Ringkasan Khotbah : 23 Mei 2004

The Paradoxical Position

Nats: Mat. 3: 13-15

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Kita telah memahami bahwa keselamatan manusia bukan didasarkan pada baptisan karena dengan demikian hal itu berarti kita telah melecehkan Kritus dan Karya Penebusan-Nya dan kita juga melecehkan anugerah Allah yang telah memilih kita dari dunia ini bahkan sebelum dunia dijadikan. Kalau keselamatan hanya diperoleh melalui baptisan, lalu bagaimana dengan pernyataan Tuhan Yesus pada penjahat yang bertobat di sisi-Nya: Hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus (Luk. 23:43). Iman Kristen sejati mutlak didasarkan pada Kritus dan karya penebusan-Nya maka orang yang melawan pribadi Kristus adalah bidat. Hal itu berarti ia telah meresikokan diri untuk  dibuang ke dalam api yang tak terpadamkan. Ingat, manusia merupakan satu-satunya makhluk yang dapat merelasikan unsur kekekalan dan kesementaraan maka manusia harus bertanggung jawab terhadap seluruh perbuatannya di dunia.

Matius 3:13-17 seharusnya tidak boleh dilepaskan dari perikop sebelumnya karena ayat ini   berkesinambungan dengan ayat sebelumnya. Dengan adanya judul yang diberikan LAI seolah-olah memberikan gambaran ada dua kejadian yang berbeda, yakni ayat 1-12 merupakan pendahuluan dan ayat 13-17 merupakan inti dari kejadian dimana tokoh utamanya, Yesus Kristus yang dibicarakan Yohanes Pembaptis sebelumnya telah muncul. Untuk lebih memahami ayat ini maka kita harus kembali pada kondisi jaman saat itu, abad 27M dimana semua orang ketika itu mengenal Tuhan Yesus hanya sebatas seorang anak tukang kayu atau sebatas saudara sepupu Yohanes Pembaptis; dan sama seperti yang lain Ia datang untuk dibaptiskan. Maka dapatlah disimpulkan, orang pasti lebih mengenal Yohanes Pembaptis daripada Tuhan Yesus. Orang Farisi dan orang Saduki pun meminta diri untuk dibaptis bahkan mereka tidak membantah sepatah kata pun ketika Yohanes Pembaptis menegur mereka.

I. The Paradoxical Position

Perjumpaan yang terjadi antara Yesus dengan Yohanes Pembaptis ini merupakan perjumpaan yang sangat penting dan kritis. Orang lebih menghormati Yohanes Pembaptis dibanding Yesus terbukti orang Farisi dan orang Saduki, orang yang terhormat datang minta dibaptis. Mereka tidak tahu dan tidak menyangka kalau yang datang itu adalah Yesus, Mesias yang dinantikan namun Yohanes Pembaptis peka karena itu ia dapat berkata, “Akulah yang perlu dibaptis oleh-Mu“ (Mat. 3:14). Bandingkanlah dengan pertemuan yang terjadi antara Yesus dan Pilatus; pada saat itu banyak orang sudah mengenal siapa Yesus bahkan Pilatus pun tahu namun ia justru tidak mau mengenal kebenaran sejati tetapi malah menghina kebenaran dengan kalimat yang mengejek, “Apa itu kebenaran?“ Pilatus menganggap bahwa dirinyalah yang paling berkuasa karena mati hidupnya Yesus berada di tangan-Nya; ia tidak menyadari bahwa kuasa yang ada padanya sekarang adalah pemberian dari Bapa dan sifatnya sementara.  Biarlah pertemuan yang terjadi, yaitu pribadi kita dengan Kristus, kita sadari sebagai momentum yang terpenting dalam hidup kita.

Dalam hal ini Yohanes Pembaptis mempunyai posisi lebih tinggi namun ia justru memposisikan dirinya di tingkat yang lebih rendah dan memposisikan Kristus di posisi yang paling sentral di tengah-tengah dunia. Dapatlah dibayangkan pada saat itu orang tentu kaget mendengar perkataan Yohanes Pembaptis yang selama ini bagi mereka adalah seorang yang terhormat yang dapat disejajarkan dengan orang Farisi dan orang Yahudi. Bukanlah hal yang mudah bagi seseorang yang mempunyai kedudukan tinggi dan dihormati masyarakat merendahkan diri di hadapan orang lain karena itu dibutuhkan suatu kerelaan hati. Apalagi sekarang manusia di dunia telah dididik, ditipu, ditekan dan dimanipulasi untuk menyatakan diri sebagai yang nomor satu, I am the one, I am the highest, I am the most important. Merupakan hal yang sulit bagi manusia untuk menyadari dan mengakui bahwa dirinya bukanlah siapa-siapa meski di dunia ia dihormati. Inilah paradoxical position.

