Ringkasan Khotbah : 2 Mei 2004

The Problem of Faith

Nats: Mat. 3:7-12

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Tugas Yohanes Pembaptis adalah menjadi pembuka jalan untuk Tuhan Yesus dan mewartakan berita pertobatan; dan sebagai tanda pertobatan yaitu mereka dibaptis dengan air. Baptisan Yohanes menyadarkan manusia untuk hidup dalam kebenaran. Yohanes Pembaptis membaptis dengan air tetapi Ia, Yesus akan datang dan membaptis engkau dengan Roh Kudus dan dengan api (ay. 11). Dilihat dari konteksnya berita kedatangan Kristus ini seharusnya menggentarkan setiap manusia karena manusia harus berhadapan dengan kematian. Ironisnya, orang berpikir hal ini justru sebagai suatu kenikmatan, berarti telah terjadi penyimpangan iman manusia.

Beribu-ribu orang dari segala penjuru datang untuk dibaptis tak terkecuali orang Parisi dan orang Saduki, orang yang katanya “rohani“. Namun, bukannya pujian yang diterima oleh mereka, Yohanes Pembaptis malah mengatai mereka dengan ular beludak. Kalimat ini sangat menusuk hati setiap orang yang mendengarnya karena ular beludak menggambarkan kemunafikan dan kejahatan. Ular beludak, vipers mempunyai warna kulit yang sangat indah akan tetapi racunnya sangat mematikan. Yohanes Pembaptis tidak mudah terkecoh dengan tampilan luar yang indah karena dia tahu, di mata Tuhan hal itu justru kejijikan. Dalam hal ini Yohanes Pembaptis mewakili suara Tuhan dan menegaskan bahwa manusia boleh menyanjung dan menghormati namun Tuhan tidak memandang semuanya, karena tampilan luar tidak lebih hanya seperti seekor ular beludak yang penuh dengan kemunafikan.

Kalau kita tidak masuk dalam esensi iman yang sejati maka kita mudah terkecoh dengan segala bentuk tampilan luar yang bagus. Dan celakanya, diri sendiri juga terkecoh sehingga masuk dalam jebakan yang sama; kita memproses “kerohanian“ kita dengan cara yang tidak rohani. Kita akan sulit membedakan orang-orang yang beriman dan orang yang tidak beriman. Yohanes Pembaptis bukan tanpa alasan menuduh orang Parisi dan orang Saduki sebagai ular beludak. Ia tahu bahwa tugasnya adalah mewartakan kebenaran karena itu ia harus membukakan realita tentang siapakah diri mereka yang sesungguhnya. The problem of faith seseorang kenapa tidak mempunyai iman yang sejati adalah:

Pertama, Manusia menegakkan kebenaran di atas sesuatu yang sifatnya belum pasti, yakni hanya perkiraan saja. Janganlah mengira...(ay. 9) merupakan konsep apologia dan epistemologi yang dibangun oleh dunia. Manusia seharusnya mempunyai akal  budi dan hikmat lebih tinggi dari binatang, mempunyai cara pikir dan analisa yang lebih hebat dari binatang. Manusia mempunyai konsep sebab akibat yang tidak dipunyai binatang, manusia mempunyai semua kapasitas untuk menjadi lebih bijaksana. Namun, kita justru melihat hal yang sebaliknya, manusia tidak mempunyai bijak yang dari “sana“ melainkan bijak yang dari “sini“ (diri sendiri). Bijak yang sejati bukan berasal dari diri melainkan berasal dari luar diri dan diberikan ke dalam diri. Hari ini banyak orang yang merasa diri bijaksana namun sesungguhnya bukan bijak yang dari “sana“ melainkan bijak yang dari “sini“ maka tidaklah heran kalau dunia semakin hari semakin rusak.

Alkitab menegaskan bahwa segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! (Rm. 11:36). Orang humanis tidak suka sehingga mereka memutar balik konsep tersebut, yakni manusialah yang menjadi tolak ukur untuk segala sesuatu, homo men sura. Kehancuran dunia dimulai dari ketika manusia mengira dirinya hebat, dia kira dia tahu segala hal, dan dia kira dia benar. Tidak! Justru semua perkiraan tersebut akan menghancurkan diri mereka karena semua perkiraan tersebut sifatnya belum pasti. Do not think that, jangan pernah kau pikir bahwa...! Inilah sifat manusia berdosa, yakni membangun kebenaran berdasar pada dirinya sendiri. Dan ketika bangunan kebenaran yang didirikan tersebut mulai dipertanyakan, maka ia menjadi marah karena kita meragukan kebenaran yang dia pikirkan, hal itu sama dengan mencurigai dan menghancurkan dirinya.

