Ringkasan Khotbah : 1 Agustus 2004

Essence of Calling, Suffering & Kerygma (2)

Nats: Mat. 4:12-17

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Alkitab mencatat Tuhan Yesus memulai pelayanan-Nya setelah Yohanes ditangkap. Hal ini membuat orang berpandangan negatif pada pelayanan yang Yesus kerjakan karena “sepertinya“ Tuhan Yesus memang sedang menantikan Yohanes Pembaptis berhenti melayani untuk kemudian digantikan posisinya. Manusia pada umumnya ingin kalau ia menggantikan posisi atau pekerjaan seseorang maka segala sesuatunya haruslah sudah dipersiapkan dan berjalan lancar dengan demikian ia tidak akan menemui kesulitan. Akibatnya ia tidak siap ketika mendapati situasi dan kondisi berbeda dengan yang diharapkan. Puji Tuhan, Tuhan Yesus tidak terjebak dengan situasi, Ia telah siap dengan segala situasi bahkan situasi yang terburuk sekalipun karena pelayanan yang Tuhan Yesus gantikan ternyata tidaklah mengenakkan malahan sangat membahayakan namun dari sinilah kita melihat esensi panggilan sejati.

Bentuk pelayanan Yesus berbeda dengan yang dipikirkan manusia. Ketika Tuhan memanggil kita, Tuhan tidak pernah menjanjikan segala sesuatu akan berjalan lancar dan enak, Tuhan juga tidak janjikan hidup kita tidak jumpa susah dan penderitaan. Tidak! Yesus Kristus, Anak Allah yang tunggal itupun menderita ketika Ia datang ke dunia. Kini tiba waktunya bagi Tuhan Yesus, sang Mesias yang menjadi berita utama itu untuk tampil melayani setelah Yohanes Pembaptis, sang pembuka jalan itu ditangkap. Namun tantangan yang harus dihadapi Tuhan Yesus sangat berat karena sama halnya seperti Yohanes Pembaptis, Tuhan Yesus juga mendapat penolakan dari Herodes, penguasa pada jaman itu. Bayangkan, bagaimana Herodes tidak murka, dengan ditangkapnya Yohanes, ia berharap tidak akan ada lagi orang yang memberitakan berita: “Bertobatlah sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!“ Kini Herodes justru mendapati orang yang berbeda namun memberitakan berita yang sama dan hal ini membuat geram hati Raja Herodes. Maka dengan segala cara dan upaya Herodes menghancurkan setiap orang yang memberitakan berita kebenaran tersebut namun tantangan berat ini tidak menggentarkan hati Tuhan Yesus, Ia tidak menggeser sedikitpun berita kebenaran.

Banyak orang yang menafsirkan salah dengan kembalinya Yesus ke Galilea. Ingat, Yesus menyingkir ke Galilea bukan karena Ia mau menghindar dari ancaman Herodes. Tidak! Karena itu diperlukan empat Injil untuk melihat satu pribadi Yesus. Satu buku atau satu pandangan saja tidaklah cukup untuk menuliskan biografi seseorang. Injil Lukas melihat Kristus secara sejarah dan kronologis, yakni mulai dari Dia lahir sampai kematian-Nya sebaliknya injil Yohanes melihat Kristus, Firman Allah yang menjadi manusia. Injil Markus melihat Kristus sebagai seorang hamba Allah, seorang yang melayani Allah, maka kalau kita membaca tulisan Markus kita akan merasakan Yesus layaknya seorang manusia yang melayani yang pernah ada di bumi namun kontras dengan injil Matius yang menggambarkan Kristus sebagai seorang Raja yang berkuasa, maka kita akan menjumpai kata “Kerajaan Sorga“ di setiap tulisannya; kerajaan Kristus dimulai dari Yesus memanggil dua belas murid kemudian berkembang menjadi kerajaan Sorga yang besar.

