Ringkasan Khotbah : 30 Mei 2004

Faith in Christ

Nats: Kis. 2: 24-28

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Turunnya Roh Kudus pada hari Pentakosta merupakan bukti bahwa Allah tidak pernah meninggalkan anak-anak-Nya sendirian di dunia; Dia senantiasa memelihara hidup kita. Pentakosta menjadi titik awal berdirinya gereja, titik Perjanjian Baru. Kristus datang untuk menggenapkan hukum Taurat karena itu Tuhan Yesus taat menjalankan seluruh peraturan yang ada dalam hukum Taurat, seperti disunat pada hari ke delapan dan beribadah pada hari Sabat; Tuhan Yesus masih menjalankan “dispensasi“ yang lama. Namun, kita tidak boleh mengerti dispensasi seperti orang dispensasionalis mengerti tentang dispensasi. Pada jaman PL, mereka selalu diajar untuk melihat ke belakang bahwa suatu hari nanti akan datang Mesias, seorang Juruselamat. Oleh karena itu mereka beribadah pada hari terakhir yaitu hari Sabat atau Sabtu. Kristus merupakan titik pusat, kalau dibayangkan dengan sebuah garis maka Kristus berada di tengah/pusat sehingga semua yang dari titik alfa, titik awal akan melihat Kristus ada di belakang dan semua yang dari titik omega, titik akhir melihat Kristus berada di depan.

Tuhan Yesus bangkit pada hari pertama, yaitu Minggu (Luk. 24:1) dan sepuluh hari setelah kenaikan Tuhan Yesus ke surga, pada hari pertama Minggu itu, Roh Kudus turun ke atas para murid dan pada hari itu juga mereka mempunyai keberanian dan kuasa untuk memberitakan Injil ke seluruh dunia. Gereja pertama kali berdiri dengan jumlah jemaat 3000 orang. Karena itu, saat ini orang Kristen berbakti pada hari pertama, yaitu Minggu. Kekristenan menaruh hari pertama di hari Minggu namun dunia memutarbalikkannya dengan menaruh hari Minggu di hari terakhir. Kristus yang harus diutamakan terlebih dahulu bukan seperti jaman PL kita bekerja dulu barulah di hari terakhir datang beribadah kepada Tuhan. Jadi, hari ini kalau kita kebaktian pada hari Minggu itu bukan karena tradisi atau kemauan para rasul dan bapa-bapa gereja.

Berita yang disampaikan oleh Petrus dan para murid yang lain menjadi berita yang kontroversi; mereka tidak lagi memberitakan tentang Taurat melainkan berita yang utama, yaitu Allah membangkitkan Dia dengan melepaskan Dia dari sengsara maut (ay. 24). Petrus berkhotbah dengan bahasa Yahudi namun mereka yang datang dari segala penjuru dunia dapat mengerti dalam bahasa mereka masing-masing. Inilah bahasa Roh sejati bukan seperti sekarang dimana banyak orang berbahasa Roh namun orang yang mendengar tidak dapat mengerti artinya. Berita kontroversi ini membuat mereka menjadi marah sehingga mereka mengeluarkan tuduhan bahwa Petrus dan para Rasul sedang mabuk anggur. Jemaat yang mula-mula tidak pernah meributkan hal-hal yang bersifat ekstensi. Hari ini, banyak orang Kristen yang menjadi bidat, mereka hanya meributkan hal yang ekstensi, seperti berkata-kata dengan bahasa roh, lidah-lidah api tapi hal yang esensi justru mereka lupakan.

Gereja sejati adalah gereja yang memusatkan diri pada Kristus dan kuasa kebangkitan-Nya. Dengan demikian kita menyadari keberadaan diri kita yang dicipta menurut gambar dan rupa Allah. Petrus dan para Rasul ingin menyadarkan agar orang Yahudi merubah cara berpikir mereka yang selama ini melihat Kristus ke belakang diubahkan dengan memandang Kristus di depan. Dalam khotbahnya, Petrus menyebut nama Daud, orang yang mempunyai pengaruh besar bagi orang Israel. Bangsa Israel sangat mengidamkan kerajaan Daud seperti jaman PL, kerajaan yang duniawi. Celakanya, konsep ini telah berakar kuat di pemikiran mereka. Ironisnya, para murid yang sudah tiga tahun di didik oleh Tuhan Yesus pun masih berpikir tentang kerajaan Daud yang duniawi. Para murid sudah melihat dengan mata kepala mereka sendiri Yesus mati, Yesus bangkit dan menjelang Tuhan Yesus naik ke surga, mereka masih bertanya: “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?“ (Kis.1:6). Sampai hari ini pun orang Israel masih mengidamkan kerajaan Daud; hanya Roh Kudus saja yang dapat menyadarkan mereka. Konsep ini sukar sekali dihilangkan karena: pertama, orang Yahudi telah dijajah selama beratus-ratus tahun oleh bangsa-bangsa lain. Orang Yahudi bekerja mati-matian dan hasilnya diserahkan pada pemungut cukai. Mereka sangat membenci pemungut cukai dan mengaggap mereka sebagai pengkhianat sebab mereka bekerja untuk penjajah. Orang Yahudi menantikan kemerdekaan dengan demikian kerajaan Daud ditegakkan kembali. Kerajaan Daud yang dimaksud bukan Kerajaan Surgawi melainkan Kerajaan duniawi yang wilayahnya meliputi Yunani, Turki, seluruh jazirah Arab hingga Timur Tengah; kedua, orang Yahudi mempunyai rasa nasionalisme yang tinggi. Bagi mereka, status jajahan sangatlah merendahkan harga diri mereka. Kecintaan mereka terhadap bangsanya dapat menyatukan bangsa Yahudi yang telah terpencar di berbagai bangsa ketika negara Israel merdeka, pada tahun 1948. Bintang Daud, the star of David, yakni bintang berbentuk segi enam mereka pakai sebagai lambang bendera untuk mengingatkan mereka akan Kerajaan Daud.

