Ringkasan Khotbah : 29 Februari 2004

Yesus Kristus & Adam

Nats: Rm 5: 12-21; 1 Kor 15: 22, 45-49

Pengkhotbah : Ev. Solomon Yo

 

Pendahuluan

Kini kehidupan agama manusia khususnya di kalangan kekristenan sangat memprihatinkan. Banyak pendapat yang mengatakan bahwa kekristenan merupakan salah satu dari agama-agama yang ada di dunia dan ironisnya gereja bahkan orang kristen menyetujuinya. Maka tidaklah heran jikalau agama mulai disesuaikan dengan perkembangan jaman dan pandangan umum masyarakat, tidak terkecuali kekristenan pun juga mengalami proses sekularisasi. Adalah tugas setiap anak Tuhan untuk mewartakan kebenaran sejati di tengah-tengah jaman yang bengkok ini. Bukannya dihanyutkan oleh arus dunia; orang Kristen harus berpegang pada kebenaran dan dipakai menjadi garam dan terang untuk mempengaruhi dunia. Namun celakanya, kini gereja dan para hamba Tuhan mulai mengajarkan bahwa di luar Kristus ada keselamatan; setiap agama mempunyai keunikan yang harus kita akui juga sebagai kebenaran dengan demikian diharapakan ada kedamaian di dunia, tidak ada perang karena agama. Salah! Bukan dengan menyamaratakan agama kita baru akan hidup damai dengan sesama, karena bisa jadi orang mengorbankan iman mereka tapi tetap berbuat jahat kepada orang lain. Tapi kita menegaskan keunikan iman Kristen kita dan tetap berusaha mengasihi dan memperlakukan orang dengan penghargaan.

Berpeganglah teguh pada Yesus Kristus yang mewahyukan kebenaran sejati dan yang menuntun kita menuju jalan keselamatan. Semakin mengenal Dia kita semakin merasakan sukacita dan indahnya hidup di dalam Tuhan. Tapi sayang, mata manusia telah dibutakan oleh kemegahan dunia; manusia melihat tidak hanya dengan otak, akal budi, tapi dengan asumsi-asumsi. Itulah sebabnya kita sering kali mengalami kesulitan dalam mencari benda yang kita inginkan karena sebelumnya kita mempunyai asumsi salah, yaitu kita memikirkan benda yang tidak sesuai dengan aslinya. Asumsi negatif juga menghalangi kita untuk mengenal lebih dalam kepribadian seseorang bahkan menghambat orang untuk mendapatkan pengetahuan baru. Kenapa? Karena orang merasa sudah tahu maka  ia tidak mau tahu lagi bahkan ia menjadi tidak peduli meski pengetahuan yang ia mengerti salah dan telah tercemar. Begitu pula dalam mengenal Kristus, orang sering kali beranggapan mengenal Kristus sama halnya seperti mengenal Sidharta, Muhammad atau pendiri agama lain. Salah! Kristus berbeda dengan pendiri-pendiri agama lain; Kristus adalah Tuhan yang Maha Agung, Maha Dahsyat dan Maha Mulia lebih dari yang dapat kita pikirkan, tidak cukup kata-kata untuk mengungkapkan kemuliaanNya bahkan di sorga pun kita belum dapat mengenal Dia secara keseluruhan karena Ia adalah Yang Sempurna.

Salah satu pendekatan yang dapat kita gunakan untuk semakin mengenal siapakah Yesus Kristus dan siapakah manusia adalah melalui perbandingan. Sebagai contoh, persiapan yang dilakukan oleh orang yang hendak bertemu Presiden sangat berbeda  dibandingkan bila mereka hendak bertemu Tuhan, bukan? Kita seringkali lalai dengan menganggap sesuatu yang tidak penting sebagai yang penting dan sebaliknya. Melalui perbandingan pula kita disadarkan bahwa Yesus lebih mulia dari apa pun dan siapa pun di dunia bahkan tokoh-tokoh besar seperti Adam, Musa, Harun, Daud, Yohanes Pembaptis, dan lain-lain pun tidaklah sebanding dengan Kristus. Perbandingan menolong kita semakin mengenal dan memahami kepribadian dan karya Kristus maka kita akan dibuat kagum olehNya. Dalam perenungan ini kita akan melihat kontras yang dibuat oleh Rasul Paulus antara Yesus Kristus dan Adam adalah:

I. Dua Kepala Umat Manusia Dikontraskan.

Sebelum kejatuhan manusia dalam dosa, Adamlah yang menjadi kepala umat manusia namun setelah kejatuhan, Kristuslah kepala umat manusia yang baru. Ungkapan “di dalam Kristus“ tentulah bukan hal yang asing di telinga kita, misal: siapa yang ada di dalam Kristus, Ia adalah ciptaan baru, persekutuan dalam Kristus, sukacita dalam Kristus, dan

masih banyak lagi. Rasul Pauluslah yang paling banyak memakai ungkapan ini, yaitu sekitar 164 sampai dengan 200 kali. Dan ini mengungkapkan makna teologis yang penting, yaitu “kesatuan dengan Kristus“ (union with Christ), semua berkat keselamatan Kristus menjadi milik kita, karena di dalam Kristus.

