Ringkasan Khotbah : 21 November 2004

The Kingdom & the Action (1)

Nats: Mat. 8:1-4

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Kita sudah memahami bahwa Injil Matius bukan ditulis secara kronologi tetapi secara tematik, yaitu Kristus Sang Raja dari Kerajaan Sorga itu datang untuk menggenapkan kerajaan-Nya di tengah dunia dan Kerajaan Sorga itu dimulai dari biji sesawi dan kemudian bertumbuh menjadi pohon yang besar sehingga burung dapat bersarang di dalamnya, King and the Kingdom. Untuk menggenapkan Kerajaan Sorga di dunia, Sang Raja itu tidak bekerja seorang diri saja. Sang Raja itu mulai merekrut orang-orang untuk dijadikan-Nya sebagai pekerja di dalam Kerajaan Sorga, the Kingdom and the Workers. Cara Kristus merekrut orang berbeda bahkan berlawanan dengan konsep manusia berdosa namun kita melihat bahwa orang-orang yang Tuhan pilih justru “jadi“ dalam arti mereka berhasil padahal latar belakang sangatlah dihinakan orang. Umumnya sebuah Kerajaan maka Kerajaan Sorga pun mempunyai hukum atau undang-undang yang disebut sebagai hukum Kerajaan Allah yang dipaparkan oleh Sang Raja dalam beberapa khotbah-Nya di atas bukit, the Law of the Kingdom. Sebagai warga Kerajaan Sorga maka kita harus taat pada undang-undang Kerajaan Sorga, orang yang tidak mau taat berarti pemberontak dan konsekuensinya ia harus dikeluarkan dari statusnya sebagai warga Kerajaan Sorga. Sama seperti halnya malaikat yang tidak mau taat, ia memberontak maka ia dibuang dalam penghukuman kekal dan menjadi iblis. Ini merupakan sistem dan prinsip dari hukum Kerajaan Allah. Karena itu Matius pasal 5–7 dimaksudkan untuk menata wawasan berpikir supaya ketika kita melihat dan menilai segala sesuatu dari sudut pandang hukum Kerajaan Allah.

Setelah kita mengerti prinsip hukum Kerajaan Allah maka kini kita masuk dalam bagian implikasi, yaitu bagaimana menjalankan prinsip hukum tersebut dalam kehidupan praktis dengan demikian prinsip tersebut tidak sekedar menjadi pengetahuan kognitif belaka. Bukanlah hal yang mudah bagi kita untuk menjalankan hukum Kerajaan Allah meskipun secara garis besar, isi dari hukum tersebut telah kita mengerti sehingga ada kesenjangan antara teori dan praktek. Namun Alkitab mencatat Kristus Sang Raja itu tidak hanya sekedar berteori tetapi Ia sendiri memberikan teladan pada kita bagaimana menerapkan hukum tersebut dalam kehidupan praktis sehari-hari. Matius mencatat setelah Yesus turun dari bukit, orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia (Mat. 8:1), banyak teolog yang menafsirkan bahwa orang banyak yang berbondong-bondong itu adalah orang yang sama yang mendengar khotbah Yesus di atas bukit yang mengajarkan prinsip-prinsip Kerajaan Sorga, yakni karena orang banyak itu mengerti prinsip Kerajaan Sorga yang berkualitas dan berbeda dengan yang diajarkan oleh ahli Taurat. Pendidikan Kerajaan Sorga bukan hanya sebatas teori saja tapi harus diimplikasikan dan implikasi ini menuntut kualitas yang tinggi.

