Ringkasan Khotbah : 16 Mei 2004

Dia yang Duduk di Takhta & Anak Domba Allah

Nats: Why. 4, 5

Pengkhotbah : Ev. Hendry Ongkowidjojo

 

Dari seluruh kitab dalam Alkitab, kitab Wahyu adalah kitab yang paling menarik tetapi juga kitab yang paling jarang dibaca oleh orang Kristen. Sangatlah menarik karena kitab Wahyu menimbulkan rasa keingintahuan manusia terhadap hal yang berhubungan dengan akhir jaman, seperti angka 666, segala jenis binatang yang keluar dari perut bumi, dan lain-lain. Namun untuk dapat mengerti hal tersebut bukanlah hal yang mudah sehingga kita menjadi enggan membaca kitab Wahyu. Ingat, maksud dan tujuan Firman Tuhan ditulis bukan hanya sekedar untuk memuaskan keingintahuan atau kuriositas kita saja. Sebab kalau Firman Tuhan hanya sekedar untuk memuaskan rasa ingin tahu kita maka apa yang kita dapatkan seringkali justru terbalik dengan maksud dan tujuan Tuhan memberikan Firman yang tertulis ini pada kita.

Maka wajarlah ketika membaca kitab Wahyu orang tidak merasakan keindahan dan kekaguman namun justru merasa ngeri dan takut. Apakah ini maksud dan tujuan Tuhan memberikan kitab Wahyu? Tidak! Menurut William Hendriksen, dari seluruh kitab dalam Alkitab, kitab Wahyu merupakan kitab yang paling akhir ditulis yaitu sekitar tahun 94 M- 96 M, di akhir masa pemerintahan kaisar Domitian yang kejam. Selain di jaman Nero, pada masa pemerintahan kaisar Domitian ini orang Kristen juga mengalami penganiayaan dan penindasan yang kejam sehingga pada masa itu orang Kristen mengalami masa-masa yang paling sulit dimana sebagian besar para rasul sudah meninggal kecuali Rasul Yohanes, penulis kitab Wahyu, satu-satunya Rasul yang belum meninggal; ia dipenjarakan di pulau Patmos.

Di tengah-tengah masa yang sulit dan di antara banyaknya ajaran-ajaran sesat yang menerpa jemaat pada masa itu puji Tuhan, masih ada sebagian jemaat yang tetap berteguh dalam iman tetapi ada juga jemaat yang imannya mulai goncang dan suam-suam. Keadaan iman yang suam-suam tersebut disebabkan karena selama kurang lebih 60 tahun, yakni sejak kenaikan Tuhan Yesus ke surga, mereka senantiasa menanti-nantikan janji Tuhan yang hendak datang kembali dengan cara yang sama seperti Ia naik namun mereka tidak juga mendapatinya. Tuhan Yesus telah berjanji bahwa Ia akan memberikan kemenangan bagi jemaat-Nya akan tetapi kenapa justru tekanan dan penderitaan yang justru kami hadapi? Orang Kristen dihadapkan pada situasi yang sulit.

Bukankah hari ini pun orang Kristen juga dihadapkan pada situasi yang sama seperti pada jaman Perjanjian Baru? Kita selalu berharap akan janji-janji Tuhan yang akan memberikan keadilan dan kemenangan bagi kita namun kita tidak juga mendapatinya hingga saat ini. Masih ingatkah kita ketika pertama kali Tuhan memanggil kita, kita melayani dengan penuh semangat dan komitmen yang tinggi tapi setelah bertahun-tahun dimana kita telah mengalami berbagai-bagai tantangan apakah kita masih mempunyai semangat tinggi dalam melayani? Ataukah kita menjadi lemah dan suam-suam dan mulai kehilangan pengharapan akan janji-Nya? Untuk mereka yang lemah iman dan sudah mulai kehilangan pengharapan inilah kitab Wahyu ditulis. Inilah maksud dan tujuan Tuhan menuliskan kitab Wahyu, yaitu untuk menguatkan iman jemaat.

