Ringkasan Khotbah : 18 Juli 2004

To Worship God

Nats: Mat. 4:10-11

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Pencobaan iblis ketiga merupakan pencobaan yang paling dahsyat di antara semua pencobaan - iblis ingin supaya Tuhan Yesus berorientasi pada dunia saja - kerajaan dunia dan seluruh kemegahannya akan diberikan pada-Nya asal Tuhan Yesus sujud menyembah dia. Manusia mana yang tidak tergoda kalau ditawari dunia dan seluruh kemegahannya namun manusia tidak menyadari dibalik tawaran manis yang menggiurkan itu justru yang membinasakan. Manusia sulit menyadarinya karena di satu sisi, tawaran tersebut sangat menggoda dan cocok dengan keinginan daging kita maka tidaklah heran kalau orang mudah terkecoh dan akhirnya masuk dalam jebakan iblis. Berbeda halnya kalau tawaran tersebut bersifat negatif dan tidak sesuai dengan keinginan kita maka dengan mudah kita dapat langsung menolaknya. Namun kita harus lebih berhati-hati dan waspada kalau tawaran tersebut “sepertinya benar“ dan menguntungkan justru itu yang membinasakan.

Merupakan sifat manusia berdosa kalau manusia tidak suka dipimpin dalam kebenaran yang membawanya dalam pertumbuhan iman – manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Manusia, di satu sisi tidak suka kalau dibohongi tapi di sisi lain orang menjadi marah kalau kita berkata jujur. Sebagai contoh, kalau kita berkata jujur tentang sesuatu mengenai dirinya yang dalam hal ini dirinya sendiri pun tidak menyukainya, misalnya hal yang menyangkut keburukannya maka dia akan menjadi marah. Orang akan marah kalau dia dikatakan bodoh padahal semakin dia marah justru semakin menunjukkan kebodohannya - orang pandai tidak akan bergeming kalau dia dikatakan bodoh karena orang yang pandai adalah orang yang selalu sadar kalau dirinya bodoh. Itulah paradoxical kehidupan. Manusia pada hakekatnya tidak ingin kebenaran, mereka hanya menginginkan sesuatu menyenangkan hatinya saja.

Dosa kalau sudah mencengkeram hidup manusia maka segala sesuatu menjadi gelap. Jangankan dunia dan seluruh kemegahannya, demi uang 1 milyar saja orang sudah mau melakukan apa saja. Kalau kekayaan dan kemuliaan sudah mencengkeram manusia maka itulah titik awal kehancuran manusia. Secara logika seharusnya orang sudah tahu bahwa uang adalah akar dari segala kejahatan; banyak penjelasan dan realita dunia telah membuktikannya namun orang tidak peduli. Cara iblis menggoda manusia supaya jatuh dalam pencobaan sangat licik lalu bagaimana cara kita mengantisipasinya? Hanya dengan cara Tuhan, yaitu dengan Firman seperti yang dilakukan oleh Kristus. Puncak dari pencobaan Tuhan Yesus adalah kunci bagaimana kita mengerti manusia hidup maka Tuhan Yesus mengajak kita untuk balik pada inti iman Kristen, yaitu kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.

