Ringkasan Khotbah : 14 Maret 2004

Doa yang Berkemenangan

Nats: Luk 22: 39-46

Pengkhotbah : Ev. Steve Hendra

 

Bagian yang telah kita baca ini mempunyai kesejajaran dengan Injil Matius dan Markus. Namun Injil Yohanes tidak mencatat kisah ini. Memang ketiga Injil ini banyak mencatatkan hal yang sama namun penekanannya berbeda karena setiap penulis masing-masing mempunyai tujuan dan maksud tertentu dalam penulisannya. Yohanes, misalnya lebih menekankan Kristus sebagai anak Allah yang taat Bapa daripada pergumulan manusiawiNya. Injil Matius, Markus dan Lukas disebut juga sebagai Injil Synoptik karena mencatat kisah yang sama meskipun masing-masing Injil mempunyai karakter dan perspektif berbeda dalam mengamati dan membicarakan suatu permasalahan yang sama. Jika kita bandingkan antara catatan dalam Injil Matius, Markus dan Lukas berkenaan dengan kisah di taman Getsemani ini, kita akan melihat bahwa Matius dan Markus mempunyai kemiripan yang lebih banyak dibanding Lukas.

Matius dan Markus mencatat dengan detail doa Yesus yang dilakukan sebanyak dua kali dibanding Lukas yang mencatat sekali saja namun ia menambahkan mengenai pertolongan malaikat dan keterangan bahwa Yesus makin sungguh-sungguh berdoa bahkan peluhnya menjadi seperti titik-titik darah. Lukas menggambarkan bagaimana konflik dalam hati Yesus dalam proses penjajaran terhadap kehendak Bapa. Injil Lukas ini dengan jelas mengungkapkan ketakutan manusiawi Yesus dan kelemahan dari para muridNya sebaliknya Matius dan Markus hanya menggambarkan ketaatan Yesus dengan sangat sederhana.

Dalam bahasa Ibrani, perikop ini mempunyai struktur kiastik, yakni susunan seperti kue sandwich. Bagian permulaan dimulai dengan murid-murid yang mengikuti Yesus dan perintah Yesus supaya mereka berdoa. Akhir dari perikop ini adalah kegagalan murid-murid dan perintah Yesus supaya mereka berdoa. Diapit oleh kedua bagian tersebut kita melihat bagaimana pergumulan Yesus ketika hendak menyelaraskannya dengan kehendak Bapa dan Ia menang.

Kisah ini dimulai dengan cerita singkat perjalanan Yesus ke Bukit Zaitun. Nampaknya penulis ingin menunjukkan bahwa tempat tersebut sangat sering dikunjungi Yesus. ”Kata to ethos” “seperti biasanya” menjelaskan bahwa Yesus dan murid-muridnya mempunyai kebiasaan pergi dan berdoa di tempat itu. Maka hal ini tidak mengherankan jika Yudas langsung tahu tempat ini. Yudas tahu bahwa Yesus dan teman-temannya biasanya berkumpul di sana. Maka Yudas dapat segera tahu harus membawa pasukan kemana untuk menangkap Yesus.

Matius dan Markus menyebut tempat tersebut sebagai Getsemani (nama Aramic) sedangkan Lukas menyebut dengan Bukit Zaitun. Hal ini wajar jika kita melihat siapa pembaca yang dituju oleh masing-masing Injil. Injil Matius dan Markus lebih ditujukan kepada bangsa Yahudi yang sangat mengenal bahasa Aramic, sehingga kata “Getsemani” lebih familiar bagi mereka. Sedangkan Lukas yang mempunyai pembaca yang lebih universal, menggunakan Bukit Zaitun menunjukkan bahwa di lereng bukti tersebut banyak ditumbuhi pohon Zaitun, tanaman yang buahnya dapat diolah menjadi minyak yang mahal; dan hal ini juga dimaksudkan supaya kita meneladani Kristus yang memancarkan keharuman sehingga menjadi berkat bagi dunia.

Lukas juga mencatat bahwa Yesus tidak mengajak para muridNya, yakni Petrus, Yohanes dan Yakobus secara khusus melainkan ia mencatat Yesus mengajak seluruh murid-muridNya (ay. 45). Hal ini disebabkan karena Lukas ingin memperlihatkan konteks wacana yang lebih luas. Jika kita merekonstruksi kisah ini dengan bantuan Injil Synoptik yang lain, maka kita mengetahui bahwa ketika Yesus pergi ke Getsemani dengan kesebelas muridNya kemudian barulah Ia mengajak Petrus, Yohanes dan Yakobus untuk memisahkan diri dari para murid yang lain. Di bagian awal dan akhir Yesus mengatakan kalimat yang sama yaitu: “Berdoalah supaya kamu jangan jatuh dalam pencobaan.” Kata ”doa” di bagian ini sering diulang, yakni kurang lebih sebanyak lima kali. Dengan demikian kita bisa melihat pentingnya ide “doa” dalam pembahasan perikop ini. Tuhan Yesus mengaitkan doa dengan “pencobaan.”

