Ringkasan Khotbah : 18 Januari 2004

The Kingdom

Nats: Mat. 1:1

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Banyak orang yang memperdebatkan injil Matius ataukah injil Markus yang terletak pada bagian pertama dari kitab Perjanjian Baru. Higher Criticism tidak percaya Alkitab adalah Firman Tuhan sehingga muncullah berbagai isu tentang kitab-kitab dalam Alkitab, seperti sumber penulisan Matius diambil dari injil Markus yang isinya lebih pendek. Mereka juga berpendapat bahwa tulisan Matius dan Markus diambil dari sumber Quele, yakni sumber yang diambil secara lisan, tradisi, budaya, dll. Alasan itulah yang meyakinkan mereka kalau Markus seharusnya diletakkan di urutan pertama sedang Matius di urutan kedua dalam PB. Namun mereka yang tetap setia dan berpegang pada Firman justru berpendapat lain yakni Matius atau Lewi, seorang pemungut cukai memperoleh anugerah menjadi murid Tuhan Yesus dan hidup bersama-sama denganNya selama kurang lebih tiga tahun maka tidak menutup kemungkinan kalau Matius mendapat informasi dari orang lain akan tetapi injil Matius tidak harus bergantung dari injil yang lain.

Banyak terjadi kesimpang siuran apakah Markus ditulis terlebih dahulu dari Matius atau sebaliknya tetapi menurut penafsiran perbedaan kedua injil tersebut ditulis tidak terlalu jauh yaitu sekitar tahun ah Tuhan Yesus naik ke surga. Pada saat itu konsep pengenalan orang terhadap Kristus sudah mulai beragam sehingga Matius merasa perlu untuk mengembalikan tatanan tersebut. Tulisan Matius ditujukan untuk orang Yahudi sedang injil Markus untuk orang non Yahudi itulah sebabnya kata-kata yang sensitif bagi orang Yahudi seperti kata “Allah“ ditulisnya dengan bebas. Berbeda dengan Matius yang mengganti kerajaan “Allah“ dengan kerajaan “Surga“. Bagi orang Yahudi, surga sudah berkonotasi tentang Allah; mereka tidak mau menyebut kata “Allah“ karena mereka takut melanggar hukum Taurat yang berbunyi “jangan menyebut nama Tuhan Allahmu dengan sembarangan...“ (Kel. 20:7). Matius juga merasa tidak perlu menuliskan hal-hal yang berkaitan dengan tradisi orang Yahudi karena dia beranggapan pembacanya adalah orang Yahudi berbeda dengan Markus yang menjelaskan secara terinci mengenai tradisi Yahudi karena para pembacanya kebanyakan bukan dari kalangan Yahudi.

Kekristenan pertama kali berkembang di Israel di antara orang Yahudi sehingga dapatlah disimpulkan injil Matius ditulis terlebih dahulu dari Markus. Setelah perjalanan Paulus keluar barulah kekristenan menyentuh orang-orang non Yahudi, yaitu sekitar tahun 50-an menjelang sidang raya di Yerusalem. Adalah salah jikalau ada pendapat yang mengatakan injil tidak perlu ada empat dan mempertanyakan kenapa isi keempat injil tersebut berbeda. Justru sebaliknya kalau sama lalu kenapa injil ada empat? Untuk menyoroti pribadi atau otobiografi Kristus tidak cukup hanya satu orang saja. Bahkan empat pandangan mengenai Kristus tersebut sangatlah terbatas. Injil adalah sebuah biografi maka semua peristiwa harus berpusat dan berkait pada tokoh biografi tersebut. Keempat injil dalam Alkitab menyoroti Kristus sebagai pusat, melihat bagaimana Kristus hidup dan berkarya di tengah dunia dimana setiap injil mempunyai keunikan tersendiri yang berbeda dan saling melengkapi tetapi tetap berpusat pada Kristus.

Keunikan injil Matius berbicara tentang kerajaan surga, the true Kingdom berkaitan dengan seluruh sejarah yang sedang dipergumulkan oleh bangsa Israel. Bangsa Yahudi sangat mengerti dengan istilah kerajaan surga meskipun pengertiannya salah. Kalimat pertama dari injil Matius sangat signifikan karena menentukan isi keseluruhan tulisannya, yaitu tentang hal “Kerajaan Surga“. Di sepanjang injil Matius kita akan menjumpai banyak istilah “kerajaan“ mulai dari pasal 3 s/d 26. Hanya tiga pasal, yakni di pasal 14, 15 dan 17 istilah “kerajaan“ hilang meskipun konsepnya sama. Matius menulis silsilah Yesus yakni Kristus atau sama dengan Mesias, anak Daud, anak Abraham menjadi inti iman Kristen.