Pengharapan bangsa Israel sepenuhnya dicurahkan pada Daud namun Petrus menyadarkan mereka bahwa David is not the end because David hope Someone; Daud berharap pada Kristus, the Holy one yang tidak dapat dikuasai oleh kematian. Iman Daud jauh melampaui ruang dan waktu, ia memandang pada Kristus pengharapan sejati seperti yang diungkapkannya dalam Mzm. 16:7-11, mazmur Mesianic dan dikutip kembali oleh Petrus dalam khotbah pertamanya. Apa yang dapat kita mengerti melalui iman yang seperti Daud ini?

I. Esensi Iman: Bersandar pada Allah

Dengan tajam, Petrus mengajak kita untuk memahami esensi iman yang sejati. Hanya dengan memandang pada Allah dan bersandar pada-Nya maka kita tidak mudah tergoyahkan (Kis. 2:25). Bukan hal yang mudah menjaga keseimbangan di atas landasan yang senantiasa bergerak maka agar kita tidak mudah terjatuh, dibutuhkan kekuatan dan konsentrasi penuh. Bayangkan, untuk menjaga keseimbangan di atas air yang tenang saja kita sudah kesulitan apalagi harus berdiri di atas ombak air yang besar. Landasan yang goyah ini adalah gambaran dunia modern dimana kita hidup di dalamnya. Segala sesuatu di dunia tidak ada yang pasti maka celakalah orang yang hidupnya tidak mempunyai sandaran yang kokoh, ia akan mudah diombang-ambingkan arus dunia. Orang dunia hidupnya selalu merasa hampa dan mengalami kejenuhan karena mereka telah membuang batu penjuru yang kokoh. Puji Tuhan, tangan-Nya yang kokoh senantiasa memegang tangan kita; Dia tidak pernah sekalipun membiarkan kita tergeletak. Yang menjadi pertanyaansekarang adalah: sudahkah kita menjadikan Tuhan Yesus menjadi batu penjuru yang kokoh dalam hidup kita?

Dunia menganggap hari Senin sebagai hari pertama, first day maka tidaklah heran kalau orang Kristen hanya beriman di hari Minggu saja, mereka memisahkan antara yang rohani dan yang duniawi. Segala sesuatu yang akan kita kerjakan besok seharusnya adalah sebagai akibat dari apa yang kita terima hari ini; berkat Firman yang kita peroleh seharusnya direlasikan dan menjadi kekuatan kita untuk menapaki hari Senin dan hari-hari berikutnya. Sayang, hari ini banyak orang Kristen yang tidak beriman pada Tuhan Yesus dengan sungguh, manusia merasa tidak cukup hanya dengan satu Tuhan sehingga mencari allah-allah lain sebagai cadangan. Manusia merasa diri mampu menjalankan hidup tanpa harus bersandar pada Tuhan. Manusia tidak menyadari kesombongan ini justru merupakan titik awal kejatuhan mereka. Hanya sandar Allah saja kita akan menjalani hidup di dunia dengan penuh kepastian.

II. Kehidupan Iman: Sukacita di dalam Allah

Alkitab mengajarkan supaya kita bersandar pada Tuhan adalah demi untuk kebaikan kita; dengan bersandar pada-Nya maka kita akan merasakan tenteram (Kis. 2:26). Pengertian tenteram bukan berarti pasif atau empty. Tidak! Tenteram adalah kalau kita dapat melepaskan diri dari gejolak bahkan meski kita berada di tengah gejolak pun kita tidak ikut larut dalam gejolak. Banyak orang yang menggambarkan tenteram atau damai dengan lukisan di tengah-tengah bukit-bukit batu yang putih tertutup salju ada danau yang sangat tenang seolah-olah turut larut dalam dinginnya udara dan ditumbuhi dengan pohon bambu dengan daunnya yang melambai ditiup angin. Lukisan ini bukanlah gambaran tenteram melainkan gambaran suasana yang dingin dan mencekam, mystical aspect akibatnya kita masuk dalam suatu kekosongan, emptiness. Damai dalam Tuhan adalah ketika dunia bergejolak, kita justru merasa tentram karena kita tahu pasti tangan kita berpegang pada tangan Tuhan yang tidak akan goyah. Air yang bergolak bukanlah ancaman tapi kita justru  menikmati golakan air tersebut. Dunia semakin hari semakin menekan kita, hidup kita selalu berada dalam ketegangan maka tidaklah heran kalau sekarang orang lebih tidak tahan terhadap penyakit. Hati-hati, ketika hidup kita tertekan, dunia akan memberikan jalan keluar, seperti: narkoba, minuman keras atau berlibur sepanjang hari dan melupakan pekerjaan seperti yang diungkapkan Kiyosaki. Salah! Bayangkan, orang berada di tempat tidur, makan, minum dan segala aktivitas mulai dari bangun sampai tidur lagi dilayani orang lain maka itu tidak akan membuat sehat tetapi justru mempercepat kematian kita. Itu bukan leisure atau sukacita sejati.