Apa yang dimaksud dengan pencobaan di sini? Jika kita membaca perikop yang sebelum dan sesudahnya kita dapat mengetahui bahwa pencobaan yang dimaksud di sini adalah pencobaan sebagaimana yang dinubuatkan Yesus dalam Lukas 22:28-38, yakni setelah Yesus ditangkap, mereka akan diceraiberaikan. Pencobaan di sini ternyata dimaksudkan Lukas untuk pengikut Kristus secara umum yang pada jaman itu mengalami penganiayaan di bawah kekuasaan Kaisar Dometianus dengan demikian mereka dapat dikuatkan. Jadi jelas ini merupakan perintah yang diberikan oleh Kristus sendiri kepada kita untuk senantiasa berdoa supaya tidak jatuh dalam pencobaan. Hari ini, mungkin kita merasa bahwa hidup kita tidak mengalami aniaya, siksa atau krisis apapun sehingga kita tidak merasa perlu untuk berdoa. Kita menganggap bahwa semua hal pasti dapat kita kendalikan. Salah! Justru bahaya terbesar adalah ketika kita tidak merasakan krisis di tengah dunia yang berdosa. Jangan-jangan kita mungkin sudah jatuh dalam pencobaan dan kalah namun kita tidak menyadarinya.

Setelah Yesus memperingatkan muridNya untuk berdoa kemudian Ia menjauhkan diri sepelemparan batu jaraknya lalu ia berlutut dan berdoa. Ekspresi berlutut dan berdoa, seringkali dianggap sebagai hal yang biasa bagi kebanyakan orang pada jaman sekarang namun bagi orang Yahudi, berdoa sambil berlutut itu merupakan hal yang aneh karena mereka tidak mengenal budaya yang seperti itu dan hal ini dianggap sebagai hal yang luar biasa. Orang Yahudi mempunyai kebiasaan/budaya berdoa dengan sikap berdiri. Kita dapat melihat dengan jelas dalam perumpamaan tentang “Orang Farisi dan Pemungut Cukai.” Keduanya berdoa sambil berdiri, baik orang Farisi maupun si pemungut cukai yang doanya dipuji oleh Tuhan Yesus. Ekspresi berlutut dan berdoa ini menunjukkan urgensi dan kerendahan hati Tuhan Yesus. 

Urgensi seperti apakah yang dihadapi oleh Tuhan Yesus? Kita dapat melihat dari doa Tuhan Yesus: “Ya BapaKu, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari padaKu; tetapi bukanlah kehendakKu, melainkan kehendakMulah yang terjadi.” Dari pergumulan doa ini, kita tahu bahwa sesungguhnya Allah sanggup “mengambil cawan murka” dari Yesus namun Allah berkehendak lain, yaitu cawan itu harus diminum oleh Tuhan Yesus. Di sini kita bisa melihat bagaimana Tuhan Yesus menghadapi cobaan untuk menghindari jalan penderitaan yang ditetapkan Allah, namun demikian Tuhan Yesus menerima kehendak Allah di atas kehendak diriNya. Yesus bukan berusaha melawan kehendak Allah, tetapi berharap kehendak Allah mungkin berbeda. Namun apa yang Allah kehendaki adalah Yesus harus menempuh jalan salib itu. Puji Tuhan, Yesus menang atas pencobaan.

Bagi Kristus, cobaan yang paling berat bukanlah jalan salib melainkan cobaan kemungkinan untuk menawar atau lari dari kehendak Allah Bapa. Selama hidupNya, Tuhan Yesus tidak henti-hentinya berdoa karena Dia melihat sebagai sense of crisis ketika kehendakNya tidak lagi sesuai dengan kehendak Bapa. Bagaimana dengan kita? Apakah kita mempunyai sense seperti Tuhan Yesus? Hal apakah yang kita anggap sebagai krisis dalam hidup kita? Apakah ketika kita sedang dalam kesulitan dan sakit? Maka wajarlah kalau manusia  ketika sedang berkelimpahan dan sehat, orang merasa tidak perlu untuk berdoa. Mengapa kita sering lupa atau malas berdoa bahkan doa hanya sekedarnya saja? Semua itu karena sense of crisis kita tidak tepat. Andaikan, setiap anak Tuhan di saat godaan untuk berbuat  dosa datang, ia berdoa terlebih dahulu dapatlah dipastikan 90% dari kita tidak jadi berbuat dosa.

