Ringkasan Khotbah : 27 Juni 2004

The Devil's Deeds

Nats: Mat. 4:3

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Seseorang dapat menjadi Juruselamat dunia kalau ia telah memenuhi seluruh tuntutan hukum Taurat dan ia haruslah orang yang tidak berdosa. Satu-satunya manusia di dunia yang dapat memenuhi syarat tersebut sehingga ia layak menjadi seorang Juruselamat hanyalah Yesus. Bukanlah hal yang mudah untuk menjadi seorang Juruselamat dunia, banyak proses yang harus dilewati dimana proses tersebut menuntut manusia untuk taat mutlak pada pimpinan Tuhan. Yesus, Allah Anak, pribadi kedua dari Allah Tritunggal harus dibaptiskan oleh seorang Yohanes Pembaptis dan tidak cukup sampai di situ setelah dibaptis Dia harus melewati “padang gurun“ - Yesus dicobai oleh Iblis. Cara Roh Kudus memimpin berbeda dengan konsep manusia. Orang berpendapat kalau Roh Kudus memimpin maka orang menjadi berkuasa sehingga memudahkan manusia untuk menggenapkan misi Kerajaan Allah. Namun Roh Kudus justru memimpin Kristus masuk ke padang gurun untuk dicobai Iblis.

Logika manusia sulit untuk memahami kenapa Tuhan memimpin orang masuk dalam berbagai tantangan setelah dibaptis? Ironisnya, manusia merasa diri lebih pandai dan lebih berbijaksana dari Tuhan sehingga orang seringkali menyalahkan cara Tuhan yang dirasakan tidak sesuai dengan dirinya. Hanya Roh Kudus saja yang dapat menyadarkan dan mengubah paradigma dengan demikian kita dapat membedakan cara Tuhan dan cara Iblis bekerja. Ketika kita sedang memilah dua aspek ini maka kita dapat mengkoreksi diri berada di posisi sebelah manakah kita? Apakah cara bertingkah laku, cara berpikir kita sama serupa Tuhan ataukah serupa hantu? Oleh karena itu kita harus memahami perilaku dan cara Iblis sehingga menjadikan manusia lebih waspada, yaitu:

1. Tindakan yang Cerdik dan Licik

Kata “lalu“ yang tertulis dalam Mat. 4:3 merupakan kata sambung yang menjadi penyambung dari kejadian sebelumnya. Iblis datang untuk mencobai Yesus pada saat yang tepat, yakni pada saat Tuhan Yesus lapar setelah berpuasa empat puluh hari empat puluh malam. Iblis datang di saat manusia berada dalam keadaan yang paling lemah dan berputus asa. Sebagai anak Tuhan, kita pun diajar untuk cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati (Mat. 10:16) dengan demikian setiap tindakan dan keputusan yang kita ambil mempunyai motivasi yang murni. Kecerdikan dan ketulusan ini tidak boleh dipisahkan karena hanya cerdik saja akan menjadikan kita seorang yang licik sebaliknya kalau hanya tulus saja maka tak ayal kita akan menjadi bulan-bulanan orang lain. Hati-hati dengan akal licik si Iblis yang datang ketika manusia sedang lemah dan sangat membutuhkan pertolongan.

Iblis datang seolah-olah memberikan pada kita solusi. Ingat, solusi yang diberikan Iblis hanyalah bersifat sementara malahan akan mencelakakan diri sendiri. Manusia menganggap bahwa dipimpin Roh Kudus berarti kita tidak akan pernah mengalami  kesulitan dan semua pelayanan yang berhubungan dengan misi Kerajaan Allah akan berjalan lancar. Alkitab menegaskan iman kita justru diuji di saat kita berada dalam kesulitan. Dalam hal ini iman Ayub telah teruji ketika ia tetap taat meski untuk mempertahankan imannya ia harus menderita. Pada saat kita berada dalam penderitaan, sakit penyakit apakah kita masih bisa memuji Tuhan dan tetap teguh beriman? Hati-hati, ketika kita berada dalam kondisi yang sangat kritis, panik dan tanpa pengharapan maka Iblis akan datang dengan menawarkan berbagai solusi. Dalam hal ini Iblis mengambil kesempatan dalam kesempitan. Iblis tidak mengembalikan manusia pada hakekat dan tujuan awal Tuhan mencipta tetapi Iblis justru semakin menjauhkan kita dari Tuhan. Iblis mengajar manusia supaya lari dari kesulitan dengan cara yang diajarkan olehnya dan biasanya cara Iblis ini sangat cocok dengan konsep manusia berdosa. Maka tidaklah heran kalau di dunia banyak manusia yang jatuh ke dalam dosa karena godaan si Iblis.

