Ringkasan Khotbah : 26 September 2004

The Kingdom & the Workers 3

Nats: Mat. 4: 18-22

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Menggenapkan Kerajaan Allah di dunia tidak Yesus lakukan seorang diri saja meskipun secara Ilahi, Dia mampu dan hasilnya pasti jauh lebih baik dan sempurna dibandingkan kalau kita turut mengerjakannya. Kristus merekrut para murid untuk turut ambil bagian dalam menggenapkan Kerajaan Allah di dunia; Dia tidak lagi menyebut kita hamba tapi Ia menyebut kita sahabat karena seorang sahabat memahami apa yang menjadi kehendak sahabat-Nya. Dan cara Tuhan memilih dan memanggil orang-orang yang hendak Dia jadikan sebagai rekan sekerja berlawanan dengan cara manusia begitu juga dengan kriteria yang ditetapkan Tuhan berbeda dengan standar yang ditetapkan manusia. Standar dan syarat-syarat yang manusia anggap sangat penting bagi Tuhan Yesus nothing, tidaklah berarti apa-apa sebaliknya yang oleh manusia dianggap tidak penting justru bagi-Nya dianggap sangat penting. Terbukti orang-orang yang Yesus panggil untuk dijadikan murid adalah orang-orang yang berasal dari kalangan bawah yang dipandang hina dan remeh pada jaman itu. Andreas, Petrus, Yohanes dan Yakobus hanyalah seorang nelayan, Matius hanyalah seorang pemungut cukai, dan masih banyak lagi murid Kristus lain yang berasal dari kalangan bawah.

Hendaklah kita meneladani Kristus dan merubah konsep kita yang salah dengan demikian kita tidak salah menilai orang lain. Mata manusia hanya melihat penampilan luar tapi Tuhan melihat hati. Samuel melihat Eliab lebih cocok menjadi seorang raja karena perawakannya yang gagah tapi Tuhan berbeda, Ia justru memilih Daud yang kecil dan kemerah-merahan. Cara Tuhan menetapkan nilai lebih agung dari manusia. Manusia hanya bisa melihat segala sesuatu yang berkaitan dengan keterbatasan dirinya sedang Tuhan melihat segala sesuatu di dalam seluruh kerangka kerajaan-Nya. Manusia seringkali hanya berpikir secara pragmatis, yaitu apa yang menjadi kebutuhan dunia saat ini dan yang menguntungkan maka dengan segala daya orang akan mengusahakan dan mengejarnya. Akibatnya, orang tidak mencapai kesuksesan dengan tuntas karena bidang  yang seharusnya menjadi keahliannya malahan tidak dapat dikerjakan dengan maksimal. Sangatlah disayangkan, kalau demi untuk mendapatkan nilai matematika baik maka sepanjang hari itu dihabiskan untuk mempelajari bidang yang sebenarnya tidak dia kuasai demi untuk mendapatkan nilai yang lebih baik. Sebaliknya mungkin di bidang lain, misalnya: musik atau bahasa seharusnya ia sangat berpotensi justru tidak dapat berkembang. Cara Tuhan berbeda, itulah sebabnya Tuhan Yesus memilih Petrus seorang nelayan bukan Kayafas si ahli Taurat atau orang-orang pandai lain pada jaman itu.

Yesus berkata kepada mereka: “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia“ (Mat. 4:19). Perkataan Tuhan Yesus mengandung makna yang sangat dalam, kenapa Tuhan memanggil, bagaimana Tuhan memanggil dan apa implikasi dari panggilan Tuhan? Dan dalam kalimat ini mengandung tiga segmen: pertama, “Mari“ atau “Come“ (bhs Inggris); kedua, Ikutlah Aku, follow Me; ketiga, Kujadikan penjala manusia, I will make you a fisher of man. Melalui tiga segmen ini Kristus hendak menyatakan bagaimana cara Dia memanggil murid dan siapa yang akan dipakai untuk turut ambil bagian dalam Kerajaan-Nya. Terlebih dahulu kita akan memahami segmen pertama dari ketiga segmen, yaitu “Come,...“ dalam bahasa Indonesia lebih tepatnya adalah “Kesini,...“Perhatikan, Tuhan mengatakan kalimat ini pada mereka yang nantinya menjadi orang-orang yang berada di lingkaran dalam Tuhan Yesus, inner circle, yaitu Petrus, Yohanes dan Yakobus adalah kecuali satu orang, yakni Andreas. Kristus menempatkan diri-Nya pada positioning yang tepat, “Kesini,...“ dengan demikian orang menyadari siapa yang berhadapan dengan dirinya dan bagaimana relasi dirinya dengan orang yang memanggil tersebut. Kristus tidak pernah menyebut diri-Nya Anak Allah tapi Ia selalu menyebut diri-Nya sebagai Anak Manusia. Hal inilah dipakai untuk menyerang Kekristenan, yaitu bahwa Kristus bukanlah Allah. Ironi! Manusia seharusnya sulit melihat Yesus sebagai Anak Manusia karena banyak hal yang Dia lakukan tidak dapat dilakukan oleh manusia. Pengakuan bahwa Yesus adalah Anak Allah adalah sah kalau keluar dari mulut orang lain.