I. “Yesus Kristus“

Kedatangan Mesias, Raja yang akan memerintah sangatlah diharapkan bangsa Israel hingga kini. Kalimat pembuka injil Matius berbicara mengenai konsep anak Daud, raja yang dijanjikan dan di akhir tulisannya berbicara tentang kerajaan Allah yang bersifat am dan semesta dimana kuasa di surga dan di bumi ada di tanganNya (Mat. 28:18-20). Istilah kerajaan muncul sebanyak 162 kali di seluruh kitab PB dan khusus di injil Matius istilah kerajaan muncul sebanyak 55 kali berarti 1/3 dari keseluruhan. Matius banyak berbicara mengenai hal kerajaan surga karena ia ingin menyampaikan berita bahwa kehadiran Kristus  adalah untuk menggenapkan kerajaan surga di dunia.

Berita pertama ketika Kristus melayani, yaitu “Bertobatlah karena kerajaan surga sudah datang.“ Matius ingin mengajak seluruh pembaca masuk ke dalam tema yang sentral. Kerajaan surga yang sejati yaitu kerajaan yang teokrasi dengan Kristus yang menjadi raja atas umatNya; Dia yang akan memimpin umatNya, memelihara umatNya dan Ia hanya menginginkan agar umatNya taat akan semua perintahNya. Tuhan adalah raja yang tidak dibatasi oleh tempat dan waktu. Berbeda dengan konsep ilah yang ada pada diri manusia, yakni hanya terbatas pada satu tempat tertentu. Allah ingin agar kita menjadikanNya Raja di atas segala raja dalam hidup kita, God is our King.

Allah tahu setiap penderitaan yang dirasakan oleh umatNya di Mesir. Memang terkadang sepertinya Tuhan membiarkan kita di dalam penderitaan tapi di balik penderitaan itu percayalah ada rencana indah yang Tuhan persiapkan. Karena Dia Raja maka Dia berhak melakukan semuanya itu tapi bukan berarti Tuhan diam dan membiarkan umatNya berada dalam penderitaan. Tidak! Allah tetap memperhatikan umatNya; Ia membawa mereka keluar dari perbudakan di Mesir. Firaun merasa diri kuat dan berkuasa akan tetapi kuasa kedaulatan Tuhan lebih besar dari kuasa manapun dan siapapun. Tuhan memimpin bangsa Israel menuju tanah perjanjian yang penuh melimpah dengan susu dan madu dengan cara yang ajaib seperti mujizat manna, laut terbelah dua, dll. Ironisnya, mujizat tersebut tidak membuat mereka berterima kasih; mereka justru protes dan berkeluh kesah.

Itulah sifat manusia berdosa yang tidak percaya pada pemeliharaan Tuhan yang maha Agung; Tuhan telah mengatur segala sesuatunya cukup bagi kita, tidak kekurangan ataupun kelebihan. Manusialah yang serakah selalu merasa kurang. Bangsa Israel adalah bangsa yang bebal dan tegar tengkuk, padahal Tuhan Raja Semesta Alam sendiri yang memimpin mereka keluar namun mereka justru menginginkan raja dunia. Secara logika, raja dunia tidak lebih baik; bukankah raja-raja di dunia justru sangat menyengsarakan rakyat? Alasan yang paling rasionalpun tidak dapat mereka mengerti. Itulah sebabnya Matius ingin agar umat Tuhan kembali pada Kerajaan sejati yang dipimpin oleh Raja yang sejati.

II. “Anak Daud“

Matius menuliskan silsilah Yesus Kristus sebagai anak Daud untuk mengingatkan kembali kerajaan Mesianic yang ingin Allah genapkan, Mesias yang lahir dari keturunan Daud. Yang menjadi pertanyaan kenapa harus Daud dan bukan Saul, Salomo atau raja yang lain? Daud merupakan raja yang diperkenan Allah padahal kalau kita perhatikan secara humanistik seharusnya Salomo dan Saul lebih baik. Secara manusiawi, kerajaan Salomo lebih besar dan jaya, dia mempunyai kepandaian dan bijaksana yang tidak dimiliki raja lain. Pada jaman pemerintahannya tidak ada peperangan dan rakyat hidup sejahtera bahkan Tuhan memilih Salomo untuk mendirikan Bait Allah. Manusia melihatnya sebagai raja yang baik tetapi Tuhan tidak melihatnya demikian. Sejarah membuktikan, kehancuran Israel dimulai setelah pemerintahan Salomo karena dia gagal mendidik anak-anaknya takut akan Tuhan.