Dunia tidak akan pernah membangun prinsip yang dia sendiri tidak mungkin dapat melakukannya maka satu-satunya cara supaya dapat menjalankan prinsip yang dunia ajarkan adalah dengan membangun prinsip sedemikian rupa yang sekiranya sesuai dan dapat dunia lakukan. Salah! Hal itu justru semakin merendahkan prinsip kualitas kerja kita. Yang benar dan yang seharusnya kita lakukan adalah justru membangun konsep berdasarkan prinsip Kerajaan Sorga yang tinggi lalu hidup kita yang ditata sedemikian rupa supaya dapat memenuhi tuntutan kualitas tersebut. Jadi, kualitas hidup kita naik bukannya menurun; kita dituntut untuk bertumbuh dan membuang semua konsep kita yang salah untuk kembali pada kebenaran Firman. Implikasi iman ini disusun oleh Matius dengan sangat indah (Mat. 8:1– 9:34). Dalam hal ini kurang jelas siapa yang menyusun Injil Matius apakah Matius ataukah Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) hingga setiap pasal dapat tersusun sedemikian rupa dengan indahnya namun saya yakin semua ini tidak lepas dari campur tangan Tuhan. Seperti kita ketahui tulisan asli Alkitab berupa tulisan murni seperti layaknya sebuah surat, tidak ada judul maupun angka-angka yang menandai adanya ayat atau pasal. Kalau kita perhatikan maka bukan suatu kebetulan kalau Matius pasal 8 dan pasal 9 sama-sama terdiri dari 34 ayat dan sama-sama terdiri dari dua tema.

Tema Matius pasal 8, yaitu: 1) Lordship, yaitu Kristus sebagai pusat yang diungkapkan dalam tiga mujizat (ayat 1–17), 2) Disciplership bagaimana menjadi pengikut Kristus, (ayat 18–34). Tema Matius pasal 9, yaitu: 1) Comitmen, bagaimana kita memilih dan berkomitmen dengan benar di antara banyaknya pilihan yang ditawarkan (ayat 1–17), 2) Faith, bagaimana beriman sejati di dalam keseluruhan totalitas (ayat 18–34). Dan bukan suatu kebetulan juga kalau setiap satu tema ada tiga contoh kejadian dimana setiap kejadian tersebut bukanlah kejadian yang terjadi secara berurutan. Semuanya itu pasti karena Tuhan yang turut campur tangan dan juga tidak lepas dari latar belakang kehidupan Matius sebelumnya sebagai seorang pemungut cukai yang selalu berpikir sistematis sehingga Injil Matius dapat terstruktur dengan indah dengan demikian si pembaca dituntun dengan tepat bagaimana seharusnya mengerti mujizat dalam konsep Kristologi, yaitu mujizat merupakan implikasi dari hukum Kerajaan Sorga yang turun ke dunia dan bagaimana sikap manusia yang benar terhadap Sang Raja. Berbeda dengan dunia hanya mengerti mujizat secara antropologi humanis yang berdosa. 

Si pembaca juga jadi mengerti bagaimana seharusnya menjalankan kehidupan beriman dengan demikian orang jadi mengerti bahwa ajaran Kristus bukan hanya sekedar teori yang sulit dijalankan. Tidak! Hukum Kerajaan Sorga ternyata dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan itu membutuhkan pendobrakan total karena konsep kita yang salah selama ini kita menganggapnya sebagai konsep Kristen padahal sesungguhnya adalah konsep antropologis humanistik. Pada sub tema yang pertama dari Injil Matius ini kita akan membahas secara lebih mendalam karena di dalamnya mengandung prinsip penting yang perlu kita perhatikan itulah sebabnya Matius meletakkan ayat ini di bagian pertama. Perhatikan, pada ayat pertama dan kedua sangatlah kontras. Setelah Yesus turun dari bukit, orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia; orang banyak di situ pastilah juga ada orang Yahudi. Matius tidak menyebut mereka sebagai murid karena nantinya terbukti kalau ternyata mereka bukan murid sejati tetapi hanya sekedar pendukung Yesus sebab mereka tahu Yesus dapat membuat mujizat. Mujizat seharusnya menjadikan kita memahami bahwa:

