Ringkasan Khotbah : 11 April 2004

Life & Resurrection

Nats: Luk. 24:1-8; 1Kor. 15:25-26

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Paskah merupakan hari kemenangan Kristus atas maut. KebangkitanNya dari kubur pada hari ketiga adalah bukti bahwa kuasa kematian telah dipatahkan, dosa tidak lagi berkuasa.   Sengsara dan penderitaan Yesus dimulai dari Getsemani hingga Golgota dan berakhir dengan kematian di kayu salib. Di sepanjang kegelapan itu Yesus mengalami sengsara yang paling gelap; Dia diadili secara marathon. Para Imam hendak membunuh Yesus tapi mereka tidak mau tangannya berlumur darah maka dengan cara licik mereka memakai Pilatus. Pengadilan, penyesahan, dan kematian di atas kayu salib dijalani dalam waktu yang singkat, yaitu pada hari Jumat Agung. Penghitungan hari orang Yahudi pada jaman itu berbeda dengan sekarang. Satu hari tidak dimulai dari jam 00.00 melainkan dimulai dari jam 6 sore, yakni setelah matahari terbenam sampai jam 6 pagi, matahari terbit. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari pertama (Kej. 1:5).

Bagi bangsa Yahudi, melanggar hukum taurat merupakan pelanggaran yang paling berat dan hukumannya adalah mati. Jadi, seharusnya mereka dapat menghukum mati Yesus jika Yesus melanggar hukum taurat seperti yang mereka tuduhkan; mereka tidak perlu keabsahan dari pemerintahan Roma. Namun, pengadilan tidak menemukan satu kesalahanpun pada diri Yesus; mereka menjadi marah atas jawaban Yesus yang membenarkan bahwa diriNya adalah anak Allah (Luk. 22:70). Dan sebagai ekspresi yang memancarkan kemarahan, para imam merobek baju kebesaran imamnya, baju khusus dimana tengahnya ada urim dan tumim yang menunjukkan keabsahan dirinya sebagai imam besar. Robeknya baju keimaman dan terbelahnya tabir Bait Suci yang memisahkan antara ruang suci dan maha suci menghapuskan pula fungsi seorang imam besar.

Ironisnya, sampai hari ini bangsa Yahudi tetap tidak mau mengakui kalau mereka turut andil dalam penyaliban yang terjadi pada diri Yesus. Mereka memrotes salah satu adegan film The Passion of the Christ yang menunjukkan massa Yahudi yang marah dan berkata, “Biarlah darahNya ditanggungkan atas kami dan atas anak-anak kami!“ (Mat. 27:25). Orang berusaha menutup-nutupi realita namun sejarah telah membuktikan realita tersebut. Mereka layak mendapat sebutan sebagai orang yang super-super jahat karena mereka telah melakukan kejahatan tapi tidak mau mengakui kejahatannya.

Dua orang malaikat dengan pakaian yang berkilauan mengejutkan para wanita yang datang ke kubur Yesus, “Mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mati? (Luk. 24:5). Perkataan ini sangat penting untuk dimengerti orang Kristen; apa arti kebangkitan Kristus? apa artinya kehidupan di dalam Kristus? Kebangkitan Kristus bukanlah suatu fakta yang terjadi secara tiba-tiba melainkan suatu fakta yang sudah direncanakan di dalam kekekalan. Para murid baru teringat kembali akan perkataan Yesus bahwa Anak Manusia harus diserahkan ke tangan orang-orang berdosa dan akan bangkit pada hari ketiga. Kuasa kematian telah dipatahkan dengan suasana kehidupan sejati lalu apa makna kehidupan yang sejati? Hanya seorang Kristen sejati yang dapat mengerti akan makna hidup.

Dunia selalu memacu manusia untuk hidup dalam persaingan dan saling berkompetisi maka wajarlah kalau hidup manusia menjadi stress. Ironisnya, manusia menganggap persaingan ini sebagai suatu kebaikan. Hal ini telah kita jumpai dalam sistim pendidikan sekolah, sedari kecil anak dididik untuk menjadi yang terbaik dan orang tua tidak peduli meski untuk mencapainya harus menghalalkan segala cara. Inikah hidup? Para filsuf berusaha mencari jawab akan arti hidup dan tujuan hidup manusia di dunia namun semakin berusaha justru orang semakin sukar untuk mengerti. Akibatnya, orang jatuh ke ekstrim yang lain, yaitu hidup hanya sekedar melewati hari demi hari sambil menunggu datangnya hari kematian, tidak ada perjuangan. Orang yang bernyawa dan bernapas apakah itu membuktikan dia“hidup“? Tidak! Sesungguhnya kita telah mati, kecuali kalau kita berada dalam Kristus maka kita akan merasakan hidup yang sejati.