Setelah Yesus berdoa, dengan unik Lukas mencatat muncul malaikat sebagai jawaban atas doa Yesus untuk memberikan kekuatan. Inilah jawaban doa yang Bapa berikan kepada Anak TunggalNya yang telah setia menjalani kehendakNya untuk mati di kayu salib demi kita. Malaikat memberikan penguatan yang perlu setelah penerimaan “yang baru” dari jalan salib tersebut dan penguatan ini perlu sebagai implikasi dari doaNya, sehingga Ia makin sadar akan pertarunganNya yang lebih dalam dengan setan. Mungkin gambaran yang paling riil adalah seperti ketika seorang bapa menepuk pundak anaknya yang rela menjalankan suatu yang tidak menyenangkan bagi si anak namun hak itu yang dikehendaki bapanya. Tepukan itu pasti memberikan suatu dorongan semangat tersendiri bagi si anak itu, sekaligus menyadarkan ia untuk lebih konsentrasi.

Pada ayat 44 dikatakan bahwa Yesus sangat ketakutan dan Ia makin bersungguh-sungguh berdoa bahkan peluhNya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah. Yesus bukan takut mati, tetapi saya lebih percaya bahwa ketakutan Yesus lebih karenakan peperangan rohani yang ia alami dan harus ia menangkan. Di sini, kita melihat bahwa Yesus sungguh-sungguh bergumul untuk taat menjalani jalan salib bagi saudara dan saya. Dengan demikian kita dapat menyimpulkan bahwa salib adalah simbol  kemenangan dan ketaatan Kristus. Diatas kayu salib, kuasa setan dipatahkan dan setan dipermalukan. Kristus sebagai Adam yang kedua telah menang dalam menjalankan ketaatan mutlak kepada kehendak Bapa.

Mungkinkah kekuatan dan kemenangan seperti yang Tuhan Yesus alami di Bukit Zaitun dapat kita alami dalam kehidupan kita? Mungkin. Namun ketika kita menghadapi suatu masalah, kita selalu ingin menyelesaikannya menurut cara kita sendiri dan kita anggap paling benar padahal kemungkinan besar cara kita salah. Ingat, hanya cara Tuhanlah yang paling benar bagi manusia untuk dapat menyelesaikan segala kesulitan dan pertolongan Tuhan pasti datang tepat pada waktuNya. Maka saya rasa paling tidak 80% keinginan kita untuk berbuat dosa itu hilang, kemudian kita akan merasa disegarkan dan melihat beberapa kemungkinan yang Tuhan bukakan. Inilah kesegaran rohani yang sejati yang kita peroleh dari doa. Jika kita melakukannya setiap ada cobaan yang muncul, maka saya percaya kita akan sanggup untuk menjalani “jalan salib” kita. Dengan demikian “Jauhkanlah kami dari pencobaan” dalam doa Bapa kami “ya dan amin” terjadi dalam hidup kita. Pernahkah kita mengalami hal ini?

Jangan-jangan yang sering kita alami adalah seperti yang terjadi pada para murid yang tertidur karena dilelahkan oleh kekuatiran dan dukacita mereka. Para murid sangat gelisah dan berdukacita mendengarkan perkataan Yesus yang mengatakan bahwa mereka akan ditinggalkan dan mereka akan dibenci oleh dunia (Yoh. 15-16). Namun apa yang mereka lakukan sebagai murid-murid Yesus bertolak belakang dengan teladan yang ditunjukkan Tuhan Yesus, para murid tidak berdoa seperti yang diperintahkan oleh Yesus, mereka malah tertidur. Bukankah hal ini yang seringkali orang lakukan, yakni ketika orang ada masalah maka yang dilakukan adalah tidur, makan sebanyak-banyaknya, dan lain-lain. Orang tidak berani menghadapi masalah dan menyelesaikannya sesuai dengan jalan dan kehendak  Tuhan karena mereka tidak tahu kemenangan besar yang Tuhan telah sediakan.

Dunia tidak menjadi semakin baik akan tetapi semakin hari dunia semakin menuju kehancuran. Kita tidak tahu apa yang terjadi dengan hari esok akibatnya manusia melihat masa depan dengan pesimis. Kekuatan manusia yang terbatas tidak dapat mengalahkan segala tantangan. Hanya kekuatan Tuhan sajalah yang dapat memampukan kita menghadapi semua tantangan dan kesulitan yang menghadang di depan kita. Ingat, di saat kita tergoda untuk menyelesaikan atau menghadapi semua kesukaran menurut cara dan hikmat kita sendiri, hendaklah kita mengikut teladan Kristus yang mempunyai sense of crisis, yaitu mempunyai kepekaan ketika kehendak kita menyeleweng dari kehendakNya sehingga kita akan berkemenangan. Maukah saudara mendapatkan kemenangan seperti yang dialami oleh Tuhan Yesus dalam krisis saudara? Amin. ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)