Tuhan Yesus melihat tawaran iblis ini sudah tidak dapat ditolerir lagi, itulah sebabnya Yesus langsung mengusir iblis, “Enyahlah, Iblis! Beranikah kita berbuat demikian, yakni mengusir iblis ketika tawaran yang menggiurkan menghampiri kita? Hari ini kalau kita mendengar ada gereja yang mengusir setan, sesungguhnya bukan setan yang diusir tapi lebih tepatnya adalah gejala setan sedang setan yang asli masih bercokol dalam gereja. Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti (Mat. 4:10; Ul. 6:13) merupakan kunci bagi kita untuk melepaskan diri dari jeratan iblis. Perhatikan, dalam kalimat ini ada dua perintah, yaitu: menyembah dan berbakti. Menyembah tidak sama dengan berbakti karena dua kata ini mempunyai pengertian berbeda namun orang seringkali mencampur aduk dua kata ini. Konsep menyembah dan berbakti telah ada sejak jaman Perjanjian Lama dan tertulis juga dalam hukum Taurat - Tuhan Yesus mengajarkan konsep ini kembali di Perjanjian Baru. Konsep menyembah dan berbakti masih berlaku meski berbeda tempat dan selang waktu yang sangat panjang. Hal ini membuktikan bahwa konsep itu adalah kebenaran sejati. Jadi, “sesuatu“ dapat dikatakan sebagai kebenaran sejati kalau “sesuatu“ itu tidak dapat digeser oleh ruang dan waktu. Hari ini banyak orang yang mengklaim hasil risetnya sebagai kebenaran dan akibatnya kita jugalah yang dibingungkan. Ada riset yang mengatakan makan “itu“ menyembuhkan kanker tapi riset yang lain justru mengatakan makan “itu“ penyebab kanker. Akibatnya, orang jadi permainan si researcher karena di antara semua hasil riset tidak ada seorang pun tahu mana yang benar-benar benar? Kebenaran sejati tidak dapat digeser oleh waktu dan ruang. Riset, seharusnya menghasilkan sesuatu yang baru namun kita menjumpai para researcher justru meriset sesuatu yang dibutuhkan manusia dan yang sudah diasumsikan sebelumnya. Kesimpulan sudah ada terlebih dahulu barulah orang melakukan riset, misal: ada kesimpulan yang menyatakan makan bayam menyebabkan kanker maka dari kesimpulan yang ada inilah orang kemudian melakukan riset. Dan orang yang mau mengeluarkan dana besar untuk membiayai riset tersebut pastilah orang yang mempunyai kepentingan dan dia pasti ingin diuntungkan maka tidaklah heran kalau hasil riset pun dapat diatur sedemikian rupa. Hasil riset yang seharusnya “makan bayam tidak menyebabkan kanker“ maka demi untuk memperoleh keuntungan, hasil riset dibuat sama dengan kesimpulan, “makan bayam akan menyebabkan kanker“. Inilah sifat dunia berdosa yang menuju pada kebinasaan, manusia menjadi humanis materialis. Iblis merusak pikiran manusia dengan tawaran-tawaran manis yang membinasakan, karena itu manusia harus kembali pada kebenaran sejati.

I. Menyembah

Menyembah berasal dari bahasa Yunani, proskuneo berarti to worship, manusia harus mengabdi pada Tuan di atas segala tuan, Raja di atas segala raja. Pros dari bahasa Yunani yang berarti “menuju“ atau “pergi ke“, jadi menyembah pada Tuhan Allah berarti manusia secara sadar, aktif datang pada Tuhan dengan sikap hormat. Hati-hati, jangan menafsirkan kata aktif sama seperti pengertian dunia karena sikap aktif yang diajarkan dunia malah justru menghancurkan hidup. Menurut konsep dunia, kita aktif kalau hal tersebut menguntungkan kita namun aktif datang pada Allah berarti kita yang berinisiatif datang pada-Nya, menundukkan diri dan taat pada pimpinan-Nya dan keaktifan ini yang tidak disukai manusia. Kesombongan dalam diri manusia inilah yang membuat orang sukar untuk tunduk dan taat pada perintah Allah. Orang menjadi malu kalau harus maju untuk menyerah, orang lebih memilih mati daripada menyerah untuk kalah. Kita harus mengubah konsep kita yang salah tersebut karena menyerah bukan berarti kita kalah, kita menyerah justru untuk menang.

