Ringkasan Khotbah : 25 Januari 2004

The Geneology (1)

Nats: Mat. 1:1-6

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Adalah salah kalau orang menganggap bahwa silsilah yang tertulis dalam Alkitab tidaklah terlalu penting. Prinsip iman kristen menegaskan bahwa segala Firman Allah bersifat kebenaran. Allah tidak pernah mewahyukan Firman dengan sembarangan atau sia-sia. Matius membagi silsilah Kristus menjadi tiga bagian dimana setiap bagiannya terdiri dari 14 keturunan (Mat. 1:17). Sesungguhnya, ada nama-nama lain yang tidak tercantum maka kalau Matius hanya memilih 14 nama, berarti ada keistimewaan dari nama-nama tersebut yang patut kita teladani. Cara Matius menulis silsilah Yesus Kristus berbeda dengan Lukas. Matius meletakkan Abraham di urutan pertama kemudian turun sampai kepada Tuhan Yesus sedang Lukas terbalik, dari Tuhan Yesus terlebih dahulu sampai akhirnya ia menyimpulkan bahwa Yesus adalah anak Allah (Luk.  3:23-38).

Ada misi yang ingin Lukas sampaikan pada para pembacanya, yakni orang-orang non Yahudi bahwa keberadaan Yesus bukan secara tiba-tiba tetapi sudah direncanakan sejak kekekalan oleh Allah. Yesus bukan berasal dari dewa Venus, dewa Merkurius atau dewa-dewa Yunani lain tapi Dia berasal dari Allah Yehovah. Lukas menekankan hal ini karena pada jaman itu, orang selalu mengaitkan silsilah manusia dengan dewa-dewa Yunani. Berbeda dengan Matius, silsilah Yesus dimulai dari Abraham terlebih dahulu karena nama Abraham sangat terkait dengan orang Yahudi. Mereka mengetahui bahwa dari Abraham inilah Allah memilih umatNya untuk menggenapkan kerajaanNya di dunia. Tapi sayang, umat Israel gagal menggenapkan misi tersebut sehingga Allah mengalihkannya pada gerejaNya dengan Kristus sebagai raja.

Allah sangat mengasihi manusia meski manusia berulang kali mendukakan hati Tuhan. Ingat, Tuhan tidak menciptakan manusia untuk berdosa karena kehendak manusia sendirilah ia jatuh ke dalam dosa; manusia mulai melawan Allah, hidup mereka bergelimang dengan dosa. Puji Tuhan, Dia tidak melupakan janjiNya untuk menyelamat-kan manusia. Tuhan menghukum dunia dengan air bah dan menyelamatkan keluarga Nuh. Ironis, kejadian air bah tidak membuat manusia menjadi takut pada Tuhan; anak Nuh kembali berbuat dosa. Dunia selalu mengulang kesalahan yang sama dan jatuh kembali dalam dosa. Tapi Allah itu setia, Dia memilih Abraham untuk menggenapkan rencanaNya yang kekal.

Dan yang lebih mengherankan lagi, manusia mempunyai ide ingin sampai pada Tuhan dengan membangun menara Babel hingga ke langit. Padahal secara nalar semakin tinggi lapisan udara, oksigen akan semakin berkurang. Tuhan membenci kesombongan manusia sehingga Dia memporak porandakan bahasa mereka dan menara Babelpun gagal dibangun. Peristiwa Babel membuktikan bahwa bahasa bukanlah hasil budaya manusia melainkan sarana yang Allah berikan kepada manusia untuk berkomunikasi. Melalui bahasa pula, Allah ingin agar kita memuliakan Dia.  

Nama Abraham yang tertulis dalam silsilah Yesus Kristus menunjukkan sifat Allah, yaitu: 

I. Kedaulatan Allah. Abraham dipilih bukan karena kehebatannya tetapi mutlak karena kedaulatan Allah (Kej. 12). Melalui Abraham inilah konsep kerajaan Allah dan umat pilihan mulai dipahami oleh bangsa Israel. Karena itu, bangsa Israel sangat bangga akan status dirinya. Manusia tidak suka Allah yang berdaulat karena manusia ingin dirinya yang berdaulat dan mendirikan kerajaannya di dunia. Manusia mau mengatur segala sesuatu demi untuk kepentingan sendiri; konsep menara Babel tidak pernah hilang. Alkitab menegaskan kerajaan sejati bukanlah di tangan manusia karena manusia tidak berdaulat dan mempunyai kuasa menjadi Raja atas alam semesta. Konsep kerajaan Allah yang sejati akan kita mengerti kalau kita memahami Dia sebagai Raja yang berdaulat. Kerajaan Allah yang sejati menjadi ancaman tersendiri bagi umat Israel. Mereka tidak menyadari, hidup paling indah justru didapatkan kalau kerajaan Allah digenapkan di muka bumi.

