Ringkasan Khotbah : 4 Juli 2004

The Power of the Word

Nats: Mat. 4:4

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Dengan memahami berbagai macam tipu muslihat dan akal licik si iblis, manusia seharusnya lebih waspada dan peka dengan demikian kita tidak mudah masuk dalam jebakan si iblis dan juga kita menjadi semakin berhati-hati dalam bertindak dan bertingkah laku, apakah tindakan kita sudah sesuai dengan cara Tuhan atau justru lebih mirip dengan cara hantu? Adalah tujuan utama iblis untuk membuat manusia jatuh dalam dosa karena itu dengan berbagai cara Iblis selalu berusaha menjauhkan manusia dari kebenaran sejati. Puji Tuhan, Yesus telah memberikan teladan supaya kita dapat menang melawan iblis seperti halnya Yesus yang telah menang, yaitu hanya dengan Firman saja, “sebab ada tertulis“.

Dunia modern tidak suka dengan Firman malahan hendak menghancurkan kebenaran sejati. Gejala ini sudah nampak dengan munculnya berbagai macam aliran filsafat, seperti postmodernisme. “Sebab ada tertulis...“ berarti kita harus kembali pada obyektifitas kebenaran yang dituliskan dalam Firman Tuhan bahkan manusia sudah mulai terang-terangan menegaskan bahwa standar kebenaran ada pada diri sendiri oleh karena itu manusia tidak perlu taat pada kebenaran Firman. Inilah sifat humanisme, yaitu manusia menjadi pusat dan standart dari segala sesuatu, manusia tidak perlu tunduk pada siapapun dan apapun. Tidak! Alkitab menegaskan Tuhanlah yang menjadi pusat dari segala sesuatu bukan manusia, “sebab ada tertulis...“ Hati-hati dengan gerakan postmodern yang hendak memutarbalikkan kebenaran dengan mempermainkan bahasa. Gerakan ini muncul pada pertengahan abad 20 dimulai dari pertemuan para filsuf di lingkaran Vienna dan salah satu pelopor filsafat postmodern ini adalah Jacques Derrida yang menulis buku Of Grammatology. Dalam bukunya tersebut ia mempermainkan makna  sebuah bahasa dalam hermeneutika modern atau biasa dikenal dengan istilah language game.

Dalam Kekristenan, hermeneutika mempunyai pengertian ilmu menafsir Alkitab dengan tepat tapi kini istilah hermeneutik telah berubah maknanya yakni ilmu menafsirkan bahasa tapi menurut pengertian sendiri. Bayangkan, apa jadinya Alkitab kalau kita menafsir secara sembarangan menurut pengertian kita sendiri tanpa melihat konteks dan latar belakang sejarahnya maka Alkitab tidak lebih hanya sebuah buku dongeng yang dengan mudah dapat dipermainkan. Permainan bahasa ini dikenal dengan istilah plesetan dimana satu kalimat bahasa bisa mempunyai beberapa arti, sebagai contoh kalimat berikut: Hari ini harga-harga perlu disesuaikan. Istilah “disesuaikan“ disini bisa mempunyai beberapa arti terserah penafsiran kita masing-masing, ada yang menafsirkan harga dinaikkan, ada juga yang menafsir harga yang diturunkan, dan lain-lain. Orang lebih suka menggunakan kata-kata yang mengandung banyak arti daripada kata-kata yang mempunyai arti yang akurat seperti “sebab ada tertulis“ karena mereka sebenarnya hendak menghindar dari tuntutan pertanggung jawaban dari sesuatu yang dianggap benar.

