Ringkasan Khotbah : 20 Juni 2004

Yesus Kristus & Abraham

Nats: Kej. 12:1-3; Kis. 7:2-4; Rm. 4:16-25; Yoh. 8:52-58

Pengkhotbah : Ev. Solomon Yo

 

Pendahuluan

Manusia sudah cukup terpuaskan dengan semua pengetahuan yang ada yang mereka miliki sekarang padahal pengetahuan yang mereka dapatkan tersebut belumlah tuntas. Karena selama ini yang mereka anggap sebagai pengetahuan tersebut sesungguhnya bukan hal yang bersifat esensi. Setiap orang pastilah sudah tahu dan memahami bahwa setiap orang tua pasti menyayangi anaknya akan tetapi berapa banyak orang yang menghormati dan berbakti pada orang tuanya karena pengetahuan tersebut? Pengetahuan superfisial saja tidak akan memberikan dampak apa-apa kecuali mereka kembali kepada hal yang esensi. Seorang anak akan terus menjadi malu mempunyai ibu yang buruk rupa kalau ia hanya sekedar tahu secara superfisial namun rasa malu tersebut akan berubah menjadi kasih dan kebanggaan ketika ia mengetahui bahwa di balik wajah buruk wajah cantik yang terbakar demi menyelamatkannya dari kobaran api. Sebagai orang Kristen, kita juga tahu bahwa Allah adalah Allah yang Maha Mulia dan mengasihi namun tidak sedikit di antara kita telah menodai iman dan tidak tahan akan godaan Iblis lalu meninggalkan Tuhan. Kalau kita telah mengalami dan merasakan kasih Tuhan yang agung dan mulia yang telah rela berkorban demi untuk menyelamatkan kita maka tidak sekalipun kita akan meninggalkan-Nya. Darah Kristus yang tercurah di atas kayu salib sangatlah mahal; kita mati berulang kali pun tidak akan dapat membalas kasih-Nya.

Manusia sangatlah terbatas karena itu untuk membantu kita untuk semakin mengenal siapakah Yesus Kristus dibutuhkan berbagai perbandingan. Alkitab seharusnya membuat orang semakin mengenal siapakah Kristus Tuhan dan kita akan mencoba memahami Kristus melalui Abraham. Abraham adalah seorang tokoh yang besar namun Abraham tidaklah berarti apa-apa dibanding Kristus, Sang Pencipta dan pemilik alam semesta; tidak ada satu manusia pun di dunia yang lebih mulia dari Yesus.

I. Agama yang sejati dimulai dari Abraham, sebagai benihnya dan mencapai penggenapan yang sempurna dalam diri Yesus Kristus.

Dari Abrahamlah lahir tiga agama monotheisme besar di dunia, yaitu Yudaisme, Kristen dan Islam. Mulainya agama monotheisme pertama kali adalah Yudaisme yang lahir dari Abraham namun hal itu belum sempurna karena itu dibutuhkan penggenapan dalam Yesus Kristus. Munculnya Islam tidak membuat manusia lebih mengenal Allah yang sejati, sebaliknya justru membelokkan kebenaran sejati. Mereka tidak mengakui Allah Tritunggal yang menjanjikan Juruselamat dari keturunan Abraham, yakni Ishak sehingga mereka mereduksi kebenaran Alkitab dan disesuaikan dengan pikiran mereka. Perjanjian Baru merupakan penggenapan dari Perjanjian Lama. Abraham merupakan tokoh yang siginifikan karena kepadanyalah Allah memberikan wahyu Ilahi di mana wahyu tersebut sifatnya berkesinambungan, diteruskan oleh nabi Musa dan nabi-nabi lain dari keturunan Israel.

