Ringkasan Khotbah : 11 Juli 2004

The Way of the Devil

Nats: Mat. 4:1-11

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Orang Kristen hendaklah sadar dan berjaga-jaga karena lawanmu, si iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya (I Ptr. 5:8). Tuhan sudah menyiapkan peralatan yang cukup bagi kita untuk melawan si iblis, yaitu Firman. Namun, sangatlah disayangkan manusia merasa kurang dengan senjata perang yang telah disediakan Tuhan; manusia merasa diri mampu melawan iblis dengan kekuatannya sendiri. Akibatnya manusia jatuh ke dalam jebakan iblis, tanpa kita sadari cara berpikir, sikap hidup dan tindakan kita sehari-hari justru lebih mirip dengan cara iblis, the way of the devil. Calvin menegaskan bahwa kerusakan total, total depravity inilah yang menjadi penyebab rusaknya tatanan dunia dan hal ini ditegaskan kembali oleh para teolog dalam sinode Dort.

Karena perbuatan dosa yang dilakukan Adam, manusia pertama, yang merupakan perwalian (representative) dari seluruh umat manusia di dunia maka kita pun ikut berdosa. Dosa menyebabkan manusia jauh dari Tuhan bahkan segala perbuatan baik tidak dilakukan dengan tulus melainkan hanya demi untuk keuntungan diri sendiri. Dan sifat dosa ini diturunkan pada manusia maka tidaklah heran kalau seorang anak kecil lebih mudah melakukan perbuatan dosa tanpa ada yang mengajarinya. Manusia tidak dapat hidup serupa dengan gambar dan rupa Allah. Puji Tuhan, Kristus datang sebagai Adam kedua yang di dalam-Nya kita beroleh segala berkat sorgawi; di dalam Kristus kita menjadi anak Allah dan beroleh pembenaran hidup, di dalam Kristus pula kita menerima segala janji dan kekayaan karunia. Dan hal ini sangat dipahami iblis, oleh sebab itu, dengan segala cara iblis mencobai Tuhan Yesus supaya jatuh dalam dosa dengan demikian tidak ada satu pun manusia dapat diselamatkan. 

Bukan hal yang mudah merombak tatanan dunia yang sudah rusak total. Kita harus bersandar mutlak dan taat pada pimpinan Tuhan, jangan mengandalkan kekuatan sendiri karena cara Tuhan berbeda dengan cara iblis. Hati-hati dengan mereka yang mengaku diri anak Tuhan padahal sesungguhnya anak iblis karena tidak semua orang yang mengaku diri Kristen pasti beriman pada Kristus dan percaya pada Alkitab sebagai prinsip dasar iman. Hendaklah kita mengevaluasi diri kita masing-masing apakah setiap tindakan dan sikap hidup kita telah memancarkan kasih dan keadilan Kristus ataukah kita justru lebih mirip dengan cara iblis. Karena itu kita harus waspada dengan segala tipu muslihat iblis, yaitu:

I. Menggeser Prioritas Hidup

Tuhan Yesus berpuasa 40 hari 40 malam adalah demi  untuk menggenapkan misi Kerajaan Allah - membangun spiritualitas dan kualitas pelayanan. Iblis mau mencoba menggeser prioritas utama Tuhan Yesus dari tujuan agung, yaitu melakukan kehendak Bapa ke hal yang bersifat materi, yaitu mengubah batu menjadi roti. Dan sifat humanis materialis ini telah merasuki dunia, orang tidak sadar kalau mereka telah masuk dalam jebakan iblis. Banyak orang tua salah mendidik anaknya, sebagai contoh: orang tua tidak suka kalau anaknya aktif melayani Tuhan karena mereka berpendapat bahwa pelayanan tidak dapat menghasilkan uang padahal di sisi lain mereka menyadari bahwa dekat pada Tuhan justru membuat hidup si anak menjadi lebih baik.

