Ringkasan Khotbah : 12 September 2004

Yesus & Perempuan Samaria

Nats: Yoh 4: 1-42; 20: 30-31

Pengkhotbah : Ev. Hendry Ongkowidjojo

 

Pendahuluan

Setiap Firman Tuhan memang ditulis untuk suatu maksud dan tujuan yang jelas yang berkenaan dengan orang Kristen namun tidak semua kitab ditulis secara eksplisit untuk maksud dan tujuan apa kitab tersebut ditulis. Kalau kita dapat mengerti untuk maksud dan tujuan apa suatu kitab ditulis maka itu bukan karena kepandaian kita melainkan karena pekerjaan Roh Kudus. Tujuan para nabi dan para rasul menulis kitab ini juga merupakan tujuan Tuhan karena mereka menulis inipun tidak luput dari pimpinan Tuhan. Sebelum kita masuk dalam perenungan Injil Yohanes maka ada baiknya kalau kita memahami terlebih dahulu untuk maksud dan tujuan apa Injil Yohanes ini ditulis, yaitu supaya kamu terus percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah dan supaya kamu oleh imanmu boleh tetap hidup di dalam nama-Nya (Yoh. 20:30-31).

Dalam bahasa aslinya ayat ini menggunakan keterangan waktu present sehingga orang sudah percaya tidak boleh berhenti untuk percaya; kepercayaan tersebut harus bersifat present dan terus menerus. Tujuan Injil Yohanes ini ditulis supaya orang percaya bahwa Yesuslah Mesias. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah mereka yang sudah percaya Yesus adalah Mesias tidak perlu membaca Injil Yohanes? Tidak! Firman Tuhan justru harus kita baca setiap hari dan berulang kali karena sebenarnya hal-hal mendasar yang kita anggap telah mengerti ternyata tidaklah sesederhana yang kita pikirkan. Sebagai contoh, kita percaya bahwa Allah adalah Allah yang Maha Kuasa namun mengertikah kita apa arti Maha Kuasa itu? Kalau Allah Maha Kuasa, kenapa Ia tidak mencegah terjadinya kejahatan? Kita dapat memahami sisi lain kemahakuasaan Allah ketika Daud berbuat dosa ternyata Allah yang Maha Kuasa itu menghukum Daud. Hal ini berarti kita tidak boleh hidup secara sembarangan karena Allah dapat menyatakan kuasa-Nya kepada manusia. Namun di sisi lain, Allah yang Maha Kuasa itu mengampuni Daud dan masih banyak lagi yang tertulis dalam Alkitab yang menunjukkan sisi lain kemahakuasaan Allah dengan demikian sifat Allah yang Maha Kuasa yang tadinya abstrak sehingga sukar untuk kita pahami kini semakin lama menjadi semakin nyata dan konkrit.

Latar Belakang

Orang Farisi sangat membenci Tuhan Yesus karena mereka mendengar kalau Tuhan Yesus telah membaptis dan memperoleh murid lebih banyak dari pada Yohanes – meskipun Yesus sendiri tidak membaptis, melainkan murid-murid-Nya sehingga hal itu dianggap sebagai ancaman – Iapun meninggalkan Yudea dan kembali lagi ke Galilea. Tanah Yudea terletak di bawah Galilea dan daerah Samaria ada diantaranya. Yohanes mencatat, Tuhan Yesus harus melintasi daerah Samaria. Kata “harus“ di sini bukan berarti karena tidak ada jalan lain karena  Luk. 9:52-56 mencatat ada jalan lain yang dapat ditempuh oleh murid-murid Yesus ketika mereka ditolak oleh orang-orang Samaria. Dan juga bukan karena Tuhan Yesus terdesak oleh waktu sehingga Ia harus melewati daerah Samaria. Memang perjalanan menjadi lebih singkat kalau melewati daerah Samaria. Jadi, “harus“ di sini tidak lepas dari rencana Allah, yaitu karunia Tuhan harus dinyatakan di daerah Samaria.

