Ringkasan Khotbah : 10 Oktober 2004

The Kingdom & the Workers 5

Nats: Mat. 4: 18-22

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Kristus adalah Raja merupakan tema utama dari Injil Matius. Tuhan Yesus, Raja di atas segala raja itu memanggil para murid yang dalam hal ini Ia tidak menggunakan standar  kualifikasi dunia untuk turut ambil bagian dalam menggenapkan Kerajaan-Nya di muka bumi. Tuhan tidak memakai ahli-ahli Taurat atau orang-orang pandai yang hidup pada jaman itu sebaliknya Dia memanggil nelayan untuk turut ambil bagian dalam Kerajaan-Nya. Bukan dengan bala tentara Sorga Dia memanggil para murid melainkan dengan otoritas dari Kerajaan Sorga, “Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia“; Come, follow Me and I will make you a fisher of man (Mat. 4:19). Panggilan ini bukan sekedar ajakan tapi panggilan Sang Raja ini mengandung perintah yang menuntut ketaatan mutlak dari dalam diri kita. Dengan demikian kita dapat memahami siapakah Kristus Yesus sesungguhnya dengan cara pandang Allah bukan dengan kacamata dunia yang hanya melihat seseorang dari tampilan luar belaka.

“Ikutlah Aku“, kata mengikut yang dimaksud oleh Tuhan Yesus disini adalah mengikut yang terus menerus dan tanpa syarat seperti layaknya seorang anak kecil yang ngintil (bhs. Jawa) pada ibunya. Sayangnya, ketika si anak menjadi besar konsep berpikirnya mulai dipengaruhi oleh berbagai macam filsafat dunia akibatnya orang tidak mau taat dan mulai mempertanyakan untung – rugi mengikut Yesus. Yesus adalah Raja di atas segala raja memanggil, “Ikutlah Aku,...“ namun orang masih berani tawar menawar. Bandingkan ketika raja dunia memanggil atau mengeluarkan perintah maka orang tidak berani tawar menawar. Ironis, manusia lebih takut pada raja dunia yang kelihatan dibandingkan pada Raja pemilik seluruh alam semesta yang bertahta di Sorga. Tuhan tidak suka pada orang yang selalu tawar menawar ketika mengikut Dia. Orang tidak percaya bahwa segala sesuatu yang Tuhan rencanakan adalah demi untuk kebaikan kita.

Manusia sudah jatuh dalam dosa dan upah dosa adalah maut maka kalau Tuhan masih berkenan memanggil dan menjadikan kita rekan sekerja itu merupakan anugerah besar. Sangatlah disayangkan, banyak orang yang tidak memahami hal ini dan mereka justru berpendapat bahwa menjadi pengikut Tuhan hanya akan menyusahkan hidup mereka. Salah! Dengan mengikut Kristus Raja di atas segala raja itu maka kita merasakan sukacita sejati, hidup kita tidak akan sia-sia karena Tuhan sudah menetapkan tujuan indah pada setiap orang yang dipanggil-Nya. Setiap tindakan Allah pasti mempunyai tujuan. Begitu pula ketika Tuhan memanggil Petrus, Yohanes, dan murid-murid yang lain adalah untuk menjadikan mereka sebagai penjala manusia. Sangatlah disayangkan, hari ini orang tidak menyadari tujuan hidup sejati yang Tuhan sudah tetapkan sejak dari kekekalan. Maka tidaklah heran kalau tujuan hidup mereka melenceng, keluar dari tujuan yang Tuhan sudah tetapkan pada setiap kita.

