Ringkasan Khotbah : 31 Oktober 2004

The Gift of Faith

Nats: Kis 3:6

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Kisah Alkitab tentang Petrus menyembuhkan orang lumpuh tentulah sudah tidak asing lagi bahkan sebagian besar orang mungkin sudah pernah mendengarnya dari sekolah minggu. Pertanyaannya sekarang adalah apakah kita hanya sekedar tahu ceritanya saja ataukah sesungguhnya kita mengerti esensi dari sebuah fakta yang terjadi di depan pintu gerbang indah? Pada suatu hari menjelang waktu sembahyang, naiklah Petrus dan Yohanes ke Bait Allah dan di situ ada seorang laki-laki, yang lumpuh sejak lahirnya. Alkitab tidak mencatat berapa umur orang tersebut namun diperkirakan umurnya 30 tahun. Secara logika, tidak mungkin seorang yang lumpuh sejak lahir dapat berjalan kembali karena itu ia tidak pernah berharap untuk berjalan bahkan tidak pernah terbersit sedikit pun dalam benaknya suatu keinginan untuk dapat berjalan. Pada jaman itu, ada peraturan yang melarang orang mendekati seorang pengemis apabila ia hendak masuk Bait Allah untuk beribadah sehingga kalaupun mereka hendak memberikan sedekah maka caranya adalah dengan melempar.

Namun hari itu Petrus berhenti dan berkata: “Lihatlah kepada kami.“ Pertemuan singkat antara Petrus dengan pengemis ini menjadi momen krusial yang merubah seluruh tatanan hidup, paradigma atau cara berpikir dan sejarah hidupnya. Hari itu mungkin menjadi pengalaman baru bagi pengemis lumpuh ini ketika ada seseorang yang menyapa dia di depan pintu Bait Allah sehingga timbul harapan dalam dirinya akan mendapatkan sesuatu yang lebih sebab itulah yang menjadi alasan kenapa ia berada di depan Bait Allah. Namun harapan itu hilang ketika didengarnya kalimat Petrus selanjutnya: “Emas dan Perak tidak ada padaku...“ Terjadi kekontrasan disini dimana di satu sisi ia berharap mendapatkan sesuatu namun di sisi lain Petrus menyatakan bahwa dirinya tidak punya emas dan perak. Akan tetapi harapan itu muncul kembali saat ia mendengar: “Tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu...“ sebab ia berpikir kalau emas dan perak tidak punya maka pasti masih ada yang lain yang dipunyai Petrus dan itu akan diberikannya kepadaku. Lalu selanjutnya Petrus berkata, “Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!“ Ini menjadi titik yang sangat krusial. Berjalan, tidak pernah terpikirkan olehnya, unexpected sebab ia lumpuh sejak lahir. Wajarlah kalau orang lumpuh ini berpikir demikian sebab seorang yang lumpuh sejak lahir pasti tulang kakinya menjadi lemah dan ototnya mengecil sehingga sukar baginya untuk berdiri apalagi berjalan.

Kalau seseorang menanggapi percakapan antara Petrus dengan orang lumpuh tersebut secara rasional maka kita tidak akan mendapati akhir seperti yang Alkitab tuliskan. Peristiwa ini justru membukakan pikiran kiita bagaimana seseorang mendapatkan suatu kemungkinan hidup dalam iman yang sejati. Dialog antara pengemis lumpuh dengan Petrus merupakan dialog yang wajar bahkan kalau kita berada pada situasi yang sama pada saat itu maka kemungkinan juga terjadi dialog yang sama dan kita pun akan berpikir sama seperti orang kebanyakan, yaitu menganggap perintah Petrus yang menyuruh untuk berjalan sebagai suatu penghinaan. Menjadi seorang pengemis merupakan suatu kehinaan dan kehinaan ini semakin bertambah dengan perintah: “Berjalanlah“ padahal Petrus dan Yohanes melihat sendiri fisik dari orang lumpuh tersebut yang tidak memungkinkan baginya untuk berjalan.