Kitab Wahyu pasal 4 dan 5 merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Judul yang diberikan oleh LAI untuk Wahyu 4, yaitu Kedua puluh empat tua-tua dan keempat binatang kuranglah tepat karena fokus yang sebenarnya bukan pada kedua puluh empat tua-tua atau keempat binatang melainkan Dia, yaitu Allah Bapa yang duduk di takhta itu (Why. 4:3). Takhta Allah menjadi pusat dari seluruh alam semesta, Dia dikelilingi oleh empat makhluk (Why. 4:6,7) yang dalam kitab Yehezkiel disebut sebagai kerubim atau kerub selain itu Dia juga dikelilingi oleh dua puluh empat tua-tua dan di belakang tua-tua ini ada malaikat dengan jumlah yang tak terhitung yakni berlaksa-laksa dan beribu-ribu laksa (Why. 5:11) dan di belakang mereka berdiri keliling seluruh ciptaan alam semesta. Kerub adalah malaikat yang tingkatannya paling tinggi di antara semua malaikat dan ia mengerjakan tugas-tugas yang penting diantaranya, yaitu ketika Adam dan Hawa diusir keluar dari Eden, Tuhan menempatkan dua kerub untuk menjaga pintu Firdaus dan di atas tabut Perjanjian juga ada ukiran dua kerub yang menudungi tabut itu. Kedua puluh empat tua-tua ini melambangkan jumlah yang genap 12x2, masing-masing mewakili orang percaya dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Judul yang diberikan oleh LAI untuk Wahyu 5 seharusnya Anak Domba dan Kitab yang dimeterai karena yang menjadi fokus adalah Anak Domba, yaitu Kristus, pribadi kedua Allah Tritunggal. Segala pujian diserukan oleh seluruh makhluk hanya untuk Dia yang duduk di atas takhta, mereka berseru siang dan malam (Why. 4:8); mereka memuji seluruh karya ciptaan-Nya (Why. 4:11); mereka juga memuji-muji karya keselamatan-Nya (Why. 5:9-10); pujian hanya bagi Anak Domba, pribadi kedua Allah Tritunggal (Why. 5:12) dan akhirnya segala pujian hanya bagi Allah Bapa dan Allah Anak (Why. 5:13).

I. Gulungan Kitab

Kita sudah memahami bahwa Wahyu 5 sedang berbicara tentang Anak Domba Allah dan karya keselamatan-Nya maka dapatlah ditarik kesimpulan bahwa kitab gulungan yang ditulisi sebelah dalam dan sebelah luarnya itu adalah kitab yang berisikan seluruh karya keselamatan yang Bapa sudah rencanakan untuk manusia karena pada jaman itu, bukanlah hal yang umum menulisi sebelah luar dari sebuah kitab. Namun, Yohanes sangat sedih dan terpukul ketika dia mengetahui tidak ada seorang pun yang layak untuk dapat membuka gulungan kitab dan hal ini berarti semua rencana keselamatan Allah tidak akan dapat terlaksana sehingga setiap manusia akan binasa. Sebuah dekrit akan berlaku bila dekrit tersebut telah dibacakan atau telah sampai ke tangan orang yang dimaksudkan dalam dekrit tersebut. Jadi, sebuah dekrit berlaku bukan ketika sedang ditulis melainkan kalau sudah sampai ke tangan orang tersebut. Lalu siapakah yang dapat membuka gulungan kitab tersebut? Dan syarat apa dan bagaimanakah untuk seseorang agar dapat membuka gulungan kitab tersebut?

II. Anak Domba

Kita melihat hal yang sangat kontras, di antara beribu-ribu laksa kenapa Yohanes tidak melihat ada Anak Domba yang dapat membuka gulungan kitab itu? Ada dua kemungkinan: pertama, Anak Domba itu memang belum muncul pada saat Yohanes melihat ke surga; kedua, Yohanes sangat terpesona dengan pemandangan yang tidak pernah ia lihat sebelumnya, yaitu Bapa duduk di atas takhta dan dikelilingi oleh empat kerub, dua puluh empat tua-tua dan berjuta-juta malaikat yang berkilauan sehingga ia tidak melihat ada Anak Domba. Yohanes hanya melihat hal yang bersifat spektakuler belaka dan ia melupakan Anak Domba yang justru merupakan pusat dari seluruh alam semesta. Bukankah hari ini orang Kristen juga lebih mementingkan hal yang bersifat spektakuler lebih daripada Firman? Bagaimana dengan kita?

Kalau di antara semua malaikat hanya Anak Domba satu-satunya yang dapat membuka gulungan kitab bukan berarti Allah Bapa subyektif. Justru karena Allah obyektif maka Dia yang layak haruslah yang dapat membuka kitab gulungan tersebut. Hari ini banyak orang yang merasa diri layak menjadi Presiden tapi pertanyaannya adalah siapa yang dapat memperbaiki kondisi negara Indonesia yang kacau ini? Dan apa sanksinya kalau ternyata mereka gagal? Andai, sanksi ini dijalankan pastilah tidak banyak orang yang mau menjadi Presiden, bukan? Diantara berlaksa-laksa malaikat hanya Anak Domba yang berhasil membuka gulungan kitab itu maka keempat makhluk dan kedua puluh empat tua-tua itu memuji-muji Dia (Why. 5:8), malaikat-malaikat yang jumlahnya berlaksa-laksa pun tak ketinggalan memuji-muji Dia (Why. 5:11) dan semua makhluk yang di sorga dan yang di bumi dan yang di bawah bumi dan yang di laut dan semua yang ada di dalamnya juga memuji-muji Dia (Why. 5:13). Terdengar bergemuruh suara puji-pujian dari seluruh makhluk ciptaan. Puji-pujian ini keluar secara spontan karena ada rasa kekaguman dan ketakjuban dalam diri mereka.