Semakin kaya dan semakin tinggi kedudukan seseorang maka dunia akan menilai orang tersebut sukses. Bukankah hal ini menjadi prioritas utama si iblis. Bagaimana dengan kita? Saat kita sedang beribadah dan melayani apa yang menjadi prioritas utama kita? Untuk Tuhan ataukah sekedar memenuhi kebutuhan “perut“? Kebutuhan akan makanan selalu menjadi prioritas utama manusia, first think first. Hal ini pun ditegaskan oleh Abraham Maslow bahwa kebutuhan dasar manusia adalah kebutuhan akan makanan. Iblis tahu akan hal ini, itulah sebabnya iblis menantang Yesus supaya mengubah batu menjadi roti, yaitu untuk memenuhi kebutuhan “perut“. Celakalah, kalau prioritas hidup kita hanya untuk “perut“ saja; lalu apa bedanya kita dengan binatang? Bukankah binatang hidup hanya untk makan? Iblis telah menggeser prioritas hidup manusia yang kepadanya

diberikan “nafas hidup“ - makhluk yang paling mulia di antara semua ciptaan menjadi makhluk yang rendah, yakni binatang berkaki dua. Ingat, kenikmatan yang diberikan iblis hanya sementara dan berakhir pada kebinasaan kekal. Ironisnya, manusia tidak sadar kalau telah masuk dalam jebakan iblis. Spiritualitas sejati akan menjaga kita dari kerusakan moral dunia dan menyadarkan kita bahwa hidup bukan hanya dari roti saja tetapi dari setiap Firman yang keluar dari mulut Allah.

Sangatlah disayangkan, kalau manusia justru lebih memilih “roti“ yang bersifat sementara daripada Firman Hidup yang bersifat kekal. Betapa bodohnya manusia, demi untuk kenikmatan sementara justru mengorbankan Tuhan, orang lebih memilih pekerjaan daripada pelayanan. Sebagai anak Tuhan, biarlah Firman yang hidup itu menjadi prioritas hidup kita yang utama; apapun yang kita lakukan adalah demi untuk kemuliaan-Nya. Apakah Firman Tuhan sudah menguasai hidupmu? waspadalah, jangan tertipu oleh godaan iblis yang memang ingin supaya kita jatuh ke dalam dosa dan jauh dari Tuhan.

II. Menggeser Orientasi Hidup

Prioritas kita akan menentukan seluruh orientasi hidup kalau kita ada di dalam Kristus maka seluruh prioritas pasti berorientasi pada Kristus, yaitu untuk menjadi semakin serupa Dia. Kerohanian sejati akan mengontrol semua aspek kejasmanian kita. Hidup Kristus berorientasi pada hal yang spiritual, Ia berpuasa membuktikan bahwa Ia taat pada Bapa-Nya. Tuhan Yesus tidak mengatakan bahwa hidup manusia hanya Firman saja dan tidak perlu roti. Tidak! Manusia hidup bukan hanya dari roti saja tetapi dari setiap Firman yang keluar dari mulut Allah, berarti selain roti manusia juga perlu Firman dan yang terutama adalah Firman. Kalau orientasi hidup kita hanya pada Tuhan bukan berarti kita menjadi sok rohani tetapi justru akan mendatangkan kebaikan - mewarnai semua aspek dalam hidup kita dan kita juga tidak mudah tergoda oleh rayuan iblis.

Jangan pernah berpikir bahwa orang yang mempunyai intelegensi tinggi tidak akan dapat tertipu. Salah! Justru orang yang demikian yang paling mudah masuk dalam jebakan karena cara berpikirnya sama dengan iblis. Orientasi hidup tepat akan mendatangkan sukacita sejati karena seluruh tenaga, pemikiran kita akan terarah dengan tepat. Barang siapa mau hidup dalam Tuhan maka Tuhan pasti akan memimpin dan melindungi kita akan tetapi bukan berarti kita akan luput dari pencobaan. Tidak! Hidup di  dunia kita tidak akan luput dari berbagai macam godaan tapi kalau orientasi hidup kita adalah Kristus maka kita menjadi lebih waspada dan peka terhadap segala macam godaan si iblis. Tuhan tidak mengajarkan kepada kita supaya kita lebih mementingkan hal yang rohani sehingga mengabaikan hal yang jasmani. Tidak! Justru Tuhan mengajarkan ora et labora, berdoa dan bekerja. Ketika bekerja biarlah orientasi kita bekerja itu adalah demi untuk kemuliaan nama Tuhan bukan demi egoisme diri kita. Orientasi hidup yang tepat akan mempengaruhi seluruh aspek hidup kita.