Kalau kita berpikir dengan logika maka kita tidak akan pernah mengerti bahwa ada terobosan iman yang sedang bekerja. Manusia selalu berpikir tertutup itulah sebabnya kita tidak pernah merasakan tangan Tuhan sedang memimpin hidup kita dan hal inilah yang justru mematahkan kehidupan iman kita. Iman sejati adalah percaya penuh pada sesuatu yang menjadi obyek percaya kita. Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah, kalimat ini menuntut perubahan paradigma secara totalitas menyangkut cara berpikir maupun perasaan kita. Kalau kita percaya pada Yesus Kristus, orang Nazaret itu lalu percaya yang seperti apa dan bagaimana? Dalam bagian ini, ada beberapa aspek yang perlu kita perhatikan:

Pertama, Yang menjadi pertanyaan adalah apakah keberadaan orang lumpuh di Bait Allah membuktikan bahwa ia orang yang relijius? Alkitab tidak mencatat tapi kemungkinan besar ia bukanlah seorang yang berelijius sejati tapi ia mempunyai sense of religius buktinya, ia lebih memilih meminta-minta di Bait Allah dan bukan di pasar. Dia tahu kalau Bait Allah adalah tempat ibadah dimana orang harus mempersiapkan hati sebaik-baiknya sebelum melakukan ibadah. Orang lumpuh ini tahu kalau motivasi orang beribadah berbeda-beda, ada orang yang setelah melakukan dosa, ia akan pergi ke Bait Allah memohon pengampunan dosa dengan menyembelih korban bakaran, ada pula orang yang melakukan kebaikan dalam hal ini dengan memberi sedekah maka ia berharap akan beroleh surga. Inilah cara manusia berdosa berelijiusitas. Orang lumpuh ini tahu dengan jelas konsep agama yang selama ini manusia pikirkan, ia tahu bagaimana manusia umumnya menjalankan kehidupan beragamanya dan ia memanfaatkan hal ini dengan baik, yaitu dengan menjadi pengemis di depan Bait Allah. Bukankah sampai hari ini pun orang menjalankan agamanya dengan konsep demikian?

Manusia selalu mempunyai perasaan Ilahi namun dosa membuat perasaan Ilahi yang ada dalam diri manusia menjadi tercemar. Manusia tahu bahwa ada Allah dan harus berhadapan dengan Allah namun manusia tidak tahu bagaimana cara yang benar akibatnya manusia mencoba menyelesaikan semua kesulitan yang terjadi antara dirinya dengan Allah dengan cara yang pragmatis. Sebagai  contoh, setiap orang pasti menyadari ketika dirinya berbuat dosa, korupsi misalnya lalu untuk mengurangi dosanya ia membagikan uang hasil korupsi tersebut pada orang lain dengan pemikiran bahwa sebagian dosanya telah ditanggungkan pada orang lain. Ada pula cara lain yaitu dengan berbuat baik pada sesama; orang berpikir kalau perbuatan baik tersebut akan menyenangkan hati Tuhan sehingga Tuhan tidak akan menjadi murka dan Dia selalu melimpahkan berkat-Nya. Yang menjadi pertanyaan adalah apa yang menjadi ukuran suatu dosa sehingga dosa dapat dikatakan sebagai dosa besar atau dosa kecil? Ingat, dosa tetap dosa! Konsep agama seperti demikian bukanlah ajaran Alkitab, Kristus mengajarkan bahwa beriman sejati berarti ia harus bersandar mutlak pada-Nya, hati, pikiran dan perasaan kita tunduk mutlak pada kehendak Tuhan dan membiarkan diri dipimpin oleh Tuhan. Iman sejati bukan melakukan berbagai macam ritual agama. Tidak!