Kalau kita melihat Yesus secara segmentasi, yaitu Yesus sebatas manusia, atau Yesus  sebatas Raja atau Yesus sebatas Allah berarti kita gagal mengenal Yesus yang adalah Allah dan manusia. Kegagalan ini disebabkan karena orang telah terpaku pada subyektifitas diri. Injil Matius mau melihat Kristus dari sudut pandang Yesus Kristus, seorang Raja yang sedang memberitakan Kerajaan Sorga mulai dari biji sesawi sampai menjadi pohon besar dimana burung dapat berteduh dalamnya. Ingat, Matius maupun Injil yang lain tidak menulis semua hal tentang Kristus secara detail, hanya hal-hal yang mereka anggap sangat penting saja itulah yang ditulis. Dari injil Matius, kita melihat Yesus tidak sepenuhnya berada di Galilea tapi kalau kita bandingkan dengan Injil yang lain maka kita akan menjumpai Yesus pernah ke daerah Yordan bahkan ke Yerusalem. Namun hal ini tidak ditulis oleh Matius karena bukan di sana fokusnya.

Matius mau menunjukkan bahwa pelayanan Yesus dimulai dari Galilea karena Matius ingin supaya pembacanya melihat mulainya pelayanan Yesus, kemudian kita melihat bagaimana Tuhan Yesus melangkah selangkah demi selangkah memulai misi-Nya hingga berakhir di Yerusalem. Matius melihat Tuhan memanggil secara progresif, yakni kita melihat pimpinan Tuhan selangkah demi selangkah. Namun dunia modern dimana teknologi telah berkembang pesat menjadikan manusia ingin segala sesuatu haruslah serba cepat, orang selalu ingin melihat hasil akhirnya terlebih dahulu sebelum ia melangkah lebih jauh. Cara Tuhan memimpin berbeda, Ia menuntun kita selangkah demi selangkah, Ia tidak menunjukkan pada kita hasil akhirnya. Seperti halnya orang yang sedang berjalan di kegelapan malam yang pekat dengan membawa sebuah lentera kecil sehingga ia hanya dapat melihat dengan jarak pandang yang terbatas, ia tidak dapat melihat jalan tersebut akan berakhir dimana namun seiring dengan langkahnya maka lentera itupun turut menerangi jalannya. Tuhan ingin supaya manusia selalu bersandar pada pimpinan Tuhan.

I. Pelayanan yang Taat Pimpinan Tuhan

Tuhan Yesus ketika hendak memulai pelayanannya, Ia tidak langsung terjun melayani melainkan Ia retreat berdiam diri di Kapernaum sehingga hal ini dapatlah kita teladani bahwa saat kita melayani mungkin Tuhan ingin supaya kita mundur terlebih dahulu. Secara manusia terkadang kita tidak rela ketika Tuhan meminta kita untuk mundur apalagi kalau kita sudah tahu hasil akhirnya. Retreatnya Tuhan Yesus justru mempunyai makna yang sangat besar. Galilea merupakan awal bagi Kristus menjalankan misi-Nya, yaitu dari dua belas murid. Tuhan membentuk setiap anak-Nya seiring dengan berjalannya waktu yang terus berproses dengan demikian kita mempunyai pondasi yang kuat sehingga tidak mudah digoncangkan oleh bujuk rayu iblis. Ketika melangkah kita harus belajar untuk mundur dan melihat apa rencana Tuhan atas hidup kita.

Kita telah memahami bahwa cara Tuhan memimpin berbeda dengan cara iblis. Tuhan memimpin manusia selangkah demi selangkah berbeda dengan iblis yang menawarkan jalan pintas. Manusia melihat jalan pintas yang ditawarkan iblis itu nampak indah namun manusia tidak menyadari jalan pintas yang dipilih tersebut justru merupakan titik kehancuran. Karena itu sebagai anak Tuhan hendaklah kita senantiasa waspada supaya kita tidak masuk dalam jebakan iblis. Jalan Tuhan memang sulit untuk kita pahami; tujuan sudah nampak di depan mata tapi terkadang Tuhan menuntun memimpin kita untuk berputar. Tuhan tahu justru jalan yang terbaik bagi setiap anak-Nya adalah jalan yang memutar dan panjang bukan jalan pintas. Bukankah untuk sampai pada puncak gunung lebih mudah bagi kita kalau jalan tersebut berkelok-kelok? Namun manusia berdosa merasa diri lebih pandai, lebih bijaksana sehingga ia merasa tidak perlu untuk taat pada Tuhan.

