Ringkasan Khotbah : 4 April 2004

Ishak: Sebuah Tipologi Kristus

Nats: Kej. 22: 1-14

Pengkhotbah : Ev. Thomy J. Matakupan

 

Dalam kisah Abraham-Ishak kita mendapati bahwa ternyata peristitwa ini mempunyai kesamaan yang bersifat paralel dengan misi penebusan Yesus Kristus atas manusia berdosa. Maksudnya, Perjanjian Lama memaparkan suatu hal yang bersifat tipologi. Suatu peristiwa yang secara parsial dan samar-samar yang kemudian menunjuk kepada berbagai peristiwa yang akan dialami oleh Kristus di dalam Perjanjian Baru. Di dalam khotbah ini kita akan melihat paralel dari kisah Abraham yang mempersembahkan anaknya, Ishak dengan peristiwa penebusan Kristus. Sekaligus juga kita akan mendapati kejadian yang dialami Kristus jauh melampaui semua bagian yang dialami oleh Abraham-Ishak. Para penulis kitab Perjanjian Lama tidak pernah tahu bahwa apa yang sedang mereka tuliskan sedang berbicara tentang Kristus. Ketika Musa memaparkan kisah Ishak, dia tidak memahami bahwa pada suatu hari nanti akan menjadi kisah yang penuh dengan kemuliaan, yaitu kematian Kristus di kayu salib. Penulis PL yang lain, seperti Yesaya misalnya pun tidak mengerti ketika dia menuliskan bahwa akan ada seorang perempuan muda mengandung, melahirkan anak dan menamakan dia Imanuel. Kemungkinan besar Yesaya menafsirkan anak laki-laki yang lahir tersebut adalah anaknya sendiri. Kitab Ibrani mengatakan bahwa mereka yang hidup di jaman PL adalah orang yang hanya menerima janji akan Mesias, mereka seperti orang yang sedang melambai-lambai di kejauhan namun mereka tidak pernah melihat penggenapan janji tersebut sampai akhir hayat mereka. Para penulis PL tidak pernah tahu kalau nubuatan tersebut sangatlah penting dan digenapkan dalam diri Kristus; Meski demikian, iman mereka telah menerobos ke depan. Kita akan melihat relasi antara kisah tipologi ini dengan Kristus dan kita akan dibuat kagum olehNya.

I. Apakah yang menjadi paralel antara Kristus dan Ishak?

1. Kedua-duanya merupakan kelahiran yang bersifat nubuatan.Tuhan menjanjikan pada Abraham bahwa dari keturunannya akan lahir bangsa yang besar. Tuhan baru menggenapi janji tersebut 25 tahun kemudian, kelahiran Ishak. Maka wajarlah di masa penantian yang panjang ini sangat mungkin kalau seseorang akhirnya menjadi berputus asa. Hingga Tuhan berbicara sendiri pada Abraham dan Sarah barulah mereka disadarkan. Cara Tuhan bekerja sering kali di luar bahkan melampaui pikiran manusia. Hal ini membuktikan bahwa Tuhanlah yang berkuasa bukan manusia yang mengendalikan Tuhan. Pertolongan Tuhan selalu datang tepat pada waktunya dan caranya pun unik. Janji Tuhan yang datang di detik-detik terakhir inilah yang seringkali membuat manusia merasa was-was dan kuatir. Akibatnya kerap di masa penantian ini, manusia mem-by pass rencana Tuhan. Tindakan semacam ini sebenarnya bentuk dari ketidakpercayaan yang terselubung dengan begitu rapihnya.  Bagaimana dengan kelahiran Kristus? Hal ini juga telah dinubuatkan, bahkan sejak kejatuh-an manusia dalam dosa (Bd: Kej. 3:15). Allah tidak pernah lupa akan janjiNya itu. Yohanes Pembaptis adalah orang PL yang mengetahui janji Mesias dan melihat penggenapan janji tersebut. Begitu juga dengan Simeon yang merasa bersukacita setelah melihat Mesias yang dijanjikan tersebut. 