Bukan hal yang mudah bagi seseorang untuk mengubah dasar bangunan yang telah berdiri sekian lama; dia harus rela membongkar hati dan semua hal yang tersembunyi. Pada umumnya, manusia tidak suka dan tidak mau disadarkan dari kesalahannya. Manusia sudah mencapai titik kebekuan yang fatal. Hal ini dialami oleh orang Parisi dan orang Saduki, mereka tidak menyadari kalau mereka telah berada pada jalur yang salah. Orang Yahudi berjuang keras demi untuk menjadi orang Parisi maupun orang Saduki supaya dihormati. Mereka berjuang keras menghafal seluruh aturan Taurat dan menjalankannya. Namun sayang, semua usaha keras tersebut hanyalah sekedar ritual belaka.

Orang Yahudi tidak pernah tahu bahwa semua usaha yang mereka lakukan tersebut salah dan sia-sia. Hal ini disebabkan karena mereka mempunyai pra asumsi atau menetapkan terlebih dahulu bahwa semua hal yang mereka pikir dan mereka lakukan sebagai suatu kebenaran. Apa yang menjadi standar ukuran tertinggi suatu kebenaran? Dan siapa yang menetapkan suatu kebenaran? Darimana orang tahu bahwa sesuatu yang dianggap benar itu benar? Manusia berdosa pasti menjawab: diri saya sendiri. Maka tidaklah heran manusia menjadi marah jika dirinya diusik. Bukanlah hal yang mudah bagi manusia untuk mempunyai konsep bahwa segala hal yang ditetapkan diri sendiri itu belum tentu benar karena itu berarti melampaui pikiran manusia berdosa. Segala sesuatu yang sifatnya belum pasti, yakni hanya perkiraan saja dapatlah dikatakan bukan sebagai kebenaran.

Seseorang barulah menyadari bahwa yang dianggap benar ternyata salah setelah dia dihancurkan, mengalami berbagai hal yang tidak menyenangkan. Adalah tugas setiap anak Tuhan untuk menyadarkan manusia bahwa kebenaran sejati hanya ada dalam Kristus dan hanya anugerah Tuhan kalau orang mau bertobat dan kembali pada kebenaran sejati. Logika manusia tidak akan dapat mengerti cara Roh Kudus yang dapat membuat orang mengakui segala perbuatan dosanya. Hal ini terjadi di negeri Cina pada saat John Sung berkhotbah. Para polisi yang ditugaskan untuk mengawasi segala gerak gerik John Sung menjadi heran karena banyak orang yang mengakui dosanya padahal untuk membuat seseorang mengakui dosanya tidaklah mudah. Jadi, semua hanya karena anugerah.

Yohanes Pembaptis tahu beda antara iman sejati dan iman yang palsu karena itu ia menegur dengan keras orang Parisi dan orang Saduki. Mereka sepertinya memperjuangkan kepentingan Tuhan namun sesungguhnya tidaklah demikian, sesungguhnya mereka hanya mementingkan kepentingan duniawi. Janganlah terkecoh dengan segala penampilan luar. Aktivitas rohani yang dilakukan selama bertahun-tahun bukanlah jaminan bagi seseorang bisa mempunyai iman sejati. Keagamaan dan kerohanian menyangkut hidup kita, sekali kita menentukan basis salah maka semua tingkah laku kita akan salah dan akibatnya kematian. Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api (Mat. 3:10). Manusia mempunyai iman sejati kalau ia mau taat pada perintah Tuhan.

Kedua, merasa diri sebagai keturunan Abraham dan menjalankan segala ritual agama Kristen. Dan janganlah mengira, bahwa kamu dapat berkata dalam hatimu: Abraham adalah bapa kami (Mat. 3:9). Yohanes Pembaptis tahu apa yang menjadi pikiran mereka dan hal ini pun diulang kembali oleh orang Yahudi ketika mereka berdebat dengan Tuhan Yesus (Yoh. 8). Orang seringkali mempunyai konsep yang salah; mereka merasa diri sudah “Kristen“ karena:

1) Dilahirkan dari keluarga Kristen, I am Christian by born. “Bapa kami adalah Abraham“ merupakan kebanggaan orang Yahudi bahkan kalimat ini seringkali diucapkan. Mereka mengira bahwa mereka adalah umat pilihan maka pasti selamat. Salah! Perhatikanlah, daerah-daerah dimana orang menjadi Kristen sejak lahir justru mengalami kehancuran karena mereka merasa diri dari keturunan Kristen. Kita tidak mengerti apa yang menjadi rencana dan maksud Tuhan tapi kita tahu pasti kalau Tuhan mengijinkan hal ini terjadi pasti demi untuk kebaikan anak-anakNya. Tuhan ingin menguji iman mereka, apakah mereka sungguh beriman sejati? Sebab, orang yang berasal dari keluarga Kristen belum tentu punya iman sejati. Alkitab menegaskan bahwa menjadi keturunan Abraham bukanlah jaminan keselamatan karena Tuhan dapat menjadikan anak-anak bagi Abraham dari batu (Mat. 3:9). Hal ini berarti batu lebih berharga dibandingkan dengan keturunan Yahudi. Celakanya, hari ini banyak orang Kristen yang tidak menjadi saksi dan berkat namun justru mempermalukan nama Tuhan. Ingat, Kerajaan Tuhan bukan didirikan atas fenomena.

