Ringkasan Khotbah : 19 September 2004

The Kingdom & the Workers 2

Nats: Mat. 4: 18-22

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Kerajaan Allah yang ditegakkan oleh Kristus di tengah dunia adalah bersifat rohani. Itulah sebabnya berita pertama yang diserukan oleh Kristus ketika Ia memulai pelayanan-Nya, yaitu: “Bertobatlah sebab Kerajaan Surga sudah dekat“. Hal Kerajaan Sorga itu seumpama biji sesawi, ... biji itu paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar dari pada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya (Mat. 13:31-32). Dan Kristus datang ke dunia untuk menggenapkan Kerajaan Allah dimana Kristus yang menjadi Raja. Inilah figurasi pertumbuhan Kerajaan Allah yang terjadi di dalam proses sejarah. Cara Kristus membangun kerajaan-Nya berbeda dengan dunia. Orang akan meletakkan pusat bisnisnya di ibu kota sebaliknya Kristus memulainya dari sebuah desa kecil di Kapernaum.

Kita harus merubah konsep dan cara berpikir kita yang salah tentang hal Kerajaan Allah. Prinsip kepemimpinan dunia berbeda dengan yang Kristus ajarkan. Orang berpendapat bahwa setiap gerakan di dunia tidak akan berumur panjang yakni tidak lebih dari seratus tahun atau sebatas tiga generasi saja, sebagai contoh gerakan komunis. Generasi pertama sebagai pelopor gerakan, generasi kedua yang mempertahankan gerakan maka sampai pada generasi ketiga gerakan menjadi hancur. From movement to monument. Apakah semua gerakan di dunia akan berakhir demikian? Orang lupa, tidak semua gerakan akan berakhir dengan kehancuran. Gerakan yang didirikan oleh Tuhan Yesus telah berumur ribuan tahun dan tidak menjadi hancur bahkan telah berkembang dan menjadi besar. Suatu kesalahan kalau kita memakai konsep dan prinsip dunia serta menggunakan parameter dunia lalu dengan berani menyimpulkan semua gerakan pasti berakhir dengan kehancuran. Memang benar semua gerakan yang menurut prinsip dunia pasti hancur namun tidak kalau gerakan tersebut menurut prinsip Kerajaan Allah. Suatu gerakan yang dimulai dari prinsip Kerajaan Allah maka gerakan tersebut tidak akan berakhir dengan kehancuran karena kita sedang menjalankan misi Tuhan. 

Dunia modern selalu memandang remeh prinsip dan cara yang dicetuskan oleh orang-orang pada jaman dulu. Dunia modern menganggap bahwa prinsip mereka sudah terlalu kuno sehingga tidak dapat diterapkan pada jaman sekarang. Salah! Teori pengembangan manajemen ekonomi, politik dan lain-lain yang muncul hari ini sebenarnya telah dicetuskan oleh para filsafat Romawi – Yunani kuno. Bahkan pada jaman modern ini tidak ada orang-orang sehebat seperti Socrates, Aristotle, dan para filsuf lain yang muncul pada abad pertengahan. Untuk menggenapkan Kerajaan Sorga di dunia, Kristus tidak mengerjakannya seorang diri meskipun untuk itu Dia mampu bahkan kalau Dia yang mengerjakannya hasilnya pasti lebih baik dibandingkan kalau kita yang turut juga mengerjakannya karena Dia adalah Tuhan. Merupakan suatu anugerah kalau Kristus memilih dan memakai kita menjadi rekan sekerja-Nya untuk turut menggenapkan Kerajaan Sorga di bumi. Jadi, jangan seorang pun menyombongkan diri sebab itu bukan kepandaian atau kehebatan kita karena itu.