Begitu juga kalau dibandingkan dengan Saul, kepemimpinannya masih lebih baik dibandingkan dengan Daud. Sejarah menunjukkan Saul tidak pernah berbuat salah ketika memimpin, ia selalu menang dalam peperangan dan ia sangat memperhatikan kesejahteraan rakyatnya. Bahkan dia lebih memilih tidak mematuhi perintah Tuhan demi untuk mendapatkan simpati dari rakyat ketika Tuhan memerintahkan agar seluruh harta, binatang dan segala bentuk materi apapun untuk dimusnahkan. Kesalahan fatal yang dibuat Saul yaitu dia telah menganggap remeh perintah Tuhan dan ia mengambil alih semua perintah Tuhan.

Bagaimana dengan Daud? Di masa pemerintahannya banyak terjadi peperangan, bahkan dengan akal liciknya dia mengatur siasat demi untuk mendapatkan seorang wanita, istri panglimanya. Secara manusia kita menilai Daud memiliki moral yang rusak, bukan? Akan tetapi cara berpikir manusia berbeda dengan Tuhan. Daud adalah seorang yang sangat mengasihi Tuhan bahkan dia rela mengorbankan apapun juga demi untuk Tuhan. Ingat, bukan berarti kita boleh melakukan kejahatan asal berkenan pada Tuhan. Tidak! Karena Tuhan setia dan adil; Dia setia mengampuni dosa tetapi Dia akan menghukum setiap perbuatan yang kita lakukan. Tuhan menghukum Daud atas perbuatannya.

Inilah konsep Mesianis yang Tuhan inginkan agar kita mengutamakan Dia sebagai Raja dalam hidup kita. Sebagai seorang raja, Daud sangat memahami bahwa ada Raja sejati, Raja di atas segala raja. Hal ini sangat dipahami oleh Matius itulah sebabnya dia menuliskan silsilah Yesus sebagai anak Daud. Bagaimana dengan hidup kita? Di tengah tantangan dunia yang menghimpit sudahkah anda mengutamakan Kristus sebagai yang terutama dalam hidup kita? Janganlah kamu kuatir tetapi bersandarlah padaNya, Tuhan pasti memelihara hidup kita, Dia adalah Mesias, Raja di atas segala raja.

III. “Anak Abraham“

Merupakan kebanggaan orang Israel kalau mereka disebut sebagai keturunan Abraham karena dari sinilah pengertian mereka sebagai umat pilihan dicerahkan. Konsep predestinasi, Allah memilih umatNya muncul dalam diri Abraham. Mulai dari Abraham inilah berdiri bangsa Israel; Abraham menyadari anugerah Tuhan ini sehingga ia taat dan ketika Tuhan memerintahkannya untuk meninggalkan tanah kelahirannya menuju tanah perjanjian. Abraham percaya mutlak pada janji Tuhan itulah sebabnya Abraham disebut sebagai Bapa orang beriman. Ironisnya, hari ini banyak orang yang lebih percaya janji manusia meski selalu ingkar daripada janji Tuhan yang pasti dan amin.

Bangsa Israel tidak menghargai anugerah Tuhan yang telah menjadikan mereka sebagai umat pilihan. Bangsa Israel tidak mau dipimpin oleh Raja sejati, mereka hanya membutuhkan Tuhan ketika mereka sedang dalam kesulitan saja. Akibatnya Tuhan menghentikan perjanjianNya dengan Abraham dan sebagai gantinya Dia memindahkannya pada orang-orang yang mau kembali pada kerajaan yang sejati. Bangsa Israel seharusnya belajar dari iman Abraham yang percaya mutlak pada kedaulatan Tuhan. Iman Abraham diuji ketika dia harus mengorbankan satu-satunya keturunan, anak yang dijanjikan Tuhan. Sebab Abraham tahu, Allah yang berdaulat tidak pernah ingkar janji maka kalaupun ia meminta Ishak untuk dikorbankan pastilah ia akan membangkitkannya kembali.

Kalau Abraham percaya penuh janji Tuhan lalu bagaimana dengan saudara? Janganlah mudah digiurkan oleh semua janji-janji manis yang ditawarkan dunia tapi percayalah dan bersandarlah hanya pada Tuhan. Sebab Dia tidak pernah lupa janjiNya dan hal ini telah teruji (Mat 1:17). Matius ingin menunjukkan satu hal bahwa Tuhan berkuasa atas sejarah. Ingat, Tuhan bukanlah budak kita karena itu jangan mempermainkan Tuhan demi untuk kepentingan dirimu sendiri. Sebagai seorang warga kerajaan surga hendaklah kita taat dipimpin oleh Kristus yang adalah Raja di atas segala raja. Amin. ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)