Ringkasan Khotbah : 07 November 2004

The Law of the Kingdom

Nats: Mat. 7: 28-29

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Kita sudah memahami bahwa tema dari injil Matius adalah King and the Kingdom, Raja dari Kerajaan Surga itu menghadirkan kerajaan-Nya di tengah dunia; Kingdom of Heaven dibawa masuk ke dalam sejarah dan Dia memproklamirkan dengan: “Bertobatlah sebab Kerajaan Sorga sudah dekat“. Berita inilah yang ingin dipaparkan oleh Matius, yaitu bagaimana Kerajaan Sorga itu ditata oleh Sang Raja di tengah dunia dengan memanggil murid-murid dan siapa saja yang Ia memilih untuk menjadi bagian sebagai warga sekaligus pekerja Kerajaan Sorga. Bagian ini telah kita pahami beberapa minggu lalu dan kini kita hendak melihat hukum atau Undang-undang Dasar Kerajaan Sorga yang dicatat oleh Matius di pasal 5 sampai 7.

Matius pasal lima sampai tujuh merupakan kumpulan dari beberapa khotbah Yesus yang berbeda tempat maupun waktunya namun mempunyai pengajaran dan pemikiran total sehingga Matius menjadikannya sebagai satu kesatuan utuh, yaitu bagaimana tatanan atau konsep dari Kerajaan Sorga dan apa yang harus kita lakukan sebagai warga Kerajaan Sorga. Kalau kita hendak memahami khotbah Tuhan Yesus secara kronologis waktu maka sebaiknya kita membacanya dari injil Lukas. Namun Matius melihat pengajaran Tuhan Yesus tersebut sebagai dasar hukum Kerajaan Sorga atau yang sekarang kita kenal dengan Khotbah di Atas Bukit. Sama halnya seperti orang yang hendak memutuskan menjadi warga negara Indonesia, misalnya maka ia harus tunduk pada semua hukum yang berlaku di negara Indonesia. Orang yang tidak mematuhi hukum yang berlaku di negara tersebut maka ia harus menerima akibatnya, yaitu di deportasi atau di penjara. Orang yang melawan undang-undang dasar negara maka itu berarti ia tidak mau menjadi warga negara. Begitu juga sebagai warga Kerajaan Sorga maka kita pun harus memahami dan mematuhi semua hukum atau undang-undang dasar Kerajaan Sorga.

I. Visi Kerajaan Sorga

Prinsip Kerajaan Sorga yang agung dan berbeda dengan ajaran dunia ini diakui sendiri oleh dunia. Mereka mengakui ajaran Kristus sebagai the golden rule, hukum emas. Sebagai orang Kristen yang menjadi bagian dari warga Kerajaan Sorga sudah menjadi kewajiban kita untuk menaati seluruh ketetapan hukum Kerajaan Sorga. Sangatlah disayangkan, hari ini banyak orang yang mengaku diri Kristen tapi tidak mau mematuhi hukum Kerajaan Sorga akibatnya ia tidak tahu bagaimana seharusnya hidup. Matius membukakan inti totalitas dari visi misi Kerajaan Sorga dan bagaimana seharusnya citra Kerajaan Sorga (Mat. 5:1-12). Orang yang menjadi bagian dari Kerajaan Sorga akan merasakan kebahagiaan karena kita termasuk orang yang diberkati, Blessed be those who. Berbahagialah (bhs. Indonesia) dan diberkatilah (bhs. Inggris) akan kita dapatkan kalau mempunyai sifat-sifat Kerajaan Sorga seperti yang diajarkan Kristus. 