Alkitab hanya menuliskan dua nama, yaitu Adam dan Kristus, dimana kita dapat dikatakan berada di dalamnya yakni: “di dalam Adam“ dan “di dalam Kristus.“ Kontras ini dikemukakan oleh Rasul Paulus dalam 1Kor. 15:22. Di dunia hanya ada dua kepala umat manusia yang darinya kita memperoleh kehidupan. Adam adalah bapa leluhur manusia jasmaniah dan ia membawa kita pada penghukuman dan kematian; Kristus adalah kepala umat manusia baru yang bersifat sorgawi dan karenaNya kita beroleh pembenaran dan hidup kekal (1Kor. 15:45-49).

Tidak ada satu orangpun yang diberikan kehormatan seperti halnya Adam meski ia telah berbuat dosa namun realita menyatakan bahwa ia tetap bapa leluhur kita, “di dalam Adam“. Bukankah keburukan atau perbuatan dosa yang dilakukan oleh seorang ayah, tidak akan dapat mengubah realita bahwa ia tetap seorang ayah? Adam berkedudukan lebih tinggi dari semua manusia di dunia ini, namun ada satu orang, yaitu Kristus yang lebih tinggi dari Adam. Puji Tuhan, Kristus datang sebagai Adam kedua yang di dalamnya kita beroleh segala berkat sorgawi; di dalam Kristus kita menjadi anak Allah dan beroleh pembenaran hidup, di dalam Kristus pula kita menerima segala janji dan kekayaan karunia. Konsep ini bukanlah pemikiran atau teologi ciptaan Paulus semata, namun konsep “di dalam Kristus“ terlebih dahulu telah diajarkan oleh Tuhan Yesus sendiri, yakni “Akulah pokok anggur yang benar... dan tinggallah didalam Aku...“ (Yoh. 15:1-8). Itulah sebabnya Paulus berkata,“Bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya, tetapi menjadi ciptaan baru itulah yang ada artinya“ (Gal. 6:15); siapa yang ada dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru (2Kor. 5:17).

Konsep “ciptaan baru“ ini sangat penting untuk diajarkan kepada semua umat manusia sehingga mereka beroleh keselamatan; karena tanpa kita menjadi ciptaan baru di dalam Kristus, maka orang sebaik Nikodemus tidak akan selamat karena ia masih di dalam Adam. Yesus bukanlah seorang nabi biasa, Dia lebih besar dari semua nabi yang ada di dunia. Yesus adalah kepala umat manusia yang baru dan dariNya mengalir aliran hidup yang bersifat ilahi. Kehidupan siapakah yang mengalir dalam kita, kehidupan yang bersifat alamiah ataukah yang bersifat Ilahi? Di luar Yesus tidak ada keselamatan lain yang olehnya kita diselamatkan. Karena itu janganlah engkau tertipu dengan segala tawaran manis dunia dan kuatkanlah imanmu sehingga tidak mudah tergoyahkan.          

II. Dua Kehidupan Dikontraskan

Rasul Paulus mengontraskan antara kehidupan Adam dan Kristus; yang satu, pelanggaran – yang satu, perbuatan kebenaran; beroleh penghukuman – beroleh pembenaran hidup, ketidaktaatan – ketaatan  (Rm. 5:18-19). Kontras kehidupan Adam dan Kristus membuktikan bahwa Yesus lebih mulia dari apa pun dan siapa pun; hanya Dia yang layak dan patut ditinggikan. Di dalam Adam kita hanya beroleh penghukuman dan kematian namun di dalam Kristus kita akan beroleh pembenaran dan hidup kekal. Tidak ada seorang pun yang layak menjadi Juruselamat, hanya Kristus anak domba Allah yang tidak bercacat yang dapat menebus dosa manusia. Sebenarnya bukan hal yang sulit bagi Adam untuk taat pada Allah dengan segala kesempurnaan ciptaan yang ada pada dirinya di taman Eden, namun ia telah melanggar dan berbuat dosa. Dan sifat dosa ini diturunkan pada manusia maka tidaklah heran kalau seorang anak kecil lebih mudah melakukan perbuatan dosa tanpa ada yang mengajarinya.