2. Masing-masing adalah anak yang sangat dikasihi.Ishak merupakan anak perjanjian yang sangat dinanti-nantikan. Darinyalah akan lahir bangsa yang besar dan diberkati; Ishak lahir pada masa tua Abraham, maka wajarlah kalau Ishak menjadi limpahan curahan kasih dari kedua orang tuanya. Namun kebahagiaan mereka tidak berlangsung lama karena Tuhan meminta kembali anak yang dijanjikan tersebut untuk dipersembahkan sebagai korban. Tentulah kita sangat memahami bagaimana kesedihan dan pergumulan Abraham ketika berjalan bersama Ishak menuju tempat yang telah ditentukan Allah. Bagaimana dengan Kristus? Dia adalah Anak Tunggal yang sangat dikasihi Bapa. Hal ini dikatakan sendiri oleh Bapa,“Inilah anak yang Kukasihi dan kepadaNyalah Aku berkenan.“ begitu juga dengan Kristus yang sangat mengasihi BapaNya. Hal ini ditunjukkan dengan relasi yang begitu dekat antara Kristus dengan Bapa. Namun demikian Bapa rela menyerahkan anakNya yang dikasihi itu demi untuk kita (Yoh. 3:16).

3. Kedua-duanya taat pada bapanya masing-masing. Hati Abraham pastilah sangat pahit dan getir ketika sega-la persiapan telah selesai dan Ishak bertanya tentang korban bakaran. Alkitab tidak mencatat bagaimana peristiwa pertama Abraham memberitahu pada Ishak. Namun besar kemungkinan selama tiga hari perjalanan menuju bukit Moria, konsep tentang persembahan ini diajarkannyanya kepada Ishak. Sejarah kelahiran Ishak sampai kepada tuntutan Allah Yahweh kepada Abraham untuk memberikan korban persembahan. Ishak pastilah menangkap inti pelajaran itu dengan seksama meski ia tidak  memahami jika yang dimaksud dengan korban itu pada akhirnya menunjuk pada dirinya sendiri. Dapat dibayangkan bagaimana kondisi Abraham pada waktu itu. Ia pasti mengalami kesulitan yang sangat besar untuk mengatakannya. Hal yang mengherankan adalah, pada waktu Abraham menjawab pertanyaan Ishak dengan mengatakan bahwa korban itu adalah dirinya, kita melihat bahwa Ishak dengan rela dan tanpa perlawanan – di dalam ketaatan kepada bapanya - menyerahkan dirinya untuk diikat dan dipersembahkan sebagai korban bagi Tuhan. Kristus juga taat pada Bapa bahkan sampai mati di kayu salib bagi penebusan dosa manusia. Seluruh hidup Kristus dipenuhi dengan ketaatan yang sempurna terhadap kehendak Bapa. Dia datang untuk menggenapi kehendak Bapa. Kristus juga menunjukkan ketaatan sepenuhnya pada semua tuntutan hukum Taurat. Yesaya melihat gambaran ketaatan ini jauh sebelumnya pada waktu ia mengatakan seperti induk domba kelu yang dibawa ke tempat pembantaian. Kristus berjalan menuju Golgota dengan taat.

4. Masing-masing mempersiapkan persembahan secara aktif.Abraham memerlukan waktu 3 hari untuk mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan korban bakaran. Pastilah Ishak juga turut ambil bagian di dalamnya. Begitu pula Yesus, pengorbananNya sudah dipersiapkan sejak kekekalan. Persiapan ini kemudian mulai dinyatakan dalam bentuk nubuatan di dalam Perjanjian Lama. Para nabi di PL – bahkan para malaikat pun - ingin sekali mengetahui tentang siapa Mesias yang dijanjikan itu. Mereka tidak mempunyai cukup pengertian sampai Tuhan Yesus berkata, “Sudah genap.“ Pikiran mereka mulai dicerahkan, bahwa semua korban-korban di PL ternyata fokus pada Kristus. Waktu penetapan Allah, Anak harus mati, Pada waktu yang sama, Anak secara aktif mempunyai keinginan sendiri untuk menebus dosa. Jadi, kedua oknum Allah Tritunggal ini, yaitu Allah Bapa dan Allah Anak sama-sama aktif; keinginan Bapa dan keinginan Anak bertemu di kayu salib.

