Ringkasan Khotbah : 03 Oktober 2004

The Kingdom & the Workers 4

Nats: Mat. 4: 18-22

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Kita sudah memahami segmen pertama dari panggilan Kritus, yaitu “Mari,...“ (Mat.  4:19),  dimana dengan otoritas Kerajaan Sorga, Kristus memanggil para murid untuk turut ambil bagian menjadi warga Kerajaan Sorga. Kristus adalah Raja di atas segala raja sehingga secara Ilahi Ia mampu membangun kerajaan-Nya seorang diri saja namun hal itu tidak Kristus lakukan, Ia justru melibatkan kita, manusia yang penuh dengan kelemahan. Dan cara Kristus memanggil berbeda dengan dunia, Ia tidak menggunakan standarisasi dunia yang hanya menuntut nilai akademik atau keahlian belaka. Panggilan Kristus adalah inisiatif yang datang dari Kerajaan Sorga. Segala sesuatu yang dianggap dunia penting bagi Kristus justru tidaklah berarti apa-apa dan sebaliknya. Sebagai anak Tuhan, kita patut mengucap syukur senantiasa karena kita sudah dipilih-Nya sejak dari kekekalan (Ef. 1:4) menjadi warga Kerajaan Sorga dan turut bekerja menggenapkan Kerajaan-Nya di dunia. Orang yang mengaku diri Kristen tetapi kalau ia masih memikirkan keuntungan diri maka ia bukanlah seorang Kristen sejati. Istilah Kristen berarti “Kristus kecil“ maka sebagai pengikut Kristus, follower of Christ, kita harus memancarkan citra Kristus.

Hari ini kita akan merenungkan segmen kedua dari panggilan Kristus, yaitu “Ikutlah Aku,...“ (Mat. 4:19). “Ikutlah Aku“ merupakan esensi Kekristenan sebagai warga Kerajaan Sorga dan mengikut Kristus menjadi tanda bagi setiap orang yang mengaku diri Kristen. “Ikutlah Aku“ menuntut respon, yaitu untuk mengikut Dia. Sebagai seorang Raja, Kristus berhak menuntut orang lain untuk mengikut Dia oleh sebab itu Ia berkata, “Ikutlah Aku,...“ Di satu sisi, mengikut Kristus sangat penting dalam panggilan Kekristenan namun di pihak lain banyak sebab yang menjadi alasan bagi mereka untuk menolak mengikut Kristus. Akibatnya banyak orang yang mengikut Kristus namun sekedar “mengikut“. Alkitab mencatat Petrus, Yohanes, Yakobus, dan Andreas mempunyai pengertian yang berbeda dengan kebanyakan orang lain tentang mengikut. Itulah sebabnya tanpa tawar menawar lagi mereka pergi, meninggalkan jalanya serta ayahnya, lalu mengikut Kristus.

Maka tidaklah heran kalau kemudian timbul pendapat bahwa mengikut Kristus itu susah jalannya karena harus meninggalkan segalanya tak terkecuali orang tua. Hal ini dapatlah kita mengerti karena dalam budaya Asia. Orang Tionghoa sangat menjunjung tinggi orang tua sebagai pemegang otorisasi tertinggi yang tidak dapat bersalah, father can do no wrong. Seorang anak harus menyembah semua orang tua atau leluhurnya demikian seterusnya. Jadi, semakin tua seseorang maka dirinya menjadi “tuhan“. Maka wajarlah kalau orang tua berbuat salah maka tidak akan pernah keluar kata, “Maaf,...“ dari mulut orang tua pada anaknya. Dan biasanya, untuk mengurangi perasaan bersalahnya orang tua menggantinya dengan barang. Alkitab menegaskan bahwa barangsiapa mau mengikut Kristus tetapi ia masih mau menguburkan orang tuanya terlebih dahulu atau pamitan dahulu  dengan keluarganya maka ia tidak layak untuk Kerajaan Allah (Luk. 9:57-62). Kalimat ini jangan dimengerti secara harafiah, yakni seorang anak tidak boleh menguburkan orang tuanya. Tidak! Menurut tradisi Yahudi, mengubur pada jaman itu berarti seorang anak harus menuruti semua yang menjadi keinginan orang tuanya sampai orang tuanya mati barulah ia mau mengikut Kristus.