Abraham Maslow telah berhasil mempengaruhi dan menjadikan manusia materialis dan humanis. Ia berpendapat bahwa hidup manusia selalu dikontrol oleh needs/kebutuhan yang terdiri dari lima kebutuhan dasar dan bila salah satu kebutuhan tersebut tidak dipenuhi maka manusia menjadi labil, yaitu: 1) kebutuhan fisik, kebutuhan akan makanan dan minuman, 2) kebutuhan akan keamanan, 3) kebutuhan akan kasih sayang, 4) kebutuhan akan keindahan (estetika) dan yang paling tinggi 5) kebutuhan akan aktualisasi diri. Tingkatan ini menunjukkan tingkatan egoisme yang semakin tinggi. Manusia tidak pernah merasa puas, selalu ada saja yang kurang. Manusia tidak menyadari bahwa kebutuhan malah akan membuat manusia semakin berambisi dan egois. Jadi, kalau setiap tindakan yang orang lakukan adalah karena didorong oleh kebutuhan lalu apa yang menjadi kebutuhan Tuhan yang mendorong tindakan-Nya? Pemikiran ini sangatlah berbahaya. Ingat, Tuhan tidak membutuhkan apapun sebab Dia Raja pemilik alam semesta. Justru kita seharusnya menyadari bahwa kalau sampai detik ini kita masih hidup itu karena Tuhan yang masih berbelas kasih. Manusia berdosa yang seharusnya dihukum namun Tuhan berkenan memelihara dan menyediakan semua kebutuhan hidup kita. Motivasi hidup manusia bukan ditentukan oleh kebutuhan melainkan tujuan dan demi supaya tujuan kita tercapai maka semua kebutuhan menjadi tidak penting lagi. Bagaimana dengan kita? Apa yang terutama dalam hidupmu tujuan ataukah kebutuhan? Jikalau kebutuhan menjadi yang utama lalu apa bedanya kita dengan binatang? Bukankah binatang hidup hanya demi untuk memenuhi kebutuhannya saja? Orang yang bijaksana akan mengabaikan semua hal yang menjadi kebutuhan demi untuk mengejar tujuan agung dalam hidup. Paulus tahu dengan jelas apa yang menjadi tujuan hidupnya, itulah sebabnya ia dapat berkata, “Aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah“ (Kis. 20:24).

Allah adalah pembentuk tujuan tertinggi di seluruh alam semesta milik kepunyaan-Nya ini, the ultimate purpose of the universe. Celakalah kalau kita mau mencoba keluar dari tujuan yang sudah Allah tetapkan karena itu berarti kehancuran bagi kita. Menggeser dari tujuan manusia menuju pada tujuan Tuhan tidaklah mudah, kita sering jatuh bangun karena perubahan ini menyangkut banyak aspek dalam hidup kita. Tak terkecuali Petrus. Iman Petrus mulai goyah ketika ia mengetahui Tuhan Yesus mati. Ditengah-tengah situasi yang tidak menentu itu Petrus memutuskan untuk kembali menjadi penjala ikan. Hal ini membuktikan natur manusia berdosa. Tuhan tidak langsung menegur Petrus namun Tuhan justru biarkan Petrus dan kawan-kawannya kembali pada profesinya yang lama, yaitu nelayan. Mereka yang katanya ahli menjala ikan, hari itu mereka tidak mendapati satu ekorpun ikan meskipun telah menebarkan jala semalam-malaman. Hal ini membuktikan orang yang katanya ahli di suatu bidang maka Tuhan bisa membuatnya tidak menghasilkan apapun dari keahliannya tersebut. Semua kepandaian, kekayaan, apapun yang ada pada diri kita tidak ada gunanya. Jadi, Tuhan adalah sumber dari segala sumber berkat. Tujuan hidup yang Tuhan sudah tetapkan dalam diri kita adalah demi untuk kebaikan diri kita.

Bagaimana kita mengerti tujuan Tuhan dalam hidup kita? Dalam bagian ini kita akan melihat tiga aspek sehingga kita dapat mengerti bagaimana seharusnya kita berespon dengan tepat.