5. Abraham mempunyai pikiran yang sangat rohani ketika menuju ke atas bukit; segala pikiran yang dari Tuhan memenuhi pikirannya dan segala sesuatu sudah dipersiapkan dengan baik. Ishak turut ambil bagian di dalam persiapan ini. Bahkan Ia sendiri yang membawa kayu korban bakaran itu di pundaknya. Pemikiran rohaninya terlihat pada waktu ia bertanya tentang korban yang akan dipersembahkan kepada ayahnya itu. Kristus, sebelum Ia memberitakan kematiannya, Dia sudah tahu untuk apa Ia datang ke dunia. Seluruh pelayanan Kristus menuju kepada satu tujuan, kematian di kayu salib, dan ia mempersiapkan jalan ini jauh hari sebelumnya. Yesus telah mempersiapkan diriNya sedemikian rupa untuk memikul salib. Di dalam pergumulanNya menjelang peristiwa salib, Kristus mengatakan untuk saat seperti inilah Aku ada.

Kita telah melihat paralel dan kesamaan antara Ishak dengan Yesus.

II. Meski demikian apa yang dilakukan Kristus harus jauh lebih besar, lebih tinggi dan lebih mulia dari Ishak. Perbedaannya:

1. Ishak tidak pernah mati-Kristus mati. Rembrandt melukiskan kisah ini dengan gambaran tangan Abraham membawa belati dan tangan yang lain memegang kepala Ishak, mendongakkan dagunya. Tetapi si pelukis menggambarkan mata Abraham tidak tertuju pada anaknya tetapi melihat ke tangan yang memegang belati oleh karena ada malaikat Tuhan yang menghentikan tangannya. Pada waktu detik-detik terakhir Tuhan menghentikan dan menggantinya dengan domba jantan sehingga ia tidak perlu dikorbankan. Alkitab mengatakan bahwa Kristus mati di kayu salib di dalam penderitaan yang mendalam sebagai korban yang menggantikan posisi manusia berdosa. Tidak ada satu orang pun yang dapat mengalami pengalaman penderitaan yang sama denganNya.

2. Posisi Ishak digantikan domba jantan sedangkan posisi Yesus adalah posisi yang menggantikan.Allah membawa Abraham menoleh dan melihat ada seekor domba jantan yang tanduknya tersangkut. Domba inilah yang kemudian dipersembahkan mengganti posisi Ishak. Nampaknya ini menjadi gambaran posisi Kristus yang mengganti posisi manusia berdosa sehingga mereka tidak perlu lagi berhadapan dengan murka Allah. Penulis kitab Ibrani mengatakan bahwa kitab Perjanjian Lama hanya merupakan bayangan saja dari apa yang hendak Kristus lakukan dan kita perlu menapaki jalan itu satu per satu maka kita akan mendapati esensi dari bayangan. Kristus harus menjadi the ultimate point dari seluruh kehendak Bapa.

3. Kalaupun Ishak harus mati, maka tujuannya hanya bagi satu orang, Abraham. Ayahnya yang harus patuh pada kehendak Allah. Yesus mati bukan untuk satu orang saja atau segolongan orang tertentu melainkan Ia mati untuk menebus dosa semua manusia yang sudah ditetapkan Bapa sejak kekekalan untuk menjadi umat pilihanNya. Dan Yesus mati untuk menuntaskan semua keinginan Bapa; Yesus mati untuk menghentikan amarah dari Bapa; Yesus mati untuk meredakan murka Bapa terhadap orang berdosa. Apa yang dilakukan Kristus jauh melampaui semua yang dikerjakan oleh Abraham terhadap Ishak. Yesus Kristus harus menjadi pusat perhatian dari segala-galanya, sehingga semua tipologi hanya memberikan jalan saja dan semua gambaran itu menuju pada Kristus.