Manusia mau menegakkan kebenarannya sendiri tapi tidak berani mengatakannya secara terus terang pada dunia karena sesungguhnya dia sadar bahwa kebenaran menurut diri sendiri tersebut merupakan ekspresi dari keegoisan dirinya jadi bukanlah kebenaran sejati. Orang yang demikian pasti akan mengalami kehancuran dalam hidupnya karena dia telah terbiasa menipu orang lain maka suatu hari nanti ia pasti menjadi korban dari penipuan. Kalau kita bisa menipu diri sendiri tentu kita lebih mudah ditipu oleh orang lain, bukan? Celakalah kalau kebenaran menurut kita masing-masing maka itu berarti kalau ada 100 orang maka berarti ada 100 kebenaran.  Kebenaran relatif menjadikan kebenaran subyektif yang pluralistik, banyak kebenaran tetapi tidak ada satupun yang mau bertanggung jawab kalau ternyata kebenaran yang mereka ungkapkan tersebut salah. Ketika kebenaran subyektif bertemu dengan kebenaran obyektif maka dengan sendirinya kebenaran subyektif akan hancur. Itulah sebabnya orang tidak suka dengan “sebab ada tertulis...“ Orang berdosa paling takut jika harus berhadapan dengan kebenaran sejati, yaitu Firman Tuhan karena mereka seakan ditelanjangi akan dosa-dosanya. Ironisnya mereka tidak bertobat dan kembali pada kebenaran Firman tapi mereka justru menjauh dari Firman seperti peribahasa buruk muka cermin dibelah. Di satu sisi manusia sadar bahwa kebenaran subyektif bukanlah kebenaran sejati tapi manusia tidak mau kembali pada kebenaran obyektif, manusia sadar kalau dirinya butuh sandaran sehingga mereka menyandarkan kebenaran dengan logika.

Iblis pun tak ketinggalan juga menggunakan logika ketika ia mencobai Tuhan Yesus di padang gurun begitu juga Tuhan Yesus yang juga menggunakan logika ketika menjawab untuk melawan si iblis. Logika Iblis dan logika Tuhan Yesus berbeda bahkan bertentangan. Karena  iman menjadi dasar yang melandasi setiap pemikiran dan keputusan yang kita buat maka hendaklah kita menguji iman kita. Apakah kita mempunyai iman yang sejati, yaitu iman kepada Tuhan Yesus Kristus? Lalu dengan apakah kita menguji iman? Apakah dengan logika? Tidak! Iman tidak dapat diuji dengan logika karena jika demikian berarti logika lebih tinggi dari iman padahal logika hanyalah sebagai sarana iman. Iman hanya dapat diuji dengan:

I. Sola Scriptura

Sejarah mencatat seorang bernama Martin Luther, tokoh reformasi berteriak dengan keras supaya manusia kembali pada Alkitab ketika manusia mulai menyelewengkan Firman Tuhan. Karena pada jaman itu ada kepercayaan bahwa jiwa manusia akan dapat diselamatkan kalau sanak keluarganya membeli surat pengampunan dosa. Setiap uang persembahan yang berdenting dalam kotak persembahan akan membuat satu nyawa melompat dari neraka ke surga. Ide untuk menjual surat pengampunan dosa ini muncul dari seorang arsitek, Johan Tetzel dalam rangka mencari dana untuk membangun gereja St. Peter di Roma. Sejarah mencatat kemegahan gereja St. Peter, Roma dan menjadi kebanggaan manusia di dunia hingga kini. Namun sangatlah disayangkan, keindahan dan kemegahannya tidak diiringi dengan kesaksian yang indah. Melihat lukisan indah Michael Angelo yang berada pada atap dinding, orang akan terkenang dengan hal yang buruk, yaitu si pelukis hanya melakukan sebatas tugas, tidak ada hati yang melayani.

Michael Angelo merasa dipersulit dengan melukis atap gereja yang berbentuk melengkung sedang rekannya yang junior, Raphael hanya melukis di bagian dinding. Andai, ia mengerjakannya dengan kesadaran bahwa semuanya ini ia kerjakan demi untuk kemuliaan Tuhan maka pasti akan menjadi kesaksian yang indah. Ingat, dentingan uang tidak dapat menyelamatkan nyawa kita. Sola Fide, Sola Scriptura, Sola Gracia, yakni hanya kembali pada iman, kembali pada Alkitab dan hanya karena anugerah saja maka manusia diselamatkan. Inilah dasar reformasi yang ditegakkan oleh Martin Luther dalam 95 dalil yang dipakukan di depan gereja Wittenberg. Manusia sangatlah terbatas sehingga manusia tidak berhak menegakkan kebenarannya sendiri. Hanya kembali pada Firman saja barulah kita akan menemukan kebenaran sejati.

