Ringkasan Khotbah : 25 Juli 2004

Essence of Calling, Suffering & Kerygma (1)

Nats: Mat. 4:12

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Matius mencantumkan perikop “Yesus tampil di Galilea“ (Mat. 4:12-17) sangat tepat sebab bagian ini merupakan konsep dasar bagi setiap anak Tuhan sejati dalam menata hidupnya untuk menjadi seorang manusia sejati sesuai dengan gambar dan rupa Allah. Kita seringkali mendengar bahwa hidup anak Tuhan pasti dipimpin Roh Kudus namun orang salah menginterpretasikan kata “dipimpin“. Orang menganggap bahwa kalau dipimpin berarti hidup kita akan sukses dan kita dapat melakukan berbagai mujizat dan tanda-tanda ajaib lain. Tidak! Roh Kudus memimpin orang untuk masuk dalam kehidupan rohani sejati, yaitu hidup beribadah pada Tuhan. Dan untuk membentuk kerohanian sejati, Roh Kudus memimpin Tuhan Yesus masuk ke padang gurun untuk dicobai iblis setelah berpuasa 40 hari 40 malam (Mat. 4:1-2). Ingat, puasa bukan memaksa Tuhan supaya kehendak kitalah yang jadi. Tidak! Puasa berarti menyangkal diri, yaitu menolak setiap hal yang menjadi keinginan kita dan hanya kehendak-Nya saja yang jadi.

Hati-hati, di dunia modern, banyak bidat yang memakai konsep yang berlawanan dengan Firman Tuhan. Hendaklah kita mencontoh teladan yang paling sempurna dari Tuhan Yesus, Firman hidup yang berinkarnasi. Tuhan Yesus melawan iblis dengan menggunakan Firman namun ketika iblis mulai mempermainkan posisi, yaitu Yesus disuruh menyembah pada iblis maka tanpa perlu berpanjang lebar lagi Tuhan Yesus langsung mengusir iblis; sebab hanya kepada Tuhan saja, engkau harus menyembah dan berbakti (Mat. 4:10). Dalam bagian ini kita melihat bagaimana seharusnya kita menempatkan diri sebagai seorang manusia sejati di tengah-tengah kerusakan dunia. Posisi manusia lebih tinggi dari iblis bahkan malaikat, karena: 1) manusia terdiri dari tubuh dan roh - malaikat hanya terdiri dari roh saja; 2) manusia dicipta menurut gambar dan rupa Allah - malaikat dicipta sebagai makhluk rohani; 3) malaikat dicipta untuk melayani Tuhan Allah dan manusia,  malaikat adalah utusan, messenger yang diutus Tuhan untuk melindungi dan menjaga manusia, dan; 4) setelah dunia berakhir, manusia bersama-sama dengan Tuhan akan menghakimi malaikat.

Kejatuhan menyebabkan manusia kehilangan posisinya yang sejati, manusia yang tadinya berposisi di atas malaikat kini menjadi berada dibawah malaikat bahkan dapat dikatakan lebih rendah dari binatang sedang malaikat yang jatuh dalam dosa menyebabkan dirinya di buang oleh Tuhan. Untuk lebih jelasnya maka urutan posisi sbb: malaikat – manusia (pada saat jatuh dalam dosa) - iblis (malaikat yang jatuh dalam dosa). Kejatuhan manusia menyebabkan manusia kehilangan posisinya, jatuh ke tempat yang paling dalam sehingga manusia tidak dapat melakukan apa yang menjadi keinginan dirinya sendiri kecuali kemauan iblis karena manusia telah dicengkeram oleh iblis. Pilihan telah tersedia di hadapan kita, yaitu pilihan untuk taat Tuhan atau melawan Tuhan. Manusia telah dibelenggu iblis sedemikian rupa sehingga tidak dapat memilih untuk “taat Tuhan“. Banyak pilihan tersedia, free choice namun kita tidak mempunyai free will, kehendak bebas untuk memilih apa yang menjadi kehendak Tuhan. Maka tidaklah heran, kalau orang sangat membenci kebenaran sejati. Sebagai contoh, orang pada umumnya tahu  bahwa rokok berakibat buruk untuk kesehatan, ironisnya orang justru menjadi marah  kalau kita menasehatinya supaya tidak merokok.