Agama sejati adalah keluarnya manusia dari kegelapan menuju terang, barangsiapa ada dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru. Oleh karena itu, Allah memanggil Abraham keluar dari tanah Ur Kasdim meninggalkan kekafiran penyembahan berhala. Nama Abraham juga dipakai untuk sebutan nama Allah, yakni Allah Abraham, dan Ishak, dan Allah Yakub. Abraham tidak hanya memiliki agama yang formal tapi dalam hatinya juga ada sebuah agama yang sejati. Abraham taat pada perintah Allah, ia beriman bahwa semua rencana-Nya indah karena itu ia rela mengorbankan Ishak, anak yang sangat dikasihinya, anak perjanjian. Sebab ada tertulis: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku (Mat. 16:24).

Agama sejati berasal dari Allah. Abraham hanyalah alat yang dipakai oleh Tuhan dimana dari dialah akan lahir sebuah agama sejati. Namun apakah semua keturunan Abraham mempunyai kerohanian yang baik? Tidak ada catatan istimewa mengenai diri Ishak bahkan banyaknya mujizat yang Allah kerjakan di padang gurun, seperti laut terbelah, manna, dan lain-lain tidak membuat bangsa Israel semakin mengenal Allah.

Para antropolog berpendapat bahwa seiring dengan perkembangan jaman maka agama juga semakin berkembang, yakni dari politeisme menjadi monoteisme. Benarkah demikian? Tidak! Api dari surga yang diturunkan oleh Elia tidak membuat bangsa Israel bertobat, ratapan Yeremia tidak ada gunanya hingga Tuhan membuang mereka ke Babel selama 70 tahun pun tidak membuat mereka mengenal Allah yang sejati. Bangsa Israel justru telah menyalibkan Anak Allah. Manusia berdosa tidak akan pernah memiliki agama yang sejati.

     Tuhan memberikan benih agama sejati pada Abraham akan tetapi tidak seorang pun dari keturunan Abraham yang mempunyai kerohanian yang baik sehingga tidak dapat menurunkan agama sejati. Celakalah, kalau agama sejati hanya berhenti pada Abraham saja karena itu perlu penggenapan sejati dari Yesus Kristus. Yesus datang bukan untuk meniadakan hukum Taurat tetapi Ia datang untuk menggenapkan hukum Taurat. Tuhan Yesus telah mencerahkan pikiran manusia dan membawa kita pada pengertian agama yang sejati. Menjalankan seluruh hukum Taurat pun tidak akan membawa orang menuju ke surga karena kesalehan yang mereka lakukan sebenarnya hanyalah kedok belaka; mereka hanya mencintai diri dan uang oleh sebab itulah Tuhan Yesus menegur dengan keras: “...lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum daripada seorang kaya masuk dalam Kerajaan Allah“ (Mat. 19:24). Hanya anugerah dan iman kepada Yesus Kristus saja yang dapat membawa kita masuk dalam Sorga kekal. Berbahagialah setiap kita yang Tuhan pilih menjadi anak-Nya dan turut berbagian dalam Kerajaan Allah karena itu jangan sia-siakan anugerah Tuhan tetapi hendaklah kita menjadi saksi Kristus. 

II. Abraham adalah bapa orang beriman sedangkan Yesus Kristus adalah dasar iman, pencipta dan penyempurna iman kIta.

Ciri-ciri agama sejati ialah agama yang berdasarkan prinsip iman. Alkitab menegaskan dua prinsip agama, yaitu: pertama, agama yang berdasarkan perbuatan baik, agama demikian tidak akan dapat membawa manusia pada keselamatan karena semua manusia di dunia berdosa, kecuali kedua, Yesus yang tidak berdosa dan telah memenuhi tuntutan hukum Taurat sehingga - Ia layak menjadi tebusan bagi umat manusia - berkenan memberikan anugerah-Nya pada kita untuk turut memerintah bersama-sama dengan Dia dalam Kerajaan-Nya. Agama yang sejati adalah agama yang berdasarkan pada iman karena di dalam kehidupan nyata, Allahlah yang berinisiatif memilih dan memanggilnya kepada kehidupan yang baru dimana dari sanalah akan lahir suatu bangsa yang memuliakan nama Tuhan. Karena iman Abraham dibenarkan oleh karena itu ia disebut bapa orang beriman. Ironisnya, bangsa Israel tidak mencontoh teladan iman dari Abraham, mereka masih tetap berusaha mendapatkan keselamatannya melalui perbuatan dengan menjalankan hukum Taurat. Hukum Taurat diberikan untuk memberikan tuntunan bagi mereka yang telah terlebih dahulu mendapatkan berkat, yaitu janji sebagai anak Allah.

