Ringkasan Khotbah : 15 Februari 2004

The Geneology (4)

Nats: Mat. 1:6-11

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Hari ini kita akan merenungkan bagian kedua dari tiga bagian silsilah yang oleh Matius di setiap bagiannya dituliskan hanya 14 keturunan saja (Mat. 1:17). Tuhan tidak dengan sembarangan menuliskan nama-nama tersebut dalam Alkitab. Setiap nama yang tertulis pasti mengandung makna dan ada signifikansi besar yang memang Tuhan maksudkan demi untuk kebaikan manusia. Dan celakanya, kita yang kurang pengetahuan merasa sok tahu lalu menghakimi Alkitab dan berpendapat bahwa nama-nama tersebut tidaklah penting. Dunia modern menyebabkan orang Kristen semakin bersikap pragmatis terhadap Firman Tuhan.

Orang menafsirkan ayat dengan sembarangan tanpa melihat konteks secara keseluruhan. Firman Tuhan dimanipulasi demi untuk kepentingan diri sendiri maka wajarlah bila mereka berpendapat bahwa tidak semua ayat dalam Alkitab “bagus“ dalam arti yang menyukakan hatinya. Ingat, Alkitab adalah Firman Tuhan jadi semua yang tertulis pastilah bersifat kebenaran dan mengandung makna. Hendaklah kita melihat Firman Tuhan sebagai sesuatu yang otoritatif dan terpenting dalam hidup sehingga dengan rendah hati kita mau rela dibentuk dan semakin serupa Kristus. Untuk mencapai kesempurnaan tidaklah mudah, banyak tantangan yang harus dihadapi maka diperlukan perjuangan. Ironisnya, orang tidak mau berjuang untuk memperoleh kebenaran sejati tetapi untuk mendapat kesenangan dunia yang semu, orang rela mengorbankan apapun.

Dalam perjalanan sejarah hidup ini apa yang menjadi tujuan hidup anda, Firman ataukah hal duniawi yang bersifat materi? Kalau untuk hal-hal duniawi kita mau berjuang maka untuk mengerti kebenaran sejati kita harus berjuang lebih keras lagi. Empat belas nama di bagian pertama silsilah tersebut adalah orang-orang pertama yang berperan ketika umat pilihan Allah dibentuk. Namun, pada silsilah bagian kedua ini empat belas nama tersebut semuanya adalah raja yang dipimpin Tuhan sepanjang sejarah, hanya Yekhonya yang bukan. Alkitab mau membuktikan bahwa Kristus adalah Mesias yang dinubuatkan ribuan tahun lalu dan Dia lahir dari keturunan raja Daud. Kalau pada silsilah bagian pertama titik pusatnya pada Abraham maka bagian kedua dari silsilah ini titik pusatnya terletak pada Daud (Mat 1:17) dan di bagian ketiga merupakan bagian yang paling desperate; banyak nama yang hilang dalam sejarah. Hal ini terjadi sampai pada masa 400 tahun Tuhan tidak berfirman.

Kristus akan menjadi Raja dan bertahta atas kerajaanNya yang akan ditegakkan di dunia. Kerajaan Surga akan digenapkan ketika sejarah dunia ini berakhir di titik Omega (Why. 1:5-6). Titik omega sekarang belum terjadi tapi suatu hari kelak hal itu pasti terjadi. Tidak ada seorangpun yang tahu kapan akan tibanya titik Omega; titik Omega bukan titik tak terhingga. Banyak sekolah yang mengajarkan bahwa suatu garis bilangan terdiri dari 0, 1, 2, 3,..., tak terhingga (~) padahal pergeseran garis bilangan terjadi dalam ruang dan waktu maka tidak mungkin bilangan ~ ada dalam garis bilangan. Ironisnya, banyak orang pandai mengajarkan bilangan terakhir sebelum ~ adalah ~-1, ~-2,... secara logika, bukankah ~-1=~. Bilangan ~ seharusnya bukan terletak pada garis bilangan yang dapat berubah. Jadi, suatu hari kelak sejarah pasti berakhir di titik Omega dan manusia akan masuk dalam kekekalan. Dalam realm kekekalan itulah bilangan ~ seharusnya berada karena ia tidak dapat berubah. Allah Tritunggal adalah Allah yang kekal maka ~+~+~≠3~ melainkan ~+~+~=~.