III. Apa yang dapat kita pikirkan berdasarkan perbandingan Kristus-Ishak?

1. Kengerian yang ditimbulkan akibat dosa. Tuhan telah menetapkan bahwa akibat dosa harus memenuhi murka yang menyala-nyala. Harus ada korban sebagai ganti tebusan dosa. Orang yang tidak sadar akan dosa, tidak akan menyadari bahwa sesungguhnya dia membutuhkan pengampunan dosa. Mereka telah dibutakan oleh ilah-ilah di jaman ini; mereka tidak lari kepada Yesus yang adalah satu-satunya jalan menuju keselamatan namun mereka justru mencari jalan pelarian yang lain. Manusia ingin lari dari realita akan dosa sehingga mencoba menggantikannya dengan realita lain yang tidak harus membawa mereka berhadapan dengan fakta penghukuman Allah kelak. Misalnya ada pendapat bahwa kitab Kejadian khususnya pasal satu sampai tiga hanya bersifat mitos atau dongeng belaka – sama seperti cerita rakyat - bukan bersifat historis. Jadi, membaca Alkitab sama seperti membaca dongeng. Yang terpenting ambil intinya atau pesan moral yang ingin disampaikan. Konsep ini menunjukkan ketakutan jika harus berhadapan dengan berita kejatuhan di dalam dosa dan berita hukuman dan murka Allah yang turun atas manusia. iman Kristen bukan bergantung dan berdasar pada mitos.  B. F. Skinner seorang psikolog berpendapat bahwa problema yang terjadi atau yang biasa disebut dosa oleh kekristenan sebenarnya merupakan akibat dari lingkungan yang tidak beres. Semua kejahatan, kerusakan moral, hal-hal yang melawan hukum karena lingkungan yang rusak. Namun dengan teknologi tingkah laku manusia akan dihasilkan kebebasan untuk mengubah lingkungan. Dengan mengubah lingkungan tersebut maka semua akan beres. Jadi, jangan persalahkan manusia tapi lingkungannya. Manusia takut berhadapan dengan Tuhan. Dosa adalah sebuah kegagalan untuk mengasihi Allah dengan sepenuh keberadaan kita; sebuah penolakkan aktif untuk mengakui dan taat kepada Allah. Dosa bukanlah suatu kekurangan standar kebaikan, namun sebuah pemberontakkan manusia terhadap Tuhan. Pemazmur mengatakan bahwa perlawanan terhadap Allah adalah dosa yang ia lakukan (Bd: Mzm 51:4). Manusia takut bertemu Tuhan dan lebih memilih gunung-gunung yang rubuh menimpa daripada berhadapan dengan Tuhan secara langsung. Ini menunjukkan ekspresi ketakutan manusia. Kita dapat melihat kekejaman dan kengerian akibat dari dosa ketika kita memandang pada salib Kristus. Abraham harus berhadapan dengan fakta bahwa darah harus mengalir di tangannya sebagai tuntutan dari Tuhan karena dosa.