Lalu kriteria murid seperti apakah yang Kristus pilih untuk menjadi rekan sekerja-Nya? Sekali lagi saya tegaskan cara Kristus berbeda dengan dunia. Orang pasti memilih orang-orang yang secara teknis berkualitas untuk menjadi rekan sekerja, seperti lulusan dari sekolah apa, jurusan apa, dan lain-lain. Sebaliknya, Tuhan Yesus justru memilih murid-murid yang secara teknis tidak berkualifikasi bahkan pekerjaan mereka dipandang hina dan rendah oleh dunia. Ketika kita mengajak seseorang untuk turut ambil bagian dalam Kerajaan Allah apakah kita menggunakan cara dunia, yakni hanya memilih orang yang bertalenta saja? Mati hidupnya suatu gerakan tergantung dari orangnya sebab orang-orang inilah yang nantinya akan menjalankan dan mengembangkan gerakan. Dan untuk mencari orang yang tepat tidaklah mudah. Kita harus mencontoh teladan Tuhan Yesus, Dia tidak memanggil ahli-ahli Taurat seperti Gamaliel atau Nikodemus menjadi murid-Nya. Tuhan Yesus menyusur danau Galilea dan Ia melihat Simon yang disebut Petrus, dan Andreas. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. Orang terbiasa menggunakan cara dan konsep dunia tak terkecuali ketika memilih orang untuk turut ambil bagian dalam pelayanan pun kita menggunakan parameter dunia. Andai, Tuhan Yesus menggunakan parameter dunia maka di antara kedua belas murid, tidak ada seorang pun yang layak menjadi murid-Nya sebab mereka hanyalaha seorang penjala ikan dan pemungut cukai. Orang-orang yang dipandang hina oelh dunia inilah yang justru dipakai Tuhan Yesus untuk turut ambil bagian dalam Kerajaan Allah. Standar yang ditetapkan manusia berbeda dengan Tuhan Yesus. Yang menjadi dasar kualifikasi seseorang untuk turut ambil bagian dalam Kerajaan Allah adalah:

1. Pekerja Sejati

Tuhan Yesus tidak memanggil orang yang tidak ada pekerjaan alias pengangguran atau orang yang sedang mencari pekerjaan. Tidak! Perhatikan, Tuhan Yesus justru memanggil orang yang sedang sibuk bekerja, orang yang bekerja keras membanting tulang. Petrus, Andreas, Yakobus dan Yohanes adalah orang-orang yang sangat ahli dalam pekerjaanya dan ketika Tuhan menuntut mereka untuk meninggalkan pekerjaannya dan mengikut Dia, mereka taat. Celakalah orang yang melayani hanya sekedar untuk mengisi waktu luang atau karena ia sedang tidak mempunyai pekerjaan. Orang-orang demikian tidak akan pernah tahu tanggung jawab akibatnya ia akan memanipulasi pekerjaan demi untuk kepentingan dirinya. Akibatnya setiap pekerjaan dianggap sebagai beban yang menyusahkan dirinya sehingga ketika ia telah berbuat sedikit jasa maka ia merasa diri paling berjasa dan menuntut imbalan. Hanya orang-orang yang mau dilatih dan dibentuk oleh Tuhan sajalah yang akan berhasil dalam pelayanan. Alkitab mencatat semua orang yang dipanggil adalah orang-orang yang sibuk, orang-orang yang mengerti apa artinya bekerja dan melayani. Inilah prinsip pekerjaan Tuhan. Biarlah kita mengubah paradigma kita yang salah dengan demikian kita tahu bagaimana seharusnya mengerjakan pekerjaan yang Tuhan percayakan pada kita untuk kita kerjakan dengan tepat. Tuhan memakai orang-orang yang tahu apa arti bekerja karena itu kerjakanlah pekerjaanmu sebaik-baiknya karena semua pekerjaan itu sudah dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau supaya kita hidup di dalamnya (Ef. 2:8).   

