Ringkasan Khotbah : 5 September 2004

The Kingdom & the Workers

Nats: Mat. 4: 18-22

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Melalui perikop ini kita hendak memahami konsep Kerajaan Allah dan bagaimana cara Tuhan Yesus memanggil murid-murid menjadi rekan-rekan sekerja-Nya bersama-sama  menggarap misi Kerajaan Allah di dunia. Hari ini, banyak gereja sudah menjadi salah arah, yaitu menjadikan ladang pelayanan Tuhan tak ubahnya seperti perusahaan dunia, cara-cara kepemimpinan dunia diterapkan dalam gereja. Akibatnya, pelayanan yang seharusnya menggarap misi Kerajaan Allah yang sesuai kehendak Tuhan kini menjadi pelayanan yang menggenapkan kehendak pribadi, yakni ambisi sang pemimpin. Banyak pemimpin gereja tidak mengerti prinsip kepemimpinan yang sesuai dengan Alkitab. Konsep kepemimpinan yang mereka mengerti adalah yang menurut dunia; pemimpin adalah orang yang mempunyai kemampuan mempengaruhi orang lain untuk menjalankan dan memenuhi apa yang menjadi keinginannya. Jika kita termasuk dalam bilangan orang-orang demikian, yaitu selalu memanfaatkan orang lain demi untuk mendapatkan keuntungan maka hendaklah engkau sadar, bertobat dan memohon pengampunan pada-Nya!

Kristus diutus oleh Bapa ke tengah dunia untuk menggenapkan misi Kerajaan Allah, The Kingdom dimana dalam waktu yang singkat, Ia harus menanamkan konsep Kerajaan Allah pada para murid dan kemudian diteruskan kepada orang lain demikian seterusnya hingga menjadi besar kelak. Ketika Tuhan Yesus datang ke dunia, banyak orang memandang rendah diri-Nya dan menghina Dia. Pada jaman itu, orang sangat mengagungkan Herodes daripada Kristus begitu juga orang akan menganggap Pilatus lebih besar dari Tuhan Yesus. Begitu rendahnya Dia, sampai-sampai seorang prajurit biasa pun berani menghina dan meludahi Yesus pada peristiwa penyaliban. Tidak ada satu orang pun di dunia yang mendapatkan perlakuan sedemikian hina bahkan seorang pengemis pun tidak pernah mendapat perlakuan demikian. Kini, sejarah membuktikan bahwa Tuhan Yesus lebih besar dari siapapun di dunia. Karena itu janganlah terlalu cepat kita mengambil kesimpulan dari suatu kejadian.

Ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, dilihatnyalah dua orang bersaudara, Petrus dan Andreas sedang menebarkan jala. Dan setelah Yesus pergi dari sana, dilihat-Nya pula dua orang bersaudara, yaitu Yakobus dan Yohanes bersama ayah mereka. Sepintas, kejadian ini sepertinya terjadi secara bersamaan namun dari Injil Lukas kita mengetahui kalau ternyata dua kejadian tersebut terjadi dalam waktu yang berbeda. Ini merupakan momen krusial, yakni waktunya bagi Tuhan Yesus untuk menjalankan misi Kerajaan Allah bersama dengan murid-murid-Nya. Banyak orang mengerti prinsip pelayanan namun mereka tidak tahu bagaimana menjalankan prinsip pelayanan dalam kehidupan sehari-hari. Sama seperti halnya orang yang memainkan alat musik, keluarnya alunan nada dari alat musik tersebut tergantung dari orang yang memainkannya. Satu lagu yang sama jika dimainkan oleh dua orang berbeda maka alunan nada yang dihasilkan pastilah berbeda.

Pada dasarnya, pribadi manusia terdiri dari tiga elemen, yakni: 1) rasional, 2) emosional, dan 3) folisional atau kehendak manusia. Setiap pencipta lagu sangat memahami hal ini, itulah sebabnya kita merasakan emosi yang berbeda dalam setiap lagu. Jadi, pertama kita harus memahami konsep pelayanan dengan benar maka barulah kita dapat menjalankannya namun kalau konsep atau pola pikir kita salah maka pelaksanaannya pasti salah. Kalau konsep dan implikasi dapat berjalan sebagai satu keutuhan maka seluruh pelayanan akan berjalan dengan indah. Namun sangatlah disayangkan, kedua hal ini tidak dapat dijalankan secara bersama akibatnya terjadi kepincangan. Dunia menyadari bahwa kalau antara konsep dan pelaksanaan saling terkait karena itu dunia mengusahakan sedemikian rupa dengan berbagai cara. Hati-hati sebagai orang Kristen kita jangan mudah terpengaruh dengan cara-cara dunia karena Alkitab justru mengajarkan hal yang berbeda bahkan bertentangan dengan dunia. Dunia selalu memakai istilah pemimpin sebaliknya Alkitab memakai istilah “headship, kekepalaan“ untuk menyatakan sebagai pemimpin (Ef. 5: 22). Kepala berasal dari bahasa Yunani, kefale yang artinya kekepalaan. Kekepalaan mempunyai konsep yang berbeda dengan kepemimpinan. Kepala dengan tubuh merupakan satu keutuhan dan saling menyatu namun ketika saling berelasi maka kepala bukan hanya sekedar berfungsi sebagai kepala. Tidak! Kepala mengkoordinasikan seluruh tubuh sedemikian rupa untuk kepentingan seluruh tubuh. Jika sebagian kecil dari tubuh kita disakiti maka kepala juga akan merasakan sakit sebaliknya jika kepala yang sakit maka seluruh tubuh akan membantu kepala untuk mengurangi rasa sakit yang dialaminya.