Yohanes ingin memberikan gambaran pada si pembaca bahwa peristiwa yang terjadi pada saat itu sebagai kejadian yang lazim. Yesus sangat letih karena itu Ia duduk di pinggir sumur dan wajar juga kalau siang hari itu, Ia haus dan meminta minum pada perempuan Samaria. Namun ironis, kita justru ingin Tuhan menjawab seru doa kita dengan cara dan tanda-tanda “tidak wajar“ saat Tuhan menyatakan kehendak-Nya dengan demikian kita tidak menjadi ragu-ragu lagi bahwa memang itu benar-benar dari Tuhan. Cara Tuhan menyatakan kehendak-Nya kepada setiap orang berbeda-beda dan tanpa kita sadari, sebenarnya Tuhan sudah bekerja dalam hidup kita namun seperti perempuan Samaria yang tidak menyadari karunia Tuhan turun atas dirinya. Kita berharap mendapat perlakuan yang berbeda dengan dunia seperti mendapatkan berkat lebih dibanding mereka yang tidak mengenal Tuhan. Akan tetapi kita tidak melihat adanya perbedaan akibatnya kita menyimpulkan bahwa Tuhan tidak beserta. Percayalah, kita akan melihat perbedaan tersebut di surga nanti. Jadi, tanda lain yang dibuat Yesus yang tertulis dalam Yoh. 20:30 tidak hanya menunjuk pada mujizat tapi “tanda“ disini juga menunjuk pada semua yang Yesus lakukan sehingga kalau kita tidak peka maka kita tidak akan pernah merasakan indahnya pimpinan Tuhan.

Percakapan Tuhan Yesus dan Perempuan Samaria

Perempuan Samaria ini merasa heran ketika Yesus, seorang Yahudi meminta minum padanya sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria. Orang Israel sangat menganggap rendah orang Samaria bahkan ada tradisi, jikalau salah seorang dari anggota keluarga menikah dengan orang Samaria maka keluarga akan mengadakan kebaktian perkabungan, berarti ia dianggap telah mati. Ketika perempuan Samaria ini mengingatkan Tuhan Yesus bahwa dirinya adalah orang Samaria dan Dia adalah orang Yahudi maka Tuhan Yesus membukakan satu hal bahwa karunia Allah untuk semua orang bukan hanya orang Yahudi tetapi juga untuk orang Samaria. Perempuan Samaria ini tidak menyadari bahwa yang sedang berbicara padanya tersebut adalah sumber karunia. Seandainya ia tahu bahwa Yesus adalah Mesias maka perempuan ini pasti akan meminta karunia pada-Nya dan Ia pasti akan memberikan padanya air hidup itu.

Yang menjadi pertanyaan adalah apakah kita seperti perempuan Samaria yang tidak tahu bahwa ada karunia yang Tuhan sediakan untuk kita? Orang seringkali berpendapat bahwa karunia Allah hanya menyangkut hal-hal yang berhubungan dengan masa depan, yaitu hidup kekal dimana di surga nanti kita akan hidup bahagia selama-lamanya. Orang lupa bahwa karunia Allah sudah kita terima dan kita rasakan saat ini. Ingat, tujuan Yohanes menulis Injil ini adalah supaya kita terus percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah. Tahukah kita bahwa dalam setiap penderitaan dan pergumulan berat yang sedang kita alami ada karunia Allah di dalamnya? Tahukah kita bahwa saat ini kita sudah begitu dekat dengan Dia Sang Sumber Karunia itu ataukah kita seperti perempuan Samaria yang tidak menyadari keberadaan dengan Sang Sumber Karunia? Pernahkah kita merasakan indahnya karunia Allah dalam kehidupan kita?

