|
Ringkasan Khotbah : 28 Desember 2003
Nats: Ayb. 2:11-13; 42:7 Pengkhotbah : Ev. Hendry Ongkowidjojo |
Stephen Covey dalam buku 7 Habits of Highly Effective People memberikan ilustrasi tentang seseorang yang datang ke dokter mata. Pada waktu ia masuk ke ruang praktek sang dokter, ia terkejut karena dokter tersebut langsung memberikan kaca matanya secara gratis kepadanya tanpa terlebih dahulu memeriksa. Menurut sang dokter, kaca mata itu dapat menyembuhkan sakit matanya sehingga pasti dapat menyembuh sakit mata sang pasien. Ketika si pasien menolak dengan keras “kebaikan hati“ dokter tersebut, dokter itu menjadi marah dan menuduhnya tidak tahu terima kasih. Kita seringkali bersikap sama seperti dokter fiktif tersebut. Kita ingin menolong seseorang, mengurangi bebannya, tetapi yang kita lakukan justru menambah beban itu. Pertolongan kita justru semakin menyusahkan orang yang akan kita tolong. Begitu pula yang terjadi pada sahabat-sahabat Ayub.
Seringkali kita langsung bereaksi negatif begitu mendengar tentang teman-teman Ayub. Tetapi di awal kitab Ayub, peran mereka justru bersifat positif. Dari reaksi yang mereka tunjukkan, kita dapat memahami dalamnya penderitaan yang dialami Ayub. Kalau kita perhatikan dengan teliti, ada banyak kualitas yang dimunculkan oleh para sahabat Ayub di pasal kedua ini. Setidaknya ada tiga hal yang bisa kita pelajari dari mereka:
a. Usaha yang penuh kesungguhan. Alkitab menuliskan ketiga sahabat Ayub, yakni: Elifas, orang Teman dan Bildad, orang Suah, serta Zofar, orang Naama datang dari tempatnya masing-masing ketika mendengar kabar tentang segala malapetaka yang menimpa Ayub (ay. 11). Itu berarti mereka tidak berasal dari tempat yang sama. Mereka mungkin beda kota, wilayah bahkan negara. Selain itu dikatakan bahwa mereka bersepakat untuk menghibur Ayub. Itu berarti bukan suatu kebetulan kalau mereka dapat berkumpul bersama. Lalu, bagaimana mereka dapat membuat kesepakatan sementara tempat mereka begitu berjauhan? Alkitab tidak berbicara banyak mengenai hal ini tetapi seperti kita ketahui, membuat suatu kesepakatan dengan jarak terpisah jauh, dengan teknologi informasi yang masih begitu primitif, jelas bukan hal yang mudah, sangat menyita waktu dan tenaga. Tetapi mereka rela bersusah payah sedemikian rupa demi untuk menghibur sahabat yang mereka kasihi, Ayub.
b. Motivasi yang penuh kesungguhan. Mereka datang pada Ayub dengan tujuan yang murni, yaitu untuk mengucapkan belasungkawa dan menghibur (ay. 11b). Mereka datang bukan karena Ayub kaya atau karena memiliki motivasi-motivasi lain seperti mendapatkan kenikmatan atas balas jasa. Tidak! Bukankah manusia sering melakukan perbuatan baik untuk mengharapkan imbalan? Terkadang tanpa sadar, di saat kita mau menolong teman yang sedang dalam kesulitan, ada motivasi lain di baliknya. Setidaknya kita ingin teman kita itu menghargai perhatian kita, sehingga di saat ia tidak bisa menunjukkan perhatian itu, kita menjadi kecewa dan marah. Secara motivasi, kita dapat menarik kesimpulan mereka mempunyai motivasi yang baik. Mereka datang dengan maksud yang sangat jelas.
c. Reaksi yang penuh kesungguhan. Ketika sahabat Ayub memandang dari kejauhan dan melihat kondisi Ayub begitu memilukan mereka: 1) menangis dengan suara nyaring, 2) mengoyakkan jubah, 3) menaburkan debu di kepala, 4) menemani Ayub dengan duduk bersama-sama dia selama tujuh hari tujuh malam 5) tidak mengucapkan sepatah katapun padanya. Banyak penafsiran yang mengatakan bahwa mereka melakukannya karena kebiasaan budaya yang berlaku pada jaman itu.