Berbeda dengan prinsip kepemimpinan yang diterapkan dunia, dimana dunia akan membuang bagian yang dirasakan sudah tidak berguna lagi. Bayangkan, kalau setiap bagian kecil dari tubuh kita yang rasakan sangat menyusahkan langsung diamputasi maka apa jadinya tubuh, bagaimana bentuk dan rupa kita? Tuhan Yesus mengajarkan konsep kepemimpinan yang berbeda dengan dunia. Karena itu Tuhan Yesus menegur murid-murid dengan keras ketika para murid berulang kali selalu menggunakan konsep kepemimpinan dunia; barangsiapa menjadi pemimpin maka hendaklah ia harus menjadi pelayan terlebih dahulu (Luk. 22:26). Dari konsep yang Tuhan Yesus ajarkan ini kita melihat beberapa aspek penting untuk kita pelajari,yaitu:

Pertama, Jangan membatasi pekerjaan Tuhan sebatas lingkup sempit. Pekerjaan Tuhan adalah pekerjaan besar yang melingkupi seluruh dunia. Kerajaan Allah dimulai dari biji sesawi dan kemudian bertumbuh menjadi pohon yang besar sehingga burung dapat bersarang di bawahnya. Dalam pelayanan-Nya, tidak pernah terlintas sedikitpun dalam diri Kristus pekerjaan yang harus Ia lakukan tersebut sebagai pekerjaan remeh dan bersifat sementara sehingga Ia melakukannya secara sembarangan. Tidak! Kristus justru berpikir sebaliknya yakni misi yang Bapa berikan untuk Ia kerjakan adalah demi kepentingan seluruh umat manusia mulai sekarang sampai selamanya, yakni sampai kedatangan-Nya kembali. Oleh sebab itu Tuhan Yesus tidak sembarangan memilih para murid, Ia menggumulkannya terlebih dahulu. Banyak orang memandang sinis suatu gerakan bahwa suatu gerakan tidak akan bertahan lebih dari tiga generasi. Bukan hal yang mudah bagi generasi pertama sebagai pendiri atau pencetus suatu gerakan, pasti banyak mengalami tantangan dan kesulitan sampai pada generasi kedua, hanya bertugas mempertahankan gerakan saja tapi sampai pada generasi ketiga dimana keadaan sudah mapan maka tinggal menunggu waktu kehancurannya saja, from movement to monument.

Hal ini juga dikhawatirkan oleh banyak orang tentang gerakan Reformed Injili yang diprakarsai oleh Pdt. Dr. Stephen Tong, yakni setelah beliau tidak ada maka gerakan ini juga turut hancur. Apakah orang yang berpendapat demikian ini pernah mempelajari gerakan yang diajarkan oleh Tuhan Yesus? Apakah gerakan yang dicetuskan oleh Tuhan Yesus tersebut hanya bertahan sebatas tiga generasi? Tidak! Gerakan ini tidak hilang dan bertahan hingga ribuan tahun dan menjadi besar. Gerakan Reformed Injili bukanlah gerakan yang mengerjakan misi intern. Tidak! Gerakan Reformed Injili ini dimaksudkan untuk menjadi berkat bagi seluruh bangsa sehingga kalau Tuhan memang berkehendak maka gerakan ini tidak akan menjadi monumen. Konsep pertama yang harus kita tanamkan dalam diri kita adalah misi Kerajaan Allah tidak terbatas pada kehendak manusia semata. Kristus tidak sedang menjalankan ambisi-ambisi manusiawi tapi Dia menjalankan kehendak Bapa; Kristus datang bukan untuk dilayani tapi untuk melayani dan memberikan nyawa menjadi tebusan bagi manusia.

