Ringkasan Khotbah : 11 Januari 2004

Dinamika Iman Ayub

Nats: Ayb. 1:1-9, 19-22; 2:1-9

Pengkhotbah : Ev. Thomy Matakupan

 

Kitab Ayub adalah kitab yang mencantumkan tentang pergumulan anak manusia untuk hidup benar di hadapan Allah. Kitab Ayub dapat dilihat dari dua perspektip, yaitu: pertama, perspektip Ilahi, pada bagian awal kita melihat percakapan antara Tuhan dan iblis dalam suatu pertemuan di surga dan Tuhan dua kali memuji Ayub sebagai hamba yang setia; kedua, perspektip manusia, secara global kita dapat memahami pergumulan seorang manusia untuk mengerti perspektip Ilahi, yakni seorang yang ingin hidup benar dan melakukan kehendak Allah meskipun pada waktu itu fakta menyatakan hal yang terbalik.

Dalam pemahaman teologisnya, Ayub tahu bahwa Tuhan adalah Tuhan yang baik, Tuhan yang benar dan Tuhan yang memelihara namun dia terbentur dengan fakta yang terjadi dalam hidupnya. Inilah usaha manusia untuk mengerti kehendak Allah dari sudut pandang bawah; manusia tidak mengerti akan apa yang terjadi di surga. Iblis berkali-kali meminta ijin pada Tuhan untuk mencobai Ayub tapi dengan syarat tidak boleh mengambil nyawanya. Iblis tidak berhak atas nyawa kita hanya Tuhan sang sumber hidup itulah yang berhak atas nyawa manusia. Hidup Ayub menjadi porak poranda, dia kehilangan seluruh kepunyaannya termasuk juga keluarga dan iblis berharap dia menyangkali Allahnya.

Dalam pergumulannya memahami kehendak Allah, Ayub berusaha untuk membenarkan diri dengan mempertanyakan segala kejadian yang menimpa hidupnya pada Tuhan. Bukankah hal ini juga menjadi pergumulan setiap orang percaya? Di satu sisi, kita adalah manusia yang rohani tapi di lain pihak kita adalah manusia yang mudah terpeleset. Kita tidak menyangkali, 99% Ayub adalah orang baik tapi masih ada 1% dimana ia mencoba membenarkan dirinya di hadapan Tuhan dan kemungkinan bisa jatuh. Kita akan mengenal lebih jauh diri Ayub.

1. Ayub adalah orang saleh, jujur dan menjauhi kejahatan. Ayub orang yang sangat sempurna tapi tidak menutup kemungkinan ia masih dapat jatuh ke dalam dosa. Semua catatan Alkitab tentang Ayub membuktikan bahwa ia adalah orang yang tidak bercacat cela baik dalam hal hubungannya dengan sesama maupun dengan Allah. Ayub sangat disegani dan dihormati oleh sesama (Ayb. 29); ia selalu mengutamakan Tuhan dalam hidupnya; ia senantiasa mempersembahkan korban bakaran bagi anak-anaknya sebab pikirnya: anak-anaknya mungkin telah berbuat dosa (Ayb. 1:5).

Menurut penafsiran, kitab Ayub merupakan kitab yang pertama kali ditulis dari seluruh kitab di Perjanjian Lama; karena di dalamnya tidak ada tulisan tentang Israel, hukum Taurat atau tabernakel. Adalah salah kalau menganggap Ayub hanyalah seorang tokoh mitos yang melambangkan kesempurnaan manusia. Tidak! Tokoh Ayub merupakan tokoh historis yang riil karena Yehezkiel mengutip nama Ayub sebagai bagian dari catatannya (Yeh. 4:14). Ayub adalah seorang manusia yang mempunyai hati yang tulus, jujur dan keberanian untuk mempertahankan kebenaran.

2. Ayub mempunyai konsep teologis yang baik tentang Allah. Dia tahu kalau ada Allah bahkan Alkitab mencatat ia menyebut Allah dengan nama Yahweh (Ayb. 1:21) jauh sebelum Abraham ada bahkan jauh sebelum Allah memperkenalkan diriNya sendiri dengan nama Yahweh pada Musa. Yahweh diterjemahkan LAI dengan “TUHAN“ (huruf kapital). Ayub tahu bahwa semua tindakan yang melawan Allah itu berdosa itulah sebabnya ia berusaha menjaga diri dengan baik di hadapan Allah bahkan ia bersedia memberikan korban persembahan untuk dosa yang tidak pernah ia lakukan.  