Konsep bahagia yang diajarkan Tuhan Yesus berbeda bahkan berbalik dengan konsep bahagia yang dipikirkan manusia. Tuhan Yesus mengajarkan berbahagialah orang yang miskin, orang yang dianiaya, orang yang berdukacita namun dunia justru mengajarkan berbahagialah yang kaya. Kalau kita perhatikan, khotbah tentang ucapan bahagia ini sebenarnya bersifat positif dan negatif, dalam hal ini Matius hanya mengambil bagian positifnya saja, kalau kita hendak memahami secara keseluruhan baik positif maupun negatif maka kita dapat membacanya dalam Injil Lukas 6 yang menegaskan dengan jelas perbandingan antara positif dan negatif. Inilah fungsi dari hukum Kerajaan Sorga yang  dipaparkan Kristus pada dunia dengan demikian dunia dapat melihat bahwa orang yang telah menjadi warga Kerajaan Sorga maka ia pasti akan mempunyai visi yang sama seperti pengharapan Kristus sebagai Raja yang membuat seluruh tatanan hukum sehingga barangsiapa yang ada di dalamnya maka ia akan diberkati dan merasakan kebahagiaan. Menjalani hidup sesuai dengan visi Tuhan membuat kita mempunyai perjuangan dan semangat hidup dengan demikian kita tidak jadi salah arah karena kita tahu apa yang menjadi tujuan hidup kita, yaitu to glorify Him and enjoyed Him. Setiap orang yang mau menjadi warga Kerajaan Sorga harus tahu visi Kristus yang Ia bukakan  sendiri. Ketika Kristus membukakan visi-Nya, Ia tidak membukakan sisi negatifnya karena maksud dan arahnya adalah menuju pada sisi yang positif, yaitu melihat konsep hidup seperti yang Tuhan inginkan. Hal ini tidaklah mudah sebab manusia telah jatuh ke dalam dosa maka konsep dunia selalu berlawanan dengan yang Firman ajarkan. Namun kalau kita dapat berpikir dengan bijak maka kita akan melihat bahwa kebenaran Firman lebih agung dibanding dengan konsep manusia berdosa. Manusia menganggap bahwa kebahagiaan bisa diperoleh kalau hidup kaya namun Tuhan justru menegaskan bahwa yang miskinlah yang akan merasakan kebahagiaan (Luk. 6). Ayat ini diberikan kepada orang Yahudi yang materialis tapi orang harus mengakui bahwa kebenaran Firman yang Kristus ajarkan membawa kita pada kebenaran dan hidup menjadi indah. Inilah yang menjadi visi Kerajaan Sorga.

II. Misi Kerajaan Sorga

Setelah kita mengerti visi lalu apa yang harus kita lakukan dan bagaimana mengerjakannya; visi harus diikuti dengan misi, yaitu jadilah garam dan jadilah terang  (Mat. 5:13-16). Garam dan terang merupakan suatu entity, keberadaan yang esensi. Garam bersifat penetrasi, saat garam bereaksi maka secara materi ia akan menghilang namun secara eksistensi ia masih tetap ada. Garam yang berwarna putih tidak menjadikan masakan kita berubah warna namun rasanya dapat kita rasakan. Inilah yang menjadi misi orang Kristen, yaitu keberadaan kita dapat dirasakan oleh orang lain dan mempengaruhi orang lain sehingga menghalangi perbuatan dosa yang hendak mereka lakukan. Dan tugas yang lain adalah menjadi terang yang bersifat radiasi. Cahaya bukanlah sebuah materi dan sampai sekarang masih menjadi perdebatan, termasuk benda padat ataukah benda gas. Sinar adalah entity, tapi gelap bukanlah entity sebab kalau gelap itu berarti tidak adanya terang. Jadi, gelap bukanlah suatu eksistensi tapi hilangnya eksistensi. Gelap tidak bisa mengusir terang sebaliknya justru kalau terang itu datang maka tidak ada lagi gelap. Berbeda dengan filsafat timur yang melihat terang dan gelap sebagai suatu entity yang berlawanan. Tidak! Meskipun ditaruh dalam ruang hampa, terang tetap akan menerobos masuk. Terang dapat juga dihalangi sehingga sekitarnya menjadi gelap namun ketika terang itu dihalangi maka benda yang menghalanginya akan menjadi sangat terang. Lalu sampai seberapa lama dan kuatkah ia mampu menghalangi terang itu? Karena suatu saat ketika benda itu tidak mampu lagi menghalangi terang sehingga terang itu akan menerobos dan gelap pun menjadi hilang. Adalah tugas orang Kristen untuk menjadi terang dan memancarkan terang, menyinari dunia yang gelap. Jadi, untuk menjadi warga Kerajaan Sorga maka kita harus memahami apa yang menjadi visi Sang Raja dengan menjalankan misi dan tugas panggilan warga Kerajaan Sorga, yaitu menjadi garam dan terang dunia.