Tekanan hidup bisa dari politik, sosial, bahkan orang tua. Hari ini banyak orang tua yang tidak menyadari bahwa dengan mendidik anaknya untuk selalu menjadi the best one sudah menekan hidup anak. Karena hal itu bukan demi untuk kebaikan si anak tetapi sesungguhnya hanyalah demi untuk kebanggaan dirinya. Orang tua tidak tahu bahwa setiap anak mempunyai kemampuan yang berbeda dan setiap anak mempunyai titik kelelahan, fatic point. Kalau anak sudah mencapai titik lelah tapi dipaksa terus untuk selalu berprestasi akibatnya si anak menjadi tertekan dan depresi maka tidaklah heran akhir-akhir ini kita menjumpai banyak anak yang bunuh diri atau menjadi gila. Standar dunia menilai kesuksesan adalah kalau seseorang kaya, mempunyai kedudukan, dan lain-lain tapi dunia tidak pernah tahu dan tidak mau tahu kalau sebenarnya hidup seseorang menjadi tegang dan tertekan. Celakanya, ketika orang mau melarikan diri dari tekanan, mereka malah terjebak dalam tekanan yang lain, seperti narkoba.

Tuhan tidak menciptakan manusia untuk hidup dalam tekanan dan kesulitan. Tujuan Tuhan menciptakan manusia adalah untuk memuliakan Dia dan menikmati bait-Nya, to glorify Him and to enjoyed Him forever. Adalah benar, sejak kejatuhan manusia dalam dosa, dunia selalu penuh dengan onak dan semak duri namun biarlah di tengah badai, kita tetap bersorak sorai dan bersukacita karena Kristus sudah menang dan tugas setiap anak Tuhan untuk memberitakan kabar sukacita ini. Itulah sebabnya dunia tidak dapat mengerti kenapa Paulus masih bisa bersukacita dan memuji Tuhan ketika ia berada dalam penjara. Sikap Paulus seharusnya menjadi teladan bagi kita.

III. Jalan Iman: Melangkah Bersama Allah

Dunia sudah berada dalam tekanan yang tinggi sehingga dunia akan menjadi panik dan marah kalau diajak berpikir tentang segala sesuatu yang sifatnya masa depan. Berbeda dengan 20 tahun lalu dimana hidup manusia tidak setegang hari ini sehingga orang selalu berpikir untuk jangka panjang. Namun dunia semakin hari berjalan makin cepat, hal ini nampak dari perkembangan musik yang dapat rasakan sekarang. Dulu orang mencipta musik dengan teratur, yaitu not ¼ ( ) dan hitungan 1 ketuk, seiring perkembangan jaman yang berjalan cepat, orang lalu mencipta musik dengan not 1/8 ( ); not 1/16 ( ) bahkan not 1/32 ( ); makin lama makin cepat sampai mulut manusia tidak bisa menyanyikan lagunya. Ingat, hidup Kekristenanan bukan cuma untuk hari ini tapi Kekristenan memandang pada Kristus di depan, ada rentan waktu dimana kita turut berjalan di dalamnya dan menikmati sukacita sejati.

The total history of human being, seluruh totalitas sejarah manusia dari titik alfa hingga titik omega boleh berjalan, dunia boleh berjalan makin cepat namun Tuhan tetap berkuasa atas sejarah; Dia tidak pernah melepaskan benang merah sejarah manusia. Tuhan telah menetapkan tujuan bagi setiap manusia untuk melakukan pekerjaan baik yang dipersiapkan Allah sebelumnya (Ef. 2:10). Pekerjaan baik bukan hanya di dalam gereja saja tapi pekerjaan ini menyangkut seluruh totalitas hidup kita dan Tuhan ingin kita menggenapkan-Nya dimanapun dan apapun profesi kita. Ketika menggenapkan semua rencana-Nya, Dia pasti akan menolong kita menghadapi ssemua tantangan dan kesulitan dunia. Dunia selalu berputar tetapi biarlah kita tidak ikut larut di dalamnya karena kita berada di titik pusat putaran. Karena itu jangan serahkan hidupmu pada dunia tetapi sandarkan hidupmu pada Tuhan maka kita akan merasakan ketenteraman dan sukacita sejati.  Amin. ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)