Dunia tidak mengerti konsep kekekalan ini maka wajarlah kalau banyak orang yang memperdebatkan konsep Allah Tritunggal. Orang sulit menerima bahwa Allah Tritunggal bukan Allah yang berjumlah tiga tapi Allah yang satu dengan tiga pribadi. Kalau kita perhatikan garis sejarah, waktu terbagi dengan kehadiran Kristus. Kristus merupakan titik point dan titik itu terus berjalan hingga titik Omega, yaitu kerajaan Tuhan digenapkan dan setiap anak Tuhan menjadi bagian dalam kerajaan Allah. He’s The King of kings. Di injil Matius istilah “Raja dan Kerajaan“ muncul sebanyak 52 kali, yaitu mulai dari pasal 3-26 berarti 1/3 bagian dari keseluruhan kitab PB. Khusus di pasal 1 meskipun istilah kerajaan tidak muncul tapi 14 raja yang sesungguhnya hadir di sana. Kita telah memahami sebelumnya bahwa tidak setiap nama dicantumkan oleh Matius, misal dari Uzia ke Yotam ada 3 nama yang dilewatkan, yakni Ahazia, Yoas dan Amazia. Jadi, kalau Matius memilih 14 nama raja dimasukkan dalam silsilah Kristus karena ia ingin menunjukkan bahwa janji Kerajaan telah digenapkan (Kej. 49:10). Kondisi bangsa Israel pada saat itu hanya tinggal 2 suku karena 10 suku yang lain telah bersinkretis atau bercampur dengan bangsa lain. Di jaman Tuhan Yesus mereka lebih dikenal sebagai orang Samaria.

Kerajaan Surga tidak bersifat dunia dan berbentuk wilayah melainkan bersifat spiritual. Bahkan Tuhan Yesus sendiri sudah berkali-kali menjelaskan namun mereka tetap tidak mau percaya bahkan sampai Tuhan Yesus bangkit mereka masih menanyakan tentang hal kerajaan. Puji Tuhan, akhirnya mereka mulai sadar dan bertobat bahwa kerajaan tersebut bukanlah kerajaan duniawi melainkan rohani. Hati-hati dengan ajaran sesat yang mengajarkan bahwa Yesus menjadi Raja atas kerajaan Yerusalem dan semua orang Kristen akan dibangkitkan dan turut memerintah bersama Dia; kita akan menjadi perdana menteri, panglima, dan pembesar-pembesar lain. Hal ini sangatlah tidak masuk akal karena kalau hal itu terjadi maka:

1) Bumi semakin penuh sesak dengan manusia. Hari ini saja tanpa orang-orang yang dibangkitkan dunia sudah penuh sesak apalagi kalau ada orang Kristen yang dibangkitkan dan turut memerintah di Yerusalem. Sesungguhnya kebanggaan duniawilah yang diinginkan manusia dan hal ini bukanlah hal baru karena murid Tuhan Yesuspun pernah mempunyai keinginan yang sama, yaitu duduk di sebelah kanan atau kiri Tuhan Yesus; 2) Bayangkan, andai seluruh orang Kristen memerintah atas orang-orang fasik, pastilah banyak masalah yang akan timbul, bukan? Orang melihat hal ini sebagai percampuran antara kebaikan dan kejahatan. Salah! Surga tidak pernah berkompromi, tidak ada orang jahat masuk surga. Mereka yang masuk surga adalah orang yang sudah disucikan, dikuduskan, dibenarkan dan dimuliakan karena itu semua sesuai dengan sifat Allah.