Iman terlihat dalam kehidupan Abraham. Sebelum Ishak lahir, Abraham dijanjikan akan mendapatkan keturunan yang melaluinya semua bangsa di bumi akan diberkati. Lama kemudian, setelah kelahiran Ishak, Abraham diperintahkan untuk mempersembahkan Ishak. Abraham percaya bahwa rancangan Tuhan pastilah yang terbaik, hal inilah yang menjadi dasar tindakan ketaatannya. Sebab ada tertulis bahwa, “... orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya“ (Hab. 2:4). Sebagai umat Tuhan, ketika kita berada dalam penderitaan dan situasi yang tidak menguntungkan apakah kita masih tetap beriman pada-Nya? Justru ketika kita berada dalam kesulitanlah Tuhan menyatakan kuasa-Nya; kita akan melihat terang Tuhan bercahaya ketika kita berada dalam gelap. St. John of the Cross mengatakan bahwa terkadang Tuhan membawa kita ke dalam kegelapan – bukan karena kita berdosa - dalam keadaan demikian kita harus berdiam diri di hadapan Tuhan dan menantikan Dia. Tujuan Allah ialah untuk melucuti semua hal yang menjadi sumber sukacita hidup kita, dan dalam keadaan demikian kita baru dibawa untuk mengalami Allah sebagai sumber berkat itu sendiri. Baru setelah demikian orang akan mengalami kemenangan dan berkata, “Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya“ (Mzm. 73:26). Inilah iman yang sejati, oleh karena itu jangan terlalu cepat menyimpulkan suatu bagian hidup kita sebagai akhir dari perjalanan hidup kita; Tuhan justru bekerja di detik-detik terakhir, yakni di saat kita mulai patah semangat dan merasa berada pada jalan buntu. Sebagai anak Tuhan yang beriman, janganlah mudah menyerah ingat, Tuhan pasti akan menolong dan memberikan kekuatan di saat tantangan dan kesulitan menghadang kita. Tak akan pernah dibiarkannya kita terjatuh karena tangan-Nya selalu siap menopang.

Sangatlah disayangkan, kalau sampai detik ini orang Israel masih beranggapan bahwa hukum Tauratlah yang akan membawa mereka menuju jalan keselamatan padahal Mesias yang mereka nantikan tersebut sudah datang. Bahkan di dunia modern ini orang merasa tidak cukup hanya mempunyai satu kepercayaan saja tidak terkecuali orang Kristen. Mereka telah menyia-nyiakan karunia iman agama sejati maka sudah sewajarnyalah kalau Paulus mengatakan terkutuklah orang yang mau mengalihkan Injil kepada Taurat. Iman kepada Yesus berbeda dengan iman kepada obyek yang lain; iman kepada Yesus akan membawa kita menuju keselamatan. Iman bagaikan sebuah tangan lemah dan tak berdaya yang diulurkan untuk menyambut belas pengasihan dan keselamatan yang dikerjakan oleh Allah.

