharusnya menjadi Tuan atas hidup kita. Orang hanya mau hal-hal yang menyenangkan saja dari Tuhan Yesus, seperti berkat, mujizat, penyertaan Tuhan, dan lain-lain. Sebaliknya ada orang kusta, orang yang dipandang hina dan dianggap berdosa ini justru yang paling mengerti siapa Kristus yang sesungguhnya. Manusia sangat suka kalau yang supranatural mempengaruhi natural dan sekaligus tidak suka kalau yang supranatural mempengaruhi yang natural. Ketika manusia berurusan dengan Kristus, manusia tahu kalau Yesus adalah Supranatural, Dia adalah Anak Allah yang mempunyai kedaulatan kuasa supranatural. Jadi sebenarnya orang itu mau/tidak kalau kuasa supranatural tersebut menguasai hidup kita? Disini kita melihat liciknya hati manusia. Ketika manusia dalam kesusahan sakit penyakit, manusia ingin yang Supranatural itu menyembuhkan. Tentu saja Supranatural mempunyai kemampuan untuk menyembuhkan dan mustahil kalau yang natural dapat menggagalkan yang Supranatural karena secara ordo, natural berada di bawah yang Supranatural. Namun ketika yang Supranatural memerintahkan kita untuk pergi memberitakan Injil di pelosok desa maka si natural tidak akan suka. Bukankah hal ini sama persis seprti orang Yahudi yang mengikut di belakang Yesus? Mereka hanya mau mujizat, berkat dan pengajaran yang bagus tapi mereka tidak mau taat karena itu tidak ada satupun dari mereka yang dijamah oleh Tuhan Yesus.

Orang Yahudi takut dirinya menjadi najis dan berdosa kalau bersentuhan dengan orang kusta namun Tuhan Yesus berbeda, Dia yang Maha Suci menjamah orang kusta yang najis dan menjadi tahir. Inilah kuasa Kristus yang dikerjakan di tengah dunia. Selama kita hidup sebagai orang Kristen, pernahkah engkau dijamah oleh Tuhan? Tangan Tuhan hanya menjamah anak-Nya yang sejati saja, yaitu mereka yang tunduk di bawah kaki Yesus. Menjadi warga Kerajaan Sorga bukan berarti kita dapat melakukan tawar menawar dengan Tuhan justru sebagai warga Kerajaan Sorga kita harus taat mutlak pada hukum Kerajaan Sorga dan senantiasa menantikan jamahan Kristus untuk memperbaharui hidup kita. Warga Kerajaan Sorga sama dengan hamba Kerajaan Sorga. Sikap seorang hamba ini ditunjukkan oleh orang kusta ini yang memanggil Kristus dengan sebutan Tuan: “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku“.

2. Jiwa Seorang Budak

Tuhan tahu bagaimana mengambil langkah yang tepat ketika Dia berada pada posisi yang krusial dengan demikian hal ini menjadi teladan bagi kita. Raja di atas segala raja menyatakan kedaulatan-Nya: “Aku mau, jadilah engkau tahir“ dalam bahasa aslinya hanya 2 kata, yakni: mau dan tahirlah. Ungkapan “Aku mau“ menunjukkan seluruh totalitas hidup Kristus. Andai kita ditempatkan di tempat demikian siapakah yang akan lebih kita pentingkan, pendukung kita ataukah orang yang sakit kusta? Saat berada pada situasi yang sulit biasanya orang takut menyatakan identitas dirinya akibatnya kita salah mengambil keputusan dan menjadi orang yang munafik. Orang takut kalau dirugikan maka tidaklah heran kalau orang lebih takut pada massa dan orang-orang yang berkuasa daripada pada Tuhan akibatnya dengan segala cara manusia mencoba sedapat mungkin untuk “melintir“ bahkan berani memakai istilah rohani.

Bukanlah hal yang mudah bagi seorang yang kusta untuk bisa sampai di depan Tuhan Yesus. Orang kusta ini tentu tahu kalau Tuhan Yesus adalah Guru Besar yang dielu-elukan banyak orang dan itu berarti ia telah siap dengan segala resiko bahkan ia siap andai sekalipun harus berkorban nyawa. Kalau saat itu Kristus plin plan, tentu nyawa si orang kusta ini tidak akan selamat sebaliknya Yesus sebagai Raja berada di posisi yang sangat sulit. Yesus harus mengambil keputusan dengan tepat, yakni membela si kusta dengan resiko ditinggalkan oleh pendukung-Nya ataukah memilih pendukung-Nya dan mengabaikan si kusta. Apa yang akan anda lakukan kalau anda berada pada situasi demikian? Sebagai anak Tuhan, beranikah kita menyatakan kebenaran? Ingat, kita adalah budak yang harus taat pada sang Kebenaran maka kita harus berani menyatakan kebenaran meski untuk itu mungkin kita akan dibenci dan dimusuhi, kita akan ditinggalkan oleh teman bahkan saudara kita. Sayang, hari ini banyak orang Kristen yang takut mengalami kerugian dan justru membiarkan Kristus dihancurkan. Menjadikan Kristus sebagai Tuan dalam hidup kita itu berarti memperhambakan diri dan kita harus taat pada Kristus yang menjadi Tuan kita dan kita harus siap dengan segala resiko sebagai seorang hamba.