Menyembah Allah berarti dengan sungguh hati kita datang pada Tuhan dan menyatakan diri bahwa kita mau takluk, tunduk dan taat pada-Nya. Sikap inilah yang tidak dapat dilakukan oleh iblis maka Alkitab mencatat iblis lalu meninggalkan Yesus karena iblis mempunyai karakter yang selalu ingin melawan dan memberontak pada Tuhan. Hendaklah kita taat pada-Nya dan ketaatan seseorang ini dapat kita lihat pada sikapnya apakah ia mau taat pada orang lain? Kalau pada manusia yang kelihatan saja ia tidak mau taat apalagi pada Tuhan yang tidak kelihatan. Dunia selalu mengajarkan supaya kita selalu memberontak pada-Nya, kita diajar tidak taat pada siapapun. Orang yang tidak taat pada Tuhan maka ia tidak akan bisa menjadi seorang pemimpin yang baik karena dia tidak bisa melihat Allah sebagai pusat kebenaran. Sebagai anak Tuhan, kita harus aktif menyembah Tuhan dan taat dengan demikian kita tidak mudah dipermainkan iblis. Utamakanlah Tuhan Yesus dalam hidupmu. Hendaklah pikiran dan hatimu selalu mengarah pada-Nya, apapun yang kita lakukan biarlah hanya untuk kemuliaan nama-Nya saja. Apakah kita sudah mempunyai sikap hati yang sungguh-sungguh menyembah dan taat kepada Tuhan?

Manusia harus berubah untuk semakin hari semakin serupa Kristus dan proses itu terus berlangsung di seumur hidup kita. Di dunia, kita menjumpai dua macam golongan manusia, yaitu: pertama, orang yang hidup untuk menyenangkan dunia tapi mempunyai sikap hidup yang baik, sebaliknya; kedua, orang yang hidup untuk menyenangkan hati Tuhan tapi hidupnya penuh dosa. Di antara kedua golongan ini yang manakah Tuhan suka?  Memang, di antara kedua golongan di atas tidak ada satu golongan pun yang baik; yang paling baik dan idealnya adalah orang yang hidupnya seperti Henokh, hidup menyenangkan Tuhan dan mempunyai sikap hidup baik; di surga maupun di bumi baik. Namun andai kita disuruh memilih di antara kedua golongan tersebut, golongan manakah yang kita pilih? Contoh dalam Alkitab, orang yang termasuk dalam golongan pertama adalah Esau dan Saul; dan orang yang termasuk dalam golongan kedua adalah Yakub dan Daud tetapi kenapa Tuhan justru berkenan pada Yakub dan Daud yang mempunyai catatan hidup lebih buruk dari Esau dan Saul? Jawabnya karena Yakub dan Daud selalu mengutamakan Tuhan di setiap aspek hidupnya bahkan Daud mendapat atribusi seperti Tuhan Yesus, kepadanya Allah berkata “Inilah anak-Ku yang Kukasihi dan kepadanya Aku berkenan“. Anak muda dalam Perjanjian Baru yang katanya “hidup saleh“, tetapi hartanya yang banyak itu justru menghalanginya untuk datang pada Tuhan, ia tidak sepenuhnya menjalankan seluruh hukum Taurat karena sesungguhnya ia hanya menjalankan sebagian dari hukum Taurat, yakni hukum yang ke lima sampai ke sepuluh. Kalau kita tidak mengutamakan Tuhan maka sia-sialah semua hukum Taurat ke lima sampai dengan ke sepuluh yang kita jalankan.

II. Berbakti

Berbakti berasal dari bahasa Yunani, latreia, artinya seluruh aspek hidup kita berada dalam satu ikatan dengan oknum yang kita sembah. Kalau kita tidak tahu siapa yang kita sembah maka kita tidak dapat beribadah dengan baik. Itulah sebabnya ibadah dan penyembahan tidak dapat dipisahkan. Kalau kita menyembah pada Allah yang sejati maka seluruh aspek hidup semuanya harus mengarah pada Allah yang kita sembah, apakah kita sudah menyenangkan hati Tuhan yang kita sembah? Dua hal yang tidak dapat dilakukan iblis adalah menyembah pada Allah dan menyenangkan hati Tuhan. Dengan segala macam cara, iblis selalu berusaha agar manusia menyembah dan menyenangkan dia saja, yaitu dengan jalan menuruti segala keinginan nafsu kita dengan demikian manusia jatuh ke dalam dosa. Sebaliknya, hal yang dibenci oleh Tuhan justru itulah yang menyenangkan hati iblis.