Karya keselamatan yang Tuhan kerjakan pada diri setiap manusia berdosa bukanlah suatu pekerjaan yang sederhana dan sepele. Kuasa Ilahi yang dikerjakan Allah dalam diri setiap manusia berdosa akan melahirbarukan hidup kita, Dia akan membentuk kita seturut dengan rancangan-Nya, untuk semakin serupa Kristus. Tiada yang mustahil bagi Kristus, Dia dapat mengubahkan orang bahkan yang jahat seperti Paulus menjadi pribadi yang mulia dan diperkenan Allah. Tiada pujian yang lebih indah selain pujian yang keluar dari mulut Allah yang berkenan atas segala pekerjaan baik yang telah dipersiapkan Allah sebelumnya untuk kita lakukan. Biarlah kuasa Ilahi yang bekerja melalui iman yang mengubahkan hidup kita tersebut membuat dunia heran dan berdecak kagum atas karya Kristus.

III. Abraham adalah bapa umat yang diberkati; sedangkan Yesus adalah pokok keselamatan dan sumber segala berkat Ilahi. 

                Abraham selalu diasosiasikan dengan berkat. Melalui dia semua keturunannya diberkati. Oleh karena itu orang Israel sangat bangga menyebut diri sebagai keturunan Abraham. Namun Yohanes Pembaptis menegaskan bahwa bukan karena keturunan Abraham, mereka diselamatkan sebab Allah dapat menjadikan anak-anak bagi Abraham dari batu; dan ... setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api (Mat. 3:9-10). Asosiasi Abraham dengan berkat juga diakui Tuhan Yesus, ketika Ia berkata tentang Zakheus,“Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang ini pun anak Abraham (Luk. 19:9; bdk. Luk. 16:22). Namun Abraham bukanlah sumber berkat tetapi Abraham adalah penerima berkat, Abraham hanya memandang pada Kristus sehingga melalui iman yang sama seperti Abraham kita pun turut diberkati. Yesus datang maka Abraham memperoleh pemenuhan dari segala berkat yang Tuhan berikan kepadanya. Karya penebusan Kristus merupakan dasar dari iman Kristen. Jadi, mustahil kalau orang mengaku diri Kristen namun tidak percaya Kristus. Orang yang demikian disebut bidat.

Puji Tuhan, Allah telah menyediakan berkat jasmani dan rohani pada setiap manusia. Tanpa Tuhan kita tidaklah berarti apa-apa sebab segala kepandaian, kekayaan dan lain-lain adalah pemberian-Nya. Jesus is the creator of our faith  and the perfector of our faith, Yesus adalah pencipta iman kita dan Dia yang menyempurnakan iman kita. Manusia dicipta menurut gambar dan rupa Allah dimana dalam dirinya ada sifat moral sehingga orang akan memikirkan hal yang ideal dalam mencipta suatu agama. Maka wajarlah kalau orang terkecoh dengan agama ciptaan manusia tersebut. Namun kalau kita bandingkan dengan segala pengetahuan dan pengenalan kita akan Kristus barulah kita menyadari bahwa agama ciptaan manusia itu tidak berarti apa dibanding dengan Kristus.

Kebanggaan kita sekarang bukan karena kita keturunan Abraham akan tetapi lebih dari itu, yaitu kita adalah anak-anak Allah. Dalam Kristus, kita menerima segala berkat dan anugerah keselamatan. Inilah rahasia kekuatan kerohanian sejati. Orang mampu melakukan dan mau berbuat apa saja demi kebenaran yang mereka yakini. Kita bukanlah budak; kita telah ditebus oleh darah Yesus dan kita dijadikan anak-Nya sehingga kita beroleh kekayaan rohani berlimpah. Ingat, Tuhan akan selalu beserta bahkan ketika kita berada dalam kegelapan sekalipun Ia tidak akan pernah meninggalkan kita; Tuhan Yesus menjadikan segala sesuatu indah pada waktu-Nya. Kita telah mendapatkan kasih karunia Tuhan yang penuh berlimpah jadi, apakah engkau masih mau mengorbankan Yesus sumber berkat Ilahi itu demi untuk dunia dan segala isinya yang bersifat semu dan sia-sia? Amin. ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)