Ringkasan Khotbah : 17 Oktober 2004

Kristus Penyempurna Iman

Nats: Mat. 4: 18-22, Ibr. 12: 1-2

Pengkhotbah : Ev. Thomy J. Matakupan

 

Injil Markus mencatat pengajaran Tuhan Yesus tentang ukuran yang akan diukurkan dan ada sesuatu yang ditambahkan lagi padanya. Apakah maksud dari perkataan Kristus? Untuk memahami perkataan Kristus tersebut maka kita harus memperhatikan konteks Injil Markus mulai dari pasalnya yang ke 4 hingga pasalnya yang ke 5 ayat 43 karena bagian ini merupakan satu kesatuan yang utuh. Perumpamaan penabur menjadi titik tolak kenapa Tuhan Yesus berbicara tentang ukuran yang diukurkan dan kemudian akan ditambahkan, yang mempunyai akan ditambahkan dan yang tidak mempunyai apa pun juga yang ada padanya akan diambil. Pada saat Tuhan Yesus sendirian, barulah para murid menanyakan tentang apa arti dari perumpamaan penabur tersebut dan jawab-Nya: “Kepadamu telah diberikan rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang luar segala sesuatu disampaikan dalam perumpamaan, supaya sekalipun melihat, mereka tidak menanggap, sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti, supaya mereka jangan berbalik dan mendapat ampun (Mrk. 4:11-12). 

Dari jawaban tersebut sebenarnya Tuhan Yesus hendak berbicara tentang kehadiran Kerajaan Allah di tengah dunia dan hanya kepada orang-orang pilihan-Nya sajalah rahasia tentang Kerajaan Allah ini diberikan dan dapat dimengerti namun pada suatu waktu kelak semua rahasia akan disingkapkan. Perumpamaan penabur merupakan langkah awal Kristus mengubah metode pengajaran-Nya, Tuhan Yesus mulai membuat sebuah pemisahan dalam pengajaran-Nya tentang siapa saja yang berhak/tidak berhak untuk mengerti tentang hal Kerajaan Surga. Dalam tulisannya, Markus menekankan: pertama, seorang Kristus yang tunduk pada Firman, kedua, Kristus merupakan penggenapan dari Kerajaan Allah, Kristus merupakan puncak dari pernyataan Kuasa Allah. Itulah sebabnya dalam injil Markus kita akan menjumpai konfrontasi antara Kristus dengan kuasa kegelapan dan kuasa Allah mendominasi segala kuasa yang ada di dunia, seperti kuasa kematian, kuasa sakit penyakit, kuasa kegelapan, dan lain sebagainya.

Kerajaan Allah seumpama benih yang tumbuh  dimana tidak ada satu orang pun yang tahu kapan benih itu mengeluarkan tunas dan bertumbuh (Mrk. 4:26-28). Benih yang kecil itu semakin lama semakin bertumbuh dan menjadi besar sehingga burung-burung dapat bersarang dalam naungannya. Namun banyak orang tidak menyadari bahwa kuasa Allah yang sedang bekerja karena itu Yesus memberitakan hal ini secara eksklusif hanya kepada para murid-Nya dalam bentuk perumpamaan dan hanya kepada mereka saja, Yesus mengungkapkan arti perumpamaan tersebut. Markus hendak mengungkapkan realita Kerajaan Allah lewat sosok Tuhan Yesus. Ketika Ia berinteraksi dengan banyak orang maka mau tidak mau orang dituntut untuk berpikir dua kali tentang kuasa Allah melalui diri Yesus. Itulah sebabnya, Markus merasa perlu untuk memperjelas tentang arti perumpamaan tersebut dengan menambahkan empat peristiwa lain dimana dalam setiap peristiwa yang terjadi berbicara tentang kuasa Allah dan hal ini dinyatakan dalam diri Yesus dan bagaimana kaitannya dengan orang-orang seperti yang diungkapkan dalam perumpamaan penabur.