Sebelum menjalankan misi-Nya di dunia Kristus harus melewati “padang gurun“ untuk menyatakan komitmen dan kualitas pelayanan, to proclaim His comitment. Dengan demikian barulah kita memahami cara Roh Kudus memimpin setiap anak Tuhan. Di sepanjang sejarah Alkitab, setiap orang yang dipakai Tuhan seperti Abraham, Musa, Daud dan masih banyak lagi pun harus melewati “padang gurun“ terlebih dahulu. Tujuan Roh Kudus membiarkan kita masuk berjalan dalam padang gurun adalah untuk memperkokoh kekuatan iman kita sehingga kita siap dipakai Tuhan untuk mengerjakan pekerjaan-Nya yang besar. Seperti halnya ulat untuk berubah menjadi kupu-kupu dibutuhkan perjuangan yang keras; ia harus memecahkan kepompong yang menyelimuti dirinya terlebih dahulu. Berbeda halnya kalau kita berusaha menolong si ulat keluar dari kepompongnya maka pertolongan itu justru menyebabkan kematian bagi si ulat.

Kalau kita hanya mau segala sesuatunya beres berarti kita telah melewatkan proses yang Tuhan mau kerjakan dalam hidup kita. Hal itu tidak akan membuat kita menjadi seorang yang beriman tetapi akan menjadikan kita lumpuh dan tidak bisa berbuat apa-apa. Tuhan memimpin masuk ke padang gurun adalah demi untuk kebaikan kita, yaitu untuk memperkokoh iman namun logika manusia sulit untuk mengerti pimpinan Tuhan. Manusia seringkali beranggapan bahwa pimpinan Tuhan pastilah indah, lancar dan senang jalannya. Keputusan ada pada kita sekarang mau ikut cara Tuhan ataukah cara iblis?

2. Kebaikan Palsu

Di tengah dunia modern muncul gerakan humanisme dimana manusia ingin menjadi penolong bagi sesamanya bahkan gerakan ini telah menjadi trend. Orang yang demikian sebenarnya dibagi menjadi dua kategori, yakni: 1) orang kaya yang kelebihan uang dan tidak tahu bagaimana cara menghabiskan uangnya, 2) orang yang “gila“ hormat. Dua macam kategori ini jika bersatu mengerjakan segala sesuatu pasti mempunyai beberapa motivasi, yaitu: pertama, berharap mendapatkan imbalan berkat yang lebih besar dengan memberi berkat sedikit. Dalam hal ini berlaku prinsip ekonomi, yaitu dengan modal sekecil-kecilnya mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. Akibatnya, jika ia tidak mendapatkan keuntungan seperti yang diharapkan maka orang menjadi marah dan menyalahkan Tuhan karena Dia sebagai sang pemberi berkat tidak melimpahkan berkat. Jadi, perbuatan baik yang mereka lakukan sebenarnya bukanlah perbuatan baik karena mereka hanya ingin mendapatkan keuntungan saja. Kedua, dari perbuatan baik tersebut orang ingin dihormati. Maka tidaklah heran kalau orang ingin melakukan perbuatan baik maka ia akan mencari tempat dimana di sana ia disanjung dan dipuji bak dewa penolong. Ketiga, orang melakukan perbuatan baik untuk menutupi dosa/kesalahan yang telah diperbuatnya sehingga orang tidak melihat hal yang buruk tapi hanya melihat yang baiknya saja. Keempat, perbuatan baik menjadi ajang bisnis, yakni berbuat baik sama dengan iklan.

Alkitab mengajarkan jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu (Mat. 6:3). Hal itu berarti berbuat baik haruslah dilakukan dengan motivasi murni. Manusia tidak berhak mengambil keuntungan dari perbuatan baik yang kita lakukan tersebut, seperti hormat dan pujian atau imbalan, If you do goodness then you do it with pure motivation with clear heart. Setelah kita memahami berbagai motivasi orang melakukan kebaikan maka hendaklah kita waspada dengan akal licik si Iblis. Hati-hati, dengan tipu muslihat si Iblis yang menginginkan relasi antar manusia, relasi suami istri rusak karena uang. Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang (1Tim. 10:10a) oleh sebab itu jangan jadikan uang sebagai yang terutama dalam hidupmu, uang akan mencelakakan diri kita sendiri.

