Ringkasan Khotbah : 7 Maret 2004

Yesus Diurapi oleh Perempuan Berdosa

Nats: Luk 7: 36-50

Pengkhotbah : Ev. Hendry Ongkowidjojo

 

Bukan hal yang aneh kalau isi ke empat Injil dalam Alkitab tidak sama persis. Justru sebaliknya karena perbedaan itulah maka Injil harus ada empat. Pertanyaannya adalah kalau isi seluruh Injil sama, kenapa harus ada empat? Keempat Injil tersebut masing-masing mempunyai keunikan tersendiri tanpa bermaksud mengurangi tujuan dan maksud Injil tersebut ditulis. Injil Matius sangat kental dengan unsur ke-Yahudiannya sedang injil Lukas lebih bersifat universal. Sebagai contoh, Matius menuliskan silsilah Yesus Kristus dengan mencantum nama-nama yang sangat dikenal oleh bangsa Yahudi, yaitu Yesus sebagai anak Daud, anak Abraham sedang Lukas melihat silsilah Yesus Kristus secara universal dengan menuliskan Yesus sebagai anak Adam, anak Allah.

Menurut budaya Yahudi, silsilah tidak perlu ditulis dengan lengkap, berbeda dengan budaya lain, Cina misalnya dimana silsilah harus ditulis dengan lengkap. Sebagai contoh, kalau yang ingin ditekankan adalah diri saya sebagai seorang dokter maka nama-nama yang tertulis dalam silsilah hanya mereka yang seorang dokter. Demikian juga Matius ingin menekankan Kristus sebagai penggenapan Perjanjian Lama sedang Lukas lebih bersifat universal, yakni menekankan Kristus sebagai Juruselamat. Tema utama dari Injil Matius adalah tentang hal Kerajaan Surga sedang tema utama Injil Lukas adalah keselamatan, salvation. Dalam Injil Lukas kita menemukan catatan-catatan yang unik, yang tidak kita dapati di ketiga Injil yang lain, yaitu mengenai sisi lain dari keselamatan, salah satunya tentang hal Yesus diurapi perempuan berdosa. Lukas mengungkapkan dengan detail betapa  indah seseorang yang menerima keselamatan.

Yesus dianggap layak oleh orang Farisi untuk diundang dalam perjamuan makan (ay. 36) dan Tuhan Yesus mau memenuhi undangan tersebut menunjukkan bahwa Ia dekat dengan kalangan dari manapun, baik dari golongan bawah maupun dari golongan atas. Begitu pula Injil juga diperuntukkan bagi setiap orang dari kalangan manapun. Dalam injil Lukas kita melihat ada tiga tokoh utama, yaitu Tuhan Yesus, orang Farisi yang bernama Simon dan seorang perempuan berdosa. Lukas tidak memperkenalkan siapa nama perempuan tersebut, dia hanya menyebut wanita itu sebagai seorang berdosa yang terkenal dan kemungkinan ia adalah seorang pelacur “kelas atas“ karena ia dapat membeli sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi yang sangat mahal harganya (ay. 37). Pada jaman sekarang, minyak wangi tersebut sama dengan minuman anggur dimana kualitas dan cara pembuatan anggur sangat berpengaruh pada harga anggur.

Hati-hati, di ayat 38 menggambarkan pada kita, seolah-olah ia sudah menangis dari rumah sambil membawa buli-buli pualam berisi minyak wangi. Padahal menurut bahasa aslinya, ia belum atau tidak menangis saat datang ke rumah orang Farisi dan ia menangis ketika  melihat Yesus. Kejadian ini terjadi secara tiba-tiba tanpa ia rencanakan terlebih dahulu. Lalu bagaimana perempuan itu dapat  berdiri di belakang Yesus dekat kakiNya dan air matanya membasahi kaki Yesus? Sebelumnya marilah kita melihat terlebih dahulu situasi dan budaya bangsa Yahudi duduk makan pada waktu itu. Duduk makan pada jaman itu tidak sama seperti sekarang dimana posisi orang duduk menghadap meja. Akan tetapi posisi duduk makan pada jaman itu adalah seperti posisi orang setengah berbaring dengan kaki menyamping menghadap belakang dengan meja perjamuan yang tidak terlalu tinggi sehingga memudahkan orang untuk mengambil makanan dan bercakap-cakap. Dengan demikian kita dapat memahami kalau perempuan itu berada di belakang Yesus dekat kakiNya dan air matanya mengenai kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya (ay. 38). Ketika dilihatnya rambutnya tidaklah cukup membersihkan kaki Yesus maka ia mencurahkan minyak wangi dari buli-buli pualam tersebut untuk mengurapi kaki Tuhan Yesus dan sebagai ungkapan rasa hormatnya ia mencium kaki Yesus. Tindakan yang dilakukan perempuan ini sangatlah tidak wajar dan ganjil di budaya Yahudi pada jaman itu, sebab buli-buli minyak biasanya dituang di atas kepala dan hanya diurapkan pada orang yang dihormati saja. Karena harga minyak sangat mahal maka wajarlah kalau Simon menjadi marah namun Tuhan Yesus justru tidak menunjukkan reaksi yang negatif.