Tapi jika kita perhatikan lebih lanjut, mereka melakukannya bukan sekedar kebiasaan budaya. Mereka tidak hanya hadir dan berbagi secara fisik, mereka juga berbagi perasaan dengan Ayub. Mereka sama-sama meratap dan sama-sama hancur hati. Nicolas Wolterstorff dalam bukunya Lament for A Son menceritakan pergumulan dan kesedihannya yang begitu berat sepeninggal anak yang sangat dikasihinya. Saat itu ia berkata bahwa ia merasakan air mata teman dan handai taulan yang datang menghibur sebagai obat penawar bagi hati yang luka akan, tetapi sikap diam mereka seperti garam yang ditabur di atas luka.
Ketiga hal baik yang ditunjukkan oleh teman-teman Ayub di atas membuat kita bertanya-tanya apakah kesalahan terletak pada Ayub ataukah teman-temannya? Ayub mengatai mereka sebagai penghibur sialan. Apakah hal ini menunjukkan Ayub tidak tahu berterima kasih? Kalau kita memahami Alkitab, kita akan melihat bahwa kesalahan terletak pada teman-teman Ayub dan bukannya Ayub. Alkitab berkata bahwa Tuhan murka kepada mereka (Ayb. 42:7). Di satu pihak mereka mempunyai kualitas seorang sahabat yang sangat baik tapi dilain pihak mereka telah melakukan kesalahan, yaitu:
1. Mereka tidak sabar. Saat Ayub diam, mereka juga diam. Tetapi begitu Ayub mulai berbicara, mereka langsung menasehatinya. Dan ketika Ayub tidak mau menerima nasehat mereka, hati mereka mulai kesal dan serempak menghakimi Ayub; mereka menjadi kehilangan kesabaran. Bukankah hal ini pernah terjadi dalam hidup kita dimana kita menjadi marah saat teman yang kita hibur bereaksi tidak sesuai dengan yang kita harapkan; rasa kasihan dan belasungkawa berubah menjadi kemarahan. Kalau tadinya kita datang untuk menghibur, sekarang kita bersiap untuk menghakimi.
Kita yang hidup di jaman modern ini lebih rentan terhadap ketidaksabaran seperti ini. Kita terbiasa untuk menganggap segala yang tidak kita harapkan tersebut sebagai problema atau kesalahan teknis. Dan suatu kesalahan teknis menuntut perbaikan cepat. Mesin yang rusak harus cepat diperbaiki sehingga kerugian bisa ditekan. TV yang rusak harus cepat direparasi sehingga kita dapat kembali menikmati hiburan. Jika satu dua kali direparasi tidak berhasil, maka jual saja, ganti dengan yang baru. Saat kita menghadapi benda elektronik atau proses produksi, hal ini mungkin sangat efisien. Tetapi celaka kalau kita memakai pendekatan yang sama terhadap orang yang sedang tertimpa kesusahan. Seperti yang dikatakan oleh Gabriel Marcel, kita perlu memandang manusia sebagai misteri. Itu berarti kita perlu menyelami dirinya, mengerti latar belakang dan apa yang membuat dia bereaksi tidak seperti yang kita duga. Mengapa dia menolak nasehat kita yang baik? Apa yang dia tahu yang kita tahu? Ataukah dia mengalami hal yang tidak memungkinkannya mengikuti nasehat kita? Itulah misteri. Tetapi untuk itu menuntut waktu dan tidak bisa selesai dalam sekejab. Kita perlu sabar.
Teman-teman Ayub kurang dalam hal ini. Mereka tidak berusaha menyelami mengapa Ayub tidak menerima nasehat mereka yang secara umum memang terlihat baik itu. Mereka tidak sadar bahwa kasus Ayub adalah kasus khusus yang tidak dapat diigeneral begitu saja. Nasehat mereka mungkin baik jika Ayub seperti dugaan mereka. Masalahnya Ayub tidak seperti dugaan mereka, tetapi mereka tidak mau tahu mengenai hal itu.