Pertama, Konsep tongkat kerajaan Yehuda haruslah dilihat secara spiritual. Dunia diperkenankan mempunyai raja maka seharusnya kerajaan dunia menyatakan kerajaan surga yang akan digenapkan di dunia, yaitu dengan kedatangan Yesus Kristus, King of Kings. Bangsa Israel seharusnya sejak dari Kejadian sudah dapat melihat pembukaan dimensi dari satu konsep kerajaan yang bersifat lokal menjadi kerajaan yang bersifat universal. Inilah titik yang oleh Matius diangkat kembali untuk memperlihatkan bahwa Kristuslah raja yang dimaksudkan yang tongkat kerajaanNya tidak akan beranjak (Kej. 49:10). Hal ini dapat kita lihat pada 14 generasi yang kedua; mulai dari Daud yang dimengerti orang Israel sebagai pemegang tongkat kerajaan Yehuda dan turun terus hingga ke Yosia.

Orang Yahudi sangat menghormati Daud sehingga bintang Daud berbentuk segienam dipakai sebagai lambang negara Israel. Bisakah kita lebih hormat ketika mendengar nama Kristus lebih dari orang Israel saat mendengar nama Daud? Dunia modern kini semakin merendahkan konsep Kerajaan Surga sehingga rasa hormat pada Kristus, Raja di atas segala raja mulai hilang. Orang mulai dipengaruhi aliran filsafat yang dicetuskan Michael Foucoult, yaitu tidak mau menghargai otoritas atau semua hal yang berkuasa atas hidup kita termasuk Tuhan pemegang otoritas tertinggi. Manusia mau menegakkan otorisasi diri akibatnya manusia berani memerintah, mengatur bahkan melawan Kristus, Raja di atas segala raja. Bandingkan dengan pemerintahan dunia, bukankah rakyat yang melawan raja seharusnya dihukum?

Dunia menganggap Kristus penuh cinta kasih sehingga mereka merasa tidak perlu berlaku sedemikian rupa. Ingat, Kristus adalah Allah yang penuh kasih sekaligus adil. Dunia mengerti konsep kasih dan keadilan berbeda dengan Kristus. Cinta kasih bagi dunia adalah reduksi dari keadilan dan sebaliknya keadilan merupakan reduksi dari cinta kasih. Salah! Keunggulan iman Kristen justru mengajarkan kasih dan keadilan harus berjalan sejajar dan terintegritas. Apa artinya kasih tanpa keadilan atau kasih tanpa penghukuman? Bagaimana sikap kita saat kita beribadah, menghadap raja di atas segala Raja? Sikap hormat seharusnya muncul dalam diri kita saat kita mendengar sabda Tuhan; Dia masih berkenan berbicara melalui Firman membuktikan kasihNya pada kita.

Kedua, Nama-nama raja yang tertulis disusun Matius secara unik, yaitu nama raja yang baik dan jahat disusun secara bergantian. Dalam bagian ini Matius ingin menunjukkan bahwa setiap orang yang menjadi raja tidak lepas dari rencana Tuhan termasuk raja yang jahat sekalipun. Tuhan tidak pernah melepaskan garis benang merah sejarah dunia. Sebagai contoh, Hizkia adalah anak dari Ahas, raja yang kejam namun ia tidak seperti ayahnya. Hizkia adalah salah satu raja yang diperkenan Tuhan. Dalam doanya Hizkia berani mengatakan bahwa ia telah hidup benar di hadapan Tuhan, setia mengikut Tuhan dan senantiasa menyenangkan hati Tuhan. Beranikah mempertanggung jawabkan hidup seperti Hizkia pada Tuhan?

Allah bisa memakai siapa saja dan apa saja untuk menjadi alatNya, tidak peduli mereka baik atau jahat. Ketika kedaulatan Allah dinyatakan, bukan berarti kejahatan ditiadakan. Tidak! Kejahatan tetap ada tapi keadilan Allah akan nyata atas orang-orang fasik. Tuhan telah mempersiapkan misi Kerajaan Surga sejak dari kekekalan karena itu “Bertobatlah, kerajaan Allah sudah dekat“. Sejarah harus dikaitkan dengan momen hidup. Sejarah tanpa momen hanya akan menjadi kumpulan cerita dan data belaka. Ingat, kalau sekarang kita berada dalam sejarah dunia apakah hidup kita sudah terkait dengan sejarah kerajaan Allah?