Kalimat yang diungkapkan iblis pada Yesus, “Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti“ menggunakan logika yang tidak logis. Kenapa?

Pertama, karena tidak pada semua manusia, iblis mengeluarkan kalimat demikian; kalimat ini hanya ditujukan pada Tuhan Yesus saja hal ini berarti iblis sudah tahu bahwa Yesus adalah anak Allah; kata “jika“ iblis sepertinya meragukan bahwa Yesus adalah Anak Allah. Anggaplah iblis ragu bahwa Yesus adalah Anak Allah lalu kenapa ia meminta pada Yesus untuk mengubah batu menjadi roti? Bukankah cara yang sama juga dipakai oleh iblis untuk menggoda Adam dan Hawa supaya jatuh ke dalam pencobaan? Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan? (Kej. 3:1). Dengan licik Iblis menggunakan kalimat sedemikian rupa untuk menjebak manusia supaya jatuh ke dalam pencobaan. Kalimat tersebut bukanlah kalimat pernyataan tapi hanyalah kalimat pertanyaan. Inilah yang dinamakan dengan permainan logika yang tidak logis. Iblis tahu jawabannya tapi ia sengaja menjebak manusia dengan kalimat pertanyaan tersebut.

Kedua, Yesus adalah Anak Allah tentu Ia dapat mencipta roti hanya dengan berfirman seperti ketika Ia menciptakan seluruh alam semesta ini. Tuhan Yesus tidak perlu batu, bahan yang sudah ada untuk membuat sekeping roti. Iblis tidak dapat mencipta seperti Allah; Allah mencipta dari tidak ada menjadi ada. Iblis tahu bahwa Yesus adalah Anak Allah, Sang Pencipta tapi antara pengertian dengan pertanyaan iblis yang memerintahkan Yesus supaya mengubah batu menjadi roti sangatlah tidak logis.

Ketiga, Yesus, Anak Allah maka logisnya seorang Anak Allah tidak membutuhkan makanan atau sesuatu yang lain yang bersifat materi untuk memenuhi kebutuhan jasmani-Nya. Hanya anak manusia saja yang dapat lapar dan membutuhkan makanan. Iblis dengan licik mau mencoba mengadu domba antara ke-Allah-an Yesus dengan kemanusiaan Yesus. Namun Yesus tidak mudah terjebak masuk dalam jebakan iblis sehingga tidak terjadi perdebatan yang sifatnya sekunder. Hal yang esensi adalah manusia hidup bukan hanya dari roti saja tetapi dari setiap Firman yang keluar dari mulut Allah. Ini menjadi dasar bagi kita untuk berapologetik, yaitu ketika kita diminta untuk memberikan pertanggung jawaban mengenai iman kita maka janganlah beragumen di dalam logika lawan tapi justru kita bawa mereka masuk ke dalam logika kebenaran sejati, yaitu logika berdasarkan yang iman pada Tuhan Yesus. Logika Tuhan Yesus dan logika iblis berbeda baik pendekatan, struktur dan caranya, semuanya berbeda. Namun, ada baiknya juga kalau kita juga memahami semua logika iblis dengan demikian kita tidak akan masuk dalam jebakan iblis.