Salah satu penyebab rusaknya konsep manusia tentang pekerjaan adalah karena konsep tentang tatanan kerja sudah dirusak. Perhatikan, tidak ada satu ayat pun dalam Alkitab yang menentang perbudakan sebab hubungan tuan dan budak menggambarkan hubungan Tuhan dengan umat-Nya. Namun Alkitab dengan tegas melawan tuan yang jahat sebab tuan yang jahat berarti mempermainkan posisi Tuhan sebagai Tuan. Orang yang bekerja dan tidak mempunyai jiwa budak maka seluruhnya hidupnya akan mengalami kesulitan. Bukanlah hal yang mudah mengembalikan  supaya orang mempunyai jiwa budak apapun posisinya, baik sebagai pekerja maupun atasan. Tanggung jawab seorang tuan adalah memperhatikan dan menjamin hidup budaknya sebaliknya tanggung jawab seorang budak adalah mengerjakan seluruh pekerjaan yang diperintahkan oelh tuannya. Alangkah indah relasi tuan – budak kalau setiap tuan dan budak tahu apa yang menjadi tanggung jawabnya masing-masing. Alkitab mencatat orang Israel tidak suka ketika Tuhan menjadi Tuan atas hidup mereka. Orang Israel justru ingin supaya raja dunia memerintah atas mereka. Akibatnya mereka mengalami berbagai macam kesulitan bahkan sampai detik ini tidak bisa dipulihkan. Betapa indah dan nyamannya berada dalam pemeliharaan Tuhan, hidup yang tidak terikat oleh uang. Sayang, manusia tidak suka dengan jawaban: Aku mau. Manusia tidak suka tunduk di bawah kehendak Kristus. Apakah itu jiwa seorang anak Tuhan sejati? Bukan! Itu adalah jiwa seorang pemberontak. Kalau kita bekerja dengan jiwa seorang budak maka kita akan mencapai kualitas kerja tertinggi dengan beban terendah.Kkita harus men-Tuhankan Kristus, Lordship of Christ dan kita adalah hamba-Nya itu berarti semua hak milik kita serahkan ke dalam tangan Tuhan. Biarlah hal ini terimplikasi dalam setiap hidup kita dengan demikian dapat menjadi berkat bagi orang lain. Kristus telah memberikan teladan sempurna bagi kita; Dia adalah Tuan pemilik alam semesta namun Ia rela memperhambakan diri-Nya: “Bapa, bukan kehendak-Ku yang jadi melainkan kehendak-Mu sajalah yang jadi“.

3. Kesembuhan Rohani

Tuhan Yesus berkata,“ Aku mau, tahirlah engkau.“ Tahir berasal dari kata katarizo (bhs. Yunani). Di satu pihak ucapan Tuhan Yesus menggambarkan otoritas yang begitu besar namun di pihak lain menggambarkan cinta kasih yang begitu besar. Matius mengambil contoh pertama adalah seorang kusta karena Matius ingin mengungkapkan bahwa menjadi pengikut Kristus harus dibersihkan bukan sekedar sembuh. Matius tidak banyak membicarakan aspek kesembuhannya melainkan aspek pentahirannya. Itulah sebabnya, Tuhan Yesus menegaskan supaya orang kusta tidak memberitahukan tentang kesembuhannya kepada siapapun melainkan ia harus pergi kepada imam dan mempersembahkan persembahan. Hal ini merupakan salah satu peraturan dari hukum Taurat. Perhatikan, dunia sekarang justru terbalik, hal yang mestinya dilakukan malahan tidak dilakukan tapi hal yang tidak boleh dilakukan malahan itu yang dikerjakan. Orang sakit kusta yang najis dan kotor ini bukan sekedar disembuhkan tapi dimurnikan.

Jangan merasa diri baik kalau Tuhan berkenan menjadikan kita hamba-Nya. Tidak! Seorang hamba adalah seorang yang mau dimurnikan oleh Kristus untuk dikembalikan menjadi seperti gambar dan rupa Allah. Sebagai orang Kristen, seberapa jauhkah hati kita mempunyai kerinduan selalu disucikan oleh Kristus? Janganlah kita menjadi pengikut Kristus karena hanya mau berkat dan penyertaan-Nya saja namun hendaklah kita menyadari bahwa kita hidup membutuhkan anugerah Tuhan untuk menyucikan kita dari dosa dan hendaklah kita senantiasa mempunyai kerinduan untuk selalu diperbaharui oleh-Nya. Apalah artinya kita menjadi Kristen dan apalah artinya kita rutin ke gereja setiap Minggu kalau hidup kita tidak diproses menjadi seorang yang mempunyai jiwa hamba yang taat pada Kristus dimana seluruh hidup kita diabdikan hanya untuk Kristus. Sebagai hamba dari Kebenaran maka kita harus mempunyai keberanian menyatakan kebenaran di tengah dunia yang rusak. Ingat, seorang anak Tuhan sejati yang takut pada Tuhan tidak akan pernah takut pada siapapun; anak Tuhan sejati hanya takut kalau nama Tuhan yang dipermalukan. Inilah jiwa seorang hamba sejati.

Jangan pernah berpikir dunia ke belakang akan bertambah enak. Tidak! Hidup semakin hari bertambah sulit dan tantangan semakin besar. Orang Kristen sejati harus mempunyai jiwa dan semangat berjuang melewati segala kesulitan dan tantangan dunia dan percayalah Tuhan pasti akan menolong dan beserta kita. Orang Kristen yang lari dan hanya menangis ketika kesulitan datang tidak akan dapat menyelesaikan masalah. Seperti halnya sekolah bukankah semakin hari semakin berat. Jamahan Kristus atas orang kusta ini membuat ia lebih bersih dari orang-orang yang ada di belakang Yesus yang tidak pernah mendapat jamahan Kristus. Hanya bersandar pada Tuhan sajalah maka kita dapat kuat semua menghadapi kesulitan. Biarlah setiap saat kita mendapat jamahan Kristus dan setiap saat kita mendengar Tuhan Yesus berkata, “Aku mau“ dan setiap saat kita juga rindu dimurnikan oleh Kristus. Amin. ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)