Bukanlah hal yang mudah bagi kita untuk menempatkan diri kita di tengah-tengah alam semesta karena banyak godaan dan keinginan untuk kita menjadi the most important person, kecuali kita kembali pada Tuhan Yesus maka kita akan tahu dengan jelas esensi manusia sejati. Orang yang selalu mempunyai keinginan untuk menjadi nomor satu dan dihormati maka ia semakin dihinakan orang dan Tuhan. First thing first, put yourself in right position, hal yang utama tempatkan dirimu di posisi yang tepat di hadapan Tuhan maka hidupmu akan tertata dengan baik. Yohanes Pembaptis telah memberikan teladan bagi kita supaya kita menyadari akan keberadaan diri di hadapan Yesus sehingga kita dapat berkata, “Dia yang harus makin bertambah dan aku yang harus makin berkurang“.

II. Ketaatan Menjalankan Kehendak Allah

Yohanes Pembaptis menyadari kalau dirinya tidak layak membaptis Tuhan Yesus justru Yesuslah yang seharusnya membaptiskan dia namun Tuhan Yesus tahu bahwa sudah menjadi rencana dan kehendak Allah kalau Diri-Nya dibaptiskan oleh Yohanes Pembaptis dan Yesus pun taat. Yohanes Pembaptis menyadarkan kita agar tidak mudah terjebak dengan fenomena karena topeng  dapat membutakan kita untuk melihat realita dengan tepat. Dua macam topeng yang biasa dgunakan: 1) dia ingin menjadi seperti siapa maka topeng itulah yang akan ia kenakan. Biasanya, orang akan meniru semua tingkah laku, gaya hidup, dan lain-lain dari tokoh yang diidolakan; 2) orang ingin dia untuk menjadi seperti apa maka topeng itulah yang akan  ia kenakan. Orang akan melakukan apa saja untuk menutupi segala kekurangan yang ada pada dirinya supaya ia dihormati dan orang mempunyai kesan baik terhadap dirinya.

Tuhan Yesus sepanjang hidup-Nya tidak pernah menampilkan diri-Nya seperti yang dipikirkan manusia. Dengan kacamata manusia berdosa maka orang akan sulit melihat diri Yesus yang sejati; manusia selalu melihat apa yang di depan mata. Kita sudah terbiasa dengan segala bentuk topeng akibatnya kita sulit mengerti esensi yang sejati; kita sudah terbiasa dengan segala macam kebohongan sehingga kita sulit melihat kejujuran. Biarlah kita mempunyai kepekaan sehingga mata rohani kita dapat melihat Kristus yang sejati. Yohanes Pembaptis terbiasa dengan konsep bahwa orang yang datang untuk dibaptis pastilah orang berdosa dan sudah bertobat tetapi ada juga orang yang tidak mau bertobat namun minta dibaptis seperti orang Farisi dan orang Saduki. Berbeda dengan Tuhan Yesus, Ia tidak berdosa sehingga tidak perlu dibaptiskan namun Dia datang untuk dibaptis demi untuk menggenapkan rencana Allah. Hal ini mengubah seluruh konsep berpikir Yohanes Pembaptis, dengan waktu singkat.

Hal yang paling menakutkan dan memprihatinkan adalah konsep dunia modern telah berhasil masuk dalam gereja dan orang terjebak dengan ajaran teologi humanistik, yaitu teologi yang mengajarkan bahwa Tuhan membutuhkan manusia sebagai obyek kasih-Nya dan supaya nama Tuhan tidak menjadi rusak maka Ia melimpahkan berkat untuk manusia. Salah! Justru manusia yang membutuhkan Tuhan karena tanpa Tuhan, hidup manusia hampa dan sia-sia. Kita juga menolak konsep deistik, yaitu suatu konsep yang menyatakan bahwa Tuhan tidak tahu akan apa yang terjadi esok hari sehingga segala sesuatunya tergantung manusia. Hati-hati, dengan akal licik iblis yang selalu memutarbalikkan Firman; Allah adalah Allah yang Maha Tahu sebaliknya justru iblis tidak pernah tahu hari esok karena kalau iblis tahu Yesus akan bangkit, pasti ia tidak akan membunuh Kristus.

