Ringkasan Khotbah : 08 Februari 2004

The Geneology (3)

Nats: Mat. 1:1-4

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Matius membagi silsilah Yesus Kristus menjadi tiga bagian yang setiap bagiannya mencantum 14 keturunan. Salah satu aspek orang menjadi tidak suka dan tidak peduli akan silsilah adalah karena nama-nama yang tercantum dalam silsilah tersebut sebagian besar tidak kita kenal maka wajarlah kalau silsilah menjadi membosankan. Berbeda kalau kita mengenal dan mengetahui setiap peristiwa sejarah di setiap nama pastilah silsilah menjadi sangat menarik. Kita dapat memetakan perjalanan iman seorang bernama Abraham, Ishak dan Yakub namun nama Ram, Aminadab, Nahason, Salmon dan lain-lain (Mat. 1:4-15) sangatlah asing di telinga kita. Menjadi tugas kitalah, sebagai orang Kristen untuk mempelajari siapakah mereka dan kenapa nama mereka yang tercantum dalam silsilah Yesus Kristus?

Letak nama Ram yang berada tepat di bawah nama Hezron (Mat.1:3-4) bukan berarti bahwa Ram adalah anak kandung Hezron. Istilah “memperanakkan“ di Alkitab bukan berarti melahirkan anak (satu generasi) bisa juga menunjuk dua atau tiga generasi di bawahnya, misal dari kakek ke cucu tanpa melewati anak terlebih dahulu atau kakek ke cicit. Ram berasal dari arus Hezron dari garis Yehuda bukan dari posisi sejajar.

Yehuda mempunyai 5 anak dari 2 istri; istri pertama, seorang Kanaan ia mendapat 3 anak laki-laki, yakni Er, Onan dan Syela sedang 2 anak yang lain dari Tamar dan diberi nama Peres dan Zerah. Sebelum menjadi istri Yehuda, Tamar adalah menantu Yehuda, yaitu istri Er; sepeninggal suaminya Tamar diperistri saudara Er, yaitu Onan. Yehuda beranggapan kematian Er dan Onan karena Tamar sehingga Yehuda tidak mau menyerahkan Syela, anak laki satu-satunya untuk menjadi suami Tamar. Tamar berbalik menghampiri Yehuda, ayah mertuanya dan akhirnya ia mengandung dan melahirkan 2 anak kembar, yaitu Peres dan Zerah (Kej. 38). Tuhan memakai Peres, si “anak haram“ masuk dalam silsilah yang akan menurunkan Yesus Kristus. Secara prinsip iman Kristen, kita tidak berhak menghakimi seseorang karena statusnya sebagai anak haram. Anak  haram belum tentu ia menjadi haram; ia akan menjadi berkat besar bagi banyak orang kalau Tuhan mau berkenan memakai dia sebagai alat.

Bencana kelaparan yang terjadi di tanah Kanaan mengharuskan Yakub yang adalah nenek moyang Peres untuk pindah ke tanah Mesir. Dan di tanah Mesir inilah Peres “memperanakkan“ Hezron. Ingat, memperanakkan bukan berarti melahirkan anak. Jadi, Hezron bukan anak kandung dari Peres melainkan keturunan dari garis Peres. Tuhan tidak pernah melupakan janjiNya, Dia memelihara umatNya sehingga Dia mengirim Yusuf untuk menjadi Raja Muda di Mesir. Bagi bangsa Mesir, pekerjaan orang Israel menggembalakan kambing domba dianggap sebagai pekerjaan yang hina dan keji maka seharusnya bangsa Israel dibinasakan. Karena jasa Yusuf maka Firaun mengijinkan Yusuf untuk membawa ayah dan saudara-saudaranya beserta seluruh keturunannya tinggal di Mesir. Seluruhnya ada 66 jiwa ditambah dengan keluarga Yusuf sebanyak 4 orang; jadi, jumlah keseluruhan ada 70 jiwa (Kej. 46:26-27). Agar tidak tercampur dengan bangsa Mesir maka Firaun menempatkan mereka terpisah, yakni di tanah Gosyen. Di tanah Gosyen inilah bangsa Israel berkembang dan menjadi banyak.