Adam, manusia petama dan Kristus, Adam kedua merupakan perwalian (representative) manusia sehingga karena perbuatan dosa yang dilakukan Adam, kita pun ikut berdosa; namun melalui satu perbuatan Kristus, semua manusia diselamatkan. Dosa menyebabkan manusia jauh dari Tuhan bahkan segala perbuatan baik tidak dilakukan dengan tulus melainkan hanya demi untuk keuntungan diri sendiri. Dihadapan Allah yang Maha Kudus adakah satu orang manusia yang benar? Yesaya menegaskan bahwa segala kesalehan manusia seperti halnya kain kotor, jadi tidak ada seorangpun yang benar (Yes. 64:6). Realita ini seharusnya membuat kita semakin bersyukur karena Tuhan berkenan memilih kita untuk hidup dalam anugerahNya. Di dunia ini tidak ada seorang pun yang sempurna bahkan para hamba Tuhan sekalipun karena itu janganlah engkau menjadi tersandung justru sebagai anak Tuhan kita harus saling menopang sehingga dengan bergandeng tangan kita bersama-sama menuju pada kesempurnaan dan menjadi serupa Kristus. Pandanglah hanya pada Yesus, satu-satunya manusia yang tidak berdosa. Ingat, ketika engkau merasa diri telah rendah hati maka pada saat itu pula engkau telah jatuh dalam dosa kesombongan. Tidak ada seorang pun di dunia yang luput dari dosa. Hanya Yesus, kepala umat manusia yang baru yang di dalamNya kita beroleh anugerah dan berkat; hanya Dia yang layak menjadi tebusan umat manusia karena Dia telah melakukan kebenaran. Satu perbuatan kebenaran (Rm. 5:18) merujuk pada totalitas hidup dan salib Kristus; seluruh hidup Yesus adalah hidup yang kudus dan berkenan kepada Allah. Hanya Yesus satu-satunya manusia yang mempunyai kesucian dan kekudusan, yang layak menjadi domba tebusan bait Allah surgawi. Dosa membuat manusia tidak lagi serupa dengan gambar dan rupa Allah, manusia menjadi “tidak mirip manusia“ lagi. Puji Tuhan, Allah berkenan memperbaharui hidup kita terus menerus untuk semakin serupa Kristus, gambar dan rupa Allah yang sejati.

III. Dua Buah Kehidupan Dikontraskan

Dalam Roma 5:15-19 Rasul Paulus sengaja memparalelkan Kristus dan Adam, dan kita menjumpai perbandingan yang bersifat superlative bukan bersifat setara. Ada dua kontras yang harus kita perhatikan: 1) berhubungan dengan jenis perbuatan: pelanggaran Adam-perbuatan kebenaran Kristus, ketidaktaatan Adam-ketaatan Kristus; 2) kekuatan dari dampak perbuatan, yaitu akibat dosa yang dilakukan Adam, kita beroleh kematian; akibat perbuatan kebenaran Kristus, kita beroleh kasih karunia dan anugerah. Ilustrasi, menolong kita untuk memahami kenapa perbuatan satu orang dapat berakibat sedemikian fatal. Bukan hal yang mudah untuk memulihkan keadaan fisik dan mental seseorang yang telah mengalami siksaan berat, dibutuhkan banyak biaya dan tenaga ahli. Bayangkan, bila satu orang yang berbuat dosa dan kehancuran yang diterima oleh banyak orang maka kuasa siapa dan kuasa darimanakah yang dapat memulihkan? Ajaran agama bahkan nabi sekalipun tidak akan mampu memulihkannya. Hanya salib Yesus yang dapat menyelamatkan hidup manusia tapi celakanya para hamba Tuhan justru mau menyamaratakan iman Kristen dengan agama lain.

Itulah sebabnya Rasul Paulus menjadi marah ketika Injil hendak diselewengkan ke ajaran tauratisme. Salib Yesus telah menyelamatkan manusia dari kebinasaan kekal menuju pada kehidupan kekal. Kekristenan satu-satunya yang bersifat transenden sejati bila dikontraskan dengan agama-agama di dunia. Gembala Ilahi itu telah berinisiatif mencari domba-domba yang sesat, Dialah sumber hidup yang membangkitkan kita dari kematian kekal akibat dosa-dosa yang kita lakukan, Yesuslah satu-satunya jalan dan kebenaran dan hidup (Yoh. 14:6); di luarnya Yesus tidak ada keselamatan. Hati-hati dengan agama-agama di dunia yang menawarkan segala sesuatu yang manis namun dibalik itu hanyalah kepalsuan yang ada. Bukankah yang menyalibkan Yesus adalah orang-orang yang mengaku dirinya “beragama“?

Kekristenan menolak sekularisme dan menjadi tugas kita, orang yang telah ditebus untuk mewartakan kebenaran sejati, yaitu Yesuslah satu-satunya Juruselamat. Biarlah salib yang hina tidak membutakan mata rohani kita untuk melihat keajaiban dan kemuliaanNya. Yesus yang lahir di kandang, mati di bukit golgota dan yang dikuburkan dalam kubur pinjaman adalah Raja di atas segala raja, He is the King of kings, the God of Glory. Maka tidaklah heran kalau banyak martir rela mati berkorban demi Dia karena mereka tahu di dalam  Kristus kita memperoleh kekayaan surgawi yang Ilahi. Bagaimana dengan anda? Maukah engkau mengundang Yesus Kristus yang memberikan berkat-berkat Ilahi bertahta dalam hidupmu? Amin. ? (Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh Pengkhotbah). Amin. ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)