I. Supremasi Kerajaan.

Kristus menggunakan otoritas tertinggi, yaitu otoritas Kerajaan Sorga pada saat Ia memanggil murid, “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia“. Kristus menggunakan struktur ordo yang begitu kuat di dalam melakukan tindakan relasi. Di dunia barat, siapapun  boleh mengundang tanpa memandang usia, seorang anak muda dapat mengatakan,“Come,...“ pada seorang yang lebih tua. Berbeda di dunia timur, seorang anak yang baru beranjak dewasa tidak dapat mengatakan hal demikian pada seorang yang sudah berusia. Menurut tradisi Yahudi, seorang dikatakan dewasa ketika berumur 30 tahun dan usia Tuhan Yesus 30 tahun saat Ia memilih para murid dan orang belum banyak mengenal Dia. Tuhan Yesus mau menunjukkan pada mereka bahwa panggilan-Nya adalah panggilan Kerajaan Allah bukan panggilan yang sifatnya kerjasama. Kingdom Authority, otoritas Kerajaan Sorga ini sangatlah penting karena untuk menggenapkan Kerajaan Allah di tengah alam semesta ini merupakan pekerjaan besar, yaitu pekerjaan yang bersangkut paut dengan kehidupan manusia di sepanjang jaman dan tanpa pertolongan Tuhan, manusia tidak dapat mengerjakannya. Karena itu Yesus memanggil dengan menggunakan otoritas Kerajaan Surga sehingga tidak ada tawar menawar, bargain. Bukankah di dunia sekuler pun kita tidak diberikan kesempatan untuk bargain bahkan tidak diperbolehkan tawar menawar saat mendapat tugas penting? Kini, apalagi tugas yang Tuhan berikan merupakan pekerjaan yang maha penting karena menyangkut kehidupan manusia maka mutlak, kita harus melakukannya.

II. Anugerah Illahi

Pekerjaan yang maha penting ini diserahkan kepada manusia yang secara kategori tidak  mempunyai kualifikasi yang cukup memadai. Orang yang melakukan tawar menawar, bargain justru akan menjadikan dirinya sombong karena ia merasa dirinya yang paling dibutuhkan dan cuma ia satu-satunya yang dapat mengerjakan pekerjaan penting tersebut. Merupakan suatu paradoxical karena di satu sisi pekerjaan ini menyangkut seluruh umat manusia di dunia yang berlingkup besar namun dikerjakan oleh orang-orang yang “tidak berkualifikasi“ seperti kita. Andai Tuhan menuntut kualifikasi seperti halnya yang dilakukan di dunia sekuler maka tidak ada seorang pun yang lolos dari kualifikasi menurut standar Tuhan. Kita seharusnya patut bersyukur dan bersukacita karena Ia berkenan memakai kita untuk mengerjakan pekerjaan Kerajaan Sorga yang sangat mahal harganya karena menyangkut nyawa manusia.

Namun kita harus menyadari kalau Tuhan memanggil kita menjadi murid itu merupakan anugerah terlalu besar, tidak semua orang dipilih-Nya untuk turut ambil bagian dalam Kerajaan Allah karena itu janganlah engkau menyombongkan diri. Kita mempunyai tugas lebih penting dari semua pekerjaan apapun yang ada di dunia yang sifatnya sekuler. Hal itu seharusnya menyadarkan kita akan konsep nilai bahwa ada pekerjaan yang lebih bernilai yang harus kita kerjakan. Siapakah kita sehingga Tuhan berkenan memakai kita menjadi pekerja-Nya? Ingat, kita bukanlah siapa-siapa sehingga kalau Tuhan berkenan memilih kita menjadi pekerja-Nya maka kita harus mengerjakannya dengan sebaik-baiknya dan kita harus menuntut diri untuk terus bertumbuh dan para murid menyadari hal ini, mereka bukanlah tidak layak tapi Tuhan justru mau memakai manusia yang tidak layak ini untuk menggenapkan Kerajaan-Nya di dunia.