2) Sudah melakukan segala macam ritual agama. Orang Parisi sudah merasa “rohani“ karena  telah menjalankan semua tradisi nenek moyang dan menjalankan Taurat. Tradisi sudah menjadi kebiasaan yang harus dijalankan turun temurun. Alkitab menegaskan iman Kristen bukan karena kita menjalankan ritual justru dampak iman sejatilah yang membuat kita menjalankan segala ritual ibadah dengan sungguh-sungguh. Jadi, orang yang beribadah dengan sungguh-sungguh dan melakukan berbagai macam “pelayanan“ belum dapat disimpulkan sebagai orang Kristen sejati. Iman sejati akan mengeluarkan buah yang sesuai pertobatan. Dengan tajam dan keras Yohanes Pembaptis menegur orang Parisi bahwa segala ritual dan kebanggaan mereka sebagai keturunan Abraham bukanlah jaminan; hal itu justru menghancurkan mereka. Persembahan uang yang kita berikan pun tidak identik dengan iman sejati. Iman Kristen menekankan kesucian dan tingkat hidup moral yang tinggi. Iman sejati seharusnya mendorong kita untuk melayani Tuhan dengan lebih baik, tidak menjadikan diri kita egois.

Orang Kristen harus menjadi saluran berkat. Apakah kita mempunyai iman yang sejati? Ingat, jika hanya menjadi seorang Kristen ritual maka kita pasti ditebang dan dibuang ke dalam api (Mat. 3:11). Orang Parisi mempunyai semangat tinggi dalam melayani bahkan berani berkorban, seperti Saulus. Agama digunakan untuk membunuh orang beragama. Puji Tuhan, anugerahNya menyadarkan Paulus bahwa tanpa pertobatan semua perjuangan keras kita hanyalah sia-sia belaka; itu bukan iman sejati tapi ritual yang merupakan ekspresi dari arogansi keegoisan manusia. Biarlah cinta Tuhan di kayu salib yang berkenan menyelamatkan kita menyadarkan setiap anak Tuhan untuk mau melayani dan menjadi saluran berkat; menjadi saksi Kristus sehingga orang lain menjadi percaya dan bertobat.

Ketiga, Kita tidak asal percaya tapi mengkritisi diri sendiri sehingga kita terbuka untuk melihat kebenaran Firman lebih tajam, kita berproses dalam iman. Kata “api“ diulang sebanyak tiga kali, yakni di ayat 10, 11, dan 12 berarti ada hal yang serius dan bermakna yang harus kita perhatikan. Yohanes Pembaptis ingin menunjukkan pada orang Parisi bahwa apa yang selama ini mereka pikir baik dan benar ternyata salah! Orang yang sudah menaruh iman kepercayaannya pada sesuatu, misalnya uang maka ia pasti tidak akan pernah memikirkan resiko yang harus dihadapi, what’s the risk in my faith? Orang yang menjadikan uang sebagai “tuhan“ akan sulit disadarkan akan bahayanya uang; mereka tidak dapat menerima konsep Alkitab yang menegaskan bahwa cinta uang adalah akar dari segala kejahatan (1Tim. 6:10).

Sebagai orang Kristen, setiap orang hendaklah mengkritisi imannya sendiri. Dan hanya teologi reform yang mengajarkan dan berani diuji. Iman sejati menuntut pengujian sebaliknya iman dunia tidak mau diuji. Iman Kristen dapat dipertanggung jawabkan dan diuji termasuk oleh diri sendiri. Caranya yaitu ketika kita mempunyai konsep, ujilah dengan Firman; jangan mencari ayat yang mendukung konsep kita tapi justru carilah ayat yang melawan, self critic. Diri sendiri tidak berhak mengkritisi diri sendiri karena jika demikian maka hanya kebenaran diri yang kita dapatkan. Libatkan saudara seiman kita karena mungkin sekali kita mengira tidak ada ayat yang melawan dan kemudian bersama-sama mencoba menguji konsep tersebut. Ingat, dengan rendah hati kita harus menghancurkan konsep kita yang salah dan membiarkan Kristus membangunnya kembali. Inilah self critic. 

Reformed is always to be re reformed. Ingat, kapak ada di akar maka kalau kita tidak mempunyai iman sejati, kita pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. Biarlah kita mau menuntut diri untuk belajar dan belajar sehingga iman kita dibangun bukan berdasar fanatisme tapi kita tahu pasti mengapa kita beriman Kristen sehingga di dunia yang makin kacau ini kita tidak takut menghadapi serangan tapi malah membuat iman kita semakin kokoh. Hendaklah setiap orang Kristen menuntut dirinya sendiri untuk belajar memahami Firman, semakin mengenal dan taat pada Allah dengan demikian bersama-sama bertumbuh dalam iman. Amin. ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)