3. Pembalikan Posisi

Kedatangan Iblis sepertinya mau menolong Tuhan Yesus dengan memberikan solusi untuk mengubah batu menjadi roti. Sebenarnya kalau Iblis mau menolong, ia pun dapat mengubahkan batu menjadi roti tapi dalam hal ini ia tidak melakukannya karena ia memang bukan seorang penolong sejati. Cara Iblis sangatlah licik, ia seolah-olah memberikan pernyataan dengan mengatakan,“Jika Engkau Anak Allah...“ padahal itu bukan pernyataan melainkan suatu pertanyaan yang mengandung unsur tantangan dan menuntut pembuktian karena jika memang benar Yesus adalah Anak Allah maka seharusnya Ia bisa mengubah batu menjadi roti. Puji Tuhan, Yesus tidak jatuh dalam godaan iblis, Yesus tahu akal licik iblis yang hendak memutar posisi; Iblis yang harus tunduk pada Yesus bukan sebaliknya karena Yesus adalah Anak Allah. Hati-hati dengan akal licik si Iblis yang selalu berusaha menjatuhkan manusia dengan kata-kata sanjungan dan pujian. Sebagai Anak Tuhan, saat kita memuji hendaklah setiap pujian yang keluar dari mulut kita keluar dari hati dan motivasi yang murni. Hendaklah kita senantiasa mengevaluasi diri kita apakah setiap tindakan yang kita lakukan berkenan di hati Tuhan? Jangan biarkan ambisi pribadi menjadi penyebab dari kehancuran tubuh Kristus. Oleh karena itu hendaklah:

Pertama, menguji terlebih dahulu setiap ide/gagasan apakah ide/gagasan tersebut adalah benar demi untuk kemajuan pekerjaan Tuhan dan merupakan kehendak Tuhan atau sekedar ambisi pribadi? Reformed menjalankan prinsip: orang yang mempunyai ide/gagasan itulah yang terlebih dahulu harus menjalankan gagasannya tersebut. Ingat, jika bukan kehendak Tuhan maka sebaik apapun ide/gagasan kita pasti akan hancur. Biarlah tiap-tiap orang menggumulkannya secara pribadi, apakah Tuhan berkenan/tidak atas semua hal yang kita lakukan?

Kedua, kalau memang sudah menjadi kehendak Tuhan maka tugas kita adalah taat mutlak pada pimpinan Tuhan. Meski kehendak Tuhan tersebut tidaklah sesuai dengan kehendak manusia bahkan bertentangan namun kita harus taat mutlak pada pimpinanNya karena pimpinan-Nya pastilah yang terbaik. Percayalah, Dia tidak akan pernah meninggalkan anak-Nya sendiri dalam menghadapi segala tantangan dan kesulitan karena Tuhan pasti akan menolong dan memberikan kekuatan; kita akan merasakan sukacita sejati ketika berjalan dalam pimpinan Tuhan. Cara Tuhan memimpin berbeda dengan cara iblis. Tuhan memberikan beban pada setiap anak-Nya dan kepada setiap orang yang diberikan beban itulah yang harus mengerjakannya terlebih dahulu. Namun cara iblis berbeda, ia selalu memperbudak dan memanfaatkan orang lain demi untuk mencapai keinginannya.

4. Orientasi pada Kebutuhan Perut

Iblis hanya peduli dengan hal-hal yang bersifat fisik belaka bukan hal yang bersifat esensi. Iblis tidak pernah peduli dengan spiritualitas atau hal-hal yang bersifat rohani. Tidak! Maka tidaklah heran kalau hal pertama yang diperhatikan Iblis adalah kelaparan yang dialami Yesus. Berbeda dengan cara Tuhan yang lebih memperhatikan kehidupan rohani dan pertumbuhan iman kita daripada kebutuhan fisik. Kalau kita hanya memperhatikan kebutuhan fisik saja, yakni kebutuhan akan makanan lebih dari spritualitas kita maka apa bedanya manusia dengan binatang? Bukankah demi untuk memenuhi kebutuhan makanan seekor binatang dapat saling membunuh? Manusia telah menggantikan kemuliaan Allah dengan gambaran yang mirip binatang dan hal ini sudah tertulis dalam Rom 1: 20-24.

Hari ini bahkan orang sudah tidak malu lagi mengakui dirinya sebagai humanimal (human-animal), manusia menyamakan dirinya dengan binatang sehingga segala tindakan manusia selalu disamakan dengan binatang. Maka tidaklah heran kalau hari ini kita menjumpai tingkah laku dan berbagai macam gaya manusia yang mirip dengan binatang. Inilah kekontrasan cara Tuhan dengan cara iblis yang berbeda seratus delapan puluh derajat; iblis membawa manusia pada kehinaan sebaliknya Tuhan membawa manusia pada kemuliaan. Manusia tidak memahami cara Tuhan sehingga cara Tuhan yang tidak sesuai dengan kehendaknya tersebut dianggap sebagai hal yang mencelakakan justru celaka yang terbesar adalah kalau manusia hanya mau menuruti keinginan dagingnya. Manusia hidup bukan hanya dari roti saja tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah (Mat. 4:4). Hanya kembali pada Firman saja maka kita tahu apa arti dan tujuan hidup kita. Biarlah setiap orang Kristen waspada dengan akal licik si iblis dan hendaklah selalu bersandar pada Tuhan dengan demikian kita tidak akan mudah jatuh ke dalam pencobaan.  Amin. ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)