Setiap orang yang mendengar nama Tuhan Yesus pastilah langsung membayangkan sosok Tuhan Yesus sebagai seorang yang penuh kasih, murah hati dan suka menolong tapi melalui peristiwa pengurapan kita mengetahui sisi lain dari diri Tuhan Yesus. Dia bukan saja seorang yang suka memberi namun Dia juga tahu bagaimana menghargai sebuah pemberian, Dia suka diberi oleh anak-anakNya yang sangat mengasihi Dia. Sebagai orang tua, kita merasa wajib dan berusaha keras memberi anak sehingga kita akan merasa risih dan kikuk ketika anak kita berusaha keras memberi pada kita sebagai orang tua. Dalam hal memberi, Philip Yancey berpendapat bahwa kita perlu belajar seperti anak-anak yang menerima pemberian dengan senang hati berbeda dengan orang dewasa yang selalu curiga dan was-was di balik pemberian seseorang.

Calvin pun dalam bukunya Institusio menegaskan bahwa salah satu wujud kemerdekaan orang Kristen adalah kita bebas memberikan sesuatu pada Tuhan meskipun kita tahu bahwa pemberian itu tidaklah sebanding dengan pemberianNya. Tuhan pasti menghargai setiap pemberian anak-anakNya yang memberi dengan segenap hati; Dia tidak memandang bentuk atau rupa pemberian kita. Oleh sebab itu, Tuhan sangat menghargai pemberian perempuan berdosa tersebut meski hal itu dianggap tidak wajar oleh orang Yahudi. Ironisnya, Simon justru merasa tidak enak hati karena sebagai tuan rumah, ia yang seharusnya menerima hadiah bukan si tamu. Kehadiran perempuan berdosa yang terkenal itu membuat Simon, seorang Farisi yang terpandang menjadi rikuh. Bayangkan, kalau tiba-tiba hal ini terjadi di rumah kita, seseorang yang tidak dikenal dan tidak layak hadir dalam pesta undangan, bagaimana perasaan saudara? Kejadian inilah yang dialami oleh Simon sehingga ia langsung memberikan penghakiman dan tuduhan kepada Yesus (ay. 39).

Di dalam kebingungannya, Simon melontarkan pertanyaan yang sifatnya menghakimi; jika Yesus seorang nabi tentulah ia tahu siapa perempuan tersebut. Ternyata Tuhan Yesus menunjukkan kepekaan seorang nabi; Ia tahu apa yang ada di benak Simon (ay. 40) dan hal ini sangat mengejutkan Simon. Ironisnya, Tuhan Yesus tidak menanggapi pertanyaan tersebut, Ia malah memberikan contoh ilustrasi tentang dua orang yang berhutang dan kedua-duanya dibebaskan dari hutang. Menarik sekali, Simon sebenarnya tahu jawabannya tapi ia tidak langsung menjawab pertanyaan tersebut; ia enggan menjawab namun ia tahu pertanyaan itu harus dijawab. Dan Tuhan langsung memberikan tiga perbandingan (ay. 44-46): (1) Perempuan itu membasuh kaki Yesus dengan air mata sedang Simon tidak, (2) Perempuan itu menciumi kaki Yesus dengan tiada henti-hentinya sedang Simon tidak, (3) Perempuan itu meminyaki kaki Yesus dengan minyak wangi sedang Simon tidak meminyaki kepala Yesus bahkan dengan minyak biasa.

Apa yang dilakukan oleh perempuan itu sebenarnya tidak wajib dilakukan oleh seorang tuan rumah pada jaman itu. Secara standar, Simon telah melakukan apa yang sewajarnya yang harus dia lakukan selaku tuan rumah yang mengadakan pesta perjamuan. Masalahnya justru terletak pada kewajaran itu, Simon hanya sekedar memberikan yang sewajarnya saja. Bukankah hal ini juga sering kita lakukan sebagai orang Kristen? Sebagai orang Kristen, kita merasa diri cukup kalau kita sudah beribadah di hari Minggu dan melayani. Secara standar, kita sudah melakukan yang umumnya orang Kristen lakukan namun Tuhan bukan mempermasalahkan apa yang kita lakukan; Dia melihat hati. Apakah kita melakukan dengan segenap hati ataukah hanya sekedar kewajiban belaka? Dan ternyata yang mendorong perempuan tersebut melakukan perbuatan kasih adalah karena dosanya yang banyak itu telah diampuni (ay. 47).