III. Menggeser Sikap Hidup

Iblis menempatkan Yesus di bubungan Bait Allah dan menantang Yesus supaya menjatuhkan dirinya sebab iblis tahu bahwa tentang Yesus ada tertulis: Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu (Mzm. 91:11-12). Dalam hal ini, iblis sangat “rohani“. Rohani disini hanya sebatas fenomena saja. Ingat, kuasa spiritual yang ditunjukkan seseorang tidak membuktikan kerohaniannya baik; iblis dapat membuat seseorang sepertinya “rohani“ tapi bukan secara esensi tapi hanya gejala rohani belaka. Dengan licik, iblis menggoda manusia supaya jatuh dalam kesombongan rohani.

Tuhan justru mengajarkan agar kita rendah hati dan bersandar pada Allah saja karena tanpa Dia kita bukanlah apa-apa, we are nothing. Tuhan Yesus, Pencipta alam semesta rela mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia (Flp. 2:7); Tuhan Yesus tidak memakai hak ke-Allahan-Nya; Dia taat sampai mati di kayu salib. Itulah kerendahan hati sejati. Dan iblis tidak suka akan hal ini karena itu iblis menawarkan jalan pintas supaya Tuhan Yesus dikenal banyak orang dengan cepat mengenal Dia sebagai Anak Allah, yaitu dengan jalan menjatuhkan diri dari Bait Allah. Puji Tuhan, Yesus tidak masuk dalam jebakan iblis. Cara Tuhan adalah rendah hati taat pada pimpinan Tuhan. Orang yang hanya mengutamakan kesombongan diri maka ia akan sulit menerima pendapat orang lain apalagi untuk ia mau taat pada kehendak Tuhan. Kesombongan diri tersebut haruslah dihancurkan terlebih dahulu barulah orang menyadari keterbatasan dirinya dan merupakan suatu anugerah kalau Tuhan memukul karena itu berarti Tuhan masih berkenan memanggil kita untuk kembali pada-Nya. Terkadang Tuhan memakai penderitaan untuk mendidik anak-Nya untuk semakin bertumbuh. Tuhan Yesus berpuasa menunjukkan bahwa manusia terbatas; puasa bukan sarana untuk memaksakan kehendak diri sendiri pada Allah. Penyangkalan diri menjadi kunci utama taat pimpinan Tuhan.

IV. Menggeser Panggilan hidup

Iblis tidak suka melihat anak Tuhan yang hidup benar sesuai dengan Firman dan menggenapkan rencana-Nya. Dengan berbagai cara, iblis akan berusaha menjauhkan anak Tuhan dari panggilan-Nya dan mengalihkannya pada kehendak diri sendiri. Berhati-hatilah dengan akal licik si iblis yang selalu mengiming-iming kita dengan segala kenikmatan dunia yang semu. Syarat mengikut Tuhan adalah memikul salib dan menyangkal diri; dan iblis tahu bahwa syarat tersebut sangat sulit dijalankan karena itu iblis menawarkan pada manusia untuk jauh dari kehendak Tuhan dan menjalankan kehendak diri sendiri. Adalah anugerah kalau Tuhan berkenan memanggil kita dari dunia yang bergelimang dosa. Diri sendiri tidak dapat memanggil diri sendiri; lebih tepatnya bukan diri sendiri yang memanggil melainkan iblis. Untuk menjadi manusia sejati maka kita harus kembali pada Tuhan sang Pencipta. Kalau kita semakin jauh dari Tuhan maka itu menjadi kesuksesan iblis. Jadi, kesuksesan diri kita sebenarnya merupakan kesuksesan iblis. Kristus sukses menjalankan perintah Bapa-Nya sampai akhir, yaitu mati di kayu salib sehingga ia dapat berkata “Tetelestai“, sudah genap. Telah tersedia bagi kita, anak-anakNya yang telah menggenapkan rencana-Nya, yaitu sebuah mahkota kebenaran.