Sebab Kristus hidup maka kita yang beriman padaNya dihidupkan bersama-sama dengan Dia. Hati-hati jangan tertipu dengan konsep dunia yang katanya dapat memberikan hidup namun semua itu hanya menuju pada kebinasaan. Kenapa? Karena dunia sudah berdosa, manusia sudah melawan Allah yang adalah Sumber Kehidupan. Kematian merupakan realita yang tidak dapat dipungkiri ataupun dihilangkan meski orang mencoba menghindari realita tersebut dengan berpikir positif. Realita bukan tergantung pada apa yang kita pikirkan, sebagai contoh ketika kita ditusuk dengan pisau apakah hanya dengan berpikir “hidup“ maka kita tidak akan mati? Semua hal yang kita kerjakan dan kita perjuangkan hanyalah sia-sia belaka jika tidak kita lakukan di dalam Kristus. Celakalah kita, kalau hidup kita sia-siakan untuk mengejar sesuatu yang sifatnya sementara.

Sampai hari ini, manusia masih berusaha mencari jawab akan apa arti hidup namun sangatlah disayangkan, mereka tidak kembali pada Allah sumber kehidupan sejati. Ironisnya, mereka berusaha mengalihkan kematian dengan memroyeksikan segala sesuatu yang bersifat materi di dunia akan terjadi juga di kekekalan nanti. Sebagai contoh, di dunia orang membutuhkan hal yang bersifat materi seperti rumah, uang, dan lain-lain maka di kekekalan nanti pun dibutuhkan materi juga. Namun hal itu tidak dapat mengurangi rasa takut manusia akan kematian akibatnya orang tidak mau lagi berpikir tentang kematian dan kehidupan lain setelah kematian dan menganggap kematian sebagai akhir dari segala-galanya. Kematian adalah realita dosa yang tidak mungkin dapat dihilangkan. Ingat, hidup kita di dunia hanyalah sementara dan singkat, di kekekalanlah kita akan merasakan kehidupan atau kematian kekal.

Itulah sifat manusia berdosa, merasa diri pandai padahal sesungguhnya ia bodoh. Maka tidaklah heran manusia akan menjadi marah jika ia disadarkan kalau sesungguhnya dirinya tidak pandai. Orang pandai adalah orang yang mempunyai kesadaran bahwa dirinya bukanlah siapa-siapa dan perlu banyak belajar. Apalah artinya kepandaian, kekayaan, dan kedudukan kalau itu semua tidak di dalam Tuhan? Semua itu hanyalah kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia (Pkh. 1:2). Salomo sangat menyadari akan hal ini, segala sesuatu yang menjadi impian dan keinginan manusia ada pada dirinya namun semuanya hanyalah kesia-siaan.

Alkitab mengatakan bahwa seluruh proses hidup di dunia hanya menuju pada kematian sebab upah dosa ialah maut (Rm. 6:23). Tidak ada satu pun manusia lolos dari kematian maka jalan satu-satunya manusia dapat keluar dari kuasa kematian adalah kematian harus dikalahkan. Kristus bangkit dari kematian, the live among the death merupakan bukti bahwa kematian tidak lagi berkuasa, kematian telah dikalahkan. Para filsuf dan pemimpin agama selalu menemui jalan buntu ketika ia harus berhadapan dengan kematian. Kristus ditetapkan menjadi pemegang kekuasaan tertinggi, Dia adalah raja dimana Dia harus menaklukkan segala sesuatu di bawah kakinya dan yang terakhir harus dipatahkan yakni maut, kuasa terbesar yang tidak dapat dikalahkan oleh siapapun.

Membunuh Yesus merupakan kecelakaan terbesar bagi iblis karena Yesus tidak mati tapi Dia bangkit. Hal ini membuktikan bahwa iblis tidak Maha Tahu. Ironisnya, di jaman modern ini masih banyak orang pergi ke peramal dan mau dibohongi. Bayangkan, andaikata iblis tahu kalau Yesus akan bangkit pastilah ia tidak akan membunuh Yesus. Padahal Yesus telah mengatakan sendiri bahwa Ia akan bangkit pada hari ketiga. Hidup manusia akan berubah kalau kita ada di dalam Kristus. Bagi dunia, hidup adalah kematian tetapi setelah kita mengenal Kristus, makna hidup kita menjadi berubah, yaitu hidup adalah Kristus dan mati merupakan keuntungan (Flp. 1:21). Paskah menyadarkan kita akan arti hidup yang sesungguhnya maka implikasinya:

1. Hidup sejati adalah hidup yang menggenapkan Rencana Allah. Hidup sejati akan kita rasakan kalau kita tidak diikat oleh dunia dengan segala kemegahannya; manusia tidak akan hidup dalam ketegangan. Pendidikan modern turut andil dalam membuat hidup anak menjadi stress. Hendaklah para orang tua mendidik anak-anak yang Tuhan telah percayakan sesuai dan menjadi seperti yang Tuhan inginkan. Di dunia modern, orang tua merasa bangga kalau anaknya pandai terutama di bidang eksakta dibanding bidang yang lain seperti bidang seni atau bahasa. Kita tidak pernah bertanya pada Tuhan, apakah Ia ingin anak kita jadi ahli matematika, ahli komputer, fisikawan atau seorang dokter? Tuhan mungkin menginginkan anak kita menjadi seorang komponis, sastrawan atau musisi. Betapa gersangnya dunia kalau semua anak menjadi seorang ilmuwan;  tidak ada musik dan lagu indah yang dapat kita dengar. Anak menjadi korban ambisi orang tua dan pendidikan modern. Memiliki gelar tinggi tidak menjamin hidup seorang anak menjadi sukses di dunia kerja. Sebab kalau hanya untuk memenuhi dunia kerja bukankah kita telah menjadi budaknya dunia? Ingat, karena kita ini buatan Allah diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya dan Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya (Ef. 2:10). Tuhan tidak akan membuang kita dengan sia-sia karena itu janganlah engkau diperbudak oleh dunia dan menjadi hamba uang.

2. Hidup sejati adalah hidup yang taat atas kehendak Bapa. Kristus telah mengalahkan kuasa dosa maka kita pun sebagai anakNya harus bisa mengalahkan godaan iblis untuk berbuat dosa. Penderitaan yang kita alami sebenarnya akibat dari perbuatan dosa yang kita perbuat. Jadi, jangan salahkan Tuhan atau orang lain kalau hidup manusia sengsara dan menderita, semua karena kesalahan kita sendiri, kita tidak taat pada kehendak Bapa. Meskipun kelihatannya penderitaan kita disebabkan oleh orang lain namun sesungguhnya kitalah yang terlebih dahulu memulainya tapi kita tidak pernah mau mengakuinya atau bahkan tidak mau mengingatnya. Kita lebih mudah mengingat kesalahan orang lain apalagi kalau ia telah merugikan kita.

Sebab, setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku (Mat. 16:24). Ketiga hal ini tidak boleh dipisahkan akan tetapi kesulitan manusia terbesar adalah tidak bisa menyangkal diri; kita tidak bisa mengatakan, “Tidak!“ pada apa yang kita mau. Karena itu pikir dahulu masak-masak sebelum engkau salah mengambil keputusan dalam hidupmu. Pergumulkanlah terlebih dahulu, apakah semua ini kehendak Tuhan ataukah kehendakku? Hendaklah kita belajar menyangkal diri, belajar tidak mengumbar nafsu, yakni menginginkan segala sesuatu demi untuk memuaskan ego kita. Tetapi hendaklah kita taat mau melakukan kehendakNya. Hidup sejati adalah kita mampu menolak semua hal yang berdosa dan tidak ikut arus dunia. Hanya ikan mati yang selalu mengikut arus air. Jangan takut kalau dunia membenci dan menjauhi kita tapi lebih takutlah kalau Tuhan yang menjauh dan membenci kita. Kalau kita menyadari hal ini berarti kita masih hidup. Sudahkah engkau taat pada Kristus?

3. Hidup sejati adalah hidup yang menang atas ujian. Kita menolak pendapat yang mengatakan bahwa orang yang taat pada Tuhan tidak akan mengalami penderitaan. Terkadang Tuhan mengijinkan kita untuk melewati satu titik, yaitu penderitaan demi untuk kebaikan kita. Tuhan akan memberi kekuatan dan kemenangan pada anakNya yang bersandar padaNya dan kita menjadi seperti berlian yang bersinar. Ingat, Dia sedang memroses kita untuk menjadi semakin serupa dengan Kristus. Inilah tempat pertempuran kita dan biarlah kekuatan kuasa kemenangan Kristus juga dapat kita rasakan; kita menjadi pemenang sehingga nama Tuhan semakin dipermuliakan. Kita dapat merasakan pengalaman indah bersama Tuhan.

Orang yang tidak pernah bertempur tidak akan pernah tahu arti menang dan begitu pula orang yang tidak pernah merasakan penderitaan tidak akan pernah merasakan kuasa kemenangan atas penderitaan. Ingat, semua tantangan dan kesulitan yang kita alami memang Tuhan perkenankan untuk menguji kita supaya kita semakin bertumbuh dalam iman dan kita dapat merasakan kemenangan dalam Kristus. Tuhan mau melatih kita untuk dipakai menjadi alatNya. Socrates menyadari bahwa hidup yang belum teruji tidak layak untuk dihidupi, unexamined life unworth living. Hidup sukses dan berkemenangan justru harus melewati penderitaan.

Sudahkah kuasa kemenangan dan kebangkitan Kristus ada dalam diri kita? Kristus telah mengalahkan kuasa maut, bagaimana dengan kita? Apakah kita masih dibelenggu oleh kuasa maut? Kita harus mempunyai keberanian untuk mengatakan, “Tidak!“ pada dosa dan keluar dari ikatan dunia maka kita menjadi seorang Pemenang karena Tuhan Yesus sudah menang. Amin. ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)