Orang tidak pernah mendapatkan dan merasakan indahnya karunia Allah sebab: pertama, orang tidak tahu bahwa ada yang namanya karunia Allah. Orang salah mengartikan karunia Allah hanya sebatas pada hal-hal yang berhubungan dengan masa depan, yaitu kehidupan surga. Tidak! Karunia Allah diberikan juga untuk kehidupan kita sekarang ini. Kedua, orang tidak menyadari bahwa sumber karunia itu begitu dekat bahkan Dia sudah ada bersama kita saat ini. Tuhan tidak pernah lupa untuk selalu memberikan karunia-Nya kepada setiap anak-anak-Nya, Dia tidak pernah meninggalkan kita karena itu di dalam setiap pergumulan tetaplah bersandar pada-Nya. Dengan demikian kita dapat beroleh air hidup. Sayangnya, hari ini banyak orang Kristen yang tidak menyadari kedekatannya dengan Sang Sumber Karunia maka tidaklah heran kalau mereka mati dalam kesulitan yang sebenarnya mereka buat sendiri.

Setelah Tuhan Yesus membukakan rahasia tentang karunia Allah, perempuan Samaria ini tidak langsung mengerti karena baginya, air hidup yang Yesus maksudkan berbeda dengan pengertiannya maka:

pertama, mulai timbul keragu-raguan dalam dirinya. Tuhan tidak punya timba sedang sumur Yakub amat dalam lalu dari mana dapat beroleh air hidup itu? (Yoh. 4:11). Air hidup di sini mempunyai pengertian sumber mata air, yaitu air yang terus menerus mengalir. Menurut penelitian, sumur Yakub merupakan sumur yang paling dalam di antara semua sumur yang ada di Israel. Hal ini wajar mengingat daerah Israel merupakan daerah gurun sehingga tidak mudah untuk mencari sumber air. Begitu pula dengan setiap kesulitan yang kita sedang kita hadapi saat ini kita merasa pergumulan ini sangatlah berat dan untuk keluar dari kesulitan ini kita seringkali meragukan pertolongan Tuhan karena kita tidak melihat sendiri tangan Tuhan yang sedang bekerja.

kedua, perempuan Samaria ini merasa tersinggung ketika Yesus menawarkan akan memberikan air hidup hal itu sama halnya Ia merendahkan Yakub, yang memberikan air dari sumur dan telah menjadi sumber kehidupan baginya dan orang lain (Yoh. 4:12). Bagi orang Samaria, Yakub merupakan bapa leluhurnya. Sekali lagi, perempuan Samaria ini membuat jarak antara orang Samaria dengan orang Yahudi. Perempuan Samaria ini membandingkan Yesus dengan Yakub dalam hal memberi minum ternyata hal yang sama pernah dilakukan oleh orang Yahudi yang membandingkan Yesus dengan Musa dalam hal memberi makan (Yoh. 6: 30-31; 48-49). Dua bagian ini menunjukkan suatu kesejajaran. Ternyata bukan masalah air – roti sehingga orang Yahudi dan orang Samaria yang saling bermusuhan bisa memberikan jawaban yang persis sama. Ini menunjukkan jawaban yang mereka berikan sebagai suatu paradigma. Kedua jawaban ini menandakan bahwa mereka adalah orang-orang  yang berada di luar Kristus.

Tuhan Yesus tidak kembali terjebak pada perbedaan yang ada antara orang Yahudi dan orang Samaria dan Tuhan Yesus juga tidak merendahkan Yakub bahkan Iapun minum air dari sumur Yakub itu. Hal ini berarti Tuhan Yesus sangat menghargai harta milik dalam hal ini sumur Yakub yang menjadi kebanggaannya. Tuhan Yesus menunjukkan suatu kelemahan kalau kita minum air dari sumur ini maka kita akan haus lagi begitu pula yang dialami oleh orang Yahudi yang makan roti manna juga tetap akan mati. Tuhan Yesus adalah air hidup; Dia juga adalah roti hidup; Dia akan memberikan pada kita kehidupan kekal untuk selama-lamanya. Penjelasan Tuhan Yesus yang sangat tepat ini tidak dapat dibantah baik oleh perempuan Samaria maupun orang Yahudi.