Hanya Roh Kudus yang dapat menyadarkan manusia akan dosa dan mengubahkan hidup manusia untuk mau taat pada kehendak Tuhan. Tuhan Yesus tahu ordo dengan tepat, siapa yang harus menyembah dan siapa yang disembah. Ordo yang benar adalah iblis yang harus menyembah Tuhan bukan sebaliknya dan manusia tidak menyembah iblis karena posisi iblis berada di bawah manusia. Sebagai anak Tuhan, maka kita harus kembali pada posisi yang benar dengan demikian kita tidak mudah dipermainkan dunia dan dibelenggu oleh cara-cara iblis. Setelah selesai dicobai, maka inilah saatnya bagi Tuhan Yesus untuk memulai misi-Nya dan masuk dalam bagian transisi yang dicatat dalam oleh Matius (Mat. 4: 12-17). Bagian transisi ini oleh sebagian orang seringkali dianggap tidak penting padahal dari bagian ini kita dapat memahami: 1) hakekat panggilan kita menjadi manusia sejati, 2) bagaimana seharusnya kita bersikap ketika penderitaan datang, dan 3) diantara panggilan dan penderitaan tersebut, kita harus mempunyai kerygma atau berita, yaitu kesaksian hidup kita sebagai anak Tuhan. Orang seringkali salah mengerti hakekat panggilan, orang memahami panggilan Tuhan hanya sebatas identitas diri. Akibatnya orang mulai mencari-cari identitas diri, orang mulai mencari idola, dari kata idol yang berarti dewa. Manusia tidak menyadari bahwa ia dipanggil untuk menjadi serupa dengan Allah. Namun, hari ini kita justru menjumpai manusia makin mirip dan serupa dengan binatang. Ingat, manusia dicipta Tuhan mempunyai harkat lebih tinggi dari binatang, manusia diberikan akal budi untuk berpikir sedang binatang, tidak! Oleh sebab itu, moralitas dan etika hanya ada pada diri manusia.

Manusia kalau sudah kehilangan identitas dirinya maka seluruh tatanan hidup, tingkah laku maupun cara berpikirnya menjadi rusak. Sebaliknya, kalau manusia sadar posisi dirinya yang diciptakan lebih tinggi dari makhluk ciptaan lain maka ia tidak akan mudah jatuh dalam jebakan iblis dan ia pasti mau taat menjalankan semua perintah Tuhan. Dengan demikian segala tindakan, tingkah laku dan cara berpikir kita akan tertuju pada Tuhan semata, apapun yang kita kerjakan hanya untuk kemuliaan nama-Nya saja. Hati-hati jangan terkecoh oleh mereka yang mengaku diri “anak Tuhan“ namun kelakuannya tidak menunjukkan citra Kristus karena sebenarnya ia bukanlah anak Tuhan sejati tetapi lebih tepatnya anak iblis. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah apakah anak Tuhan sejati tidak akan mengalami penderitaan? Kristus pun tidak luput dari penderitaan namun Ia tidak berbuat dosa meski pada jaman itu banyak orang yang rusak moralnya itu karena Tuhan Yesus tahu posisi-Nya.

Matius tidak mencatat kenapa Yohanes Pembaptis ditangkap karena hal itu memang bukan yang utama untuk diberitakan. Ada berita yang lebih utama yang hendak disampaikan oleh Matius, yakni waktu Yesus mendengar, bahwa Yohanes telah ditangkap, menyingkirlah Ia ke Galilea (Mat. 4:12). Hati-hati ayat ini jangan disalah mengerti. Ayat ini justru mengajarkan pada kita bagaimana seharusnya kita berespon ketika penderitaan datang? Kalau kita memang benar anak Tuhan yang sejati maka dunia pasti akan membenci kita karena dosa tidak akan bisa bersinkretis dengan kebenaran sejati. Ingat, kebenaran tidak bisa bersifat abu-abu. Kebenaran sejati haruslah yang benar-benar benar; karena di luar itu pastilah bukan kebenaran. Hati-hati diantara empat epistemologi berikut, yaitu: 1) benar-benar benar; 2) benar-benar tidak benar; 3) tidak benar-benar benar; 4) tidak benar-benar tidak benar yang paling berbahaya adalah yang keempat karena selama masih belum terbukti salah maka kita masih bisa menganggapnya sebagai kebenaran.