1. Yesus adalah Raja yang Berotoritas

Matius ingin menunjukkan kalau Kristus adalah Raja dengan banyaknya pengikut di belakang Dia yang mengiringi kedatangan-Nya. Dan Matius memang sengaja mengontraskan hal tersebut dengan kedatangan seorang sakit kusta yang datang di depan-Nya. Pada jaman itu, sakit kusta sama dengan vonis mati karena tidak ada satu obat pun yang dapat menyembuhkan penyakit kusta dan orang juga menganggap kalau sakit kusta merupakan kutukan dari Tuhan sebagai akibat banyaknya dosa yang telah ia perbuat. Dan orang yang sakit kusta harus diasingkan dan dijauhkan dari keluarga. Seorang Raja turun bukit dan di belakangnya diikuti dengan ribuan pendukung namun didepannya ada seorang yang sakit kusta dimana ribuan orang tersebut sangat membenci orang yang sakit kusta tersebut. Bayangkan, andai kita yang menjadi Rajanya saat itu, apa yang akan kita lakukan? Memilih ribuan orang yang menjadi pendukung kita ataukah memilih orang yang sakit kusta dengan konsekuensi ditinggalkan oleh ribuan pendukung? Disini Kristus dihadapkan dengan ajaran-Nya sendiri yang mengajarkan hukum cinta kasih. Posisi ini sangat krusial sekali, Matius ingin membukakan pada kita siapa Kristus? Kejadian yang hampir sama ini pernah juga dialami oleh Petrus di Galatia dimana Petrus sangat baik bersekutu dengan orang non Yahudi seperti orang-orang Yunani dan lain-lain namun setelah orang Yahudi datang maka Petrus mulai menjauhi mereka dan bersekutu dengan orang Yahudi sehingga Paulus menegur Petrus dengan keras.

Alkitab mencatat Tuhan Yesus memilih orang sakit kusta itu, Ia menghampiri dan menjamahnya. Injil Matius membukakan satu hal pada kita bahwa ternyata semua hal yang tidak disuka oleh orang Yahudi justru disanalah Tuhan Yesus melakukan mujizat. Dari doanya orang Yahudi, kita tahu bahwa orang Yahudi sangatlah rasialis dan melecehkan posisi wanita, genderisasi karena itu Matius mengangkat kisah seorang berdosa seperti orang sakit kusta, kisah seorang kafir seperti hamba seorang perwira di Kapernaum dan kisah seorang perempuan, yaitu ibu mertua Petrus untuk dituliskan dengan demikian dapat mengubah konsep mereka yang salah. Ingat, Yesus melakukan mujizat bukan demi supaya orang banyak mengikut Dia. Tidak! Kristus adalah Raja maka Dia berkuasa melakukan apapun sesuai keinginan-Nya termasuk menyembuhkan orang sakit kusta itu dan tindakan Kristus sangatlah tepat. Jadi, mujizat seharusnya menyadarkan kita akan siapa sesungguhnya Kristus, yaitu Dia adalah Raja di atas segala raja maka Dia berhak melakukan apapun. Tuhan tahu apa yang ada di pikiran orang banyak itu dan apa yang menjadi keinginan mereka karena itu Tuhan tidak langsung suka ketika orang banyak berkata, “Guru, aku mau mengikut Engkau.“ Tuhan pasti menanyakan apa motivasi mereka mengikut sebab serigala punya liang, burung di udara ada sarangnya tapi Anak Manusia tidak punya tempat untuk meletakkan kepala-Nya. Itu artinya Tuhan tidak memberikan sesuatu seperti yang manusia harapkan. Masih banyak lagi pernyataan Tuhan Yesus ketika ada orang yang mau mengikut Dia tapi ia mau menguburkan orang tuanya dulu barulah kemudian ia mengikut. Tuhan langsung menegur dengan keras. Kristus menegaskan bahwa barangsiapa mau mengikut Dia maka ia harus menyangkal diri dan memikul salibnya. Sebagai warga Kerajaan Sorga maka kita harus taat mutlak pada otoritas Sang Raja.