Dampak yang Menghidupkan

Percakapan yang terjadi antara Tuhan Yesus dengan perempuan Samaria ini membuahkan suatu keputusan dimana perempuan Samaria ini akhirnya mau menerima air hidup yang ditawarkan oleh Yesus. Namun Yesus tidak langsung memberikan air hidup itu bahkan sampai akhir dari pembicaraan, Ia tidak menyinggung tentang air hidup dan sepertinya Yesus mencoba mengalihkan topik pembicaraan (Yoh. 4:16). Begitu pula dalam kehidupan ini kita seringkali merasa Tuhan sepertinya tidak menolong di saat kita berada dalam penderitaan namun dengan sabar Dia membimbing sampai akhirnya kita terbuka dan percaya bahwa Dia sanggup menolong. Namun di saat kita mulai percaya bahwa Tuhan akan menolong tiba-tiba kita merasakan Tuhan sepertinya merubah topik hingga kita tidak melihat ada karunia Tuhan yang sedang bekerja. Akibatnya kita mulai meragukan janji-Nya.

Di saat perempuan Samaria ini siap menerima karunia Tuhan tapi kita melihat di satu sisi kenapa sepertinya Tuhan tidak siap memberikan air hidup itu. Perempuan Samaria ini tidak menyadarinya kalau sesunguhnya, Air Hidup itu telah ia dapatkan. Bukankah kita juga seperti perempuan Samaria ini, karunia Tuhan itu sudah kita terima namun kita tidak peka sehingga kita selalu menuntut Tuhan untuk menjawab semua seruan kita dengan hal-hal yang sifatnya spektakuler. Ingat, Tuhan tidak pernah ingkar janji; janji Tuhan itu Ya dan Amin. Memang tidak semua jalan yang kita pakai untuk menyelesaikan pergumulan kita itu buruk tapi ingat, cara-cara yang kita pakai tidak akan menyelesaikan atau meniadakan semua masalah. Puji Tuhan, Dia beranugerah pada perempuan Samaria ini, kini ia tahu bahwa Mesias itu sungguh-sungguh ada dan Yesus yang sedang bercakap-cakap dengan dirinya adalah Mesias. Ia yang tadinya tidak mempunyai pengharapan, kini ia tahu bahwa Yesus dapat memberikan pertolongan – ia yang dulunya mati kini ia dihidupkan. Dulunya ia selalu dihinakan orang karena suaminya banyak itu juga menjadi alasan baginya ia mengambil air pada siang hari tapi setelah mendapat Air Hidup kini ia menjadi saksi Kristus.

Hidup bukan lagi hal yang abstrak, karunia Tuhan tidak hanya berkait dengan hal yang menyangkut masa depan saja; Tuhan sudah mencurahkan karunia-Nya pada kita sekarang. Kitalah yang seringkali membatasi air hidup sebatas pengertian kita maka tidaklah mengherankan kalau kita tidak menyadari karunia Tuhan sebenarnya sudah dan sedang bekerja atas hidup kita. Orang ingin segala sesuatu serba instant begitu juga dalam setiap masalah yang kita hadapi, kita ingin supaya Tuhan cepat menyelesaikannya. Orang lupa bahwa selama kita hidup di dunia masalah itu tidak akan pernah hilang. Orang hanya ingin air yang dari sumur, air yang akan membuat kita haus kembali. Orang lupa ada Air Hidup yang memampukan kita berjalan dalam badai dan gelombang – Air Hidup itu justru akan memberikan kekuatan pada kita menghadapi semua rintangan – Ia akan selalu beserta kita supaya kita terus percaya bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu tetap hidup dalam nama-Nya.  Amin. ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)