2. Mereka kurang rendah hati. Perdebatan antara Ayub dengan sahabat-sahabatnya terjadi sebanyak tiga kali perputaran dimana Ayub menjawab dan mereka secara bergantian menjawab begitu seterusnya, sampai ketiganya berbicara tiga kali. Perkataan Bildad dan Zofar pada putaran kedua sangat mirip dengan perkataannya mereka di putaran pertama. Saat masuk dalam putaran yang ketiga kita mulai dibingungkan antara siapa yang menjawab dari ketiga teman Ayub tersebut; jawaban mereka saling tumpang tindih. Dari sini kita mengetahui kalau sebenarnya mereka tidak tahu harus berkata-kata apa lagi untuk menghibur Ayub. Logika mereka tidak dapat menerima keadaan Ayub yang saleh tapi mengalami malapetaka yang sangat mengerikan. Tetapi mereka sulit untuk mengaku bahwa mereka juga tidak tahu. Mereka merasa harus memberikan jawaban, sehingga jawaban mereka akhirnya justru memperberat beban Ayub. Seringkali kita juga mengalami masalah yang sama. Di dunia berdosa ini ada banyak kemalangan yang sulit untuk kita mengerti, yang kalau kita mau jujur, kita sendiri juga dibingungkan olehnya. Selain itu, setiap kemalangan juga bersifat unik dan tidak dapat disamakan begitu saja.
Dua orang saudara sekandung yang ditinggal pergi sang ayah untuk selama-lamanya bisa memiliki relasi yang berbeda dengan ayah mereka itu. Anak pertama bisa jadi sangat dengan dengan ayahnya sehingga ia merasa kehilangan setengah jiwa ketika ayahnya meninggal dunia. Tetapi anak kedua ternyata tidak pernah bisa cocok sehingga ia sampai harus keluar dari rumah. Dan di saat ia ingin berbaikan dengan ayahnya, ternyata ayahnya sudah pergi untu selam-lamanya, sehingga kesedihannya mungkin bercampur dengan kemarahan dan penyesalan yang tidak terjadi pada anak pertama. Oleh karena itu kita tidak dapat begitu saja menyamakan keduanya. Wolterstorff berkata bahwa setiap kematian itu unik seperti setiap kehidupan yang juga unik.
3. Mereka salah mengenal Allah. Di dalam kemurkaan-Nya kepada ketiga teman Ayub, Allah berkata bahwa Ia murka karena mereka tidak berkata benar tentang Dia. Itu berarti mereka kurang beres di dalam pengenal mereka akan Allah. Dengan kata lain, mereka tidak berteologi dengan benar. Mereka tidak berdoktrin kuat.
Hari ini kita heran melihat banyak gereja yang tidak mementingkan doktrin dapat memiliki persekutuan yang indah di antara jemaatnya. Kisah ini membuka mata bahwa kita tidak seharusnya heran karena teman-teman Ayub juga tidak berteologia benar tetapi dapat memiliki tiga kualitas sahabat yang sangat ideal. Tetapi di sini kita melihat kelemahan dan bahaya yang ada di saat kita mencoba untuk bersekutu, memperhatikan dan menasehati, sementara teologia kita sendiri tidak benar dan pengenalan kita akan Allah ternyata tidak tepat. Alkitab memakai kata yang keras. Allah bukan hanya sekedar tidak senang. Ia murka ketika ketika menasehati saudara seiman kita, dan ternyata nasehat kita itu berasal dari pengenalan yang salah akan Dia.
Biarlah kerinduan kita menjadi penolong bagi saudara kita membuat kita semakin giat untuk mengenal Allah. Dan sebaliknya, biarlah kerinduan kita untuk mengenal Allah, juga disertai dengan kerinduan kita untuk memakai pengenalan tersebut demi memperhatikan saudara-saudara seiman kita. Amin. ?