Dunia modern justru menjadikan agama sebagai tempat manusia untuk mengaktualisasikan dirinya maka tidaklah heran kalau tempat ibadah justru menjadi tempat manipulasi. Agama dimanipulasi sedemikian rupa demi untuk kepentingan diri. Situasi dunia saat ini membawa kita berada dalam tekanan multidimensi maka sudah menjadi tugas kitalah sebagai orang Kristen menjadi saksi-Nya, memberitakan kebenaran sejati. Sangatlah disayangkan, hari ini, tekanan dunia justru membuat anak Tuhan yang memang tidak mempunyai iman sejati mulai berkompromi dan bermain-main dengan dosa. Bayangkan, kalau orang lumpuh tersebut tidak mempunyai iman sejati maka seumur hidup ia tidak akan pernah mengalami terobosan iman dan ia tidak akan pernah mengalami pengalaman berjalan.

Kedua, Dalam hal ini pokok permasalahan bukan terletak pada apakah orang tersebut berjalan atau tidak melainkan pada imannya. Banyak orang selalu ingin melihat bukti terlebih dahulu barulah kemudian ia mau beriman namun Alkitab justru mengajarkan sebaliknya, yakni beriman terlebih dahulu maka engkau akan melihat bukti. Orang lumpuh menunjukkan reaksi positif, ia menuruti perkataan Petrus yang memintanya untuk melihat pada Petrus dan Yohanes. Ingat, kalau ia dapat bereaksi demikian maka itu bukan datang dari dirinya sendiri melainkan Tuhan yang bekerja sebab kalau bukan anugerah Tuhan maka mustahil seorang manusia dapat melawan logikanya.

Andai kita berada pada situasi tersebut maka dapatlah diduga apa reaksi kita saat Petrus berkata, “Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!“ dan kemudian Petrus mengulurkan tangannya tentu kita akan menganggap apa yang dilakukan Petrus sebagai suatu penghinaan. Puji Tuhan, orang lumpuh ini tidak menggunakan rasionya, ia beriman. Inilah prinsip Kekristenan yang benar, yakni iman mendahului tindakan. Hati-hati dengan ajaran dunia modern yang selalu meminta bukti,  berpikir dengan rasio terlebih dahulu, mengalami pengalaman iman terlebih dahulu barulah kemudian mau percaya. Iman menuntut kepercayaan penuh dari diri, yaitu kita percaya bahwa yang dikatakan Kristus, Firman hidup itu sebagai suatu kebenaran dan tugas kita hanya satu, yaitu taat mutlak. Banyak orang beranggapan bahwa orang yang berada dalam gereja Reformed tidak banyak mempunyai pengalaman iman karena terlalu banyak menggunakan rasio. Tidak benar, Antara rasio dan perasaan haruslah seimbang dan iman sejati itulah yang seharusnya menjadi dasar bagi kita untuk menyandarkan hidup kita. Hanya mementingkan rasio saja bukanlah hal yang baik karena orang akan menjadi liberal namun di lain pihak, mengutamakan perasaan saja dan menghilangkan rasio juga tidaklah baik. Banyak hal kita menganggap setiap pekerjaan Tuhan, yakni bagaimana Ia memimpin setiap langkah hidup kita sebagai sesuatu yang mustahil akibatnya kita tidak pernah melihat dan kita tidak dapat merasakan pimpinan Tuhan. Ingat, tidak ada sesuatu yang mustahil bagi-Nya asal kita mau bersandar mutlak pada-Nya, beriman terlebih dahulu, sola fide maka kita akan melihat pimpinan Tuhan yang ajaib dan indah. Hal ini menjadi dasar teologi Reformed dimana prinsip ini juga ditegaskan kembali oleh Calvin maupun Luther, yakni hanya iman saja, sola fide; iman pada siapa? Imana pada Firman yang hidup, sola scriptura.