Pertama, Petrus menyadari kalau ia ahli menjala ikan tapi ia bukan penjala manusia. Jadi, hari itu ia bukanlah siapa-siapa dan belum menjadi apa-apa namun Tuhan berkenan membentuk dia dan memanggil dia untuk turut ambil bagian dalam Kerajaan-Nya. Hari ini justru terbalik orang tidak mau melayani karena merasa diri tidak bisa apa-apa. Orang selalu berpendapat bahwa orang yang melayani adalah orang yang bisa “apa-apa“. Cara Tuhan berbeda. Orang yang merasa diri bisa “apa-apa“ bagi Tuhan justru mereka tidak bisa “apa-apa“. Tuhan tidak memakai orang yang bisa “apa-apa“ seperti Gamaliel atau Nikodemus karena orang-orang demikian sukar untuk dibentuk; konsep dan pola berpikirnya sudah rusak; mereka merasa diri hebat dan berjasa sehingga tidak perlu diajar lagi. Ingat, ketika kita merasa diri hebat maka itu menjadi titik awal kehancuran kita. Itulah sebabnya Tuhan tidak memanggil mereka tetapi memanggil Petrus. Tuhan melihat potensi yang akan datang dalam diri Petrus dan murid-murid yang lain. Kualifikasi yang manusia tetapkan berlawanan dengan kualifikasi Tuhan. Tuhan sudah menetapkan kualifikasi yang sesuai dengan rencana-Nya.

Tuhan mau pakai orang-orang biasa yang mau taat dibentuk oleh-Nya untuk dipakai dalam Kerajaan Sorga. Seperti sebuah lagu yang berjudul It’s Ordinary People yang dituliskan dalam sebuah drama Kekristenan yang berbunyi: Kita hanyalah manusia biasa. Allah memakai manusia biasa seperti engkau dan saya yang taat dan mau menjalankan semua yang Dia perintahkan. Tuhan mau pakai orang-orang yang mau memberikan segalanya demi Dia. Tidak peduli seberapa kecilnya engkau memandang dirimu sendiri karena justru kita yang kecil ini akan menjadi besar ketika ditaruh dalam tangan Sang Tuan. Biarlah dalam hidup sehari-hari kita mencontoh teladan Kristus yang tidak menggunakan standar atau kualifikasi dunia ketika memilih seseorang untuk dijadikan sebagai rekan sekerja. Percayalah cara Tuhan adalah yang terbaik meski cara Tuhan itu kita rasakan tidak sesuai dengan logika kita. Ingat, kita bukanlah siapa-siapa di hadapan Tuhan, segala sesuatu yang kita banggakan tidaklah ada artinya jika semua itu tidak dipakai untuk kemuliaan nama-Nya. Tuhan tidak menginginkan semua kekayaan kita. Tidak! Karena Dia adalah Raja di atas segala raja, Dia pemilik alam semesta. Tuhan hanya ingin hati yang taat dan mau dibentuk untuk menjadi semakin serupa Dia.

Kedua, Aku akan menjadikan kamu penjala manusia. Kata menjadikan disini berarti ada proses yang harus dilewati dari belum jadi penjala manusia sampai akhirnya menjadi penjala manusia. Pembentukan ini tidaklah mudah apalagi membentuk orang yang sudah dewasa. Sebatang tunas yang baru bertumbuh lebih mudah dibentuk mengikuti keinginan hati tetapi berbeda kalau tunas itu sudah berubah menjadi batang yang keras. Batang itu dapat dibentuk tetapi dibutuhkan pengorbanan, ia harus dipahat dan dibersihkan terlebih dahulu. Lebih mudah merubah seseorang secara fenomena namun tidak menjamin esensinya dapat berubah namun apa yang manusia pikir tidak mungkin bagi Tuhan tiada yang mustahil. Cara Tuhan mengubahkan seseorang berbeda. Petrus dan para murid yang lain dipanggil ketika mereka dewasa namun kalau mereka dapat berubah semua itu karena Roh Kudus yang bekerja dalam diri kita. Tuhan bukan mereparasi tetapi Dia melahirbarukan, Tuhan mencipta ulang, recreated. Jadi, siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang (2Kor. 5:17). Kini istilah recreated atau rekreasi disalah mengerti, yakni rekreasi sama dengan tamasya. Tidak! Rekreasi yang sesungguhnya seharusnya membuat kita refresh bukannya bertambah lelah sehabis berekreasi.