2. Warga Kerajaan yang Sejati

Para murid rela meninggalkan semua pekerjaan yang menjadi keahlian mereka ketika Tuhan memanggil mereka dan akan dijadikan penjala manusia; mereka taat dan mengikut Yesus. Inilah jiwa pekerja sejati karena bukan hal mudah seseorang tunduk dan taat pada atasan. Tuhan Yesus tidak pernah menjanjikan hidup senang dan nyaman kalau mengikut Dia; Tuhan Yesus belum banyak dikenal orang saat Ia memilih dan merekrut murid-murid-Nya dan Dia belum banyak melakukan mujizat. Tuhan Yesus justru menegaskan syarat mengikut Dia harus memikul salibnya dan menyangkal diri sebab serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya (Mat. 8:20). Andai orang disuruh memilih maka kita pasti lebih memilih ikut dengan orang yang jelas akan masa depannya dengan demikian masa depan kita pun pasti terjamin pula. Hidup kita bukan hidup untuk diri kita sendiri begitu pula dengan pekerjaan yang kita punya bukan sekedar untuk mengenyangkan perut kita. Sadarlah pekerjaan sedang kita kerjakan sekarang ini asalnya dari Tuhan dan semuanya itu sudah dipersiapkan Tuhan sebelumnya.

Seseorang akan dipakai Tuhan dengan indah kalau di dalam dirinya mempunyai semangat melayani dan mempunyai jiwa yang taat akan pimpinan Tuhan. Janganlah kita sombong dengan kesuksesan yang kita peroleh dalam pelayanan. Itu bukan karena kepandaian kita melainkan Tuhan yang memampukan kita dalam pelayanan kita. Kesombongan akan menghancurkan semua pekerjaan Tuhan. Bayangkan, kalau kita mempunyai pekerja pandai tapi mempunyai jiwa pemberontak maka lama kelamaan perusahaan akan hancur. Tuhan Yesus tidak menjanjikan apapun ketika Ia memanggil Petrus – Andreas dan Yakobus – Yohanes, Dia hanya mengatakan bahwa mereka akan dijadikan penjala manusia. Sebaliknya mereka pun tidak menanyakan keuntungan apa yang akan mereka dapatkan. Tidak! Jiwa yang mau taat yang seperti inilah akan dipakai Tuhan dengan luar biasa. Sebagai anak Tuhan, kita seharusnya mempunyai etos kerja bahwa pekerjaan itu asalnya dari Tuhan dan kita mengerjakan itu untuk Tuhan sehingga kita tidak sembarangan dalam bekerja. Imbalan/gaji bukanlah yang utama. Percayalah Tuhan akan memakai orang-orang untuk menjadi saluran berkat bagi kita. Alkitab menegaskan prinsip pekerjaan Tuhan adalah ketaatan mutlak, janganlah anda tawar menawar dengan Tuhan. Dia tahu apa dan mana yang terbaik buat kita. Hendaklah keberadaan kita dimanapun kita berada menjadi kesaksian yang indah. Hati-hati jangan terjebak dengan konsep dunia yang mengajarkan terbalik dengan Alkitab. Dunia tidak akan mau kalau ia dirugikan itulah sebabnya dunia selalu tawar menawar dan orang akan bekerja jika ada kata sepakat. Prinsip pekerjaan Tuhan tidak mengenal kata sepakat sebaliknya pekerjaan Tuhan menuntut tanggung jawab bukan hak. Semua kepandaian yang ada pada diri kita kalau tidak disertai dengan ketaatan hanyalah sia-sia. Syarat utama untuk menjadi seorang pekerja sejati di dalam Kerajaan Tuhan adalah ketaatan. Jiwa yang taat pada pimpinan Tuhan akan mendatangkan kebahagiaan dan sukacita dalam hidup kita.