Hati-hati kita bisa salah dalam mengartikan ayat 47; ayat tersebut seolah-olah menggambarkan pada kita bahwa karena ia telah berbuat kasih maka dosanya diampuni. Salah! Justru sebaliknya, Tuhan terlebih dahulu mengampuni dosa perempuan itu dan sebagai ucapan syukurnya, ia berbuat kasih. Menurut penafsiran, dilihat dari konteks sebelumnya dan sesudahnya maupun dari bahasa aslinya, lebih tepat diterjemahkan dengan “sebab itu.“ Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab itu ia banyak berbuat kasih (Luk. 7:47).

Ada tiga hal yang menguatkan kita kalau Tuhan Yesus mengampuni dosa terlebih dahulu sehingga ia berbuat kasih: (1) Di ayat 39, Simon menduga bahwa Yesus bukanlah seorang nabi karena Ia menerima orang berdosa. Ternyata dugaan Simon salah. Perempuan itu dulunya adalah seorang berdosa tapi sekarang tidak lagi sebab dosanya telah diampuni “sebab itu“ ia berbuat kasih, (2) Dalam perumpamaan Tuhan Yesus tentang dua orang yang berhutang maka kita perhatikan orang tersebut berhutang terlebih dahulu barulah kemudian ia diampuni, “sebab itu“ ia berbuat kasih, (3) Perkataan Tuhan Yesus sendiri, yakni “Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!“ (ay. 50). Jadi, bukan perbuatan kasih yang telah menyelamatkannya akan tetapi dia telah diampuni terlebih dahulu “sebab itu“ ia berbuat kasih.

Alkitab tidak menuliskan secara detail kapan perempuan tersebut bertobat tapi dari fakta-fakta yang ada kita dapat menarik kesimpulan bahwa perempuan tersebut telah bertobat sebelumnya. Injil Lukas sebelumnya mencatat tentang Yesus dan Yohanes Pembaptis (Luk. 7:18-35) maka kemungkinan perempuan tersebut bertobat karena pelayanan Yohanes Pembaptis atau kemungkinan juga karena pelayanan Tuhan Yesus sendiri, karena itu sebagai ungkapan syukurnya, ia berbuat kasih; ia menyadari hutangnya terlalu besar untuk diampuni namun Tuhan Yesus mau berkenan mengampuni dosanya yang banyak itu.

Simon hanya melakukan hal yang sewajarnya yang harus dikerjakan seorang tuan rumah tapi kita melihat perempuan ini melakukan perbuatan yang lebih dari batas sewajarnya dan paling penting, perbuatan itu keluar dari hati yang terdalam sebagai tanda ucapan syukurnya atas pengampunan dosa yang telah ia terima. Kesadaran ini, membuatnya mengasihi lebih daripada yang dilakukan orang lain. Seperti arti kata “miskin“ dalam khotbah Tuhan Yesus di bukit “Berbahagialah orang yang miskin...“ menggambarkan keadaan orang yang sangat miskin atau biasa disebut dengan istilah “kere“ (dari bahasa Jawa). Keadaan yang demikian itu menggambarkan keadaan kita, manusia berdosa sebelum diampuni; hutang kita tidak terbilang jumlahnya maka mustahil bagi kita sendiri untuk dapat melunasinya. Namun, melalui perenungan kita hari ini biarlah kita disadarkan kembali bahwa kita adalah orang yang berdosa. Jangan pernah lupakan hal itu.

Banyak orang yang merasa kesulitan menyatakan kasih pada Tuhan. Mengapa? Apakah karena kita telah menjadi lupa diri bahwa sebenarnya kita hanyalah seorang berdosa yang seharusnya dibinasakan? Kita tidak boleh lupa kalau kita hanyalah manusia yang berdosa; kita miskin yang semiskin-miskinnya, “kere“ namun Tuhan mau berkenan menerima kita yang hina ini dan Dia rela berkorban bagi kita. Itu semua Dia lakukan karena kasihNya yang besar kasih sehingga Ia rela mengorbankan anakNya mati bagi kita (Yoh. 3:16). Biarlah kita terus menerus menyadari hal ini sehingga kita dapat mempersembahkan yang terbaik hanya untuk Dia.  Amin. ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)