Pengertian kedaulatan berbeda dengan kekuasaan akan tetapi kekuasaan merupakan bagian dari kedaulatan. Di dunia, orang yang mempunyai kekuatan dan kuasa besar seringkali hanya menjadi alat belaka; mereka tidak berdaulat untuk menentukan apapun. Dan, Allah kita adalah Allah yang berdaulat karena itu, manusia tidak suka akan konsep kedaulatan dan menggantinya dengan Allah berkuasa. Kitalah “tuan“ yang berdaulat dan Tuhan “budaknya“ sehingga kita dapat meminta apapun pada Allah yang berkuasa. Konsep ini sama seperti cerita Aladin dan lampu ajaibnya; kuasa jin tunduk dibawah kedaulatan Aladin. Alkitab menegaskan kitalah hamba dan Allahlah Tuhan, Tuan atas segala tuan yang berdaulat/berhak atas hidup kita.

Sebagai orang yang telah dipilih untuk menggenapkan kerajaanNya hendaklah kita bertekad untuk hidup benar dan bukan seperti orang fasik. Kita akan merasakan indahnya kalau kita hidup sebagai orang benar (Ams. 10:16-25). Kita tidak terikat dengan hal-hal duniawi yang menjerat hidup kita. Orang Yahudi sangat ingin membangun kerajaan Allah tapi dengan konsep manusia berdosa dimana manusialah yang berdaulat. Hati-hati, pada mereka yang mengajarkan bahwa suatu hari nanti kita sebagai orang benar akan berkuasa atas orang-orang fasik. Salah! Bayangkan, masalah seperti apa yang akan kita hadapi kalau seandainya kita “orang benar“ menjadi penguasa dan orang fasik sebagai rakyatnya. Bukankah itu akan menjadi  kesusahan tersendiri dalam hidup kita?

Allah berdaulat memilih Abraham untuk menggenapkan kerajaanNya. Karena iman, Abraham taat dan meninggalkan segala milik kepunyaannya menuju tanah perjanjian. Matius ingin agar umat Israel meneladani kembali Abraham, nenek moyangnya. Sudahkah dan maukah anda menjadi seperti Abraham yang taat mutlak pada kedaulatan Allah tanpa mempedulikan harta, kedudukan maupun kekuasaan. Ingat, apa yang pikir manusia baik belum tentu baik bagi Tuhan justru di saat kita merasa diri nyaman, Tuhan panggil kita untuk pergi memberitakan Injil. Bersiapkah anda? Karena Allah mengasihi umat pilihanNya maka Dia akan menguji setiap kita untuk belajar taat perintahNya. Nama-nama yang dituliskan Matius dalam silsilah Yesus bukanlah orang istimewa dalam arti bukan orang yang berdosa. Tidak! Mereka juga manusia berdosa tetapi bedanya adalah mereka taat perintah Tuhan, mereka mencintai Tuhan dan mengerti kedaulatan Allah.

II. Kesetiaan Allah. Tuhan berjanji pada Abraham bahwa dari keturunannyalah akan lahir suatu bangsa yang besar dan banyaknya seperti pasir di laut dan bintang di langit. Secara manusia, hal ini dirasakan oleh Abraham dan Sarah mustahil sebab mereka sudah lanjut usia dan Sarah mandul; mereka mentertawakan janji Tuhan. Ingat, Tuhan tidak pernah berfirman sembarangan dan sia-sia; di balik setiap janji ada rencana indah yang Tuhan sediakan bagi kita dan ketahuilah janji Tuhan bukan untuk kepentingan diri kita sendiri tetapi menyangkut kepentingan orang lain. Jadi, anak yang dijanjikan Tuhan pada Abraham bukan demi untuk kepentingan keluarga Abraham semata. Justru dari keturunan yang dijanjikan inilah akan lahir suatu bangsa besar yang menjadi tempat perwakilan kerajaan Allah di dunia. Itulah sebabnya ketika Matius menuliskan silsilah Yesus Kristus dengan anak Daud, anak Abraham mereka langsung disadarkan bahwa dirinyalah umat pilihan tersebut, bangsa besar yang dijanjikan Allah pada Abraham.

Orang Kristen yang ada di dunia sekarang merupakan penggenapan dari janji Tuhan di Mat. 28:19-20. Kita inilah “Israel Baru“ dimana Allah akan menggenapkan kerajaanNya kembali. Sebagai umat Allah sudahkah kita mengakui Dia sebagai Raja di atas segala raja? Ataukah kita akan seperti umat Israel yang selalu melawan dan tidak percaya janji Allah. Apakah kita hanya memegang janji-janji Tuhan sejauh janji tersebut menguntungkan kita? Dan kita menjadi tidak percaya kalau janji tersebut berkaitan dengan penggenapan kerajaan Allah. Ingat, jangan selalu berpikir pragmatis bahwa setiap janji Tuhan hanya demi untuk kepentingan diri tetapi mulai sekarang cobalah untuk memahami ada rencana Tuhan yang indah dibalik janji tersebut yang Allah maksudkan demi untuk menggenapkan kerajaan Allah di dunia.

