Ringkasan Khotbah : 21 Desember 2003

Christmas & Worship

Nats: Luk 1:74-75

Pengkhotbah : Rev. Sutjipto Subeno

 

Hari ini kita kembali merenungkan pesan Tuhan setelah empat ratus tahun Ia tidak berfirman melalui imam Zakharia. Setelah beberapa saat bisu maka kata-kata pertama yang keluar dari mulut Zakharia bukanlah kebanggaannya karena menjadi ayah dari seorang anak yang istimewa, yakni Yohanes Pembaptis yang dipakai Tuhan menjadi pembuka jalan bagi lahirnya Sang Juruselamat atau tentang posisinya sebagai seorang imam Allah. Tidak! Zakharia justru memberitakan kebenaran Firman, yaitu kasih Tuhan yang berinisiatif melawat umatNya. Dan kabar ini juga menjadi inti dari iman Kristen dan sebagai umat pilihanNya kita seharusnya merespon cinta kasih Tuhan ini dengan taat dan tunduk mutlak pada firmanNya.

Hal ini mendobrak konsep manusia yang salah selama ini. Orang berpikir bahwa manusialah yang berinisiatif mencari Allah terlebih dahulu. Segala usaha manusia hanyalah sia-sia belaka dan akibatnya mereka justru terjebak dalam ritual-ritual dan aturan-aturan agama. Agama telah menyatu dalam hidup mereka tetapi sayang mereka tidak kembali kepada Tuhan sejati; mereka justru menyeret agama ke dalam budaya dunia. Agama sekedar alat untuk memenuhi keinginan nafsu manusia berdosa; agama bukan menjadi “agama“ sejati karena budaya lebih berkuasa atas agama.

Iman kristen sejatilah yang seharusnya membentuk budaya tetapi hari ini kita melihat kenyataannya justru terbalik. Bahkan yang lebih mengherankan lagi orang-orang yang katanya “pandai“ menegaskan dalam buku-bukunya bahwa agama merupakan hasil dari budaya. Itulah sebabnya Allah datang melawat umatNya untuk menyadarkan manusia untuk kembali pada budaya yang benar. Inilah konsep Tuhan melawat umatNya; aturan dan ritual agama bukanlah parameter yang menentukan standar kerohanian seseorang. Berdoa berjam-jam dengan berpuasa berhari-hari tidaklah membuktikan kita adalah orang yang rohani. Bukankah orang Yahudi sangat ketat dalam menjalankan aturan agamanya? Akan tetapi Tuhan tidak suka dengan semua ritual agama yang mereka lakukan karena itu semua membuktikan mereka orang yang munafik sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya indah tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang (Mat. 23:27-28).

Allah yang berinisiatif terlebih dahulu untuk melawat umatNya juga melimpahkan dan memberkati anakNya. Manusia yang tidak beragama yang sejati mendengar kata “berkat“ akan menyamakannya dengan hal-hal duniawi yang bersifat materi. Berkat Allah yang paling besar melebihi hal-hal materi adalah keselamatan dalam Kristus Yesus sehingga manusia menjadi manusia sejati. Dunia dibiaskan antara Allah sejati yang melimpahkan berkat rohani dari surga dan keinginan nafsunya (Ef. 1:3). Berkat Allah seharusnya mengkomunikasikan hubungan manusia dengan Allah, berkat harus menghancurkan semua konsep dosa, yaitu keinginan nafsu manusia akan material dan bersifat duniawi dan berkat semakin membuat kita taat dan setia pada Tuhan sehingga kita dengan rela mau berkorban demi kehendak Tuhan dijadikan di bumi ini.