Anak Tuhan harus hidup dalam terang kebenaran karena terang tidak dapat bercampur dengan gelap. Dunia sulit menerima kebenaran malahan dunia akan menjadi marah kalau kita berbicara tentang kebenaran. Raja Herodes bukannya berubah ketika ditegur dosanya oleh Yohanes Pembaptis tetapi sebaliknya justru Yohanes Pembaptislah yang dihukum. Bukankah kejadian demikian bukan hal yang baru lagi di jaman ini? Buruk muka cermin dibelah. Itulah sebabnya, seorang anak Tuhan sejati yang hidup dalam kebenaran akan dibenci oleh dunia, ia akan hidup menderita. Barangsiapa yang mau mengikut Kristus maka ia akan menderita aniaya (2Tim. 3:12). Bagaimana kita berespon waktu penderitaan menimpa kita? Adalah wajar kalau di dunia yang penuh dosa ini, anak Tuhan mengalami penderitaan. Justru patut dipertanyakan kalau anak Tuhan yang sejati tidak pernah mengalami penderitaan. Kalau memang benar ia seorang anak Tuhan sejati maka orang yang berada dalam kegelapan akan terusik oleh terang itu.

Ada dua pendapat yang sangat ekstrim tentang bagaimana anak Tuhan menghadapi penderitaan, yaitu: pertama, menjadi martir, menderita sampai mati. Namun, mereka yang berpendapat demikian akan sulit mengerti peristiwa Tuhan Yesus yang sepertinya “melarikan diri“; pergi jauh meninggalkan Nazaret ketika Yohanes Pembaptis ditangkap atau peristiwa Paulus yang diturunkan dari atas tembok kota dalam sebuah keranjang ketika orang Yahudi berencana hendak membunuhnya (Kis. 9:23-25), dan masih banyak lagi peristiwa yang serupa.  Peristiwa Tuhan Yesus menghindari penderitaan di atas bukanlah yang pertama karena sebelumnya Ia juga dilarikan oleh orang tuanya ketika terjadi pembunuhan bayi di bawah umur dua tahun di Betlehem, sehingga timbul ekstrim, kedua, melarikan diri ketika penderitaan datang. Bukankah sikap pengecut demikian tidak mencerminkan sikap anak Tuhan sejati? Dan di sisi lain, Tuhan menuntut anak-anak-Nya untuk taat seperti Tuhan Yesus yang juga taat sampai mati. Lalu di antara kedua sikap tersebut di atas, sikap manakah yang harus kita teladani? Dua pendapat di atas janganlah dipertentangkan satu sama lain karena sesungguhnya memang bukan hal yang bertentangan. Bagaimana kita melihat suatu tindakan yang melampaui lebih dari sekedar alasan pragmatis ketika kita menghadapi kesulitan, penganiayaan dan tantangan karena iman kita pada Tuhan Yesus Kristus.