Karena ada Abraham maka Ishak, Yakub, Yehuda dan yang lain-lain ada hingga sampailah pada kelahiran Yesus Kristus. Silsilah sangat penting dan membuktikan bahwa Allah setia, Dia tidak melupakan janjiNya.

III. Pemeliharaan Allah. Allah sangat mengasihi umatNya, Dia memelihara perjalanan kerajaanNya sehingga tidak ada satu silsilah yang terputus. Padahal sejarah menunjukkan dari dulu hingga kini orang selalu ingin membinasakan umat Allah. Seperti, di jaman Musa, Ester, dan masih banyak lagi. Kalau hari ini orang kristen masih ada itu semua tidak lepas dari rencana kekal Allah. Sesuatu yang bersifat kekal tidak boleh berubah; ia tidak terkena proses waktu atau ruang. Allah kita adalah Allah yang kekal. Banyak orang yang mempertanyakan kekekalan Allah dan mengaitkannya dengan Hizkia. Kalau Allah kekal kenapa Allah bisa berubah ketika Hizkia meminta perpanjangan umur dalam doanya? Pertanyaan tersebut hanya membuktikan satu, yaitu orang tersebut tidak mengerti Firman. Ingat, doa tidak bisa merubah Tuhan. Kalau Tuhan bisa berubah berarti Dia tidak kekal.

Doa Hizkia (2 Raj. 20:1-6) lebih indah dibandingkan dengan doa Yabes yang hari ini banyak dibicarakan. Untuk memahami doa Yabes maka kita harus mengerti konteksnya secara keseluruhan. Jawaban yang Tuhan berikan pada Yabes sangat unik; dia mengalami penderitan berat di situasi yang sulit karena itu Tuhan memberikan suatu timbal balik yang seimbang. Berbeda dengan Hizkia, justru dari vonis mati ini muncul doa yang indah dari Hizkia. Kita perlu mengevaluasi diri bisakah kita berdoa seperi Hizkia? Hizkia adalah seorang yang sangat mencintai Tuhan, ia seorang yang setia dan hidup dengan tulus hati. Di jaman sekarang ini, masih adakah seseorang yang menjelang ajalnya berani mengatakan bahwa seluruh hidupnya tidak tercemar dan telah melakukan apa yang baik di mata Tuhan? Mempunyai hidup yang berkenan di mata Tuhan bukanlah hal yang mudah, dibutuhkan waktu yang panjang sehingga Hizkia dapat memberikan pertanggung jawaban yang baik pada Tuhan.

Tuhan berketetapan memberikan perpanjangan umur 15 tahun lagi pada Hizkia dan itu berarti ada rencana Tuhan yang indah, yakni kelahiran anaknya Manasye. Setelah melewati 3 tahun perpanjangan umur lahirlah Manasye dan ia menggantikan ayahnya menjadi raja di usia 12 tahun (2 Raj. 21:3). Jadi, perpanjangan umur tersebut sudah ada dalam rencana kekal Allah. Kalau umur Hizkia tidak diperpanjang maka tidak akan lahir Manasye, tidak akan ada Amon dan tentu saja tidak akan ada silsilah Yesus Kristus (Mat. 1:3). Manusia berulang kali mencoba menggagalkan rencana kekal Allah seperti di jaman Ester dimana Haman mencoba membinasakan seluruh bangsa Yahudi. Bayangkan, andai seluruh bangsa Yahudi binasa, tentu Kristus tidak akan lahir. Puji Tuhan, Dia memelihara kerajaanNya mulai dari dulu hingga kini. Seperti kita ketahui, kekristenan begitu dibenci orang di sepanjang sejarah; mereka berusaha membinasakan anak-anak Tuhan tapi Allah tidak pernah tinggal diam; Dia memelihara umatNya.

Bahkan providensia umum Allah masih menyertai bangsa Yahudi hingga kini. Tuhan tidak pernah melupakan jasa mereka sehingga Tuhan tidak membiarkan bangsa ini menjadi punah. Ingat, kalau sampai hari ini Tuhan masih berkenan memelihara hidup kita, itu karena Tuhan menginginkan agar kita menjadi saksiNya dan memuliakan namaNya. Jangan terjerat dengan janji-janji manis yang ditawarkan dunia; itu semua hanya tipuan kita. Hati-hati, ketika ketaatanmu pada dunia merusak relasimu dengan Tuhan maka itu berarti tanda bagi anda untuk menghentikan ketaatanmu pada dunia. Apapun yang kamu kerjakan, kerjakanlah semuanya itu demi untuk menggenapkan rencanaNya, yakni mendirikan Kerajaan Allah yang sejati di dunia. Tuhan ingin agar kita mengutamakan Dia dalam hidup kita dan itu semua adalah demi untuk kebaikan manusia itu sendiri.  Amin. ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)