Manusia sangat mengerti bahwa seorang raja berhak atas segala sesuatu bahkan nyawa rakyatnya sekalipun maka seharusnya manusia menyadari bahwa ada Raja di atas segala raja yang justru mempunyai otoritas lebih tinggi dari raja dunia. Tidak ada alasan apapun bagi kita untuk membantah semua yang menjadi perintah Raja pemilik alam semesta. Kita harus taat mutlak pada Raja di atas segala raja, inilah pengertian mengikut yang dimaksud dalam Alkitab. Mengikut mempunyai tiga definisi, yaitu: pertama, mengikut karena inisiatif diri sendiri. Karena datangnya dari diri sendiri maka  keputusan berada di tangan kita termasuk tentang hal mengikut, kapan mengikut dan kapan berhenti. Jadi, mengikut disini tidak beda seperti ketika kita sedang mengikuti sebuah kursus. Hari ini banyak orang yang mau mengikut Kristus seperti demikian.

Kalau kita bandingkan di Yoh. 15:16 maka jelaslah bahwa Kristus telah memilih dan menetapkan (predestination, bhs. Inggris) sebelum dunia dijadikan. Manusia tidak menyukai Tuhan memilih karena manusia mempunyai pilihan sendiri. Tuhan justru tidak suka pada mereka yang mengikut tapi berdasar inisiasi sendiri. Orang demikian akan menjadi sombong karena merasa diri dibutuhkan. Ingat, Tuhanlah yang menjadi inisiator, Dia yang memilih kita bukan manusia yang memilih Dia. Karena itu kita patut bersyukur, di antara jutaan manusia di dunia Tuhan sudah menetapkan kita sejak dari kekekalan untuk menjadi murid-Nya.

Kedua, pengertian mengikut disini berarti kita harus memilih satu diantara banyaknya pilihan yang ada, multiple choice. Hal itu berarti ketika kita sudah memutuskan mengikut si A maka konsekuensinya ia harus melepaskan si B atau si C. Kita tidak bisa memilih semuanya dengan harapan salah satu dari jawaban kita pasti benar ada yang benar. Inilah perbedaan konsep Alkitab dengan aliran new age yang menganggap bahwa semua agama sama.

Ketiga, mengikut seperti pengertian dalam Alkitab, yakni barangsiapa mengikut Aku maka ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku (Luk. 9:23). Mengikut dari bahasa asli, leteo yang mempunyai pengertian mengikut yang terus menerus, tanpa batas dan tanpa syarat. Dalam bahasa Indonesia belum ditemukan kata yang tepat untuk menggambarkan mengikut seperti yang dimaksudkan dalam Alkitab. Dalam bahasa Jawa ada yang lebih tepat untuk menggambarkannya, yaitu “ngintil“. Pengertian “ngintil“ disini adalah seperti seorang anak kecil yang memegang ujung baju ibunya sehingga tanpa banyak pertanyaan lagi ia selalu mengikut kemanapun ibunya.

Sebagai orang Kristen, dalam mengikut Kristus hendaklah kita meniru si anak kecil ini yang taat, “ngintil“ karena Kristus memang layak untuk diikuti karena:

1. Kristus adalah Raja di atas segala raja.

Sebagai pengikut Kristus sejati dan sebagai warga Kerajaan Sorga maka kita harus taat mutlak untuk dididik oleh Raja di atas segala raja itu. Manusia sangat benci kalau disuruh mengikut seperti kategori di atas tersebut karena manusia selalu menanyakan keuntungan apa yang didapat kalau mengikut, resiko apa yang harus dihadapi, dan lain-lain, manusia kuatir akan hidupnya. Tuhan justru tidak suka hal ini, Tuhan menuntut satu hal, yaitu taat. Bayangkan, kalau saat itu Petrus melakukan bargain dengan Tuhan Yesus maka pasti hari ini kita tidak akan mengenal seorang yang bernama Petrus dalam sejarah dunia. Petrus merespon dengan sangat tepat panggilan Kristus. Inilah Kristen sejati, the true follower of Christ. Adalah anugerah, kalau kita dapat meresponi panggilan Tuhan dan taat mutlak pada-Nya karena secara hakekat, manusia sangat mementingkan dirinya sendiri. Bukan hal yang mudah bagi Kekristenan untuk memenuhi tuntutan kualitas sekaligus kuantitas. Umumnya, kedua hal tersebut sukar untuk terpenuhi sekaligus karena tuntutan kualitas pasti menyaring kuantitas. Alkitab menegaskan bahwa mengikut Kristus dibutuhkan ketaatan mutlak dan dalam ketaatan itulah Tuhan akan membentuk kita untuk semakin serupa Dia. Kita harus merespon dengan tepat panggilan Kristus.

2. Kristus adalah fokus hidup manusia.

Kita dipanggil oleh Kristus Raja di atas segala raja maka Dia ingin supaya mata kita hanya fokus memandang pada Kristus saja. Manusia seharusnya bersyukur kalau Raja di atas segala raja itu memanggil kita untuk masuk dalam Kerajaan Sorga dan menjadi warga-Nya. Sebagai warga Kerajaan Sorga, kita harus taat akan semua perintah dan peraturan dari Raja. Semua hukum dan peraturan Kristus yang adalah Raja atas alam semesta pastilah berbeda dengan raja dunia. Raja dunia hanya ingin mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya dari rakyat demi untuk diri sendiri namun Raja di atas segala raja itu ingin supaya manusia taat menyembah Dia saja adalah demi untuk kebaikan manusia itu sendiri. Manusia akan merasakan sukacita sejati. Bukan hal yang mudah bagi manusia untuk taat sepenuhnya pada Tuhan karena seringkali cara Tuhan tidak sesuai bahkan berlawanan dengan logika manusia. Akibatnya manusia tidak dapat berfokus pada Kristus yang adalah pusat fokus. Sama halnya kalau seperti sebuah kamera, kalau kita ingin memfokuskan lensa pada satu obyek gambar di depan maka gambar di belakang pasti kabur. Yang menjadi pertanyaan adalah dimanakah fokus hidup kita? Siapa yang menjadi fokus hidup kita? Manusia harus memilih antara Kritus atau diri yang harus menjadi fokus. Kita tidak dapat memilih kedua-duanya. Manusia berdosa selalu memilih hal yang berfokus pada diri sendiri. Biarlah kita mencontoh teladan Petrus dan murid-murid lain yang tidak pernah memikirkan kepentingan diri sendiri. Begitu pula Abraham, ia taat dan beriman pada pimpinan Tuhan sehingga ia rela meninggalkan semua kenyamanan di tanah Haran dan memilih mengikut Tuhan. Abraham tahu apa dan siapa yang seharusnya menjadi fokus hidupnya. Di dunia modern ini banyak hal ditawarkan pada manusia akibatnya orang yang tidak mempunyai iman yang teguh akan mudah diombang ambingkan oleh berbagai macam konsep dunia yang sepertinya benar padahal itu bukanlah kebenaran sejati. Sebagai contoh, tatanan dunia pendidikan menjadi rusak setelah Imanuel Kant merombak dari obyektifitas menjadi subyektifitas dan hal ini langsung ditunggangi oleh Rousseau dengan menjadikan diri sebagai pusat, me and... (myself, my family, etc). Roussoue mengajarkan active learning dimana murid harus mengembangkan segala kemampuan yang ada pada dirinya dan guru hanyalah fasilitator belaka atau dengan kata lain guru tidak lebih hanya seorang pembantu. Kalau sejak dari kecil anak sudah dididik demikian maka tidaklah heran kalau besar kelak si anak menjadi anak yang melawan Tuhan. Sesungguhnya, filsafat humanismelah yang menjadi dasar teori Rousseau. Alkitab justru mengajarkan berbeda dengan dunia, murid bukanlah pusat tetapi gurulah yang menjadi pusatnya.