Kekristenan hendaklah mencontoh teladan Kristus yang selalu mengutamakan kehendak Allah. Pelayanan hendaklah kita kerjakan dengan motivasi murni. Jiwa dan semangat pelayanan harus kita pelihara sedemikian rupa dan kita turunkan pada generasi di bawah kita. Kristus mengajarkan konsep kebenaran pada murid-murid dan tidak berhenti sampai di situ, para murid pun meneruskan jiwa pelayanan dan mengajarkan konsep kebenaran ini pada generasi berikutnya demikian seterusnya hingga sampai hari ini. Gerakan harus dimulai dengan jiwa yang taat pada Tuhan maka gerakan tersebut tidak akan pernah hilang.  Kristus berkorban di atas kayu salib demi untuk menggenapkan kehendak Bapa, yakni untuk menyelamatkan semua umat manusia di dunia. Ingat, pelayanan yang kita lakukan bukan untuk kepentingan diri semata tetapi kita harus memandang setiap pelayanan bahkan pelayanan yang kecil sekalipun sebagai pekerjaan Tuhan yang harus digenapkan di dunia. Dan Tuhan memakai kita untuk menggenapkan misi Kerajaan Allah ini. Dalam setiap pelayanan bersiaplah untuk menerima kritikan dan jangan menganggap kritikan tersebut sebagai racun yang mematikan dan membuat kita berhenti melayani. Kritik justru semakin membangun jiwa pelayanan kita untuk menjadi semakin lebih baik dan kita akan merasakan keindahan ketika berjalan bersama Tuhan; kita akan melihat cara Tuhan bekerja yang ajaib dimana secara logika hal tersebut tidak mungkin bisa dilakukan manusia.

Kedua, Jangan pernah berpikir bahwa pekerjaan Tuhan dapat kita kerjakan seorang diri saja. Kalau kita mau mengerti pekerjaan Tuhan yang besar maka pekerjaan Tuhan tersebut haruslah kita sadari bukan pekerjaan satu orang saja dan dimonopoli oleh satu pihak tertentu. Secara Ilahi, Tuhan Yesus mampu mengerjakan semua pekerjan tersebut seorang diri malahan tanpa campur tangan kita, pekerjaan tersebut akan menjadi sempurna. Namun demikian Tuhan Yesus tidak memonopoli pekerjaan Allah, Ia memanggil murid-Nya satu per satu. Bagaimana cara Kristus merekrut murid-murid yang pertama? Orang-orang yang Tuhan Yesus pilih untuk dijadikan murid bukanlah orang pandai, mereka hanyalah seorang nelayan dimana pekerjaan nelayan pada jaman itu dipandang sangat hina. Sebelumnya, Tuhan Yesus tidak pernah bertemu dengan Petrus, Andreas, Yakobus dan Yohanes. Andai kita disuruh memilih rekan sekerja apakah kita akan memilih orang-orang yang dalam hal ini tidak mempunyai pendidikan tinggi?

Banyak orang Kristen yang dikaruniai talenta banyak memakai prinsip ini, pelayanan Tuhan ia lakukan sendiri. Namun Tuhan Yesus berbeda, Ia tidak memakai ahli-ahli Taurat atau orang pandai yang lain untuk menjadi rekan sekerja tapi Kristus justru memanggil kita orang-orang berdosa yang bodoh dan hina untuk mengerjakan misi Kerajaan Allah. Tuhan Yesus rela memakai orang-orang seperti Petrus, Andreas dan murid-murid yang lain, Dia rela untuk mengajar dan membentuk mereka dimana dari merekalah pondasi pekerjaan Allah yang besar dibangun. Ingat, pekerjaan Allah bukan milik satu orang dan bukan juga dikerjakan oleh satu orang saja sehingga idealnya, suatu gereja dikatakan cukup berhasil kalau kurang lebih tujuh puluh persen jemaatnya melayan dan menggenapkan misi Kerajaan Allah.

Manusia hidup di dunia modern cenderung untuk hidup individualis, tidak mau bersosialisasi dengan orang lain dan prinsip inilah yang juga terkadang digunakan orang dalam melayani. Karena sudah terbiasa hidup seorang diri maka segala pelayanan inginnya ia kerjakan seorang diri. Sebaliknya janganlah anda rendah diri, merasa diri tidak berguna. Pelayanan haruslah kita kerjakan secara bersama dan hasilnya untuk kemuliaan nama Tuhan karena itu tidak ada orang yang tidak berguna dalam pelayanan, setiap orang yang bekerja di dalamnya pastilah berguna. Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus (1Kor. 12:12). Allah telah memberikan pada setiap kita talenta dengan demikian kita dapat saling melengkapi demi untuk pekerjaan Tuhan digenapkan. Manusia bukanlah benda mati yang mudah digantikan oleh pribadi orang lain. Karena itu, bagi Tuhan, satu jiwa yang bertobat bertobat lebih berharga dari emas dan perak dan seluruh isi dunia.  Amin. ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)