Dia telah memberikan mujizat yang terbesar, yaitu Tuhan memberikan diriNya bagi kita orang yang berdosa yang seharusnya dibuang sehingga kita tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal (Yoh. 3:16). Dunia berdosa memutarbalikkan hidup kekal tersebut sebagai hal yang bersifat duniawi, yakni kesuksesan, kekayaan, kedudukan, dll. Manusia tidak memahami akan arti hidup yang sejati. Hidup sejati akan kita peroleh kalau kita kembali pada tujuan Tuhan mencipta manusia, yaitu to glorify Him and enjoyed Him. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? (Mat. 16:26). Di tengah dunia ini umumnya orang lebih senang menerima daripada memberi atau berbagi. Manusia cenderung berdiam diri ketika memperoleh berkat, was-was dan kuatir orang lain akan meminta darinya. Ironisnya, orang akan menceritakan penderitaan atau kesulitan yang dialaminya berharap mendapatkan pertolongan dan pengasihan dari orang lain. Dunia hanya mau berkatNya saja tapi tidak mau berkorban dan hidup bagi Tuhan. Kalau kita gagal memahami arti kebaikan Tuhan maka kita akan bereaksi seperti Yudas yang menyia-nyiakan anugerah dan berkat Tuhan. Yudas hidup sangat dekat dengan Tuhan Yesus, merasakan kasih Tuhan, melihat bagaimana Tuhan melakukan mujizat namun sangatlah disayangkan, Yudas tidak memahami hal tersebut sebagai berkat rohani; ia hanya memikirkan diri sendiri dan berkat yang bersifat duniawi belaka.

Ingat, janganlah mengejar harta di bumi karena ngengat akan merusakkannya tetapi kumpulkanlah harta di surga yang bersifat kekal (Mat. 6:19-21). Orang seringkali menyalahgunakan berkat Tuhan dan mempermainkan anugerah Tuhan. Pernahkah anda memikirkan untuk membalas cinta kasih Tuhan yang telah berkorban bagi kamu? Manusia adalah satu-satunya makhluk di dunia yang diberikan akal budi sehingga kita dapat bereaksi terhadap kebaikan dan anugerah Tuhan. Celakanya, kini akal budi tersebut  telah menjadi beku. Tuhan mengingatkan kembali pada kita bagaimana seharusnya kita membalas cinta kasih Tuhan yang telah melepaskan kita dari musuh, yaitu dengan beribadah pada Tuhan di dalam kekudusan dan kebenaran tanpa perlu merasa takut (Luk. 1:74-75).

Inilah esensi hidup manusia yang sejati, yaitu menyembah, memuliakan dan sujud di hadapanNya. Orang bias dengan pengertian beribadah/menyembah antara dunia timur dan dunia barat. Dunia timur mengajarkan untuk menghormati orang yang secara ordo/urutan usia lebih tinggi atau mereka yang mempunyai kedudukan lebih tinggi sedang dunia barat yang dipengaruhi paham liberalisme menganggap semua manusia sama derajatnya meski secara ordo/urutan usia lebih tinggi. Konsep penghormatan antara dunia barat dan timur saling bertentangan satu sama lain. Di dunia barat orang biasa memanggil nama tanpa memakai jabatannya berbeda dengan dunia timur yang harus menyebut dengan tepat sesuai dengan ordo. Maka tidaklah mengherankan mereka menyebut nama Tuhan Yesus hanya dengan Yesus saja walaupun mereka tidak bermaksud untuk kurang ajar. Akibatnya nama Yesus menjadi hal yang biasa, mereka tidak menghormati Dia sebagai Tuhan. Kontras dengan di dunia timur yang lebih menghormat pada raja yang hanya seorang manusia daripada Tuhan.

Orang Kristen seharusnya beribadah dan menyembah Tuhan bukan dengan rasa takut melainkan dalam kekudusan dan kebenaran di seumur hidup kita. Setiap anak Tuhan dapat melakukan ibadah yang sejati maka kita harus mempunyai:

1. Pengertian yang Benar. Rasa hormat kita pada Tuhan bukanlah seperti seorang bawahan pada atasannya. Dunia justru berpikir untuk mendapatkan upah dari setiap pekerjaan yang dilakukan meski untuk Tuhan. Apakah kita mau bekerja buat Tuhan seperti cara dunia, yaitu dengan mendapatkan upah dan kemudian kita dicampakkan setelah kita tidak menguntungkan bagi perusahaan? Puji Tuhan, Dia bukan Tuhan yang kejam, yang membuang dan membinasakan kita; Dia sangat mengasihi manusia sehingga rela berkorban bagi manusia.

Kita seharusnya menyadari akan status kita yang sesungguhnya yakni hanyalah seorang budak yang tidak mempunyai hak atas dirinya sendiri. Namun Dia berkenan menebus kita  sehingga kita menjadi orang yang dimerdekakan dan mempunyai kehendak bebas. Hal ini seharusnya membuat kita gentar dan dengan rela tunduk di hadapanNya. Ibadah dari kata “abodah“ yang menunjuk sikap menyembah, yaitu kepala yang ditundukkan hingga ke tanah. Manusia terlalu sombong dan tinggi hati sehingga sulit diajar untuk rendah hati dan menyembah Tuhan dan menghargai orang lain. Manusia terlalu egois dan dipacu untuk memutlakkan diri akibatnya manusia sukar untuk menyembah Tuhan dengan kekudusan dan kebenaran tanpa rasa takut.