Iblis tahu kalau Yesus adalah Allah yang berkuasa atas seluruh alam semesta, Allah yang berdaulat namun iblis sengaja melawan Tuhan dengan tidak mau menyembah dan berbakti pada-Nya. Kalau kita hanya menyembah dan tidak berbakti maka penyembahan kita tersebut hanya bersifat referensi saja, hal itu yang membuat hidup manusia mudah tergoyahkan oleh bujuk rayu si iblis. Kita dapat memperkecil kemungkinan jatuh dalam dosa kalau kita berbakti pada-Nya, di setiap aspek hidup, kita selalu mengaitkan tindakan, pikiran dan tingkah laku kita pada satu tujuan, yakni untuk menyenangkan hati Tuhan. Itulah arti berbakti atau latreia. Jadi, berbakti bukan pada hari Minggu saja ketika kita pergi ke gereja dan kebaktian bukanlah tempat kita belajar Firman Tuhan. Kita akan mendapatkan sukacita sejati kalau kita mempunyai ibadah yang sejati, hidup menyenangkan hati Tuhan. Ibadah di hari Minggu, hari pertama menjadi dasar bagi kita melangkah menapaki hari-hari selanjutnya. Hati yang selalu berpaut pada Tuhan akan memperkecil kita untuk jatuh dalam jebakan iblis. Firman Tuhan mendidik kita untuk sungguh berbakti pada-Nya maka Firman yang kita dengar seharusnya merefleksi diri kita untuk kita diubahkan semakin serupa Dia.

Liturgi ibadah di gereja hendaklah disusun sedemikian rupa - dengan sikap hormat kita menghampiri tahta-Nya dan memuji kebesaran Tuhan - kebaktian diawali dengan Firman Tuhan yang mengajak jemaat melihat kebesaran dan kasih Tuhan setelah itu kita memohon pada-Nya untuk memimpin seluruh ibadah sampai akhir yang ditutup dengan pujian pada Allah Tritunggal, Sumber Berkat. Tapi sayang, hari ini banyak gereja yang menganggap liturgi sebagai hal yang tidak penting sehingga dihilangkan dari ibadah. Dunia modern telah menyelewengkan arti berbakti yang sejati, akibatnya liturgi dibuat sedemikian rupa yakni hanya menyenangkan hati orang mencari tempat yang dianggap paling cocok dengan dirinya untuk berbakti, yaitu yang dapat menyenangkan dan melegakan hatinya karena stress setelah enam hari bekerja. Dan celakanya, kini orang sudah mulai terang-terangan menjadikan gereja sebagai ajang bisnis karena dianggap menguntungkan. Hati-hati, iblis selalu mempermainkan orang-orang yang berada dalam gereja, orang yang tidak hidup rohani, orang yang tidak mau kembali pada kebenaran Firman supaya kita masuk dalam jebakan iblis yang memang bertujuan merusak sikap ibadah kita pada Tuhan.

Umat pilihan bukanlah orang suci yang tidak pernah berbuat dosa. Tidak! Sebagai contoh, Yakub, Daud, Paulus dan masih banyak lagi; namun hidup mereka adalah hidup yang mau menyenangkan hati Tuhan. Cara Tuhan memimpin anak-anak-Nya berbeda dengan cara iblis. Hendaklah seluruh aspek hidup kita hanya menyembah dan menyenangkan hati Tuhan saja maka kita akan mendapatkan sukacita sejati. Amin. ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)