1. Yesus meredakan angin ribut.

Melalui peristiwa ini Markus hendak menjelaskan akan arti dari benih yang jatuh di tanah yang jatuh di pinggir jalan. Pada hari itu, yaitu setelah Yesus mengajarkan tentang perumpamaan maka bertolaklah Ia bersama para murid dalam sebuah perahu menuju ke seberang. Lalu mengamuklah taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu. Seharusnya angin dan badai bukan menjadi hal yang baru bagi para murid Yesus yang sebagian besar adalah seorang nelayan. Namun kalau mereka menjadi takut ketika badai dan ombak menerjang maka dapatlah dipastikan peristiwa ini baru pertama kali mereka alami. Para murid tahu bahwa Yesus dapat melakukan sesuatu yang dapat menyelamatkan mereka maka tidaklah heran kalau mereka menuntut supaya Yesus melakukan sesuatu. Mereka membangunkan Yesus dan berkata, “Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?“ Ini adalah ukuran yang para murid pakai untuk melihat Yesus Kristus. Lalu, Ia pun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: “Diam! Tenanglah!“ Yesus hanya memerintahkan satu kali saja dan perintah ini adalah perintah yang sempurna. Angin itu reda dan danau menjadi teduh namun reaksi yang ditunjukan murid di luar dugaan, mereka menjadi takut. Lalu kata Yesus, “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?“ Ini adalah ukuran baru yang ditambahkan Yesus kepada para murid. Perkataan Yesus yang tajam ini menohok langsung dalam hati para murid; Tuhan Yesus membongkar pikiran para murid yang selama ini melihat diri Yesus yang terbatas, Yesus yang tidak peduli akan keselamatan diri mereka. Ketakutan menyebabkan mereka tidak lagi mempercayai Kristus, ketidakpercayaan membangkitkan rasa ketakutan. Respon lain ditunjukkan oleh para murid, yaitu “Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?“ Yang menjadi pertanyaan adalah apakah para murid tidak tahu sebelumnya siapa Yesus? Bukankah Yesus telah melakukan banyak mujizat dan hal ini telah dilihat dan dialami sendiri oleh para murid? Maka tidaklah heran kalau Markus memakai kisah ini untuk menggambarkan peristiwa ini sebagai benih yang jatuh di pinggir jalan lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis. Kristus tetap membuka suatu pintu yang baru bagi mereka, sesuatu yang baru ditambahkan kepadamu. Kristus membuka batasan yang ada dalam diri mereka sehingga mereka dapat melihat Yesus sebagai pernyataan kuasa Allah.

2. Yesus mengusir roh jahat dari orang Gerasa.

Peristiwa ini terjadi ketika Tuhan Yesus sudah sampai di seberang. Markus hendak menjelaskan tentang model tanah yang kedua, yaitu tanah yang berbatu-batu. Yesus khusus mencari satu orang di Gerasa dan orang tersebut dirasuk oleh Legion. Menurut ukuran pasukan Romawi, satu legion berjumlah 6000 orang. Yesus mengusir setan yang merasuk dirinya dan Yesus mengabulkan permintaan setan tersebut untuk memindahkannya pada kawanan babi yang ada di situ. Kawanan babi yang kira-kira dua ribu jumlahnya itu terjun dari tepi jurang ke dalam danau dan mati lemas di dalamnya. Reaksi yang ditunjukkan oleh penduduk setempat sungguh di luar dugaan, mereka menjadi takut (Mrk. 5:15). Lalu mereka mendesak Yesus supaya Ia meninggalkan daerah mereka. Pernyataan kuasa Allah atas kuasa kegelapan merupakan perbuatan yang ajaib namun orang justru tidak senang dengan perbuatan Yesus karena kehadiran Kristus dianggap sebagai ancaman dan mereka merasa dirugikan. Orang tidak suka ketika melihat realita Kerajaan Allah karena ada tuntutan-tuntutan yang Kristus sampaikan dan hal itu harus ditaati. Mereka kemudian bersepakat mengusir Yesus. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya (Mrk. 4:25).

Sangatlah disayangkan, kalau sebagian besar orang-orang Gerasa, kecuali satu orang yang disembuhkan tersebut, tidak bisa melihat Kerajaan Allah dan keajaiban perbuatan Allah yang besar. Banyak orang tidak percaya bahwa Yesus adalah Allah karena pikiran mereka telah dibutakan, orang mengenal Yesus hanya sebatas Ia sebagai seorang anak tukang kayu (Mrk. 6:3). Oleh karena itu, Yesus tidak membuat mujizat di kota asalnya. Yesus tidak merasa dirugikan dengan penolakan dirinya. Mereka tidak menyadari kalau justru merekalah yang dirugikan karena menolak Kristus. Yesus tidak memperkenankan orang yang tadinya kerasukan setan itu ketika ia meminta untuk mengikut Dia sebaliknya Yesus mengutusnya untuk memberitakan segala sesuatu yang diperbuat Yesus kepada penduduk sekitar. Dengan kata lain, Yesus sepertinya ingin memberitahukan kebodohan yang sudah mereka lakukan karena menolak Kerajaan Allah dan menganggapnya sebagi ancaman. Berbeda dengan orang yang disembuhkan, ia mengalami pernyataan Kerajaan Allah dalam diri Kristus, ia dapat melihat bahwa kuasa Allah lebih besar dari kuasa kegelapan. Orang-orang di Gerasa seperti benih yang jatuh di tanah yang berbatu, ia tumbuh lalu mati karena akarnya tidak kuat.