Konsep dunia telah merasuk manusia maka tidaklah heran kalau konsep pelayanan pun menjadi rusak. Para hamba Tuhan beranggapan bahwa hidupnya tergantung pada jemaat yang dilayani. Lalu dimana posisi kita, menjadi hamba Tuhan atau hamba jemaat? Jangan pernah anda berpikir bahwa kekayaan, kepandaian, talenta dan segala sesuatu yang ada padamu dapat menguasai Tuhan dan gereja. Ingat, semua itu asalnya dari Tuhan maka kita harus mengembalikannya pada Tuhan. Hati-hati jangan menilai segala sesuatu secara fenomena sehingga kita tidak menjadi salah langkah dan jangan memakai cara-cara dunia untuk menggarap hal yang bersifat spiritual dengan mengadakan berbagai macam kegiatan sosial seperti bazaar, kegiatan seni, dll karena dengan demikian kita berarti menurunkan ke titik terendah. Akan tetapi, biarlah kita tetap mengandalkan kekeuatan Tuhan karena Dia pasti akan menolong setiap anak-Nya untuk menggenapkan rencana-Nya di dunia. Sebagai anak Tuhan, janganlah kita dikecohkan dengan segala macam tampilan luar. Biarlah orang melihat keaslian harkat hidup kita tanpa ditutupi oleh berbagai macam topeng sehingga kita dapat menjadi saksi-Nya yang hidup.

III. Momentum Penggenapan Rencana Allah

Yohanes Pembaptis menyadari bahwa pertemuannya dengan Tuhan Yesus bukanlah pertemuan yang biasa tetapi merupakan suatu momentum yang dinamis, yakni pertemuan yang menggenapkan rencana Allah. Perjumpaan ini menjadi titik final karena beberapa saat setelah dibaptis, Tuhan Yesus kemudian berpuasa selama 40 hari 40 malam untuk menyiapkan diri masuk dalam pelayanan dan iblis mencobai-Nya di padang gurun tapi Tuhan Yesus menang dalam pencobaan itu. Mulai saat itu, Tuhan Yesus memberitakan berita yang sama seperti Yohanes Pembaptis, yaitu: “Bertobatlah Kerajaan Sorga sudah dekat“. Pertemuan antara Tuhan Yesus dan Yohanes Pembaptis bukan untuk mementingkan kepentingan salah satu dari mereka tapi demi untuk menggenapkan rencana Allah.

Dalam berbagai aspek, kita selalu bertemu dengan orang lain namun hendaklah dalam setiap pertemuan, kita senantiasa memikirkan kepentingan Tuhan sehingga setiap momen menjadi titik penggenapan rencana Allah. Hal inilah yang membedakan anak Tuhan dengan dunia. Kalau kita bertemu dengan anak dunia maka mereka pasti hanya memikirkan kepentingan salah satu pihak karena mereka tidak mengerti apa yang menjadi rencana Allah. Ingat, setiap anak Tuhan harus menggenapkan rencana Allah di dunia maka hendaklah kita melihat setiap momentum dengan mata rohani yang memandang pada Kristus. Tuhan Yesus dan Yohanes Pembaptis tahu bahwa pertemuan mereka merupakan hal yang istimewa dan sudah direncanakan Allah dari sejak kekekalan.

Secara manusia, Kristus tidak perlu dibaptis karena Ia tidak berdosa; secara Allah, Ia juga tidak perlu dibaptiskan justru Ia yang seharusnya membaptis. Namun Yesus taat pada kehendak Bapa; Ia harus menggenapkan hukum Taurat sama halnya dengan Yohanes Pembaptis yang sadar bahwa ia tidak layak membaptis Kristus tetapi ia taat kehendak Bapa. Biarlah di tengah dunia ini ketika anak Tuhan saling bertemu, kita boleh menggenapkan rencana Tuhan sehingga pekerjaan Tuhan boleh dikerjakan meski hanya segelintir orang. Adalah salah kalau kita selalu berpikir bahwa pekerjaan Tuhan di dunia harus dikerjakan oleh banyak orang. Tuhan Yesus hanya memakai sedikit orang untuk menggarap dunia tapi kita tahu pasti kuasa-Nya akan memampukan kita yang kecil dan sedikit ini untuk menggarap dunia. Biarlah gereja Tuhan dibangun oleh anak-anak Tuhan sejati yang rela menanggalkan segala kepentingan pribadi demi untuk menggenapkan rencana Tuhan.

Menjalankan rencana Tuhan bukanlah hal yang mudah karena dengan akal liciknya iblis akan selalu berusaha menggoda kita tapi janganlah takut dan kuatir karena Dia pasti akan menolong kita. Pengenalan akan Kristus harus mengubah paradigma kita yang salah; kita harus dapat merelasikan antara kesementaraan dengan kekekalan. Janganlah kita menjadi serupa dengan dunia yang melakukan segala sesuatu hanya untuk kepentingan diri. Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, oleh Dia dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya (Rm. 11:36). Setiap hal dalam hidup yang kita jalani setiap harinya adalah momentum untuk menggenapkan rencana Allah. Setiap pertemuan kita pasti bukanlah hal yang kebetulan karena itu hendaklah kita peka terhadap setiap momentum yang Tuhan perkenankan untuk kita alami sehingga seperti Yohanes Pembaptis kita dapat berkata, “Tuhan, aku turut kehendak-Mu.“ Amin. ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)