Orang Kristen harus mengalami perurabahan dalam akal budinya dan tidak menjadi serupa dengan dunia ini sehingga kita tahu apa yang berkenan dan yang tidak. Konsep ini seharusnya membentuk ulang seluruh konsep berpikir kita. Keselamatan bila dipandang dari konsep dan cara pikir dunia maka kita merasa tinggi hati dan merasa layak. Teologi reformed menegaskan manusia harus kembali pada Allah dengan cara berpikir Tuhan. Kenapa? Semua agama menggunakan pendekatan manusia dalam mencari Tuhan dan menurut keinginan mereka bahkan ada pemikiran yang menyatakan bahwa Tuhan butuh manusia karena itu diciptakannyalah manusia. Ingat, kita seharusnya bersyukur karena Tuhan ciptakan manusia menurut gambar dan rupaNya. Manusia tidak berhak menuntut pada Tuhan, tugas manusia hanyalah taat pada segala perintahNya dan mewartakan kabar keselamatan ke seluruh dunia.

Hati-hati dengan tipuan iblis yang bertopeng malaikat yakni memberitakan hal surga tapi berakhir dengan kebinasaan. Puji Tuhan, kalau Tuhan masih berkenan memakai kita turut menggenapkan pekerjaan Tuhan di dunia. Maka jangan sia-siakan anugerah Tuhan tersebut. Siapakah manusia sehingga Ia yang adalah pemilik tubuh dan jiwa berkenan memakai kita? Hal ini seharusnya membuat kita bersyukur karena diantara milyaran orang di dunia Tuhan memilih kita menjadi anakNya dan melakukan pekerjaaan Tuhan yang agung di dunia.

2. Kerelaan untuk taat. Ibadah sejati tidak membuat hidup manusia menjadi susah akibatnya muncullah gerakan zaman baru (new age movement) yang berpendapat bahwa Tuhan tidak perlu disembah karena Tuhan telah menyatu dalam diri manusia. Sebagai kesimpulannya manusia itulah “allah“. Hidup akan menjadi lebih berarti ketika kita beribadah kepada Tuhan. Ibadah yang tidak masuk dalam kekudusan dan kebenaran sejati itu bukanlah ibadah yang sejati. Ibadah merupakan sikap hati dimana kita seharusnya menyadari keberadaan diri kita yang tidak layak sehingga dengan rendah hati kita datang padaNya dan taat kepadaNya. Ingat, barangsiapa mau mengikut Aku maka ia harus menyangkal diri dan memikiul salib (Luk. 9:23).

Hal ini bukan berarti Tuhan Yesus yang diuntungkan sedang kita dirugikan. Tidak! Allah adalah Allah yang sempurna sehingga Dia tidak akan merasa rugi atau dirugikan. Ia justru ingin mengarahkan kita pada motivasi yang murni dalam mengikut Kristus sehingga kita dapat merasakan indahnya hidup bersama Kristus. Tuhan tidak menjanjikan berkat tapi Dia justru membukakan kebenaran bahwa anak Tuhan akan dibenci dunia (Yoh. 15:18-26). Janganlah takut akan aniaya tubuh karena itu semua hanyalah sementara dan berakhir dengan sukacita kekal. Segala perintah dan Firman yang Tuhan berikan adalah demi untuk kebaikan kita.

3. Kerelaan untuk mengabdi. Segala perintah sang Raja pemilik hidup dan jiwa manusia harusnya kita taati dan dengan rela mengabdi padaNya. Janganlah kita menjadi rendah diri dan merasa diri tidak mampu dalam melakukan pekerjaan Tuhan karena Tuhan pasti akan memampukan dan membuat hidup kita indah pada waktunya. Kalau dunia membangun rumah dari batu-batu yang indah akan tetapi Tuhan membangun gerejaNya dari hati yang hancur yang Dia ubahkan menjadi indah. Hanya ketaatanlah yang dapat mengubah kita dan dibentuk untuk menjadi serupa Kristus sehingga kita dapat mengabdi dengan ketulusan.  Amin. ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)