Ketiga, Alkitab tidak menuliskan apa yang menjadi orientasi hidup pengemis lumpuh ini sehingga kenapa ia lebih memilih berada di Bait Allah daripada meminta-minta di pasar. Apakah orang lumpuh ini mempunyai kerinduan untuk mendengarkan Firman karena pada jaman itu, ada peraturan yang tidak memperbolehkan orang cacat untuk masuk dalam Bait Allah sehingga ia rela berada di depan Bait Allah? Alkitab tidak mencatat hal itu namun Alkitab mencatat bahwa ia ingin mendapatkan sedekah. Berarti, ia berada di depan Allah dengan satu tujuan, yaitu ia ingin mendapatkan uang guna mempertahankan hidup. Orang lumpuh ini menganggap kalau uang itu segala-galanya karena dengan uang ia dapat mempertahankan hidup sehingga Firman dan relasi dengan saudara seiman menjadi hal yang sekunder. Segala cara mungkin sudah ia pikirkan bagaimana caranya membangunkan rasa iba dan belas kasih dari orang lain termasuk kenapa ia memilih berada di dekat pintu Gerbang Indah karena banyak orang yang melalui pintu tersebut. Dalam hal ini ia pasti sudah berpengalaman, seperti mencari tempat strategis, membangunkan belas kasih orang lain, dan lain sebagainya.

Dunia berpendapat kalau materi atau uang adalah yang utama karena hanya dengan uang maka manusia dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Salah! Apa yang manusia anggap penting ternyata bagi Tuhan tidak penting karena itu kita seringkali gagal sebab semua pikiran dan hati kita mengarah pada sasaran yang salah. Ketika Tuhan membangunkan seseorang, hal yang penting sebenarnya bukan terletak pada apakah ia dapat berjalan/tidak. Bukan! Orang lain mungkin berpikir dari lumpuh kemudian berjalan sebagai suatu kegembiraan namun dapat berjalan lagi bagi pengemis lumpuh ini justru mematikan nafkahnya. Apa yang orang lain pikir baik ternyata bagi orang yang bersangkutan belum tentu baik. Kalau dulu ia tidak perlu bersusah payah, ia hanya duduk di depan Bait Allah saja uang datang sendiri tapi kini, setelah ia mendapat mujizat, ia dapat berjalan tentu orang tidak akan iba lagi padanya sehingga ia harus mencari nafkah sendiri.

Manusia seringkali berpikir pragmatis, kita hidup hanya sekali karena itu tidak perlu bekerja tapi nikmatilah hidup hal ini juga diungkapkan oleh R. Tiyosaki dalam bukunya Retired Young Retired Rich. Orang Kristen harus mengerti etos kerja sejati barulah ia akan menemukan nilai hidup yang memang sudah Tuhan tetapkan. Etika kerja harus kembali pada esensi kerja – esensi kerja harus kembali pada natur kerja – natur kerja harus kembali pada natur manusia sebagai pekerja. Tuhan mengembalikan orang lumpuh ini pada natur manusia sejati dengan membangunkan dia dari kelumpuhannya. Setelah dia mencapai natur manusia tertinggi mungkin penghasilannya tidak sebesar dan seenak saat ia menjadi pengemis namun kini ia mempunyai  nilai hidup yang lebih tinggi dan lebih daripada itu keselamatan dia di dalam kekekalan dijamin Tuhan. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh isi dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya (Mat. 16:26). Iman sejati mengembalikan manusia pada naturnya yang sejati dengan demikian kita akan menjadi saksi-Nya yang indah. Tuhan datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani. Hal ini seharusnya menjadi teladan bagi kita dengan demikian kita menjadi berkat bagi banyak orang. Itulah panggilan Kekristenan. Biarlah Firman ini boleh menegur kita sehingga paradigma atau cara pikir kita ditata sedemikian rupa dalam iman sejati dan biarlah kita mengundang Tuhan untuk menata hidup kita hari demi hari berdasarkan iman sejati.  Amin. ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)