3. Ayub orang yang sangat kaya (Ayb. 1:3). Segala sesuatu ia punya sehingga tidak ada kesulitan bagi Ayubb untuk membantu para janda, anak-anak terlantar atau orang yang dalam penderitaan karena kemungkinan besar bantuan tersebut tidaklah mengurangi harta miliknya; itu hanya sebagian kecil dari harta kepunyaannya. Hal inilah yang membuat ia banyak disukai oleh orang-orang. Beda dengan orang yang hidupnya pas-pasan tentulah akan merasa berat ketika datang orang yang meminta pertolongan padanya namun tidak demikian dengan Ayub. Penafsiran ini kurang tepat, Ayub menolong orang yang sedang dalam kesulitan bukan dalam kelimpahannya saja tapi juga dengan ketulusan hati, kejujuran. Hubungan relasinya dengan Tuhan yang baik itulah yang membuat ia ingin hidup dengan benar di hadapan Tuhan dengan mengasihi sesamanya. Karena mustahil kalau seseorang mengatakan,“Aku mengasihi Allah“, dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudara yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya (1Yoh. 4:20).

Dari kehidupan Ayub maka pendapat orang yang mengatakan bahwa orang kaya biasanya hidup jauh dari Tuhan menjadi tidak benar. Ayub justru membalik konsep ini. Karena kasihnya pada Tuhan itulah ia menjaga hidupnya dengan tidak bercacat cela di hadapanNya dengan mengasihi sesamanya. Melihat kehidupan Ayub yang saleh dan jujur tersebut maka tidak ada seorangpun berani berpendapat bahwa malapetaka yang menimpa hidup Ayub akibat dosanya. Tidak! Ayub tidak tahu kalau ada kesepakatan antara Allah dengan iblis di surga.

Penderitaan yang dialami Ayub sangatlah berat. Bayangkan, seluruh kekayaannya habis lenyap dalam sehari begitu juga dengan anak-anaknya. Penderitaan Ayub tidak cukup sampai di situ, ia juga menderita secara batin; orang yang paling dekat yakni istri yang sangat dikasihinya menyuruh untuk mengutuki Allah. Bukankah ini yang menjadi keinginan iblis? Biasanya orang sulit memaafkan ketika dirinya mendapat perlakuan buruk dan menyakitkan dari orang yang terdekat. Lain halnya bila yang menyakiti kita adalah orang lain mungkin kita masih bisa mentoleransi dan memberinya maaf. Lengkaplah semua penderitaan yang dialami Ayub; family, finances, fitness, friends (4 F) semuanya habis lenyap. Tidak ada satu orangpun di dunia yang mengalami penderitaan sehebat Ayub. Kita mungkin pernah mengalami kehilangan, kesulitan dan kekecewaan namun tidak separah yang dialami Ayub dan ingat, Allah yang memperkenankan semua itu terjadi maka Ia akan menolong dan menguatkan kita saat menghadapi segala tantangan.

Banyak orang yang mau berkumpul di sekeliling mahkota Kristus tapi hanya sedikit orang yang mau berkumpul di bawah salib Kristus sebab salib merupakan jalan penderitaan. Orang Kristen tidak lepas dari penderitaan bahkan Kristus sendiri telah menderita demi untuk menebus dosa. Agustinus mengatakan,“God only had one Son on this earth without sin but one without suffering“, Allah hanya memiliki satu anak tunggal tanpa dosa tapi tidak tanpa penderitaan. Tuhan justru ingin menunjukkan kemuliaanNya melalui penderitaan yang kita alami, sehingga kita akan timbul seperti emas (Ayb. 23:10). Ayub bisa mengeluarkan pernyataan indah justru di tengah-tengah perdebatan teologis yang sengit dengan sahabat-sahabatnya. Hal ini menunjukkan relasi Ayub yang indah dan yang berkenan di hati Tuhan. Ada dua kemungkinan reaksi yang muncul ketika seseorang mengalami penderitaan, yaitu: pertama, semakin dekat Allah, atau kedua, melarikan diri dari Allah.

Beberapa pertanyaan yang perlu ada dalam diri kita saat kita mengalami penderitaan adalah:

1. Apakah tetap ada devosi kepada Allah? Saat penderitaan datang, apakah Ayub tidak boleh marah atau frustasi? Salahkah Ayub bila ia mengutuki Allah? Syukur kepada Alah, dalam kesemuanya itu ia tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat hal yang kurang patut (Ayb. 1:22). Berarti ada kemungkinan ketika seseorang menghadapi kenyataan yang terbalik dari konsep manusia maka kemungkinan ia menjadi marah, sedih dan meratap. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah reaksi yang ditunjukkan semacam itu salah? Apakah seseorang yang menghadapi penderitaan ia tidak boleh mengeluarkan kemarahan atau frustasi? Reaksi semacam itu tidaklah salah. Namun, yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah apakah reaksi yang dia tunjukkan tersebut membuatnya semakin dekat Allah atau semain jauh dari Allah? Menghadapi penderitaan yang sedemikian berat Ayub justru menunjukkan reaksi: mengoyakkan jubahnya, mencukur kepalanya dan kemudian ia sujud menyembah dan berkata,“Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!“ (Ayb. 1:20-21). Dalam kesedihannya, Ayub tidak menjadi rapuh; ia justru menaruh pengharapannya pada Tuhan (Ayb. 13:15). Ayub tidak tahu ada kesepakatan antara Tuhan dengan iblis di surga maka wajarlah kalau ia berdebat keras dengan Allah akan tetapi di akhir dari semuanya itu Ayub tidak menjadi berdosa dan Tuhan memuji Ayub bahkan Dia mengembalikan harta Ayub sepuluh kali lipat lagi. Ada kemuliaan dari penderitaan yang dialami Ayub.