2. Yesus adalah Tuhan Pemberi Mujizat

Mujizat merupakan intervensi dari luar yang bersifat supranatural dan sukar dimengerti logika manusia. Bayangkan, hanya dijamah saja oleh Tuhan Yesus, borok yang ada di sekujur tubuhnya menjadi sembuh dan ia menjadi tahir. Berbeda kalau pengobatan itu dilakukan secara natural, yaitu dengan obat-obatan maka orang yang sakit dapat disembuhkan. Itu berarti supranatural tingkatnya lebih tinggi dari yang natural. Tapi manusia berdosa lebih suka kalau yang supranatural itu menguasai yang natural sebaliknya ia tidak suka pada pribadi si supranatural itu sendiri. Orang lebih suka kalau yang supranatural ini turut campur tangan ketika orang dalam kesusahan berbeda halnya kalau orang dalam keadaan sehat dan kaya maka orang benci kalau disuruh tunduk pada yang supranatural tersebut, orang ingin mengatur Tuhan supaya menuruti semua yang menjadi keinginannya. Dengan alasan beriman, orang yang memaksa Tuhan supaya melakukan mujizat. Siapa yang sesungguhnya berhak melakukan mujizat? Tuhan ataukah manusia?

Seorang manusia berdosa pasti tidak akan dapat melakukan perbuatan seperti yang dilakukan oleh orang sakit kusta yang datang sujud menyembah Dia. Sebab menyembah manusia sama dengan menyembah berhala dan bangsa Israel sudah merasakan akibat dari penyembahan berhala, yaitu mereka berada dalam masa pembuangan selama kurang lebih 80 tahun. Bukankah Tuhan Yesus mati karena Ia dituduh mengaku sebagai anak Allah? Hal ini menunjukkan kalau orang kusta ini tahu bahwa Yesus adalah anak Allah. Jiwa seperti inilah yang seharusnya dimiliki oleh seorang anak Tuhan sejati. Matius mengangkat cerita ini dan ditaruh di bagian pertama supaya menjadi refleksi bagi kita, apakah benar kita seorang anak Tuhan sejati ataukah hanya memanipulasi Kekristenan demi untuk keuntungan diri sendiri dengan menaruh Tuhan di posisi bawah. Bukan hal yang biasa bagi orang Yahudi menyembah hingga kepala menyentuh ke tanah maka dapatlah dibayangkan bagaimana reaksi orang banyak itu ketika melihat kejadian ini. Orang kusta ini tahu bahwa Yesus adalah Allah dan  kini, Sang Raja menunjukkan siapa diri-Nya karena itu Ia tidak menolak ketika orang kusta itu menyembah diri-Nya.

Orang kusta ini juga mempunyai konsep teologis yang benar, hal ini terbukti dari perkataannya, “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku“. Orang kusta ini tahu pasti bahwa Tuhan Yesus mempunyai kuasa untuk menyembuhkan namun ia berbeda, ia tidak memanipulasi kuasa itu sebaliknya ia tunduk di bawah kuasa Kristus. Hati-hati dengan akal licik si iblis yang selalu memutarbalikkan fakta seperti halnya ketika ia mencobai Yesus di padang gurun: Jika Engkau Anak Allah... Kalau Yesus menuruti perkataan iblis maka itu berarti posisi iblis lebih tinggi dari Yesus padahal iblis yang seharusnya tunduk di bawah Yesus, Raja di atas segala raja. Berbeda dengan orang kusta ini, ia tidak meragukan sedikitpun posisi Kristus sebagai Tuhan. Orang yang beriman sejati tahu siapa yang menjadi Tuan dalam hidupnya. Konsep ini sudah ada sejak Perjanjian Lama, sebagai contoh teman-teman Daniel tidak takut meski mereka dihadapkan pada hukuman kematian kalau tidak mau menyembah pada raja yang berkuasa pada jaman itu. Hari ini justru terbalik, orang baru mau mengikut Yesus kalau ia diuntungkan. Melalui mujizat Matius membukakan pada kita bahwa Yesus adalah Tuhan dan manusia yang harus tunduk di bawah kuasa Yesus.

Yesus telah memberikan teladan indah pada kita bahwa hukum Kerajaan Allah itu bukan hanya sekedar teori tapi dapat kita jalankan. Kiranya hal ini boleh menguatkan iman kita dan memberikan keberanian pada kita sehingga iman kita tidak menjadi goyah ketika menghadapi berbagai tantangan dari dunia.  Amin. ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)