II. Pelayanan yang Dimulai dari Kecil

Jangan melangkah terlalu cepat dan terburu-buru. Orang yang melangkah dengan terburu-buru biasanya akan menjadi batu sandungan. Start with the humble begining, biarlah segala sesuatunya kita mulai dari hal yang sederhana terlebih dahulu. Pada umumnya, manusia ingin mengerjakan hal yang besar dengan tujuan supaya orang lain melihat dan memuji hasil pekerjaannya namun banyak orang tidak siap mental sehingga ia akan mudah jatuh, ia tidak mempunyai pertahanan yang cukup untuk menahan “kebesaran“ dirinya. Seperti halnya gedung kalau pondasinya tidak kuat maka ia akan runtuh ketika datang goncangan dan badai menerpa. Tuhan Yesus memberikan teladan bagi kita, Dia adalah Anak Allah sehingga bukanlah hal yang sulit kalau Ia memulainya dari Yerusalem namun Ia memulai misi-Nya dari kota kecil di Galilea, Kapernaum.

Kapernaum dan Yerusalem terpisah oleh jarak yang sangat jauh tapi Yesus tahu dari sanalah awal dari kekuatan dan kematangan langkah. Orang tidak suka kalau harus memulai pekerjaan dari hal yang kecil terlebih dahulu apalagi kalau mereka sudah terbiasa mengerjakan hal-hal yang besar. Padahal dari hal yang kecil akan menjadikan kita lebih teliti dan kita mempunyai pertahanan mental diri yang kuat. Dalam banyak aspek, kita tidak mau memulai dari bawah terlebih dahulu karena orang seringkali beranggapan bahwa mengerjakan pekerjaan rendah sangat menghinakan mereka. Sebagai anak Tuhan, janganlah kita menganggap rendah dan memandang remeh setiap pelayanan yang dipercayakan Tuhan pada kita bahkan pelayanan yang kecil sekalipun. Pelayanan yang terbaik justru dimulai dari kita mengerti orang lain terlebih dahulu, seperti pelayanan di penyambutan tamu. Berelasi dengan orang lain merupakan cara yang tepat bagi seseorang untuk menunjukkan jiwa pelayanannya. Kalau ia tidak mempunyai jiwa pelayanan maka Tuhan tidak akan memberikan pelayanan lain yang lebih besar padanya. Tuhan Yesus tidak memulai pelayanannya langsung pergi ke Yerusalem meski Ia tahu bahwa pada akhirnya Ia harus ke sana tapi Kristus justru memulai pelayanan-Nya dari kandang domba dan pelayanan-Nya di mulai dari sebuah desa kecil. Hendaklah kita meneladani Yesus yang berjiwa rendah hati dan kesederhanaan.

III. Pelayanan yang Dikerjakan dengan Semangat Tinggi

Pelayanan sejati harus dimulai dari jiwa yang rendah hati dengan demikian pelayanan sekecil apapun kita kerjakan dengan kesungguhan hati bukan asal-asalan. Jiwa pelayanan Tuhan Yesus tidak terpengaruh dengan situasi dan kondisi, meski Kapernaum sebuah desa kecil namun Kristus tetap semangat melayani dan berita yang Ia wartakan tidak berubah, “Bertobatlah sebab Kerajaan Sorga sudah dekat“. Manusia telah terbiasa dikondisikan oleh  lingkup yang ada, kalau lingkupnya kecil dan sederhana biasanya orang melakukannya tidak dengan sepenuh hati. Itu berarti kita telah didikte oleh situasi dan kondisi karena lingkungan mendikte kita negatif maka kita pun terpengaruh negatif begitu pula sebaliknya. Puji Tuhan, Kristus tidak terpengaruh sedikitpun oleh situasi maupun kondisi. Situasi merupakan tempat bagi Kristus untuk mengerjakan tugas panggilan-Nya. Tuhan Yesus tahu esensi panggilan itulah sebabnya kesulitan dan penderitaan tidak membuat-Nya undur dari pelayanan.