Jadi, Peres adalah keturunan terakhir yang lahir di tanah Kanaan, generasi berikutnya lahir di tanah Mesir, termasuk Hezron. Sepeninggal Yusuf, bangsa Israel mulai menghadapi tantangan yang sangat berat namun demikian Hezron tetap menjaga dan menegakkan adat, agama dan budaya Israel meski minoritas dan berada di tanah asing. Keturunan Yehuda sempat masuk ke dalam suku Lewi yang dibawa oleh Aminadab (Kel. 6:22). Aminadab adalah mertua Harun, kakak kandung Musa dan pada saat itu posisi bangsa Israel sudah mau keluar dari tanah Mesir. Harun menjadi kepala imam bangsa Israel begitu juga dengan keempat anaknya, Nadab, Abihu, Eleazar dan Itamar. Sejarah semakin menguatkan kita bahwa “memperanakkan“ bukan melahirkan anak melainkan “mempunyai keturunan“.

Pertama, Rentang waktu dari jaman Peres hingga jaman Harun adalah 430 tahun dan diperkirakan juga Aminadab ikut keluar dari Mesir. Jadi, mengingat rentang waktu yang panjang tersebut maka mustahil kalau Peres hanya mempunyai tiga keturunan, yakni Hezron, Ram dan Aminadab (Mat. 1:3). Hati-hati dengan mereka yang menafsir silsilah dengan sembarangan dan celakanya, mereka berani menyimpulkan umur bumi dan waktu kedatangan Tuhan Yesus ke dua padahal Alkitab tidak mencatat semua keturunan secara turun temurun secara keseluruhan. Nama-nama yang tercantum adalah orang yang dipilih berdasarkan kepentingan historis-teologis dan demi untuk kepentingan sejarah Kerajaan Allah. Dari Peres hingga Ram ada generasi lain yang namanya tidak tercatat, hanya mereka yang berperan sajalah yang namanya tercatat dalam Alkitab.   

Kedua, Alkitab mencatat, pertama kali bangsa Israel masuk ke Mesir sebanyak 70 jiwa (Kej. 46:26-27), tidak termasuk istri dan anak-anak. Jika dihitung secara keseluruhan kemungkinan mencapai 150-160 jiwa dan jumlah bangsa Israel saat keluar dari Mesir mencapai 603.550 jiwa belum termasuk istri dan anak-anak (Bil. 1). Jadi, diperkirakan jumlah keseluruhan yang keluar dua kali lipat lebih. Jumlah yang sedemikian banyak tidak bisa hanya dicapai dalam waktu yang singkat. Hal ini semakin menguatkan kita bahwa rentang waktu dari Peres hingga ke Aminadab bukan hanya 2 generasi saja tapi diperkirakan ada 10 generasi atau lebih. Manusia seringkali memaksakan konsep berpikirnya dalam menginterpretasikan Alkitab, Firman Tuhan yang agung.

Aminadab hidup dan tinggal bersama bangsa Israel yang lain selama 400-an tahun di tanah Gosyen, Mesir. Kini, ia beserta seluruh keluarga termasuk Harun, menantunya akan keluar dari tanah Mesir menuju tanah perjanjian. Mengingat lamanya waktu Aminadab tinggal di Mesir, kemungkinan bisa ber-sinkretis atau bercampur dengan bangsa Mesir, yakni agama Yahudi bercampur dengan dewa-dewa Mesir dan membentuk budaya baru. Namun tidak demikian dengan Aminadab, ia tetap memelihara dan menegakkan jiwa nasionalis sebagai orang Israel. Nama Aminadab layak dicantumkan dalam Alkitab karena:

1. Berhasil mendidik anak berkarakter. Tuhan berkenan memakai dua orang anak Aminadab menjadi alatNya (Kel. 6:22). Eliseba menikah dengan Harun seorang yang dipakai Tuhan menjadi pemimpin spiritual bangsa Israel dan Nahason dipakai Tuhan menjadi pemimpin suku Yehuda dan dihormati oleh seluruh bangsa Israel. Aminadab berhasil mendidik kedua orang anaknya menjadi seorang anak yang “sukses“ rohani. Sebagai orang tua, sudahkah kita mendidik anak-anak yang Tuhan karuniakan tersebut menjadi seorang anak yang “sukses“? Mendidik seorang anak untuk menjadi sukses di dunia bukanlah hal yang mudah. Setiap manusia pasti ingin sukses dan demi kesuksesan orang akan melakukan apa saja dan menghalalkan berbagai cara.

Dalam menjalani hidupnya kita menjumpai 1) seorang yang hanya sekedar menjalankan rutinitas belaka; bangun pagi, bekerja, tidur, bangun pagi lagi, bekerja lagi, dan tidur begitu seterusnya dan berakhir dengan kematian, desperate live. Hidup jadi membosankan, lama kelamaan manusia menjadi putus asa dan bosan hidup, 2) seorang yang mempunyai semangat hidup tinggi demi untuk mendapatkan kesuksesan. Apalah artinya semua kesuksesan dunia kalau akhirnya kita dibuang Tuhan. Kita telah memahami untuk mencapai kesuksesan tidaklah mudah banyak tantangan yang harus dihadapi akan tetapi bukankah lebih sulit membuat seorang anak menjadi sukses?

Di dunia, banyak orang tua yang sukses tapi hidup anaknya berantakan karena pendidikan yang salah. Pendidikan dunia modern, semakin hari semakin merusak moral anak. Tidak banyak sekolah yang mengajarkan iman sejati sekaligus berintelektual tinggi. Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan (Ams. 1:7) harus termanifestasi ke seluruh hidup kita. Hari ini banyak sekolah tak terkecuali sekolah kristen hanya memberikan pengetahuan pada anak bukan mendidik anak. Mereka beranggapan bahwa pendidikan yang baik adalah kalau semakin banyak pengetahuan yang didapat si anak. Salah! Bukankah manusia pertama kali jatuh ke dalam dosa karena ingin “tahu“? Ada pohon pengetahuan baik dan jahat dimana hal-hal yang baik perlu kita ketahui dan perlu kita alami sedang hal-hal yang jahat tidak perlu kita ketahui bahkan tidak untuk dialami. Dunia membalik prinsip ini, orang justru berusaha keras untuk tahu tentang hal-hal yang jahat ketimbang hal-hal yang baik.

Sebagai orang tua, sudahkah anda mendidik anak sehingga menjadi anak yang sukses di dalam Tuhan? Didikan keras belum tentu membuat anak menjadi sukses dan sebaliknya kasih yang berlebihan juga tidak akan membuat anak menjadi baik; diperlukan hikmat dan bijaksana dari Tuhan dalam mendidik anak. Adalah tanggung jawab setiap keluarga Kristen untuk mendidik anak dalam Tuhan dan dalam hal ini ditandai dengan baptisan anak. Baptisan merupakan tanda Tuhan sudah beranugerah terlebih dahulu atas orang tua dan tugas kitalah untuk mendidik anak, bertumbuh dalam iman yang sejati. Biarlah kita dipakai Tuhan sebagai seorang pendidik yang baik seperti teladan Aminadab.