V. Menggeser Nilai Hidup

Iblis menggeser keinginan kita dari mencintai Tuhan kepada keinginan daging yang dikuasai nafsu. Iblis membawa Tuhan Yesus ke atas gunung yang sangat tinggi lalu memperlihatkan seluruh isi dunia dan kemegahan-Nya dan semuanya itu akan diberikan kepada-Nya asal Ia mau tunduk dan menyembah padanya. Iblis memberikan dalam jumlah yang sangat besar dan kemegahan, keagungan yang berkilauan. Kuantitas dan kualitas yang demikian yang seringkali membuat manusia jatuh dalam pencobaan. Manusia kalau sudah tergoda dengan keinginan nafsu maka itu berarti awal kehancuran diri kita. Apalah artinya kita mendapatkan seluruh isi dunia kalau kita kehilangan nyawa kita. Iblis mencoba mengalihkan keinginan manusia tersebut pada hal yang bersifat duniawi, yakni keinginan untuk menjadi kaya, kemegahan dunia. Jangan sia-siakan hidupmu dan menggantinya dengan hal yang tidak layak. Biarlah kita mengarahkan hidup kita pada hal-hal yang bersifat rohani, mengejar kekudusan, dan keinginan untuk lebih mengenal kebenaran dan keadilan. Hendaklah keinginan kita adalah keinginan untuk menjadi serupa Kristus, bersekutu dalam hidup-Nya supaya bersama-sama dalam kebangkitan-Nya; keinginan untuk menggenapkan rencana-Nya di dalam hidup kita dan seluruh hidup kita hanyalah untuk menyenangkan hati Tuhan, yakni memuliakan nama-Nya.

VI. Menggeser Pengabdian

Kelima cara yang dipakai iblis tersebut sebenarnya bertujuan agar manusia menyembah pada iblis. Ibadah artinya kepala yang menunduk hingga menyentuh tanah hal ini menunjukkan pengabdian yang penuh pada obyek pengabdian kita. Kalau kita menyembah pada Tuhan maka kita adalah budak dan Tuhan adalah Tuan kita. Di seluruh alam semesta ini hanya Tuhan saja yang patut kita sembah. Manusia tidak dapat menyembah pada dua tuan. Orang yang menyembah Tuhan tetapi juga menyembah iblis maka ia adalah pezinah. Ibadah kita pada Tuhan tidak dapat dikompromikan karena itu jangan mempermainkan ibadah. Tuhan tidak mau diri-Nya diduakan tetapi sebaliknya iblis justru memperbolehkan kita menyembah pada dua tuan, yaitu iblis dan Tuhan karena iblis tahu bahwa pada akhirnya Tuhanlah yang justru akan membuang manusia. Dengan semakin jauhnya manusia dari Tuhan maka keinginan iblis telah tercapai dan hal ini berarti iblis telah sukses.

Keenam cara iblis ini muncul di sekeliling kita lalu dimanakah posisi kita? Dunia pasti mengikut the way of Satan. Kita sudah tahu akibatnya kalau kita mengikut jalan iblis, yaitu kebinasaan kekal dan memahami bahwa kalau kita mengikut jalan iblis maka seluruh tatanan hidup kita pun pasti akan dipengaruhi olehnya maka itu berarti kita telah berada pada jalur yang salah sehingga mata kita tidak akan pernah dapat melihat kebenaran. Di tengah dunia yang kacau ini biarlah kita tahu bagaimana seharusnya kita menempatkan diri sehingga kita tidak menjadi korban dari setan.  Amin. ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)