3. Yesus membangkitkan anak Yairus.

Yairus adalah pengurus rumah ibadat. Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia di depan kaki Yesus dan memohon supaya anak perempuannya yang sedang sakit dan hampir mati itu diselamatkan. Ini adalah ukuran yang dimiliki oleh Yairus untuk mengerti siapakah Yesus. Yairus pasti sudah mencoba segala daya dan upaya untuk menyembuhkan anak perempuannya namun semua itu tidak berhasil. Dalam keadaan yang putus asa, Yairus tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan sampai kemudian ia teringat dan mendengar tentang berbagai mujizat yang Yesus lakukan. Yairus perlu Yesus untuk memenuhi kebutuhannya, yaitu untuk menyembuhkan anak perempuannya yang sakit. Markus menggambarkan peristiwa Yairus ini seperti benih yang tumbuh di tanah bersemak, kekuatiran dunia menghimpitnya sedemikian rupa sehingga benih itu menjadi mati. Di tengah kegalauan hati Yairus, tanpa disangka muncul seorang perempuan yang sakit pendarahan dan hal ini semakin menambah kekuatiran hati Yairus karena dengan demikian perjalanan Yesus ke rumahnya menjadi terhambat. Apa yang menjadi kekuatiran Yairus, kini menjadi kenyataan. Salah seorang keluarganya datang dan mengabari bahwa anaknya sudah mati. Namun Yesus tidak menghiraukan perkataan mereka dan Ia berkata kepada Yairus, “Jangan takut, percaya saja!“

Ucapan ini adalah ucapan yang sama yang diucapkan Yesus pada para murid ketika badai dan angin datang menerpa tetapi bedanya pada para murid, Yesus mengucapkannya dalam bentuk pertanyaan, “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?“ Ukuran yang Yairus pakai pada Yesus adalah Yesus sanggup menyembuhkan orang sakit tetapi bagaimana dengan membangkitkan orang mati? Logika Yairus seakan berhenti karena ia tidak pernah tahu bahwa Yesus sanggup melakukan segala sesuatu lebih dari yang manusia pikirkan. Anugerah Tuhan turun atas keluarga Yairus, dengan mata kepala sendiri mereka menyaksikan bagaimana Kristus membuat mujizat dengan membangkitkan anaknya yang sudah mati. Tuhan menambahkan pengertian yang baru lagi tentang siapakah Kristus dengan membukakan pikiran kepada Yairus, yaitu Yesus adalah pernyataan Kerajaan Allah dan kuasa Allah lebih besar dari kuasa kematian.

4. Yesus menyembuhkan seorang perempuan yang sakit pendarahan.

Melalui peristiwa ini, Markus hendak menjelaskan tentang tanah yang subur. Menurut tradisi Yahudi pada jaman itu, jika salah seorang dari keluarga mereka ada yang sakit pendarahan maka ia harus dikucilkan dari keluarga begitu pula dalam kehidupan beragama. Alkitab mencatat, demi untuk memperoleh kesembuhan, ia telah menghabiskan semua hartanya; ia telah berulangkali mengobati penyakitnya namun sakitnya tak juga kunjung sembuh malah keadaannya makin memburuk. Perempuan ini mendengar segala sesuatu tentang Yesus, maka di tengah-tengah orang banyak itu, ia memberanikan diri untuk mendekati Yesus dan menjamah jubah-Nya. Pada jaman itu merupakan hal yang terlarang bagi seorang perempuan untuk mendekati seorang tokoh agama. Namun dengan segala daya dan upaya perempuan ini mencoba mendekati Yesus, ia tahu dan ia telah siap dengan segala resikonya kalau kedapatan dirinya seorang perempuan.

Ukuran yang ia punya adalah asal kujamah saja jubah-Nya maka aku akan sembuh dan saat itu juga mujizat terjadi. Yesus mengetahui, bahwa ada tenaga yang keluar dari diri-Nya, lalu Ia berpaling dan bertanya: “Siapa yang menjamah jubah-Ku?“ maka dengan takut dan gemetar, tersungkurlah ia di depan Yesus dan memberitahukan segala sesuatunya pada Yesus. Yesus menambahkan sesuatu yang baru padanya, jawaban Yesus sungguh di luar dugaan: “Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu!“ Iman perempuan ini timbul karena ia pernah mendengar segala sesuatu tentang Yesus dan asal kujamah jubah-Nya, aku akan sembuh. Kristus menghargai iman perempuan ini. Benih itu jatuh di tanah yang baik sehingga ia bertumbuh.

Semua peristiwa ini berada dalam konteks, orang-orang yang diberikan kemampuan untuk melihat rahasia Kerajaan Allah. Hanya kepada mereka yang telah dipilih-Nya, Kristus menyempurnakan iman. Kristus adalah pemimpin iman yang membawa iman pada kesempurnaan. Semua peristiwa yang terjadi dalam diri empat orang ini adalah atas seijin Kristus demi untuk kebaikan kita, yaitu menumbuhkan iman dan menuju pada kesempurnaan. Pengetahuan kita tentang Kristus tidaklah cukup bagi kita mengenal siapakah Yesus. Kita harus mengalami perjalanan iman bersama Kristus barulah kita akan merasakan keindahan berjalan dalam iman bersama Kristus. Kita akan dapat merasakan kebesaran Kristus, mujizat-Nya yang ajaib, penyertaan-Nya sehingga tiap-tiap hari Ia tambahkan hal yang baru lagi dengan demikian iman kita semakin bertumbuh dan berbuah layaknya sebuah benih yang jatuh di tanah yang subur.  Amin. ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)