3. Hikmat yang Sejati

Bijaksana bukan dari diri kita melainkan dari Tuhan karena itu mintalah pada Tuhan hati yang berbijaksana. Dalam ketaatan kita sebagai seorang pekerja yang dipakai Tuhan diperlukan juga hati yang bijaksana sehingga kita dapat berespon tepat dalam setiap perkara yang kita hadapi di dunia. Kepandaian bukanlah jaminan seseorang dapat berespon dengan tepat dalam setiap masalah yang ia hadapi justru biasanya mereka berespon salah karena ia berespon menurut logika bukan ketaatan. Respon yang dibangun dari logika diri pasti hanya untuk kepentingan diri sendiri. Untuk dapat berespon dengan tepat bukanlah hal yang mudah dibutuhkan waktu yang lama. Kedua belas murid Tuhan Yesus adalah orang-orang yang bekerja dan ketaatan mereka tidaklah diragukan. Tuhan Yesus sendiri yang menguji ketaatan mereka, yaitu ketika Tuhan Yesus selesai membuat mujizat lima roti dua ikan, banyak orang mengikuti Dia karena mereka kenyang namun dalam khotbah-Nya Tuhan Yesus menegur dengan keras tentang roti hidup akibatnya banyak orang meninggalkan Dia. Di saat banyak orang pergi meninggalkan Dia, Tuhan Yesus tidak menjadi sedih, Dia justru menanyakan pada kedua belas murid apakah mereka tidak mengikut orang banyak yang sudah pergi meninggalkan-Nya? (Yoh. 6:25-71).

Di satu pihak mereka taat namun ketika mereka berada dalam keadaan yang terjepit, mereka menjadi goncang sehingga mereka menyangkali Tuhan. Petrus menyangkal bukan karena ia tidak taat Tuhan. Tidak! Buktinya Petrus mengikuti proses peradilan Yesus, Petrus mengikuti kemanapun Yesus dibawa untuk diadili. Petrus menunjukkan respon yang tidak tepat, yaitu ia mencegah dengan menarik tangan Tuhan Yesus ketika Dia mengatakan bahwa Anak Manusia akan ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari imam-imam kepala dan para ahli Taurat. Alkitab menuntut anak-anak Tuhan untuk berespon dengan tepat sehingga kita mengambil sikap dengan tepat. Hanya hikmat sejati dari Tuhan yang dapat membimbing kita sehingga kita tidak salah dalam mengambil keputusan. Tuhan tidak suka dengan orang-orang yang tidak mau mengembangkan talenta dengan alasan talenta yang diberikan sedikit. Tuhan mengambil semua yang ada pada dirinya dan memberikannya pada orang yang mempunyai lima talenta. Jangan pernah berpikir Tuhan akan memakai orang-orang pengangguran untuk turut ambil bagian dalam Kerajaan Sorga.

Tuhan justru memakai orang-orang yang paling sibuk dan mempunyai jiwa ketaatan; Tuhan membentuk karakter setiap kita untuk makin serupa Dia. Tuhan Yesus mau dan rela membentuk kita seperti Ia membentuk murid-Nya selama tiga tahun asal kita juga rela dan mau dibentuk oleh-Nya. Tuhan dapat memakai setiap orang baik itu orang yang dianggap bodoh oleh dunia atau orang pandai seperti Paulus. Namun untuk memproses dan membentuk orang yang mempunyai kapasitas lebih tidaklah mudah diperlukan pengorbanan. Setelah bertobat, Tuhan tidak membiarkan dia langsung melayani; Tuhan memberikan waktu untuk Paulus merenung selama kurang lebih tiga belas tahun. Tuhan membentuk Paulus sehingga ia benar-benar layak dipakai melayani Tuhan. Cara Tuhan melatih setiap orang berbeda dan Dia tahu kapan waktu yang tepat bagi seseorang untuk melayani. Hendaklah kita mencontoh teladan Tuhan Yesus yang taat pada Bapa; Ia taat sampai mati di kayu salib. Bapa berkenan pada-Nya dan meninggikan Dia. Mintalah pada Tuhan bijaksana supaya kita menjadi peka dan dapat merespon dengan tepat dalam setiap masalah dan tantangan yang kita hadapi. Maukah kita dibentuk oleh-Nya dan dipakai menjadi alat untuk menggenapkan Kerajaan Sorga di bumi?  Amin. ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)