Panggilan Kekristenan seharusnya tidak menurunkan kualitas pelayanan; kita harus tetap memberitakan Firman, kita tetap bersedia baik atau tidak baik waktunya (2Tim. 4:2). Prinsip ini tidak hanya berlaku dalam pelayanan di gereja semata tapi juga berlaku di sekolah, dunia kerja, dan lain-lain. Karena itu jangan menganggap remeh setiap pekerjaan sederhana yang dipercayakan pada kita tapi hendaklah kita melakukannya dengan sebaik-baiknya. Orang selalu berpikir bahwa pekerjaan yang ia lakukan haruslah setimpal dengan pendapatan yang ia peroleh sehingga kalau pendapatan yang ia terima kecil maka ia akan melakukan tidak dengan sepenuh hati. Kita seharusnya berpikir terbalik, apapun yang kita lakukan haruslah kita kerjakan sebaik mungkin, seluruh kemampuan kita kerahkan sehingga orang lain akan menilai, apakah kita layak atau tidak dipercaya untuk mengerjakan hal-hal yang lebih besar. Dunia membangun citra yang terbalik dengan yang Alkitab ajarkan sehingga hal ini turut mempengaruhi pola pikir dan tingkah laku kita.

Begitu pula dalam pemberitaan Firman, seorang hamba Tuhan tidak boleh terpengaruh dengan jumlah jemaat yang hadir. Meski jumlah jemaat hanya lima orang sekalipun, berita yang kita sampaikan harus tetap konsisten dan bersemangat sama seperti kalau berkhotbah pada seribu orang jemaat. Hal ini berarti hamba Tuhan tersebut tidak dikendalikan oleh situasi maupun kondisi tapi dikendalikan oleh panggilan Tuhan atas hidupnya. Sebagai anak Tuhan kita harus menyadari bahwa Tuhan memanggil untuk menjadi pemberita Firman maka kita akan memberikan yang terbaik pada-Nya. Namun bukan hal yang mudah bagi kita untuk tidak terpengaruh dengan sesuatu yang dapat kita lihat dan kita rasakan. Orang akan goncang kalau melihat situasi yang buruk dan tidak menguntungkan akibatnya kualitas kerja kita merosot. Situasi dunia kini sangat kacau namun kita diuji dalam keadaan kacau demikian apakah esensi panggilan hidup kita mengontrol hidup kita. Ini menjadi hal yang utama.

Panggilan hidup kita bertumbuh seiring dengan ketaatan kita pada pimpinan Tuhan seperti orang yang berjalan dengan lenteranya berjalan di kegelapan malam dengan demikian kita tidak takut menghadapi kesulitan dan penderitaan karena Tuhan beserta. Yang menjadi pertanyaan adalah maukah kita taat pada pimpinan Tuhan dan relakah kita dibentuk oleh Dia? Biarlah hakekat panggilan hidup terus kita sadari sehingga kita mempunyai kekuatan dan kestabilan hidup dengan demikian kita tidak mudah diombang-ambingkan oleh arus dunia yang senantiasa berfluktuasi. Hendaklah kita mencontoh teladan Musa dan Yusuf yang tidak terpengaruh oleh situasi dan kondisi. Kiranya Tuhan menguatkan kita menjalani hidup seturut dengan panggilan Tuhan dalam diri setiap kita. Amin. ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)