Sebagai, orang Kristen kita sudah berkali-kali mendengar tentang Injil akan tetapi masih adakah rasa kekaguman dan ketakjuban yang terus menerus keluar dari hati kita? Kenapa kita tidak mempunyai reaksi seperti para malaikat dan semua makhluk yang ada di bumi dan yang di laut dan semua makhluk yang ada di dalamnya? Atau seberapa seringkah kita menangis ketika kita mendengar tentang penderitaan Yesus yang mati untuk menebus kita? Hati-hati jangan sampai kita jatuh pada ekstrim yang lain yaitu kita merasa kasihan pada Yesus karena melihat kondisi fisik-Nya. Sebenarnya siapakah yang perlu dikasihani, Tuhan ataukah diri kita? Ingat, Tuhan tidak butuh belas kasihan dari kita justru kita yang seharusnya dikasihani, kita seharusnya menyesali dan menangisi diri; karena kita, Dia harus menderita.

Sebagai ilustrasi, ada seorang yang dihukum mati karena telah melakukan kejahatan namun saudara kembar yang sangat mengasihinya rela mati menggantikannya sehingga secara diam-diam ia bertukar identitas. Kalau ia berhenti hanya sekedar kasihan dan menangisi kematian saudara kembarnya lalu ia kembali menjadi penjahat maka semua pengorbanan itu tidak ada artinya. Respon yang tepat adalah dia harus memperbarui hidupnya. Karena itu ketika kita memandang penderitaan salib Kristus bukan rasa kasihan yang seharusnya muncul justru salib membuat kita takjub dan kagum sebab hanya Dia yang patut menerima segala pujian dan kemuliaan. Keselamatan yang kita peroleh bukanlah barang yang murah juga bukan hal yang mudah bagi Allah Bapa. Bayangkan, bagaimana perasaan kita sebagai seorang ayah ketika melihat penderitaan yang harus dialami oleh darah daging kita demi untuk orang lain. Sebagai orang tua, tentu kita lebih memilih kalau anak kita yang memukul orang lain daripada ia dipukul dan dilukai orang lain, bukan?

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Ia lebih memilih supaya anakNya yang tunggal itu mati untuk kita (Yoh. 3:16). Itulah sebabnya kita dapat memahami kalau  Kristus sampai berseru,“Eli, Eli lama sabakhtani“. Kristus adalah seorang manusia sejati sehingga Ia juga dapat merasakan penderitaan seperti kita tapi bedanya adalah Ia menang atas penderitaan. Kristus dapat menang atas pencobaan di padang gurun maupun di Getsemani dan Ia dapat melewati semua penderitaan sehingga Ia bisa menjadi buah sulung karena Ia terlebih dahulu belajar taat pada Bapa selangkah demi selangkah. Kalau bukan kasih, Allah pasti tidak akan mau menyelamatkan kita. Sebab bagi Allah, jauh lebih mudah menciptakan manusia daripada menyelamatkan manusia. Ketika melihat salib hendaklah kita diingatkan akan kasih Allah dan kita dibuat takjub oleh-Nya dan biarlah kekaguman dan pujian tidak pernah hilang dari kita.

III. Tujuh Meterai

Sebelum kitab gulungan dibuka maka rancanganNya tidak akan dapat dijalankan tetapi Anak Domba itu sudah membuka meterai itu itu berarti maka setiap rancangan yang tertulis di sebelah dalam dan di sebelah luar ini harus dan pasti akan terlaksana. Tidak ada kuasa yang di surga, di bumi maupun di bawah bumi yang dapat menghalangi dan menggagalkan rencana Allah. Kita merupakan salah satu bukti dari rencana Allah yang sedang berjalan. Jadi, di saat kita sedang mengalami kesulitan jangan pernah berpikir bahwa rencana Allah tidak berjalan dan aku berada di luar rencana Allah. Tidak! Kitab gulungan yang dimeterai dengan tujuh meterai itu diantaranya ketujuh meterai, empat meterai berisikan tentang berbagai jenis penderitaan yang akan jatuh menimpa dunia dan orang percaya, meterai kelima berisikan orang percaya yang berseru meminta keadilan pada Tuhan, meterai keenam menggambarkan bagaimana penghukuman dan keadilan yang datang dari Allah dan meterai ketujuh merupakan akhir dari segala sesuatu.

Jadi, segala penderitaan yang kita alami saat ini merupakan bagian dari rencana Allah tapi bukan keseluruhan dari rencana Allah karena akhir rencana Allah adalah kemenangan bagi umat-Nya. Empat dari tujuh meterai memang berisi kesulitan tetapi kita dapat memohon supaya Tuhan memberikan keadilan seperti yang tertulis di meterai kelima dan Tuhan memberikan keadilan seperti juga tertulis di meterai keenam dan Tuhan akan mengakhiri semuanya ini dengan kemenangan bagi umat-Nya. Sekarang kita sebagai imam tetapi besok kita akan memerintah ciptaan bersama-sama Dia sebagai raja. Karena itu janganlah engkau bersungut-sungut padaNya atas penderitaan yang engkau alami hari ini tapi hendaklah dari mulut kita bukan kata-kata sungut melainkan pujian karena hanya Dia yang layak menerima segala pujian dan hormat; bersama-sama dengan kumpulan para kerub, para tua-tua dan seluruh alam semesta kita senantiasa memuji-muji kebesaran-Nya. Amin. ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)