II. Interpretasi Akurat

Tuhan Yesus melawan iblis dengan Firman dan Tuhan Yesus mengajak iblis untuk masuk dalam logika-Nya. Setelah pencobaan pertama tidak berhasil, kali ini iblis pun mencoba menggunakan firman untuk mencobai Yesus lagi. Dengan licik, iblis menggunakan firman untuk mencobai Tuhan Yesus yang kedua kalinya, yaitu: Mzm. 91:11-12. Pada pencobaan yang kedua, Iblis menggunakan sarana rohani, yaitu Bait Allah dan Firman Allah. Kita akan menemukan sesuatu yang unik dalam diri Tuhan Yesus saat melawan iblis, yaitu tiga kali dicobai, Yesus hanya menggunakan satu ayat saja dan ketiga-tiganya berasal dari satu kitab Taurat, yaitu kitab Ulangan 8:3; 6:16; 6:13. Tuhan Yesus menangkal hanya menggunakan satu ayat tapi iblis lebih dari satu ayat.

Jadi, banyaknya ayat yang dipakai oleh seorang hamba Tuhan dalam kotbahnya bukanlah jaminan kalau yang dikotbahkan tersebut pastilah benar. Justru semakin banyak ayat yang digunakan maka peluang seseorang menjadi bidat semakin besar karena ayat-ayat tersebut tidak beda seperti halnya kalau kita bermain puzzle. Ingat, setiap ayat yang ditulis dalam Alkitab berbeda konteks, latar belakang budaya, dan lain-lain karena itu jangan menafsir Alkitab dengan sembarangan. Karena itu kita harus belajar Alkitab lebih sungguh sehingga kita tidak mudah digoyahkan. Kalau pada pencobaan pertama setan menggunakan logika dunia maka pada pencobaan yang kedua, ia menyamakan logikanya seperti Tuhan Yesus, yaitu menggunakan logika Firman. Hati-hati, setan tidak segan-segan menggunakan firman untuk menjatuhkan manusia. Orang Kristen kalau melihat dari sudut pandang Alkitab dengan tepat maka kita tidak akan mudah tertipu, kita harus tulus seperti merpati dan cerdik seperti ular, kedua hal ini harus ada dalam diri kita.

Tuhan Yesus adalah Anak Allah, maka sebenarnya Ia tidak perlu mengatakan, “Sebab ada tertulis...“ karena Dia sendiri adalah Firman yang telah menjadi daging namun Dia menggunakan Firman ketika melawan iblis demi untuk kita, yaitu supaya kita dapat meneladani-Nya. Jadi, setiap anak Tuhan yang sejati pun dapat melawan dan mengalahkan iblis dengan kuasa Firman. Lalu siapakah anak Tuhan yang sejati? Anak Tuhan yang sejati adalah mereka yang melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya (Yoh. 4:34) sehingga nama Tuhan dipermuliakan. Iblis memakai ayat Alkitab bukan untuk taat pada Tuhan tetapi untuk memanipulasi dan menuntut orang lain; dalam hal ini iblis ingin supaya Tuhan Yesus taat dan tunduk padanya. Inilah cara iblis bekerja bahkan tanpa kita sadari kita sebenarnya telah menggunakan cara yang sama seperti cara iblis namun berapa banyak di antara kita yang sadar, memohon ampun dan bertobat kembali pada Tuhan?

Dunia semakin hari tidak menjadi semakin baik tapi dunia semakin menuju pada titik kehancuran, manusia sudah menjadi serigala terhadap sesamanya, homo homini lupus maka jangan percaya kalau ada orang berpendapat bahwa hari esok akan lebih cerah dari hari ini. Manusia hidup di dunia tidak akan luput dari pencobaan bahkan iblis pun berani mencobai Tuhan Yesus, Anak Allah. Puji Tuhan, Yesus telah memberikan teladan bagi kita sehingg kita pun dapat melawan iblis dan menjadi berkemenangan. Tetaplah setia pada Firman supaya kita tidak mudah digoyahkan oleh segala macam tipu daya iblis. Bacalah keseluruhan isi Alkitab secara berurutan mulai dari Kejadian sampai Wahyu sehingga kita dapat mengerti isi Alkitab sebagai satu kesatuan yang utuh. Percayalah, Firman yang sudah kita baca tidak akan pernah berbalik dengan sia-sia karena Firman tersebut akan menjadi berkat di kala kita mengalami suka dan duka.  Amin. ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)