2. Di dalam segala sesuatu Allah tetap dan selalu mengontrol walaupan seakan-akan kita tidak melihatnya. Allah memberikan Ishak, Allah memintanya kembali dan Allah juga yang menghentikan tangan Abraham. Ia pula yang menyediakan korban pengganti. Allah menetapkan dan menjaga semuanya. Beberapa peristiwa berikut menunjukkan penguasaan Allah di dalam peristiwa Yesus: (a). Apakah waktu Kristus menuju kepada salib menunjukkan Kristus tidak mempunyai keberdayaan sama sekali dan tidak memiliki apa-apa untuk melawan. Di satu sisi mungkin kita melihat Kristus pasif namun sesungguhnya Dia yang aktif. Sejak masuk dalam pelayanan, Yesus tahu, Ia akan mati; Yesus tahu, siapa yang akan mengkhianatiNya (Yoh. 13:1,3,11,18). Kalau Yesus tahu, lalu kenapa Ia tidak menghentikan upaya Yudas untuk menjualNya? Dan kenapa Ia malah membiarkan Yudas bersama-sama denganNya selama 3 tahun dan menikmati segala berkat? Padahal mudah saja bagi Tuhan Yesus untuk melakukan semua itu? Semua itu Tuhan lakukan karena Yesus mengasihi Yudas. Ia bahkan memperlakukan Yudas sama dengan perlakuanNya terhadap murid yang lain. (b). Bapa memberikan segala kuasa kepada Yesus (Yoh. 13: ...). Hal ini membuktikan baik Yudas maupun ahli-ahli Taurat tidak berkuasa untuk menghukum Yesus termasuk Pilatus yang mengatakan bahwa ia mempunyai kuasa untuk menghukum atau membebaskan Kristus. Semua kejadian ada di bawah kontrol dan kuasaNya. Jadi semua peristiwa yang terjadi atas diri Kristus adalah karena ijin dariNya. (c). Kapankah kesepakatan membunuh Yesus dibuat? Yudas menemui para ahli taurat dan para pemimpin agama dan mereka membuat kesepakatan, Yudas menerima 30 keping perak dan penyaliban dilakukan setelah paskah karena mereka sangat kuatir akan timbul keributan jika sebelumnya. Namun Yudas mengubah rencana tersebut. Yudas menjual Yesus tiga hari sebelum Paskah, dan hal ini adalah ketetapan kekal Allah (bahwa Kristus harus bangkit pada hari Paskah). Bukankah hal ini secara tidak langsung menyatakan bahwa Yudas sedang melayani Allah?  Bahaya terbesar yang dihadapi manusia adalah pada saat ia mengira Allah tidak berkuasa dan karenanya ia terus berusaha berkuasa atas Allah. Semua penolakkan terhadap Kristus hanyalah di dalam batas kesementaraan dan di dalam ijin Allah semata. Allah tidak akan membiarkan DiriNya dipermainkan oleh manusia. Ia pasti akan menunjukkan Siapa Dia pada waktunya.

3. Banyak hal yang Allah kerjakan di luar pikiran manusia. Hal penebusan dosa pada jaman PL hanya dapat diselesaikan dengan satu jalan, memberikan korban penebusan. Pada waktu PB menggenapinya, semua mata terbelalak dan tidak dapat menerima kenyataan bahwa ternyata korban itu adalah Kristus, Anak Tunggal Bapa. Abraham tidak melihat sebelumnya ada domba tersangkut tanduk di dekat mereka, sehingga kejadian ini pasti membuatnya terpana. Ia kemudian mengatakan bahwa Allah yang menyediakannya. Cara yang dipakai Allah ini tidak pernah menjadi alternatif di dalam cara manusia memikirkan problema mereka. Alkitab mengatakan bahwa salib Kristus adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa. Penebusan yang dilakukan Kristus jauh melampaui segala pikiran dan logika manusia, bahwa  Kristus, anak tunggal Allah harus mati di salib demi untuk menebus dosa manusia. Allah yang telah mempersiapkan korban pengganti yang tidak pernah terpikirkan sama sekali oleh Abraham adalah Allah yang juga „menyediakan“ Kristus yang harus mati bagi penebusan dosa. Momen di kayu salib adalah momen yang mengerikan sekaligus membawa kebahagiaan. Mengerikan oleh karena pada waktu itu terjadi the fatherlessnes of son, yakni ketika Kristus seakan-akan ditinggalkan oleh BapaNya, sekaligus the sonlessness of the father, sudah selesai dan ia tertunduk. Hal ini harus terjadi sebagai akibat dari dosa, yaitu Ia harus menanggung murka Allah. Membawa kebahagiaan oleh karena di sanalah orang berdosa mendapatkan ampunan. Korban Kristus adalah cara yang dianggap sebagai kebodohan namun membungkam semua kecongkakan manusia. Inilah yang ditetapkan Allah yang demi untuk menebus dosa manusia. Menjelang Jumat Agung, kita diingatkan untuk berhenti mengusahakan pemikiran sendiri dan menerima cara yang telah dipilih Allah bagi pengampunan dosa. Biarlah komitmen kita disegarkan kembali; hidup kita dipakai untuk memuliakan namaNya. Amin. ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)