Hanya mereka yang sudah dilahirbarukan sajalah yang dapat dibentuk menjadi semakin serupa Kristus. Karena itu jangan sia-siakan anugerah Tuhan kalau Ia sudah berkenan memanggil dan mau membentuk kita. Jangan keraskan hati ketika Tuhan sedang bekerja karena Tuhan mau menjadikan kita sesuai dengan maksud dan rencana-Nya yang indah. Ironisnya, manusia justru merasakan sakit ketika Tuhan sedang bekerja membentuk kita untuk semakin serupa Dia. Kita patut bersyukur kalau hari ini Tuhan mau membentuk kita, apa jadinya hidup kita sekarang kalau Tuhan tidak menangkap kita. Hati-hati banyak orang mengaku Kristen namun sesungguhnya mereka belum lahir baru maka tidaklah mengherankan kalau hidupnya tidak mau taat pada kebenaran Firman. Orang sukar mempercayai cara Tuhan yang seringkali tidak sesuai dengan logika akibatnya orang tidak percaya bahwa Tuhan memelihara – Tuhan mengatur masa depan hidup kita. Berada dalam pemrosesan Tuhan tidaklah mudah namun percayalah Tuhan tidak akan membiarkan kita berjalan sendiri, Dia pasti menuntun kita dan jangan pernah berpikir bahwa hidup berada di  luar Tuhan akan menyenangkan. Tidak! Hidup di luar Kristus malah makin menyulitkan kita karena Tuhan tidak akan menolong malahan kita akan dibuang ke tangan iblis.

Ketiga, Aku akan menjadikan kamu penjala manusia. Bagi Petrus kata penjala bukanlah hal yang asing lagi karena sehari-hari ia bekerja sebagai penjala ikan namun penjala manusia baginya merupakan hal yang baru. Tuhan mau membukakan satu rahasia penting melalui konsep paradoks ini, yaitu apa yang menjadi profesi lama kita tidak akan dibuang percuma ketika kita mengganti profesi baru. Kalau dulu Petrus adalah seorang penjala ikan maka kini Tuhan tetap menjadikannya sebagai penjala namun bedanya ia sekarang menjadi penjala manusia. Untuk menjala ikan harus menggunakan peralatan seperti jala, alat pancing, dan lain-lain namun untuk menjala manusia tidak bisa menggunakan alat yang sama. Jala seperti apa yang bisa untuk menjala manusia? Hal ini berarti seluruh tatanan dan paradigma kita harus dirombak ulang. Ketika kita hendak menjalankan kehendak Tuhan bukan berarti semua keahlian kita yang lama dibuang. Tidak! Dulu saya sempat berpikir seperti demikian namun setelah Tuhan panggil saya barulah memahami bahwa semua itu Tuhan memang perlengkapkan sebelum masuk ke dalam ladang Tuhan.

Namun yang membedakan adalah konsep, cara berpikir kita sekarang berbeda dengan sebelumnya. Dulu segala sesuatu yang kita kerjakan dan kita pikirkan adalah demi untuk keuntungan diri tapi setelah mengenal Kristus, semua yang kita kerjakan demi untuk kemuliaan nama Tuhan. Tuhan tidak membuang masa lampau Musa yang dulunya seorang raja muda di Mesir, Daud seorang penggembala domba, Petrus seorang penjala ikan, Paulus seorang ahli Taurat dan masih banyak lagi tokoh iman dalam Alkitab. Kita harus berpikir secara paradoxical, yaitu apa yang Tuhan perlengkapan pada kita sejak mulai dari lahir hingga kini Tuhan tidak buang namun Tuhan mau rombak total untuk masuk dalam jalur baru yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Dengan demikian kita boleh dipimpin oleh Tuhan untuk menggenapkan Kerajaan Sorga di bumi. Dunia hanya bisa menjadikan kita seorang penjala ikan namun Tuhan mau menjadikan engkau sebagai penjala manusia. Bersediakah saudara? Amin. ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)