III. Ketaatan Hamba

Untuk melakukan pekerjaan yang sangat penting ini, kualitas pertama yang Tuhan tuntut dari seorang murid adalah ketaatan, obedience. Dan hal yang paling sulit saat merekrut orang adalah kita tidak mengetahui apakah ia seorang yang taat atau tidak? Mencari orang yang berkualifikasi sekaligus orang yang mau taat tidaklah mudah karena umumnya, orang yang pandai akan sulit untuk taat sebaliknya orang yang mau taat biasanya adalah orang yang tidak mempunyai kemampuan atau kepandaian. Secara manusia, mereka adalah orang-orang yang dibuang oleh masyarakat, mereka dipandang sangat hina namun cara pandang Yesus berbeda, Ia melihat dengan bijaksana sejati bahwa mereka mempunyai potensi dan kapasitas yang sangat besar. Orang sulit memahami bagaimana cara Tuhan bekerja sehingga dapat mengubahkan hidup manusia hal itu juga menyebabkan kesulitan bagi kebanyakan orang pada umumnya bagaimana seorang nelayan seperti Petrus dapat mempertobatkan tiga ribu orang dan mereka meminta diri dibaptis. Alkitab menegaskan hal Kerajaan Sorga ini dengan keras. Alkitab tidak memakai konsep demokrasi karena salah satu kelemahan sistim demokrasi adalah keputusan berada di tangan suara terbanyak sehingga orang-orang yang tidak mempunyai kemampuan di bidangnya berhak mengambil keputusan. Seorang filsuf Romawi, Markus Aurelius, tidak menyetujui adanya sistim demokrasi karena orang-orang “grass root“, orang-orang kelas akar rumput yang dalam hal ini tidak mempunyai pengertian atau kemampuan turut menentukan dan mengambil suatu keputusan. Dan sebagai gantinya, ia mengusulkan philosopher – king, yakni seorang pemimpin haruslah juga seorang yang bijaksana dan menguasai filsafat dengan demikian diharapkan ia dapat memilih dengan tepat orang-orang yang duduk dalam kepemimpinan. Sekali lagi saya tegaskan, konsep dunia berlawanan dengan konsep Tuhan meskipun konsep philosopher king ini sangat baik namun Tuhan Yesus tidak memakai konsep tersebut.

Kita harus menyadari panggilan Tuhan sebagai suatu anugerah. Manusia humanis tidak suka dengan doktrin predestinasi, yaitu Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan karena ini berarti ia tidak mempunyai pilihan lain selain pilihan dari Tuhan. Maka tidaklah heran, orang sukar sekali melakukan perintah Tuhan yang tertulis dalam Alkitab seperti “Hai, istri tunduklah pada suamimu...“ (Ef. 5:22) atau “Hai, suami kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat..“ (Ef. 5:25). Konsep ordo ini nampak jelas dalam Allah Tritunggal. Secara natur, Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus sama namun secara ordo, tidak sama. Allah Roh Kudus harus tunduk pada Allah Anak karena Roh Kudus tidak akan mengerjakan apapun selain yang diperintahkan oleh Allah Anak dan Allah Anak harus tunduk pada Allah Bapa, Kristus tidak melakukan apapun yang dari diri-Nya sendiri. Jadi, otoritas tertinggi berada di tangan Allah Bapa karena itu dalam diri Allah Tritunggal tidak akan terjadi konflik kebenaran, kepemimpinan maupun otoritas. Inilah paradoxical relation, secara natur sama tapi secara ordo berbeda.

Manusia sudah dikuasai konsep humanisme dimana segala sesuatu harus sesuai logika akibatnya manusia selalu melawan konsep Tuhan. Sebagai contoh, Alkitab tidak pernah menentang perbudakan bahkan Alkitab mencatat ketika Onesiforus melarikan diri, Paulus mendidik dan mengembalikan dia pada tuannya. Dunia sudah mengalami pergeseran makna akibatnya orang tidak menyadari status dirinya yang hanya seorang budak. Di hadapan Tuhan kita adalah seorang budak atau hamba. Karena itu anugerah terlalu besar diberikan pada kita kalau kita yang adalah budak dipilih-Nya untuk turut ambil bagian dalam Kerajaan Allah dan seorang budak tidak mempunyai hak apapun, ia harus tunduk dan taat mutlak pada tuannya. Hari ini yang menjadi kekuatiran adalah orang Kristen tidak mempunyai jiwa taat dan mereka mau taat kalau ia diuntungkan. Itu bukanlah ketaatan. Tuhan tidak suka dengan seorang yang mempunyai jiwa pemberontak. Syarat utama menjadi murid Tuhan adalah ketaatan mutlak. Tentang hal mengikut, Tuhan Yesus menegaskan bahwa setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku (Luk. 9:23) dan setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh kebelakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah (Luk. 9:62).  

Gereja Tuhan harus berdiri di atas kebenaran. Kebenaran inilah yang akan mengikis orang-orang yang tidak punya motivasi benar. Tuhan Yesus berkata, “Kesini,...“ yang menjadi pertanyaan adalah hari ini berapa banyak orang yang meresponi panggilan-Nya? Orang selalu berpikir untung-rugi ketika hendak mengikut Dia dan yang dilihat manusia selalu kerugian karena manusia berpikir dengan menggunakan logikanya yang terbatas. Orang tidak dapat melihat kemuliaan Sorga di balik penderitaan; orang tidak memahami penderitaan di dunia hanyalah bersifat sementara. Maka tidaklah heran kalau mayoritas orang menolak Dia. Namun tidak demikian halnya dengan Petrus, Andreas, Yohanes dan Yakobus, mereka langsung meninggalkan semua kesibukannya dan mengikut Dia. Tuhan sudah memilih dan memanggil kita untuk turut ambil bagian dalam menggenapkan Kerajaan Allah di dunia, maukah engkau meninggalkan semua ego dan berkata, “Tuhan, aku mau taat pimpinan-Mu dan biarlah kehendak-Mu saja yang jadi“. Biarlah itu menjadi tekad  dan doa kita. Amin. ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)