Ringkasan Khotbah : 29 Agustus 2004

The True Faith for Salvation

Nats: Kis. 3: 6, 11-19

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Pada suatu hari menjelang waktu sembahyang, naiklah Petrus dan Yohanes ke Bait Allah. Di situ ada seorang laki-laki yang lumpuh sejak lahirnya sehingga ia harus diusung tiap-tiap harinya dan menjadi seorang peminta-minta demi untuk mempertahankan hidupnya. Orang lumpuh itu berharap mendapatkan sedekah dari Petrus dan Yohanes namun yang ia dapatkan justru di luar dugaannya, yaitu ia mendapatkan kesembuhan, ia dapat berjalan kembali. Apa yang dilakukan oleh Petrus ini melampaui pikiran manusia. Orang ini sudah lumpuh sejak lahir maka tidak mungkin bisa disembuhkan karena itu tidak pernah terlintas sedikitpun dalam pikirannya untuk sembuh dan berjalan. Maka wajarlah kalau manusia hanya berpikir pada sebatas kebutuhan jasmani, yakni kebutuhan akan makanan supaya ia dapat hidup. Orang lumpuh ini tidak menyadari bahwa yang terutama dalam hidup bukanlah kebutuhan jasmani saja. Itulah sebabnya orang lumpuh ini bereaksi luar biasa ketika ia dapat berjalan kembali, ia melompat dan memuji Allah dan ia selalu mengikuti kemanapun Petrus dan Yohanes pergi.

Cara Tuhan bekerja sungguh melampaui logika manusia. Tuhan tahu kapan waktu yang tepat dan pada siapa Ia harus membuat mujizat. Bukan pada setiap orang Tuhan membuat mujizat, Tuhan dapat memakai segala cara untuk membentuk kita agar semakin serupa Kristus. Tuhan memahat kita sedemikian rupa demi untuk kebaikan manusia, yakni supaya kita semakin menyerupai Dia namun justru sakit yang kita rasakan. Percayalah, Tuhan tidak akan membiarkan kita berjalan sendiri melewati lembah kekelaman; Dia selalu beserta kita. Perjalanan iman selangkah demi selangkah bersama Tuhan membuat kita menyadari bahwa Tuhan kita bukan Tuhan yang mati tapi Dia hidup. Alangkah indahnya kalau hati kita berpaut dengan Tuhan maka semua pikiran kita tidak hanya mengarah pada logika diri melainkan kita akan melihat apa yang tidak mungkin bagi manusia ternyata tiada yang mustahil bagi Tuhan. Orang selalu menggumulkan apa yang menjadi kehendak Tuhan dalam hidupnya namun ironisnya orang tidak mau dipimpin Tuhan untuk masuk dalam rencana dan kehendak Tuhan. Orang selalu beranggapan bahwa kalau Tuhan memimpin maka tidak ada kesusahan dan penderitaan. Namun cara Tuhan memimpin berbeda dengan apa yang dipikirkan manusia. Sebaliknya Tuhan justru memakai penderitaan dan kesulitan untuk membentuk kita semakin serupa Kristus. Kalau kita tidak mempunyai kerelaan hati untuk mau taat pimpinan-Nya maka jangan pernah berharap kita dapat mengerti kehendak Tuhan.

Konsep orang Yahudi, orang “beragama“ yang memuji-muji Tuhan ketika melihat kesembuhan yang dialami oleh orang lumpuh itu dapatlah dikatakan konsep mereka masih salah karena apa yang ada dalam pikiran mereka tidak menunjukkan bahwa dia adalah sungguh-sungguh orang yang beragama. Di dunia ini ada dua pemikiran manusia yang tidak akan pernah saling bertemu seperti dua kutub utara dan selatan, yakni pertama, orang yang berpikir dari kedaulatan Allah seperti yang diajarkan oleh teologi Reformed, yaitu segala sesuatu dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! (Rm. 11:36). Konsep ini dipakai oleh para tokoh reformator, seperti Calvin, Luther, John Locke dan lain-lain; kedua, orang yang selalu berpikir untuk kepentingan diri sendiri. Ibadah yang mereka lakukan adalah untuk mendapat kebahagiaan dan kesuksesan diri. Inilah konsep religiusitas dunia maka tidaklah heran ketika terjadi mujizat orang lumpuh sejak lahir dapat berjalan, orang langsung melihat pribadi Petrus dan Yohanes dan menganggapnya sebagai “orang sakti“. Apakah orang demikian layak disebut sebagai orang yang relijius, orang yang bergaul erat dengan Taurat? Ternyata, konsep relijius mereka tidak berubah oleh sebab itu melihat orang banyak itu, Petrus menegur mereka dengan keras bahwa bukan karena kuasa atau kesalehannya sehingga ia dapat membuat mujizat melainkan karena Yesus Kristus.  