2. Berhasil mendidik anak berohani. Eliseba, anak perempuan Aminadab dari suku Yehuda dipakai Tuhan untuk mendampingi Harun dari suku Lewi; ia berhasil menjadi seorang istri yang baik, setia mendampingi suami dalam melakukan tugasnya sebagai kepala imam dan ia juga berhasil mendidik keempat anaknya (Kel. 6:22) menjadi seorang imam, anak yang berohani. Keberhasilan Eliseba tidak lepas dari jasa ayahnya, Aminadab sehingga ia mempunyai rohani yang baik meski pada jaman itu anak perempuan selalu diabaikan. Maka tidak heran kalau seorang wanita tidak pernah tertulis dalam silsilah sehingga kalau nama wanita ada tercantum di Alkitab maka berarti Eliseba telah berperan besar.

Kekristenan tidak pernah menomorduakan wanita, sejak pertama Allah telah mencantumkan nama Adam dan Hawa secara bersama namun ada ordo yang harus dijalankan, yaitu pria sebagai kepala. Ini dinamakan dengan konsep paradoxical yang setara dan bertingkat. Allah Tritunggal telah memberikan teladan yang baik bagi kita. Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus secara esensi sejajar namun dalam menjalankan tugasnya tetap harus sesuai dengan ordo. Betapa indah bila setiap keluarga Kristen meneladani hal ini. Tidak ada satu keluargapun di lingkungan sekitar Aminadab yang mempunyai konsep keluarga dengan benar.

Jadi, kalau Aminadab mempunyai keluarga yang berohani baik itu karena ia selalu menjaganya sesuai dengan Firman Tuhan. Aminadab berada di Mesir ratusan tahun tetapi tidak terkontaminasi sedikitpun demikian juga Musa. Dalam hal ini seorang ibu mempunyai peranan yang sangat besar dalam mendidik anaknya karena intensitas waktu bertemu dengan anak lebih banyak dibanding seorang ayah. Selain mendidik anak, seorang wanita juga berperan penting mendampingi suami. Banyak orang mengatakan kesuksesan suami tergantung dari siapa yang ada di belakang layarnya. Dalam hal ini Aminadab sukses mendidik Eliseba, anaknya perempuan.

3. Berhasil menurunkan garis sejarah yang bermakna. Tidak hanya diri sendiri yang sukses tapi yang terpenting Aminadab sudah dipilih masuk dalam silsilah kerajaan Allah dengan menurunkan Yesus Kristus. Di antara berjuta umat Israel, Tuhan memilih Aminadab, Tuhan telah menancapkan posisi, pinpoint. Banyak nama yang tercantum dalam Alkitab tapi hanya sedikit yang di-pinpoint oleh Tuhan dan salah satunya Aminadab. Banyak manusia hidup di dunia tapi tidak setiap orang mempunyai nilai sejarah; banyak orang yang numpang lewat di dunia ini. Apalah arti hidup ini kalau nama kita tidak masuk dalam garis sejarah Kerajaan Allah. Melalui silsilah, Matius ingin menyadarkan setiap kita, bagaimana seharusnya kita berada dalam sejarah garis sejarah Kerajaan Allah. Hidup kita hanya sementara di dunia lalu apa yang sekarang sedang engkau kerjakan?

Apakah kita hanya mengerjakan sesuatu yang tidak berguna dan kemudian dibuang dari sejarah? Orang yang bijaksana adalah yang mampu mem-pinpoint hidupnya dalam perputaran waktu sejarah dan merelasikannya dengan nilai kekekalan. Dimanakah sejarah kita? Sudahkah anda bertekad untuk mau hidup dalam garis sejarah Allah? Ataukah hidup kita hanya sekedar numpang lewat belaka? Kita akan berada dalam sejarah kerajaan Allah kalau kita berjalan dan hidup bersama dengan Tuhan. Siapa yang ada di dalam Aku dan Aku dalam dia maka dia akan berbuah banyak. Jangan buang waktumu dengan percuma, waktu begitu cepat berlalu dan tidak dapat terulang. Mulai hari ini biarlah kita menata ulang kembali hidup kita sehingga seluruh hidup kita dihubungkan dengan kekekalan dan nama kita tercantum dalam sejarah kerajaan Allah. Amin. ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)