1. Orientasi Hidup Ketika kita menghadapi kesulitan atau penderitaan, kita jangan terlarut dalam penderitaan  tetapi kita harus keluar dari kondisi tersebut maka percayalah kita pasti akan melihat ada rencana Tuhan yang indah dibalik penderitaan. Dengan larut dalam penderitaan justru  akan menambah masalah baru dalam hidup kita. Tuhan tidak pernah menjanjikan hidup anak-Nya senantiasa lancar. Tidak! Hari ini justru banyak tantangan kesulitan yang harus kita hadapi. Hanya anak Tuhan sejati saja yang tidak akan tergoyahkan dan tetap berteguh dalam iman meski penderitaan menimpa hidupnya. Dalam setiap penderitaan, pasti ada kehendak Tuhan yang harus kita jalankan. Jadi, kalau kehendak Tuhan memang mengharuskan kita untuk pergi maka kita pun harus taat untuk pergi begitu juga kalau kehendak Tuhan memanggil kita untuk menderita karena kita tahu apa yang menjadi tujuan hidup kita, yaitu hidup demi kemuliaan nama-Nya. Jangan bertindak bodoh dengan mengatasi segala tantangan dan kesulitan dengan cara sendiri dan menganggap cara kita tersebut sebagai kebenaran. Hendaklah kita waspada dan senantiasa mengarahkan hati kita pada-Nya sebab penderitaan pasti tiba pada setiap anak Tuhan sejati.

2. Uji Motivasi Ketika kita menghadapi penderitaan dimana penderitaan tersebut menuntut kita untuk mengambil keputusan, yaitu harus mati ataukah menghindar maka hendaklah kita menguji motivasi kita, apakah keputusan yang kita ambil tersebut demi untuk kepentingan diri sendiri atau untuk kemuliaan nama-Nya? Kalau motivasi kita menghindar dari kesulitan karena kita takut menderita atau takut mati berarti kita egois dan motivasi kita pasti bukan berasal dari Tuhan. Orang yang masih berpikir hanya untuk kepentingan diri hendaklah segera bertobat. Karena itu dalam segala hal yang kita lakukan hendaklah kita menguji motivasi, apakah kita melakukannya demi untuk keuntungan pribadi ataukah kehendak Tuhan yang sedang kita jalankan? Ataukah sebenarnya kehendak diri kitalah yang sedang kita jalankan tapi dengan alasan menjalankan kehendak Tuhan. Hati-hati, antara ambisi diri dan kehendak Tuhan, batasnya sangat tipis, hanya kita dan Tuhan yang tahu apa motivasi kita. Tugas anak Tuhan adalah menjalankan kehendak-Nya dan Tuhan pasti akan memimpin dan memampukan untuk kita dapat menjalankannya.

3. Kuasa Berita Kalau motivasi kita sudah benar, yakni sesuai dengan kehendak Tuhan maka pasti ada hasilnya, yaitu berita Injil tersebar luas dan nama Tuhan dipermuliakan. Tuhan Yesus menyingkir dari ke Galilea menuju Kapernaum bukan untuk bersembunyi, lari dari penderitaan. Tidak! Karena jikalau memang benar demikian maka berita Injil tidak mempunyai kekuatan dan kuasa. Namun, Alkitab mencatat, Tuhan Yesus meneruskan kabar yang diberitakan oleh Yohanes Pembaptis, yaitu “Bertobatlah sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!“ (Mat. 4:17). Itulah kerygma. Orang yang melarikan diri dari kesulitan tidak akan mempunyai kuasa untuk memberitakan Injil. Sebagai anak Tuhan, biarlah hidup kita senantiasa dimurnikan sehingga orang melihat perubahan yang terjadi dalam hidup kita dengan demikian orang akan melihat Kristus ada dalam diri kita dan mereka menjadi percaya. Hendaklah dari setiap mulut anak Tuhan keluar kerygma yang senantiasa memberitakan kebenaran sejati, yakni “bertobatlah Kerajaan Sorga sudah dekat“.

Kiranya ketiga hal tersebut di atas dapat menjadi bahan pertimbangan bagi kita, apakah kita harus menghindar dari penderitaan ataukah harus menghadapi penderitaan? Tuhan tidak menuntut setiap anak-Nya untuk menjadi martir dan berkorban bagi-Nya dan di sisi lain Tuhan juga tidak ingin anak-Nya lari ketika kesulitan datang. Tapi biarlah semua yang terjadi dalam diri kita adalah sesuai dengan waktu dan rencana Tuhan saja. Amin. ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)