III. Motivasi Kerajaan Sorga

Alkitab sudah menuliskan The Principal of the Law, hukum yang membuat kita tahu bagaimana caranya menjadi garam dan terang. Hukum Taurat diberikan pada kita supaya kita dapat menjalankan misi itu namun masalahnya ahli-ahli Taurat sudah memberikan interpretasi sebelumnya, hukum tidak dimengerti secara esensi akibatnya pengertian hukum Taurat menjadi menyeleweng. Apa yang ada dalam hukum Taurat dijelaskan dengan lebih tajam dalam visi Kristus. Mengerti aspek hukum berbeda dengan kita mengerti bahasa hukum. Mengerti aspek hukum adalah mengerti esensi motivasi hukum. Kini, dunia modern banyak sekali mempermainkan hukum dengan menginterpretasikan bahasa hukum akibatnya dengan mudahnya hukum dapat dipelintir sedemikian rupa sehingga memungkinkan seseorang untuk lolos dari hukuman. Membunuh dimengerti kalau ia telah menghilangkan nyawa orang lain namun Tuhan menegaskan jika kita membenci orang itu berarti kamu sudah membunuh. Jangan terpaku dengan kalimat, kita harus mengerti secara hakekat hidup di dalam kaitan visi dan misi. Dengan memahami visi misi Kerajaan Sorga barulah kita mengerti tatanan hukum Kerajaan Sorga (Mat. 5:17-48). Seorang Kristen harus berbeda dengan dunia. Kalau dunia mengajarkan keadilan dunia dengan mata ganti mata, gigi ganti gigi namun Kristus mengajarkan kalau seseorang menampar pipi kananmu maka berikanlah pipi kirimu. Kita harus menjalankan visi misi Kerajaan Sorga dengan kasih dan keadilan yang tidak hanya kita mengerti sebatas kalimat tetapi harus kita mengerti secara motivasi dengan demikian dunia akan merasakan garam dan melihat terang kita bercahaya. Hal inilah yang menjadi esensi penting dari Matius pasal 5 tentang khotbah di bukit.

IV. Implikasi Kerajaan Sorga

Matius 6:1–7:11 merupakan implikasi atau penerapan dari hukum Taurat yang menjadi hukum dasar Kerajaan Sorga (Mat. 5) dengan demikian kita tidak hanya sekedar mengerti iman di dalam prinsip-prinsip keagamaan sejati (religius principal) tapi kita juga harus tahu bagaimana menjalankan prinsip tersebut dalam kehidupan sehari-hari (religius action). Kalau kita dapat memahami hal ini maka hal memberi sedekah menjadi berbeda karena saat memberi kita mempunyai visi ingin melihat kebahagiaan seperti Tuhan katakan, kita mempunyai misi menjadi garam dan terang, kita mempunyai prinsip menyatakan motivasi keadilan dan kebenaran. Begitu juga kalau dalam hal berdoa kalau kita lakukan karena kita tahu apa yang menjadi visi, misi dan motivasi maka cara doa kita berbeda dengan dunia dan semua hal yang kita lakukan juga menjadi berbeda, termasuk hal mengumpulkan harta, hal berpuasa, dan lain-lain. Adalah salah kalau kita menerapkan hal berdoa, hal berpuasa, dan hal-hal lain tanpa dikaitkan dengan visi, misi dan motivasi Kerajaan Sorga di Matius 5. Begitu juga dengan doa Bapa Kami tidak boleh dilepaskan dari visi, misi dan motivasi.