Alkitab mencatat seluruh sejarah manusia, bagaimana asal mula manusia, bagaimana manusia berproses, yakni kejatuhan manusia dalam dosa, manusia diselamatkan dan manusia berakhir. Kitab Perjanjian Lama menuliskan tentang Allah mencipta, Allah memelihara, Allah menetapkan hukum, Allah menyelamatkan manusia, dan masih banyak lagi begitu juga dengan kitab Perjanjian Baru semua berpusat pada Kristus mulai dari kelahiran-Nya sampai dengan kedatangan-Nya yang kedua kali nanti. Jadi Allahlah yang menjadi pusat bukan manusia. Celakanya, sejak dari kecil kita telah dididik bahwa pusat dari segala sesuatu adalah diri. Karena itu mulai dari sekarang didiklah anak-anak yang telah Tuhan percayakan padamu hanya berfokus Tuhan. Betapa indahnya hidup kita kalau diri selalu berpusat pada Kristus. Pdt. Dr. Stephen Tong berpendapat seperti sebuah radio kalau kita tidak fokus pada gelombang dengan tepat maka kita tidak akan mendapatkan suara yang jernih. Biarlah kita senantiasa melatih diri kita untuk senantiasa memfokuskan hidup kita pada Kristus dengan demikian kita hanya menjalankan apa yang menjadi kehendak Tuhan saja. Sayang, hari ini banyak orang tua tidak memahami pentingnya pendidikan bagi anak sehingga mendidik anak yang seharusnya menjadi tugas dan tanggung jawab orang tua diserahkan pada sekolah. Adalah mujizat kalau kita dapat mengubah konsep berpikir kita dari berpusat pada diri menjadi berpusat pada Kristus.

3. Kristus satu-satunya teladan sempurna bagi manusia.  

Perkataan Tuhan Yesus, “Ikutlah Aku,...“ merupakan kalimat final dengan demikian manusia dapat peroleh pengharapan. Sebagai anak Tuhan, kita boleh mengucapkan hal yang sama seperti Kristus, yaitu “Ikutlah aku,...“ namun tidak boleh berhenti sampai di situ saja dan hal ini disadari oleh Paulus dan para murid yang lain. Kalimat yang benar adalah: “Ikutlah aku, sama seperti aku mengikut Kristus“. Berhatilah-hatilah dan jauhilah orang yang berkata, “Ikutlah aku“. Itu berarti dia telah menggeser posisi Tuhan dengan bermain menjadi Tuhan, playing God. Kejatuhan manusia pertama dalam dosa karena dia ingin menjadi seperti Tuhan. Hanya Kristus satu-satunya yang boleh mengatakan, “Ikutlah Aku“ karena Dialah satu-satunya kesempurnaan manusia sejati, Dialah teladan sempurna bagi manusia di dunia. Kristus tidak berdosa namun demi untuk menebus manusia berdosa, Dia dijadikan berdosa namun Dia bangkit dan Dia naik ke sorga membuktikan kesempurnaan diri-Nya. Dunia mengakui Yesus sebagai Guru Agung meski secara lingkup area pengaruh Yesus sangat kecil namun secara moral pengaruh-Nya sangat besar dibandingkan semua tokoh di sepanjang sejarah dunia. Yesus tidak hanya sekedar mengajar tetapi Dia menjalankannya dengan sempurna. Michael Hart menuliskan hal ini dalam bukunya 100 Tokoh yang Berpengaruh di Dunia. Mahatma Gandhi pun sangat berkesan dengan Alkitab yang setiap hari ia baca terutama kitab Amsal dan ajaran Tuhan Yesus di bukit. Jadi, orang yang mengaku diri sebagai pengikut Kritus tapi tidak dapat melihat teladan Kristus, ia bukanlah seorang Kristen sejati. Setiap manusia harus melihat Kristus sebagai fokus hidup dan mencontoh teladan Kristus Raja di atas segala raja. Jangan sia-siakan anugerah-Nya kalau Tuhan memanggil engkau untuk menjadi warga Kerajaan Sorga hari ini, “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.“ Amin. ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)