Sebelum Tuhan Yesus naik ke Surga dan Roh Kudus dicurahkan, murid-murid Yesus pun pernah berpikir hal yang sama seperti halnya orang Yahudi. Mereka ingin duduk di sebelah kanan dan kiri Tuhan Yesus kalau Ia menjadi Raja kelak. Inilah jiwa dan ide manusia berdosa, yaitu segala sesuatu adalah dari saya, bagi saya dan kemuliaan bagi saya selama-lamanya. Tuhan Yesus tahu apa yang ada dipikiran para murid oleh sebab itu Ia mengajarkan: Barangsiapa yang mau menjadi pemimpin maka hendaklah ia harus menjadi pelayan terlebih dahulu. Orang yang mempunyai status sebagai “orang relijius“ bukanlah jaminan kalau hidup dan tindakan yang ia lakukan menunjukkan bahwa ia adalah orang beragama, kecuali ia sadar dan bertobat, memohon pengampunan dari Tuhan. Di dunia ini banyak orang yang merasa diri sebagai orang beragama namun apakah tindakan dan kehidupannya sehari-hari menunjukkan bahwa ia seorang “beragama“? Sebagai orang Kristen, sampai sejauh manakah kita mengerti tentang iman Kristen yang sejati? Apakah selama ini kita berbakti dan ke gereja demi untuk keuntungan diri?

Kekristenan berbeda dengan semua agama lain yang ada di dunia. Petrus dan Yohanes ingin supaya orang-orang sadar bahwa esensi iman Kristen berbeda dengan iman Yudaisme. Kitab Taurat yang diberikan Tuhan pada umat manusia tidaklah bersalah. Letak kesalahan ada pada diri orang Yahudi yang salah dalam menafsirkan konsep Taurat akibatnya mereka mengalami penderitaan yang sebenarnya mereka ciptakan sendiri.  Sepanjang sejarah Perjanjian Lama, mencatat satu hal, yaitu kebebalan manusia. Orang-orang Israel ini tidak pernah bertanya apa yang menjadi maksud dan kehendak Tuhan, mereka selalu bersungut-sungut ketika Tuhan memimpin mereka keluar dari tanah Mesir dan harus berjalan melewati padang gurun. Roti manna yang Tuhan sediakan setiap hari seharusnya membuat bangsa Israel bersyukur karena Tuhan tidak melupakan umat-Nya, Dia senantiasa memelihara kita. Kasih Tuhan sungguh tiada berkesudahan, Ia masih mengasihi manusia yang selalu melawan Tuhan; Ia memimpin kita kembali menuju jalan kebenaran. Pimpinan Tuhan tidak menjadikan bangsa Israel takut akan Tuhan malah mereka mendirikan Yudaisme dengan ajarannya yang menyimpang dari kebenaran sejati. Tuhan Yesus, sang Kebenaran sejati datang untuk memberikan kebenaran bukannya terima kasih yang Ia dapati namun mereka justru hendak membunuh Yesus sang Kebenaran. Firman Tuhan tidak pernah bersalah tapi manusia berdosa yang menafsirkan itulah yang salah, mereka memanipulasi Firman sedemikian rupa demi untuk keuntungan diri karena itu supaya kita tidak salah menafsir maka:

1. Sadarlah!

Untuk mendapatkan kesadaran dibutuhkan anugerah Tuhan. Teologi Reformed mengajarkan start with sola gratia. Orang pada umumnya tidak sadar akan dosanya namun kalau Tuhan memperkenankan kita untuk sadar dari segala dosa kita maka itu merupakan suatu anugerah besar. Celakalah hidup kita kalau kita tidak mau berubah pola hidup kita yang salah. Manusia pada hakekatnya menyukai status quo atau kemapanan pasif sehingga sukar bagi manusia untuk berubah dan menerima hal yang baru. Karena itu orang perlu disadarkan bahwa kesadaran merupakan sesuatu yang penting dan untuk menyadarkan dibutuhkan kesadaran. Ini merupakan suatu paradoxical. Sayangnya, tidak ada satu orang pun yang memiliki kesadaran bahwa dirinya butuh untuk disadarkan oleh karena itu dibutuhkan kekuatan dari luar untuk menyadarkan. Seperti halnya orang yang pingsan maka ia tidak mungkin bisa menyadarkan dirinya sendiri, bukan? Butuh orang lain yang menyadarkannya barulah ia akan sadar dan bangun dari pingsannya.

Petrus tahu dengan jelas bahwa apa yang orang Yahudi lakukan terhadap diri Yesus akibat mereka tidak mempunyai pengetahuan benar untuk itu mereka harus disadarkan. Kesadaran membukakan pada kita suatu pengertian dan realita yang baru. Sebagai orang Kristen, hendaklah kita menyadari bahwa kita harus sadar diri dan jangan terpaku dengan kemapanan pasif. Merupakan suatu anugerah bagi kita kalau Tuhan begitu mengasihi kita sehingga Ia berkenan menyadarkan kita. Pukulan Tuhan menandakan bahwa Tuhan mengasihi kita, seperti seorang bapa yang sayang pada anaknya. Sadar dan jangan sia-siakan anugerah Tuhan! Ironisnya, manusia harus dipukul dulu barulah ia mau sadar. Setelah orang sadar akan realita bahwa ia adalah orang berdosa namun jika ia tidak kembali kepada Tuhan dan bertobat maka sia-sialah kesadaran itu. Ingat, penyesalan tidak sama dengan pertobatan. Yudas menyesal tetapi ia tidak bertobat.