Ketiga, Matius mengkontraskan antara kerajaan dunia dan kerajaan surga yang akan ditegakkan. Kalau kita bandingkan dengan Daud maka Daud adalah Raja yang paling sukses secara nilai dan puncak kejayaan berada di tangan Salomo dengan kerajaannya yang besar. Akan tetapi setelah masa pemerintahan Salomo, kerajaan Yehuda semakin merosot. Hal ini nampak di nama terakhir yang tertulis, yakni Yekhonya bukanlah seorang raja. Matius mau menggambarkan anti klimaks sejarah manusia. Semua pergerakan dunia pasti mengalami anti klimaks dan kemudian terus merosot dan berakhir di pembuangan. Inilah akhir dari kerajaan dunia, kerajaan yang diinginkan bangsa Israel. Tuhan sendiri yang akan menjadi raja dengan memerintah bangsa Israel namun justru penolakan yang diterima; mereka menginginkan raja dunia. Sifat manusia berdosa selalu menolak yang baik dari Tuhan.

Matius memang sengaja menaruh nama Yekhonya (bukan raja) bukannya raja Yoahas membuktikan anti klimaks berakhir dengan kehancuran total. Apalah jadinya kalau kita mengandalkan kekuatan dunia. Dunia menawarkan segala sesuatu yang manis di depan tapi berakhir dengan kehancuran, seperti racun yang dibalut dengan gula. Seperti orang berjudi, pertama kali ia akan diuntungkan dan kemudian akan menjadi lupa diri. Iblis sangat pandai menawarkan sesuatu yang indah di depan tapi kemudian berakhir dengan kehancuran. Kerajaan surga tidak dimulai dengan booming yang besar tapi dari biji sesawi dan bertumbuh menjadi pohon yang besar sehingga burung-burung dapat bernaung di bawahnya. Konsep ini dapat kita jalankan kalau kita taat pada Tuhan. Bagaimana dengan hidup anda? Hidup seperti apa yang anda inginkan? Pilihan tergantung pada anda.

Tuhan mengajak kita untuk melihat nilai hidup yang lebih bermakna. Banyak filsuf menawarkan teori baru tetapi kemudian lenyap dan diganti dengan teori lain yang lebih baru lagi dan seterusnya. Dunia selalu berubah namun Kerajaan Surga bersifat kekal. Dunia kekekalan akan terus maju hingga sampai di titik klimaks dan kemudian selesailah perjalanan sejarah dunia. Pertumbuhan iman Kristen harus dimulai dari kecil terlebih dahulu dan berproses hingga sampai menuju kesempurnaan sebagai titik klimaks. Bayangkan, kalau sudah sampai pada titik klimaks kita masih terus berproses lalu kita akan menuju kemana? Tidak ada lagi yang harus dicapai bukankah sudah sampai titik klimaks? Sekarang, kita sedang berproses menuju ke kesempurnaan, yaitu sampai Kristus datang sebagai Raja.

Cara Tuhan menata sejarah sangat unik. Marilah kita belajar menerapkan pattern kerajaan surga dalam kehidupan kita sehari-hari. Untuk memulai segala sesuatu haruslah dari kecil terlebih dahulu dan kemudian terus berkembang. Jangan mengikut cara dunia yang dari besar ke kecil. Bagi Tuhan tidak ada yang mustahil kalau Dia mau membuat besar terlebih dahulu tapi Tuhan tidak memakai cara seperti itu. Dia membangun kerajaanNya dari dua belas murid dan berkembang hingga besar. Hendaklah sebagai murid kita mau mengikut prinsip Kristus. Amin. ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)