Cara Matius menuliskan tentang visi, misi dan motivasi Kerajaan Sorga berbeda dengan Lukas. Matius tidak langsung memberikan perbandingan seperti halnya Lukas, namun perbandingan itu barulah diberikan oleh Matius pada bagian belakang, yaitu setelah ia membicarakan tentang visi, misi dan motivasi, yaitu: 1) pintu besar – pintu kecil (Mat. 7:12-14), 2) nabi sejati – nabi palsu (Mat. 7:15-23), 3) bangunan iman seperti rumah yang dibangun di atas pasir – rumah yang dibangun di atas batu (Mat. 7:24-27). Iman tidak bisa dipaksakan pada seseorang mungkin ada orang yang mau beriman karena diancam akan tetapi hatinya pasti tidak akan pernah mau menerima iman tersebut bahkan seumur hidup ia akan membenci dan tidak mau beriman lagi. Berbeda dengan orang yang beriman sejati karena ia melalui berbagai pergumulan dan pertimbangan barulah ia memutuskan untuk beriman. Tuhan tidak menginginkan orang yang mau beriman pada-Nya karena paksaan atau tipuan karena itu Kristus membukakan fakta dan prinsip Kerajaan Sorga sejak awal supaya orang dapat melihat dan akhirnya memutuskan apakah ia mau beriman atau tidak?

V. Otorisasi Kerajaan Sorga

Sebelumnya kita lebih dulu masuk dalam terminologi supaya tidak salah menafsirkan kalimat “setelah Yesus mengakhiri perkataan-Nya“. Kalau sepintas kita membaca kalimat ini maka orang bisa mempunyai interpretasi: 1) Matius pasal 5 sampai 7 merupakan satu kesatuan khotbah, Yesus hanya mengajar pada tempat dan waktu itu saja. Inilah bahayanya kalau kita berpikir logis karena pikiran kita telah tercemar dengan interpretasi sehingga apabila kita tidak mengkritisi logika kita sendiri maka kita akan terjebak di dalamnya. Yang menjadi pertanyaan adalah kalau kalimat “dan setelah Yesus mengakhiri perkataan-Nya“ dihilangkan, apakah berpengaruh dengan pengajaran Yesus? Kalau memang pengajaran Yesus merupakan satu rangkaian maka tidak adanya kalimat “dan setelah Yesus  mengakhiri perkataan-Nya“ sudah menunjukkan kalau pengajaran-Nya memang sudah berakhir sehingga kalimat tersebut bisa dihilangkan. Hati-hati, pernyataan tersebut dapat merusak iman kita karena itu berarti Firman Tuhan tidak berotoritas. Salah! Alkitab adalah Firman Tuhan dan tidak bersalah. Jadi, setiap kata seharusnya memacu kita untuk mempelajari dan menyelidikinya. Kalau kita perhatikan, frasa “Yesus mengakhiri perkataan-Nya itu“ ternyata dipakai berulang kali. Signifikansi ini membuat kita mengerti kalau Matius pasal 5 sampai 7 merupakan kumpulan khotbah. Frasa ini digunakan oleh Matius untuk menandai bahwa ia telah selesai mengumpulkan khotbah Yesus yang merupakan satu pengajaran total dimana satu paket pengajaran ini mempunyai satu pemikiran total. Jadi, kita tahu betapa pentingnya keberadaan frasa ini dengan demikian orang tidak dapat menambahkan kata apapun. Matius juga ingin si pembaca merasa takjub seperti orang-orang pada waktu itu yang takjub mendengar perkataan Yesus. Ajaran Kristus sangatlah agung dan bersifat aktif, yaitu apa yang kau ingin orang lain lakukan terhadapmu lakukanlah itu terlebih dahulu pada orang lain. Bukanlah hal yang mudah bagi seseorang untuk takjub ketika mendengar perkataan Kristus karena pikiran kita telah dibodohkan oleh jaman. Adalah anugerah kalau kita dapat mengerti Firman. Biarlah pengajaran Yesus membuat kita takjub dengan demikian merubah hidup kita dan membawa masuk dalam visi, misi dan motivasi seperti yang Tuhan inginkan sehingga kita menjadi bagian Kerajaan Sorga yang menyatakan kebenaran di tengah dunia.  Amin.? (Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh Pengkhotbah. Amin. ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)