2. Bertobatlah!

“Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!“ Berita inilah yang pertama kali diteriakkan oleh Kristus di tengah dunia ketika pertama kali Ia melayani. Iman Kristen tidak berhenti sampai pada batas kesadaran manusia bahwa dia adalah orang berdosa dan kemudian menyesal. Tidak! Sama seperti orang lain yang berada di luar Kristus, orang Kristen pun masih bisa berbuat dosa. Namun satu hal yang membedakan, yaitu dalam diri orang Kristen ada pertobatan sejati sehingga mempunyai tekad berubah total terhadap kebenaran Tuhan. Orang Kristen masih bisa jatuh ke dalam dosa namun hatinya tidak akan pernah mempermainkan kebenaran Tuhan. Bertobat berasal dari kata taubat artinya kita merubah total seluruh jalur hidup kita. Dulu kita termasuk orang yang fasik dan lalim, yaitu kita tahu bahwa Allah itu ada namun kita justru tidak mempedulikan bahkan cenderung mengabaikannya.

Orang “beragama“ kalau dia tidak takut akan Tuhan maka ia tidak layak disebut sebagai orang “beragama“. Dalam pandangan manusia, Saul pasti lebih baik dibanding Daud namun Tuhan berbeda, Tuhan tidak melihat penampilan luar tapi Ia melihat hati. Bahkan Tuhan mengatakan, “Inilah anakku yang Kukasihi kepadanya Aku berkenan“ dimana perkataan ini diucapkan juga dalam diri Tuhan Yesus ketika Ia dibaptis. Daud mempunyai hati yang bertobat, Daud selalu mengutamakan Tuhan dalam hidup-Nya lebih daripada hidupnya sendiri. Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya dan semuanya akan ditambahkan kepadamu (Mat. 6:33). Sampai sejauh manakah pertobatan sejati ada dalam hidupmu? Baptisan tidak menjamin pertobatan sebaliknya pertobatan, pengakuan iman kita dinyatakan dengan baptisan.

3. Pengampunan Dosa.

Hanya Kristus yang dapat mengampuni dosa. Adalah salah kalau perbuatan baik kita dapat menutupi perbuatan jahat yang kita lakukan sebelumnya. Apakah karena satu perbuatan baik, seorang pembunuh dikatakan sebagai orang baik dan meloloskannya dari hukuman? Tidak! Secara hukum, ia tetap harus mempertanggung jawabkan perbuatan yang ia lakukan meski ia sudah mengaku diri bertobat. Hal-hal yang menyangkut dosa tidak akan pernah dapat dilewatkan secara waktu. Setiap perbuatan jahat harus mendapat ganjaran hukuman, perbuatan baik yang kita lakukan tidak akan meniadakan hukuman. Satu-satunya cara supaya kita terlepas dari hukuman adalah kalau ada seseorang yang mau menggantikan hukuman. Itulah sebabnya, hanya Yesus satu-satunya yang dapat menyelamatkan kita dari hukuman kekal, yaitu maut.  Allah kita adalah Allah yang setia dan adil, Ia setia mengampuni dosa namun Ia juga adil mengharuskan kita berhadapan dengan Hakim yang Adil.

Orang sering salah mengartikan sifat Allah yang kasih. Orang selalu berpendapat bahwa kalau Allah kasih maka Ia harus mengabulkan semua permintaan kita. Kasih sejati harus disertai dengan keadilan sebaliknya keadilan tanpa kasih berarti kekejaman. Kasih bukan berarti meniadakan penghukuman karena jika memang benar kasih meniadakan hukuman maka akan banyak pembunuh, perampok, pemerkosa yang berkeliaran. Itulah sebabnya hukum Taurat diberikan pada manusia adalah demi untuk kebaikan manusia, karena Tuhan mencintai manusia. Suatu hukum dinyatakan sah apabila dibuat oleh orang yang tidak bersalah/cacat hukum. Bayangkan, kalau seorang pembunuh membuat hukum tentang pembunuhan maka pastilah ia akan membuat hukuman seringan-ringannya. Hukum harus dibuat oleh pihak yang netral dalam hal ini Allah sang pembuat hukum merupakan pihak yang netral.

Upah dosa ialah maut dan hanya Allah yang Maha Kudus yang berinkarnasi yang dapat membebaskan kita dari hukuman dosa. Salib merupakan bukti kasih Kristus pada manusia berdosa. Hanya Kristus satu-satunya yang dapat mengampuni dosa karena itu segeralah datang pada-Nya dan meminta pengampunan dosa. Kuasa penebusan yang kita alami seharusnya menjadikan kita peka akan rencana dan kehendak Tuhan. Darah Kristus yang tercurah di kayu salib untuk menebus dosa sangatlah mahal harganya bahkan seluruh dunia tidak dapat menggantikannya karena itu sadar dan bertobatlah! Mintalah pengampunan dosa pada-Nya dan Allah yang kasih dan adil itu akan mengampuni dosa.  Amin. ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)