Di saat kita mengalami penderitaan bukan berarti kita tidak boleh bersedih atau marah karena menghadapi keadaan yang tidak kita sukai wajar timbul aksi reaksi yang manusiawi. Namun dibalik sifat manusiawi yang dimunculkan apakah masih tetap ada devosi dalam hati kita? Masihkah ada pengharapan dalam Tuhan?

2. Apakah tetap ada sebuah perasaan bergantung pada Allah?  Semua perdebatan Ayub melawan sahabat-sahabatnya bahkan argumentasi yang diajukannya kepada Allah adalah dalam konteks dia cinta kepada Allah. Dia adalah orang yang ingin hidup lurus di hadapan Tuhan dan memanggil nama Tuhan. Secara keseluruhan kita dapat mengatakan bahwa Ayub adalah orang yang sempurna namun ia mempunyai kemungkinan untuk bergeser meski kesempatan itu hanya 1%. Kemungkinan kecil ini cukup bagi Ayub untuk mempertanyakan keberadaan dirinya, menyelesaikan pergumulan telogisnya. Kemungkinan 1% ini justru yang sangat membahayakan karena tidak menutup kemungkinan bagi seseorang untuk berubah. Sebagai contoh, istri Ayub. Alkitab tidak menuliskan banyak hal mengenai kehidupan istri Ayub sebelumnya namun dapatlah ditarik kesimpulan bahwa ia seorang yang taat beribadah seperti halnya Ayub. Akan tetapi dia tidak dapat menghadapi kenyataan bahkan menyuruh Ayub untuk mengutuki Allah; istri Ayub mudah sekali berubah. Bagaimana dengan kita? Akankah kita menjadi sama seperti halnya istri Ayub?

Ketika manusia mengalami penderitaan dan mulai kecewa pada Tuhan maka ia mulai menjauh dari Tuhan padahal sebelumnya ia seorang aktivis yang giat melayani. Andai, Ayub tahu kalau ada rencana Tuhan di balik semua peristiwa pastilah dia tidak akan masuk dalam pergumulan yang berat. Setiap manusia pasti mengalami pergumulan hidup dengan bobot yang tidak sama namun ingatlah bahwa itu semua tidak mengubah keadaan. Ketahuilah ada Tuhan yang menopang dan memberi kekuatan pada kita; Ia akan memberi jalan keluar sehingga kita dapat menanggungnya (1Kor. 10:13).

Tuhan mengijinkan iblis untuk mencobai manusia tapi Dia membatasi ruang gerak iblis. Hal ini membuktikan bahwa setan tidak maha kuasa. Ingat, setan hanya bisa menipu manusia seakan-akan dia maha kuasa dengan mengabulkan semua permintaan manusia. Biarlah kita mau belajar seperti Ayub yang selalu bersandar dan berharap pada Tuhan di saat mengalami pencobaan berat sekalipun kita tidak menjadi berdosa. Jangan menganggap atau merasa diri kuat karena di saat kita merasa kuat justru itu menunjukkan kelemahan diri kita.

3. Apakah tetap ada sebuah deklarasi bahwa Dia adalah Allah yang baik? Istri Ayub hanya fokus pada penderitaan yang menimpa keluarganya. Itulah sebabnya ia menjadi marah dan menyuruh Ayub untuk mengutuki Tuhan. Di tengah-tengah kesedihannya, bukan kutukan atau cacian yang keluar namun justru pujian buat Tuhan; apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk? (Ayb. 2:10). Pengenalannya pada Tuhan menyadarkan Ayub bahwa ada maksud dan rencana Tuhan yang indah di balik semua penderitaan yang dialaminya. Perdebatan yang sengit antara Ayub dengan sahabat-sahabatnya tidak membuat hubungannya dengan Tuhan semakin jauh. Sebab tangan Tuhan menopang maka Ayub bisa kuat menghadapi segala pencobaan.

Pergumulan seperti Ayub ini menjadi suatu pergumulan yang seringkali kita lewati tapi dalam konteks dan konsumsi kita masing-masing tapi yang menjadi pertanyaan ketika kita menghadapi semuanya itu apakah ketiga hal tersebut di atas muncul dalam diri kita?  Amin. ?